
"Sudah bawa semua bahan praktikum yang ibu minta? " tanya bu Retno kepada siswa 11 IPA 6.
Sudah...
Jawab serentak 34 siswa yang tengah berada di laboratorium biologi.
"Ayo sekarang dikeluarkan, pastikan kodok yang dibawa sudah mati supaya lebih mudah dibedah nya nanti. Ingat hati-hati saat menggunakan peralatan lab supaya tidak rusak! "
"Baik buk"
Semuanya mengikuti arahan dari bu Retno, termasuk Fasha yang sedang mengeluarkan kodok dari toples.
"Pertama-tama keluarkan isi perut kodoknya sampai bersih, kemudian di cuci. " tutur bu Retno sambil berkeliling.
Siswa-siswa sangat patuh dengan apa-apa yang guru killer ini perintahkan. Tidak ada seorang pun yang melawan dirinya.
"Sini gua aja ya nganuin! "
Fasha mengambil alih kodok itu dari teman kelompok yang seperti ketakutan membelah perut kodok.
"Yaudah nih, gua rasanya pengen muntah kalau ngeliat kodok. " jawab siswa itu.
"Kodok doang takut"
"Bukan takut tapi geli gua liatnya! " sangkalnya.
"Sama aja! "
Dipegangnya kodok itu dengan satu tangan dan tangan lainnya menggenggam cutter. Diiris nya dengan pelan supaya kotorannya tidak kemana-mana.
Kulit kodok yang licin juga basah mempersulit cutter hingga pada akhirnya cutter terpeleset dan mengenai telunjuk Fasha.
"Woy, itu tangan lo berdarah malah di diemin aja gimana sih. Udah kebal lo ya?!"
Siswa itu heran kenapa Fasha diam saja seolah tidak merasa sakit atau apa.
"Fasha, itu tangan kamu kenapa bisa berdarah seperti itu. Cepat sana bersihin dulu! " bu Retno yang sedang berkeliling melihat jarinya berdarah.
"Lanjutin nih! " seru nya pada anggota kelompok.
Dia lantas pergi ke toilet setelah melepas jas lab yang dia pakai.
Darah menetes ke wastafel bersamaan dengan air, padahal goresan nya tidak terlalu besar tapi darah yang dikeluarkan lumayan banyak.
Di lap nya menggunakan tisu untuk menghentikan pendarahan sementara. Sambil ia tekan-tekan sedikit supaya sisa darahnya keluar.
Tidak ingin berlama-lama Fasha langsung meninggalkan toilet.
"Fasha?! "
Wajah Re seperti kaget melihat Fasha di depannya.
"Tangan lo kenapa? " diambilnya tangan Fasha tanpa izin.
"Ngga papa kok! " tangannya langsung ia tarik.
"Ngga papa apanya, ini berdarah Fasha 'BER-DA-RAH' bisa infeksi tau. " jawanya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kalau infeksi terus bisa di amputasi gitu? " jawabnya seolah perkataan Re adalah candaan.
"Iya beneran, kalau ngga percaya coba tanya dokter hewan. Tunggu bentar, kayaknya gue ada plester deh... "
Re mencari-cari plester dengan menjajahi semua kantong tas nya karena ia lupa menaruhnya di kantong yang mana.
"Ah ini dia, sini biar gue pasangin! "
Di buka lah pembungkus plester itu lalu menautkannya ke jari Fasha yang tadi terluka. Re melakukannya deng lembut dan pelan.
"Sudah, nah kalau gini kan aman ngga bakal infeksi lagi apalagi di amputasi. " ucap Re sengaja.
"Makasih" singkat Fasha dengan wajah kaku.
"Yah sama-sama"
Re melihat Fasha untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi menuju GOR. Fasha juga melihatnya sampai Re benar-benar pergi dari hadapannya.
Dilihatnya lilitan plester berwarna pink itu, kenapa hal kecil seperti ini bisa dia pedulikan. Jangan-jangan semua hal tentangnya ia pedulikan. Dia bingung harus bagaimana lagi menghadapi Re.
"Tumben dia ngga nolak sentuh" Re sedikit heran.
"Awal yang menarik"
Re merasa Fasha perlahan menerima kehadirannya dan berharap semoga inilah awal yang baik bagi mereka.
Moodnya tiba kembali bagus, berjalan sambil bersenandung ria hingga orang yang melintas memperhatikannya. Tapi tak ia pedulikan tatapan tatapan itu.
Sampai akhirnya dia berhenti, ketika seseorang memblokir jalannya.
"Minggir! " seru Re pelan.
"Ikut gua bentar! "
"Bisa nanti di rumah aja ngga, gue masih ada urusan! " tolak nya langsung.
"Ngga bisa, ayolah bentar aja... " rengeknya benar-benar di tengah lalu lalang orang.
"Huahhh" Re menghembuskan nafas kasar.
Di tariknya Re kedalam ruang kelas kosong lalu menutup pintunya.
"Kemaren lo belum buatin makalah gua kan, nah buatin sekarang tuh laptopnya. " perintahnya dengan enteng.
"Makalah?! "
"IYA "
"Heh lo pikir bikin makalah 5 menit?! Ogah gue "
Re ingin pergi tapi Yans menghalangi pintu itu, tentu saja emosi nya terpancing.
"Mau lo apaan sih? ngga puas bully gue terus? Mau ngancem pake apa lagi? Mau bilang ke orang-orang tentang hubungan kita? Yaudah publishing aja sana ngga peduli lagi gue! " ucapnya berapi-api.
Yans tidak tau jika dirinya sudah terlambat ke taekwondo kalau begini lebih lama lagi.
Bukannya minggir Yans malah memamerkan sekresek snack yang dibelinya.
__ADS_1
"Ada kwetiau nya juga padahal, yakin nolak? "
"Sorry gue udah kenyang, minggir! "
Masih tak mau menyingkir Re lantas memberontak supaya bisa keluar. Sementara Yans tetap mempertahankan posisinya.
"Bantuin gua kenapa sih, kali ini aja... " mohon nya sambil menahan Re.
"Ngga! "
Re masih memberontak merebutkan handle pintu dengan Yans. Tapi tenaganya yang tidak sebanding itu hanya satu tangan saja sudah cukup untuk menahannya.
Tidak ada cara lain lagi dan terpaksa Re menggunakan kekuatan terpendam nya.
Digigit nya lengan Yans kuat-kuat hingga sang empu merintih kesakitan.
"Aaaaaawwwwww... lo anjing ya?!" gigitan yang sakitnya menjalar ke seluruh badan ia rasakan nya.
"Iya, emang gue anjing kenapa?! " jawabnya.
Setelah berhasil lepas dari cengkraman, Re cepat membuka pintu dan melarikan diri.
Semoga setelah ini Yans kapok dan tidak mau mengejarnya lagi.
Aarrggtttt...
"Syalan, untung ngga putus tangan gua digigit dia! "
......................
"Ada yang tau kemana perginya Re, bapak telponin ko ngga aktif? "
"Mungkin ngga latihan kali Bam, gimana kalau kita mulai aja. " ujar seorang siswa.
"Oh gitu ya, yasudah mulai saja. "
"Bam coba tunggu sebentar lagi siapa tau dia lagi di jalan"
Fasha melihat pintu terus menerus menanti sosok itu muncul. Kenapa dia tidak datang padahal tadi ada, aneh tiba-tiba misterius begini.
"Udahlah mau nunggu sampai kapan lagi, keburu sore loh ini. "
"Iya, kasihan sama yang rumahnya jauh Sha. Yasudah yuk kita mulai pemanasan nya. "
Dua kali ditepuk pundak Fasha oleh sabam Ivan.
"Maaf Bam saya telat" ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.
Fasha pun ikut bernafas lega melihatnya.
"Ini dia yang ditunggu, yasudah sana ganti baju dulu. "
Re mengatur nafasnya dulu beberapa saat barulah ia pergi ke ruang ganti.
Tanpa disadarinya Fasha melihat dirinya sejak awal di kejauhan.
...----------------...
__ADS_1