Mercusuar

Mercusuar
Bab 6


__ADS_3

"Nda, boleh ngga Re tanya satu hal ke bunda. Tapi janji sama Re bunda ngga akan sedih" Ucap Re yang sedang memainkan biola di depan TV.


"Soal apa memangnya? " Sementara bunda masih sibuk mencari sinetron kesukaannya.


"Janji dulu! "


"He'emm"


Re langsung pindah duduk menjadi kesamping bunda.


"Gimana sih bun rasanya ditinggal 'pergi' sama orang yang kita cintai? " Re berucap pelan takut membuat bunda sedih, ia berpikir panjang untuk bertanya soal ini.


Bunda melihatnya, mengurungkan niat untuk mencari sinetron favoritnya.


"Kehilangan itu sebuah musibah sekaligus ujian, tapi kehilangan seseorang yang kita cintai itu sama seperti kita diberikan mata tapi tidak bisa untuk melihat. Tidak lagi sempurna hidupnya" Bunda mulai membelai rambut panjang Re.


"Ketika orang itu pergi meninggalkan kita maka rasanya seperti dunia ini tidak ada lagi warnanya, hanya hitam dan putih yang tampak jelas. Dan tidak ada kesembuhan untuk luka itu" Bunda menjelaskannya lemah lembut.


"Tapi bun ada yang bilang kalau kita kehilangan seseorang itu pasti akan sembuh seiring waktu" Re mengeluarkan argumennya.


"Nak ingat, luka untuk orang yang kehilangan itu tidak akan pernah sembuh sampai kapan pun. Hanya saja Allah anugrah kan sesuatu yang jauh lebih indah untuk kita sebagai penghibur hati. Bunda kehilangan ayah, tapi Allah kasih ke bunda Rere yang cantik dan pinter, orang-orang yang baik sama bunda, toko cake, itu udah cukup" Tutur bunda.


Seketika dirinya langsung jatuh ke pelukan bunda dan memeluk dengan erat.


"Rere sayang bunda, makasih ya bun udah jadi perfect mom buat Rere selama ini. Dan seterusnya..."


...----------------...


Di lab fisika Re dan Fasha baru usai bimbingan, begitu pun pak Imron yang juga barusan keluar.


"Fasha gue boleh minta nomor WhatsApp lo ngga? " Re menyodorkan handphone nya kedepan Fasha.


"Gua ngga hafal nomornya! " Jawabnya yang tengah sibuk menyalin tulisan.


"Yaudah lo aja yang simpen nomor gue gimana? Mana handphone lo, biar gue yang masukin"


"Handphone gua lowbat! "


"Please lah, ngga bakal aneh-aneh kok gue. Cuma pengen berkontak aja, boleh yaa... "


Fasha tak menghiraukan nya, ia malah berkemas dan langsung pergi begitu saja.


"Fasha! "


"Ihh dasar cowok, nyebelin banget sih. Huft, sabar Re sabar ini ujian buat lo" Bujuk nya pada diri sendiri.


Re kemudian berkemas dan pergi meninggalkan lab dengan perasaan kecewa karena gagal menjalani misi.


Disaat berjalan melewati deretan laboratorium, tiba-tiba sebuah tangan menariknya dari belakang dan membuatnya terkejut.


Ternyata Itu adalah Yans setelah ia melihatnya.


"Apaan sih tarik-tarik sembarangan, lepas ngga?! "

__ADS_1


"Ikut gue ke belakang! "


Yans berjalan dengan cepat hingga Re menjadi kesulitan untuk melepaskan cengkraman Yans.


"Lo gila ya, kalau tangan gue putus gimana sakit tau! " Re tidak terima melihat tangannya yang berbekas kemerahan.


"Bokap gua nyuruh gua buat bawa lo ke tempat fitting baju! "


"Ngga, gue sama nyokap gue aja"


"Heh cil, nyokap lo tuh udah disana makanya gua disuruh bawa lo kesana. Gua juga ogah kalau bukan karena bokap maksa, pake ngancem segala lagi!"


"Gamau gue" Re ingin pergi namun di bloking oleh Yans.


"Tunggu sini jangan kemana-mana, gua mau ngambil motor!"


Re memilih untuk pasrah, malas rasanya jika meributkan hal tak berfaedah seperti ini .


Tak seberapa lama Yans tiba dengan motornya, ia tampak celingukan kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka.


"Cepat naik, keburu ada yang dateng! "


"Iya Iya bisa sabar ngga sih" Ucapnya malas.


Yans memilih lewat gerbang belakang agar tidak ada yang melihat mereka bersama.


Sesampai di butik Re melihat mobil bunda terparkir di sana, ternyata Yans tidak membohonginya.


"Bunda" Panggilnya.


"Oh iya bu saya ambilkan bajunya dulu" Pramuniaga itu pergi mengambilkan pakaian yang dipesan bunda untuk Re.


"Wah ini beneran bunda? Yaallah cantiknya emak gue. Beda 180 derajat sama yang dasteran di rumah" Re usil menggoda bunda.


Om Hadi baru saja keluar dengan setelah jas abu-abu, sangat cocok di tubuhnya yang tegap dan berisi.


"Gimana sama yang ini, cocok tidak? "


"Bagus mas, cocok juga sama kebaya ini" Ujar bunda yang juga srek dengan setelan itu.


"Yasudah kalau gitu yang ini saja, memang ya mata perempuan itu ngga pernah salah kalau urusan pakaian"


Bunda tersenyum mendengar candaan om Hadi.


"Ini bu baju untuk mba dan mas nya" Pramuniaga membawakan setelan jas dan kebaya yang senada dengan bunda dan om Hadi.


"Re coba dulu nak kebaya nya, pas atau engga biar kalau ada yang salah bisa dibenerin sekarang."


Re mengambil kebaya itu dan masuk ruang ganti.


"Yans kamu juga ganti sana! "


"Ngga usah lah pa, udah yang itu aja bagus kok" Jawabnya sambil memainkan ponsel.

__ADS_1


"Yans! "


Dengan kesal Yans bangkit mengambil setelah jas itu dan pergi ganti.


"Gimana Re suka ngga, ada yang ngga pas atau apa? "


"Pas kok bun, aku juga suka sama modelnya"


"Yasudah mba yang ini aja ya"


"Baik bu. Oh iya, kami juga ada studio bu jika ibu dan keluarga ingin mengabadikan momen ini" Tawar pramuniaga itu.


"Akh, ngga mba gaperlu" Tolak bunda.


"Ngga apalah, sekalian buat foto keluarga. Kita kan belum ada foto bersama yang besar itu"


"Apaan sih pah, aneh-aneh aja"


"Dimana mba studionya? "


"Oh, mari pak bu saya antar"


Mereka semua pergi ke lantai dua untuk proses pemotretan yang katanya 'foto keluarga' itu.


"Maaf, mba sama masnya bisa maju kedepan"


Sang poto grafer memberikan arahan.


"Disini? " Tanya Re.


"Coba lebih merapat lagi mas sama mba nya, nah masnya pegang pundak mba nya begini"


"Harus gitu ya? " Yans menolak.


"Biar keliatan harmonis mas fotonya, lagian adik kakak juga kan"


"Sudah to Yans ikuti saja apa kata tukang fotonya! "


Lagi-lagi dengan terpaksa Yans melakukannya, begitupun dengan Re yang diam menahan kesal.


"Tahan ya, senyum.... "


Cekrek......


Potretan setelah kesekian kali dan akhirnya mendapatkan hasil memuaskan.


"Ok, sudah bagus"


Benar saja, gambar di kamera itu menunjukkan keharmonisan yang tak sesuai realita.


"Pilih yang paling bagus untuk dicetak ya mas, kalau sudah tolong antar ke rumah saya ya"


"Siap pak"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2