
"Re, lu dipanggil pak Imron tuh suruh ke lab fisika"
Panggil salah seorang siswi IPA 3.
"Harus sekarang ? "
"Iya katanya"
"Ok, makasih ya"
Re kemudian beranjak dari kursinya dan pergi menuju lab fisika.
"Assalamu'alaikum, permisi pak"
"Oh iya, silahkan duduk Re"
Pusat perhatiannya langsung tertuju pada sosok yang dikaguminya selama ini, ya benar itu Fasha.
Tak mau rugi, Re langsung mengambil tempat yang paling dekat dengan Fasha. Agar puas melihatnya karena ada di pelupuk mata.
"Saya harap dalam kompetisi ini kalian belajar dengan sangat sangat maksimal supaya tidak mengecewakan sekolah, terutama saya. Karena saya ingin menciptakan anak-anak yang cerdas dan berkualitas tinggi"
Fasha fokus mendengarkan ucapan pak Imron sementara Re, dia sibuk mengamati wajah Fasha yang tidak membosankan menurutnya.
Fasha tiba-tiba meliriknya dengan tatapan aneh, seperti mengisyaratkan sesuatu. Dan re, dia malah tersenyum lebar tanpa dosa.
"Khmm, Re... "
"Aah, iya Pak? "
Re langsung tersigap membenahi posisi duduknya.
"Kamu paham apa yang sayang bicarakan barusan Re? "
"Paham pak, paham" Re mengangguk yakin.
Sudut bibir Fasha ketarik sedikit dan menimbulkan senyuman samar, nyaris tak terlihat.
"Ok bagus, yasudah mulai besok sepulang sekolah kita bimbingan dulu. Besar harapan saya jika kalian bisa menang juara umum kali ini. Yasudah itu saja, kalian boleh kembali ke kelas sekarang"
"Baik Pak, saya pamit dulu" Fasha bangkit dan keluar lebih dulu.
"Saya juga pak, permisi" Re terburu karena ingin mengatakan sesuatu kepada Fasha.
"Fasha! " Fasha sontak berhenti, Re lantas menghampirinya.
"Kenapa? "
"Bisa ngga ngobrolnya sambil jalan aja" Pintannya.
"Buku yang kemarin gue pinjem di perpus ternyata banyak rumus-rumus yang ngga gue ngerti, nah lo mau bantuin gue ngga? Eee...maksudnya sekalian belajar bareng gitu" ucap Re dengan kalimat rayuan secara halus.
"Tanya pak Imron aja pas bimbingan besok"
"Pak Imron itu kalo ngejelasin cepet banget, tambah bingung gue yang ada" Re berargumen untuk meyakinkan Fasha.
__ADS_1
Beberapa ruangan sudah dilewati dan Fasha tak kunjung menjawab.
"Yah, lo hectic ya? Yaudah gue coba bimbel nanti" Ia mengeluarkan jurus andalan para cewek, yaitu berlaku kasihan agar ditolong.
"Kapan? " Sebuah kata yang membuat Re sumringah seketika itu juga.
"Khmm, kalau misalnya nanti pulsek gimana? Bisa? "
"Ya, di perpus pas jam pulang"
"Ok, gue duluan ya" Re langsung berlari terburu-buru, tak ingin rona nya di ketahui orang-orang yang berlalu-lalang.
......................
"Woi, kenapa lo seneng banget gitu? " Tanya Bagas yang keheranan.
"Apalagi kalo bukan efek ketemu crush" Eca menimpali.
"Khmm, biasa aja tuh. Gue seneng aja karena bisa ikutan olimp lagi" Ucapnya dengan nada dibuat-buat.
"Prettt, kayak kita ngga tau sifat lo aja. Yakan gas? "
"Oi oi oi, Yans tuh. Ngapain lagi manusia satu itu kesini" Bagas melihat Yans seperti melihat setan.
Yans melintas di taman tempat mereka duduk, hanya seorang diri. Dia berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya. Namun ada saat dimana dia menoleh dan langsung eye contact dengan Re. Sesuai kesepakatan yang sudah dibuat maka tidak boleh saling menyapa, bahkan senyum pun haram dilakukan. Sebab biaya penaltinya sangat mahal.
Huft, gatau harus berkata kasar apa lagi di sins ini.
"Guys kita udah lama ngga hangout, yuk hangout weekend nanti. Gabut banget di rumah" Eca mengajak lebih dulu.
"Re Lo ikut kan?"
"Engga deh kalian aja, gue ada acara ditempat Tante gue. Next time gue ikut" tolaknya karena hari itu adalah hari dimana bunda menikah.
Bel sudah berbunyi dan mereka menyudahi obrolan itu lalu kembali ke kelas.
......................
"Sorry banget ya, lo pasti udah nunggu lama kan. Guru PAI tuh selalu gini kalau jam terakhir, sekali lagi sorry ya" Re menjadi tidak enak karena membuat Fasha menunggunya.
"Ya udah langsung aja, bagian mana yang lo ngga ngerti? " Fasha to the poin.
"Ohh iya, tunggu" Re mengeluarkan buku dan alat tulis.
"Yang ini. Gue ngga ngerti nya kenapa disini bisa jadi min omega kuadrat? "
Fasha mengamati soal itu beberapa saat dan kemudian mulai memaparkan jawaban dari pertanyaan Re. Bukannya memperhatikan penjelasan dari Fasha dirinya malah memperhatikan sisi lain dari Fasha yang menurutnya sangat menarik.
"Hey, kok lo malah bengong. Paham kan sama apa yang gua jelasin barusan? " Tanya Fasha.
"Masih belum paham"
"Coba sambil lo kerjain yang ini, tulis dulu bagian ini nah omega kan pindah ruas berubah jadi min omega. Tinggal subtitusi angkanya kedalam rumus"
__ADS_1
Re melakukan semua yang dikatakan Fasha dari A sampai Z, keduanya pun sama-sama larut dalam pelajaran dan tak menyadari perpustakaan sudah sepi.
"Ini hasilnya? "
"Iya itu"
"Akhirnya...gue bisa tidur nyenyak sekarang"
Senyum lebar terlihat di wajah ayu nya, membuat Fasha memandanginya dalam semenit full. Re jadi malu karena hal itu.
"Nak, belajarnya sudah selesai? " Ibu perpus menghampiri mereka.
"Sudah bu, ada apa ya"
"Perpus nya mau ibu tutup nak, sudah sore"
Benar saja, mereka tidak melihat ada siswa lain selain mereka berdua.
"Astaga, sampek lupa waktu. Iya bu kami pulang sekarang" Re lantas merapikan barang-barangnya.
"Yasudah, awas ya jangan sampai barangnya ada yang tertinggal"
Mereka berdua keluar bersamaan dan sekolah pun sudah lengang hanya ada beberapa anak yang memang ikut ekskul hari ini.
"Enak ya kalau sepi gini, ada angin-angin juga jadi pengen kayak gini terus" Ucap Re seraya menoleh ke Fasha.
"Gue boleh tanya sesuatu sama lo? "
"Tanya aja"
"Apa lo punya pacar sekarang? "
"Ada, cuma jarak kami terlalu jauh" Fasha menatap lurus ke langit.
"Emang sih, LDR itu nyiksa banget " Ucap Re.
"Lo ngga akan paham maksud gue Re" Ucap Fasha dalam hati.
"Fasha Fasha, lo pikir gue ngga tau maksud omongan lo barusan" Ucap Re dalam hati.
"Bunda gue udah jemput, gue balik duluan ya bye" Re melambaikan tangannya beberapa kali, lagi Fasha acuh padanya.
"Sore banget sayang pulangnya? "
"Iya, bimbingan olimp dulu bun"
"Tadi itu siapa nak? "
"Temen Rere, dia olimp juga bun"
"Keliatannya anak baik-baik, bukan anak sembarangan"
"Oh ya jelas, crush gue mah sudah terjamin mutu dan kualitasnya" dalam hati.
;)
__ADS_1
...----------------...