Mercusuar

Mercusuar
Bab 25


__ADS_3

"Ini orang-orang pada kemana dah sepi amat di rumah? "


Re menyusuri seluruh ruangan di lantai bawah tapi tidak menemukan seorang pun, termasuk bulek Karsih yang biasanya di dapur pun sekarang tidak ada.


"Jangan bilang gue ditinggal sendirian di rumah, akh males banget! " ucapnya betmut.


Byurrr... Byurrr...


Sontak Re menilik ke kolam, melihat siapakah yang berenang sore-sore seperti ini. Ternyata dia, siapa lagi jika bukan Yans si berandalan itu.


Dilihatnya Yans yang berenang dengan hanya berbalut celana pendek. Benar saja, ternyata tidak hanya wajah yang memiliki garis rahang tegas tapi tubuhnya pun juga atletis.


Terbesit di pikiran Re kenapa tidak menjahili nya saja, sepertinya asik.


Dia berjalan mengendap-endap bak pencuri, diambilnya handuk yang teronggok di kursi. Dengan cepat ia berlari ke dalam sebelum Yans menyadari kehadirannya.


Tak lama setelah itu Yans keluar dari kolam, menyudahi aktivitasnya.


"Perasaan tadi gua taruh disini, kok udah ilang aja? "


Yans sampai keliling untuk mencari handuk yang hilang misterius itu. Semua tempat ia lihat tapi tidak menemukannya.


"Kayaknya ada iseng sama gua, ooh liat aja lo ya! "


Yans masuk kedalam rumah begitu saja, mengabaikan tubuhnya yang basah kuyup.


Di dalam Yans melihat Re sedang duduk di sofa dengan santainya, menonton kartun sambil tertawa sendiri seperti bocah lima tahun.


"Hahaha lucu ya film nya... lucu banget ahaha.... " Yans menirukan tawa Re yang lebih tepatnya mengejek.


"Iya, lucu liat bocil botak kayak gitu... "


"Mana anduk gua, pasti lo kan yang ambil?! "


"Lah mana gue tau kok tanya gue. " kilahnya berbohong.


"Sinilah, ngga liat gua basah gini! "


Yans langsung menoyor kepala Re tanpa berdosa dan membuat Re sigap.


"Mau anduk?, tuh disitu ambil aja sendiri! "


Ditunjuknya anduk yang teronggok di atas lemari jati nan tinggi. Entah bagaimana caranya anduk itu bisa sampai ke sana.


"Anjir lo ya ******, dendam apa si lo sama gua hah?! "


"Kamu nanyaa... "


Kalimat yang membuat emosi Yans melonjak hingga ke ubun-ubun. Kali ini Re sudah membuatnya kesal setengah mati.

__ADS_1


"Dasar bocil syalan! " seraya memukul kepala Re dengan bantal sofa hingga terhuyung.


"Gue kan ngga mukul anjing! " umpat nya sambil melempar balik bantal sofa kearah Yans dengan kuat.


"Wah beneran cari mati ni bocil! " dilempar nya lagi bantal itu.


"Wleee, ngga kena... "


Yans sudah tidak tahan lagi, akhirnya aksi kejar-kejaran pun terjadi. Dimana Yans dengan gesit mengejar Re namun Re juga tidak mudah di dapatkan, ia sangat cerdik rupanya.


"Ngga bisa kan nangkep gue, yahaha... " ejek nya.


"Bacot, liat lo ya nyampe nanti kena abis lo sama gua! " peringatan sudah ia lontarkan.


"Mang eakk"


Ekspresinya yang imut itu membuat Yans makin geram dengannya.


"ASTAGHFIRULLAH LAILAHAILALLAH, apa apaan kalian ini hah? Lantainya kok bisa basah semua gini?! "


Bunda yang masih menenteng plastik-plastik belanjaan pun langsung menjerit begitu melihat mereka.


Begitu juga dengan bulek Karsih yang terbelalak melihat lantai rumah yang baru dipel nya tadi kini sudah seperti kandang kuda.


"Bunda! "


Mereka berdua pun sama terkejutnya, sontak mereka melupakan keributan itu dan menatap kikuk satu sama lain.


Yans yang sadar pun langsung kabur sementara Re, dia juga ingin melarikan diri tapi bunda tak sedikitpun melepaskan tatapan darinya.


"Maaf bun Re anu... "


"Ganti baju, kalau udah langsung pel lantainya! "


Re melihat bunda sekali lagi lalu mengangguk pelan dan pergi.


"Sudah buk biar saya saja yang pel. "


"Jangan bulek, biarin yang ngotorin aja yang ngepel. Lagian ada-ada aja, rumah kok dikiranya lapangan bal-balan. Heran! " sindir bunda.


Beberapa saat kemudian Re sudah kembali ke bawah dengan pel-pelan di tangannya. Mengusap lantai dari kanan ke kiri, terus berulang hingga kembali kinclong.


Namun seseorang secara sengaja menginjak lantai yang masih basah itu, Re tahu tapi dia mengabaikannya. Rupanya bukan hanya sekali tapi dua kali, dua kali Yans lewat dan meninggalkan jejak di sana. Re masih berusaha bersabar walau kesabarannya setipis tisu yang dibelah dua. Biarlah mungkin ini yang terakhir, tapi nyatanya tiga kali sudah dia bolak-balik di sana tidak tau ngapain.


Sudah cukup ya ajg!!


Siap-siap, sebuah sendal melayang kearahnya dan tepat mengenai sasaran Re juga tidak tanggung-tanggung melemparkan dua sendal sekaligus.


"Yeahh, akhirnya... "

__ADS_1


......................


"Fasha"


Panggil Re pada Fasha yang sudah diujung lorong mading, dan dia pun berbalik. Segera Re menghampirinya sebelum Fasha pergi.


"Nih buat nyokap lo. " seraya menyodorkan paperback.


"Apa? "


"Kue, kata lo tante sering nanyain Re jadi Re pengen kasih kue buat tante. Ini buatan Re loh, di bantuin bunda juga sih. " iya tertawa cengir.


"Kayaknya ngga usah deh, makasih. "


"Ih ngga papa kali ambil aja, lagian kan buat tante bukan buat lo. Tapi lo boleh cobain juga sih. " rayu nya secara tidak langsung.


"Oh, thanks ya. " ucapnya setelah paperback berpindah ke genggamannya.


"Re! "


Eca memanggilnya dari ujung lorong dan melambaikan tangan, Re yang melihatnya pun langsung menghampiri. Meninggalkan Fasha dengan seulas senyuman.


"Abis ngapain kalian? " tanya Eca yang penasaran.


"Ngga ada. " Bohongnya tapi gagal karena wajahnya terus tersenyum.


"Chuakzz, ngga ngapa-ngapain kok mukanya full senyum gitu. "


"Iya iya ntar gue ceritain di kelas, berisik banget! "


Mereka berjalan menuju kelas sambil mengobrol tanpa henti, diiringi tawa di sela-sela obrolan.


Sementara Fasha, mengambil jalur yang sebaliknya sambil menenteng paperback itu dan menghilang setelah ruangan terakhir.


Diletakkannya bungkusan itu di atas meja, lalu dia pergi ke kamar.


"Sha, apa ini? " tanya tante Rumi yang mengecek isi di dalam paperback itu.


"Buat mama tuh kuenya. "


"Buat mama, dari mana emang? "


"Dari Re" ucapnya sangat pelan sebelum menghilang di balik pintu kamar.


Dibukalah toples yang berisi kukis dengan taburan keju diatasnya itu. Melihatnya begitu menggoda dan langsung mencicipi nya.


"Enak, tapi rasanya kok kayak ngga asing ya? "


Tante Rumi masih mencerna lambat-lambat setiap rasa yang muncul dari kukis itu, rasa yang pernah ia coba sebelumnya.

__ADS_1


"Halah ngga inget percuma, sudahlah yang penting enak. Buat sendiri juga ngga bisa, malah gosong yang ada. "


...----------------...


__ADS_2