Mercusuar

Mercusuar
Bab 7


__ADS_3

"SAYA TERIMA NIKAHNYA ANGGI REVANCA SUBAGIO DENGAN MASKAWIN EMAS 20 GRAM DAN SEPERANGKAT ALAT SHALAT DIBAYAR TUNAI"


"Bagaimana para saksi sah?"


SAH... SAH... SAH


"Alhamdulillaah Hirabbilalamain Bârakallâhu laka wa bâraka ‘alaika wa jama‘a bainakumâ fî khairina.. "


Semua orang memancarkan binar kebahagiaan, tak terkecuali Re yang duduk dibelakang sang bunda. Mendengar kalimat akad di kumandangkan hatinya seperti tergerak, dan berakhir dengan uraian air mata. Menjadikan momen sakral ini penuh suka cita.


Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan surat-surat dan bersalam-salaman dengan kerabat yang hadir. Tidak banyak, hanya keluarga inti yang hadir sehingga rumah bunda yang akan kosong segera ini masih menyisakan tempat.


Re juga ikut menyalami tante dan om nya sebagai ungkapan syukur.


"Selamat ya sayang, kamu akhirnya punya ayah baru" Ucap tante Ningsih seraya mengelus pundak Re.


"Iya tante makasih" Re tersenyum paksa, entah kenapa kalimat itu menyentil perasaannya.


Mungkin karena baru, lama-kelamaan juga terbiasa pikirnya.


Usai bersalaman dan segala dramanya Re memilih masuk kedalam kamar, merehatkan tubuhnya di kasur yang nyaman. Menatap kosong langit-langit kamar, membiarkan tubuhnya rileks. Beberapa hari terakhir ini benar-benar sukses membuatnya kelelahan, baik fisik maupun pikiran.


Sementara Yans, dirinya sungguh tak perduli situasi apa sekarang. Duduk di bawah pohon sambil nge-game adalah jalan ninja nya, tak lupa juga ada vape yang menemaninya.


Entahlah, tidak tau sejak kapan dirinya menjadi pembangkang seperti sekarang. Inilah akibat dari pertengkaran orang tua yang kemudian berakhir dengan perceraian. Mungkin disini dialah orang yang paling terdampak diantara ayah dan ibu kandungnya. Broken home benar-benar membentuk karakter ini pada dirinya.


Tring... Tring... Tring.....


"Halo"


'Bos lo sibuk ngga, ke basecamp gih ada yang perlu di omongin ' ucap Edo si anak Thunder.


"Yo, gua ke sana sekarang! " ucapnya tanpa berfikir ulang.


Dirinya langsung bangkit dan menyalakan motor menuju basecamp Thunder.


"Woi...ada apaan nih? " Sapa Yans yang baru saja turun dari motor.


"Widihhh, rapih amat bos dari mana lo hari minggu gini? " Tanya Andre.


"Bokap gua abis nikah " Jawabnya dengan malas.


"Wanjayy, kok diem-diem aja sih bos ngapa ngga kabarin kita-kita kan bisa dapet makan gratis ya ngga men? " Sahut Jordi.


"Iya bos, btw selamet ya punya nyokap baru" Erik menimpali.


Thunder lain pun mulai menggoda Yans dengan mengatakan 'eaa' berkali-kali.

__ADS_1


"Ahh, bacot lo pada. Bisa diem ngga gua smek satu-satu ntar! " Ucapnya yang sedang makan kacang.


"Guys guys udah cukup becanda nya, gua ada berita penting. Kemaren Dion abis diserang sama Xtradogs makanya dia ngga dateng sekarang karena mukanya bonyok" Edo bersuara.


"Kenapa dia ngga ngabarin kita-kita?! "


"Dia kira cuman dua orang jadi dia pikir sanggup ngelawan, tapi ga taunya semua anak Xtradogs dateng ngeroyok dia. Babak belur tuh anaknya sekarang!"


"Udah gua duga, pasti mereka ga bakal diem aja karena kalah turnamen kemaren. Gini ternyata kalian mainnya, ok gua ladenin! " Ucap Yans.


"Wah, minta di tebas anak Xtradogs Gabisa di diemin bos, ngelunjak mereka udah berani aja sama Thunder"


"Gas lah"


"Ngga usah buru-buru, kita juga perlu persiapan kalau mau ngabisin sampek akarnya. Kita liat sejauh mana mereka bertindak, balesan kita harus berkali-kali lipat buat... "


Kaleng minuman yang di genggam nya sampai penyok tak berbentuk lagi.


"Bos gua ada rencana" Ucap Edo dan membuat semua orang melihatnya.


Mereka pun merapat untuk berdiskusi, membahas rencana mereka untuk menjatuhkan serangan balik kepada kucing yang sudah berani mengacau sarang harimau.


...****************...


Tak terasa senja hampir berakhir, digantikan malam yang penuh bintang. Menghiasi langit malam di kota X dengan cahaya rembulan penuh.


Setelah serangkaian acara di siang hari tadi selesai, Re dan keluarganya barunya sudah berkemas dan memutuskan untuk pindah malam itu juga. Membawa beberapa koper ke rumah besar milik Om Hadi.


Pintu rumah besar itu terbuka dengan lebar, menampakkan segala pernak-pernik yang tak murah harganya. Begitupun bulek Karsih yang sudah menyambut mereka di depan pintu.


"Selamat datang ibu sama mba Rere, semoga betah ya disini buat teman saya. Langgeng juga sama bapaknya" Ucap bulek Karsih dengan senyuman merekah.


"Makasih bulek"


"Sayang, kalau butuh sesuatu atau apa bilang ya biar disiapin sama bulek Karsih"


"Iya bu, mba Rere juga. Bilang saja kalau butuh apa-apa"


"Iya om"


"Loh, kok masih om to mbak manggilnya? "


"Belum terbiasa" Re tersenyum.


"Gapapa, senyamannya Rere aja" Balas om Hadi.


"Mas saya mau istirahat. Capek banget rasanya, duluan ya bulek"

__ADS_1


"Iya bu monggo silahkan, sudah saya bersihkan juga kamarnya"


"Rere juga istirahat gih, besok kan harus sekolah"


"Yasudah mba Rere ayo saya antar ke kamarnya"


"Ehh ngga usah bulek, biar saya aja yang bawa kopernya" Re mengambil alih koper itu namun bulek Karsih tak melepaskannya.


"Sudah ngga apa-apa, biar bulek yang bawa"


Re akhirnya pasrah dan mengikuti langkah bulek Karsih menuju lantai dua. Re mengamati sekelilingnya, di lantai dua hanya ada sedikit perabotan dan terdapat empat pintu berwarna coklat tua.


Bulek Karsih berhenti di pintu kedua, memutar kunci dan membuka pintu untuk Re.


"Udah bulek, biarin kopernya nanti Re yang beresin"


"Yasudah bulek turun dulu, selamat istirahat ya mba"


"Iya, bulek juga"


Setelah bulek Karsih tak terlihat lagi, Re menutup pintu. Meletakkan koper di depan lemari berwarna putih dan duduk di depan cermin.


Menatap dirinya yang masih berbalut kebaya, berpikir beberapa saat kenapa takdir membawa dirinya kejalan ini.


Akhhh entahlah, mungkin ini yang terbaik untuk semuanya.


Ia beranjak dari sana setelah memberikan kata-kata penyemangat untuk dirinya sendiri.


Ingat guys, menyemangati diri sendiri itu juga penting.


Re selesai bersih-bersih dan langsung merebahkan diri di kasur, menarik selimut dan mulai memejamkan matanya.


Sedikit lagi menuju alam bawah sadar namun ada suara yang mengusiknya.


Tak.. Tak... Tak...


Sepertinya ada seseorang yang menaiki anak tangga dan berjalan kemari. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas.


Tidak bisa, rasa penasarannya lebih besar ketimbang rasa takut. Re memutuskan bangun dan mengecek keadaan diluar.


"Siapa sih? "


Saat membuka pintu, pintu disebelah kamarnya lebih dulu tertutup. Membuatnya berspekulasi bahwa dirinya memang tak seorang diri di lantai dua ini.


"Cowok brengsek itu? "


Dirinya masih berdiam di sana sampai suara shower terdengar di kamar sebelah.

__ADS_1


Kantuk yang sesungguhnya sudah datang, re kemudian menutup pintu mematikan lampu dan tidur dengan pulas.


...----------------...


__ADS_2