Mercusuar

Mercusuar
Bab 10


__ADS_3

"Kenapa mukanya happy banget gitu? " Tanya bunda yang melihat Re tak henti tersenyum.


"Ngga ada apa-apa kok bun. "


"Halah ngga usah bohong, bunda juga pernah SMA jadi paham betul wajah-wajah begitu. Gadis bunda ternyata udah bukan anak kecil lagi ya, gapapa kok asal hati-hati kalau main sama perasaan dan tau mana batasannya. "


"Iyaa... Bunda" Jawab Re.


"Good"


Tak ada lagi obrolan setelah itu hingga mobil tiba di depan rumah.


_______________________________________________



Anda ; *foto*


Anda ; *stiker full senyum*


Eca ; "Berhasil? Seriusan? "


Bagas ; *stiker omaga*


Anda ; "Cuma omelette nya aja sih yang di makan, but its ok lah ya buat first step for dapetin cintanya mas crush" *spam stiker random*


Eca ; "Y y y"


Bagas ; "Dia emang tau kalau itu dari lo? "


Anda ; "Gk, kalau dia tau yakin gue omelette tadi masih utuh di wadah. "


Bagas : "Lah kok seneng? "


Anda : "Lebih baik taunya diakhir, sp tau hatinya tersentuh. Askask. "


Eca ; "Kalau gue jadi Fasha udah gue pacarin lo re, kurang apalagi coba. Bekal dibuatin, perhatian, otak sebanding, kurang apa lagi njir. "


Bagas ; "Affah iya dek. "


Anda ; "Aww tersanjung. "


Eca ; "Nah, lo kan laki gas emang kalian ngga suka apa sama cewek perhatian? "


Anda ; "Ngga usah tny sma dia Ca, sumber tdk valid. "


Bagas ; "Gua sih suka2 aja apalagi bekalnya, tpi mungkin dia punya alesan knp sikap nya ke Re kyk antibodi ke antigen. "


Anda ; *stiker suhu*


Eca ; "Lantas solusinya apaan bang? "


Bagas ; "Pepet teros sampek gepenk, tenang Re yang sllu ada bakal kalah kok sama yang spesial. Itu ud hukum alam. "


Anda ; "Hilih bicit lo gas. "


Eca ; "Nye, cuaks cuaks. "


Bagas ; *stiker aswww*


Anda ; *stiker 4×*


Eca ; *stiker 3×*

__ADS_1


Bagas ; *spam stiker baru*


*stiker*


*stiker*


*stiker*


___________________________________________


Di daerah distrik yang tak berpenghuni, Thunder dan Xtradogs sedang berkelahi habis-habisan. Banyak anak Xtradogs yang tergeletak dengan luka lebam dimana-mana. Ini semua akibat strategi yang Thunder rancang waktu itu berjalan mulus.


Yans dan Edo sedang mengeroyok ketua Xtradogs yang hampir KO, Raga namanya. Mereka berdua terus menjatuhkan pukulan-pukulan kepada Raga, Yans mengambil kesempatan ini untuk melampiaskan dendamnya secara langsung.


"Gimana, lo masih mau lanjut atau nyerah?! " Ucap Yans dengan penuh amarah.


"Bangsat, sampai mati pun gua ngga akan nyerah sama bajingan! " Ucap raga seraya bangkit dari tanah.


"Bajingan? Biar gue tunjukkin siapa yang sebenarnya bajingan! " Yans lanjut membogem Raga habis-habisan tanpa kenal ampun, nyawa raga seolah sudah tak berharga lagi jika sudah ditangan Yans.


Semua orang menghentikan perkelahian saat sirine polisi terdengar di sana. Semkin lama sirine itu semakin terdengar jelas dan semua anak Xtradogs bergegas pergi dan membawa motor mereka.


"Men ayo buruan pergi dari sini" Andre menyerukan semua Thunder untuk segera pergi.


"Bos udah bos, polisi dateng. Masalahnya bisa ribet kalau sampek kita ketangkep bos! " Edo berteriak memanggil Yans.


"Anjing mana yang berani manggil polisi kesini?! " Yans melihat kearah sana dan benar saja mobil polisi muncul dari gerbang.


"Semoga harimu menyenangkan! " Raga tersenyum iblis kemudian pergi dengan di papah oleh kedua temannya, menghilang di balik gedung lusuh itu.


Yans berbalik, dilihatnya Raga sudah menghilang dari sana.


"Kurang ajar, ini pasti ulah Raga sialan itu! "


"THUNDER CABUT! " Yans naik ke motornya dengan terburu sebelum mobil polisi benar-benar mengepung mereka. Sebagian sudah pergi duluan dan menyisakan Yans, Edo dan Andre.


Saat keluar gang betapa terkejutnya mereka dua mobil polisi memblokir jalan dan terpaksa mereka berhenti, tak ada jalan untuk mundur.


"Tinggalkan motornya dan kalian bertiga ikut ke kantor sekarang! "


"Anjing sialan emang si Raga! " Edo memukul motornya dengan kesal.


"Pak saya yang akan tanggung jawab, ini ngga ada hubungannya sama mereka berdua pak" Yans bersuara.


"Ngga bisa, kalian semua harus ikut dan menjelaskannya di kantor. Ayo masuk! "


Ketiganya pun saling memandang, Andre dan Edo menepuk pundak Yans. Berisyarat untuk tetap bersamanya menanggung akibat ini.


Mobil polisi membawa mereka pergi dari sana dengan cepat.


....


"Ngga bisa gini dong pak, masa cuma kami yang di tangkap ngga adil banget! " Andre tidak terima.


"Yang lain sedang diselidiki, jadi apa sebenarnya motif kalian melakukan perkelahian itu?! "


"Ngga ada motif lain pak, kami cuma slek aja karena mereka ngeroyok teman kami duluan pak. " Jelas Edo.


"Bagaimana, apa sudah bisa dihubungi orangtuanya? " Tanya polisi itu kepada Yans yang usai menelpon ayahnya.


"Sudah pak, sebentar lagi sampai"


"Ini jadi peringatan pertama buat kalian karena sudah melakukan tindak kekerasan yang menyangkut orang banyak. Jadi silahkan tanda tangan surat perjanjian ini! "

__ADS_1


Ketiganya pun menandatangani surat perjanjian itu secara bergantian.


"Selamat siang Pak"


"Oh iya Pak selamat siang, silahkan duduk"


"Apa benar ini anak bapak? "


"Iya benar pak, kalau boleh tau sebenarnya ada apa ya pak? " Tanya om Hadi.


"Jadi setelah saya interogasi anak bapak dan teman-temannya ini sudah melakukan tindak kekerasan fisik kepada anak sekolah lain. Beruntung tidak ada yang menggunakan senjata tajam dan juga karena mereka masih pelajar jadi kami akan bebaskan. Tapi dengan catatan mereka tidak akan mengulanginya. "


"Saya sangat berterimakasih sekali kepada bapak, dan saya bisa jamin kalau kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi"


"Yasudah, boleh kembali silahkan"


"Trimakasih pak" Om Hadi menjabat tangan polisi itu kemudian beranjak pergi.


Yans memakai helem nya dan bersiap untuk kembali dengan yang lainnya. Namun om Hadi memanggilnya.


"Yans kamu pulang sama papa, motornya biar dibawa sopir! "


Yans melepaskan helem nya lalu masuk ke dalam mobil dengan patuh. Sampai di rumah nanti habislah dia terbakar api amarah.


"Lah ini mukanya kenapa Yans, kok lebam semua gitu hah? "


Yans tak menjawab bunda dan melewatinya dengan acuh.


"Duduk dulu disini! " Perintah om Hadi.


"Maaf, pa"


"Masih tau rasa salah kamu, emang dikira hebat apa berantem-berantem gitu?! "


Bunda datang dengan membawa kompresan dan kotak p3k.


"Sini dibersihin dulu lukanya"


Yans hanya diam membisu, dirinya menyadari jika ini memang salah tapi ia tidak menyesali perbuatannya.


"Papa ga tau harus ngapain lagi sama kamu, sudahlah pokoknya setelah ini papa kirim kamu keluar negeri. Ngga sanggup papa sama kelakuan kamu! "


"Tenang mas, kan bisa ngomongin pakai kepala dingin ngga harus emosi gini"


"Sekarang gini papa kasih kamu dua pilihan, pindah keluar negeri sekarang atau setelah lulus. Tapi dengan catatan tidak boleh keluyuran malam, papa tunggu jawaban kamu! " Setelah itu om Hadi pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Ada apa bun? " Tanya Re yang baru turun.


"Re, tolong tempelin plester ini nak ke lukanya bunda mau ngomong sama papa. " Bunda memberikan plester itu ke Re.


"Ngga perlu, gua bisa sendiri. "


"Nanti ngga pas, sudah biar Re aja gapapa. "


"Iya bun" Jawabnya dengan nada malas.


"Wait a minutes, jangan gerak! "


Re menempelkan plester itu dengan perlahan dan hati-hati di leher Yans. Mengcover luka kecil di sana dengan sempurna.


"Udah"


"Hmm"

__ADS_1


"Itu yang ditangan tempelin sendiri! "


...----------------...


__ADS_2