
Tok.. Tok.. . Tok..
"Re... sayang... buka pintunya nak. Lagi tidur ya? "
Panggilan bunda diluar kamar.
"Iya Bun sebentar" Re yang tengah mengerjakan tugas pun menghentikan aktivitasnya.
Krekk...
"Iya bun kenapa? "
"Kita diundang dinner di rumah om Hadi, Rere mau kan ikut bunda? "
Re tampak berfikir beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Yasudah buruan siap-siap gih, bunda tunggu ya. Yang cantik dandannya" bunda tersenyum sebelum pergi.
Re kemudian pergi ke kamar mandi dan keluar 20 menit kemudian. Baginya tidak istimewa makanya ia hanya memakai kemeja yang dipadukan dengan jeans, serta riasan tipis.
"Bun, gini aja ngga papa kan? "
Bunda mengangguk tersenyum melihat penampilan Re.
"Kita berangkat sekarang yuk, ngga enak udah ditungguin sama om Hadi"
Re dan bunda pergi menggunakan mobil. Mereka bercerita tentang kejadian yang dialami hari ini, dan sesekali bunda mengatakan lelucon atau joks ibu-ibu yang bisa dibilang freak. Ditengah gulatan tawa ini Re merindukan masa-masa dimana ada tiga orang yang tertawa disini. Bunda bisa gembira seperti ini adalah suatu kenikmatan yang sangat diinginkannya.
Untuk itu dirinya memilih merelakan bunda untuk menikah lagi. Walaupun pikirannya terus dihantui rasa takut akan sikap om Hadi nantinya, mampukah beliau menjadi seperti ayah? Mampukah beliau menutup luka di hati bunda karena kepergian ayah? Dan apakah beliau mampu membuat senyum bunda terus bersinar seperti sekarang ini?
Dirinya hanya bisa berdoa semoga bayangan-bayangan itu cuma halusinasi yang timbul akibat cemas berlebihan.
Bel yang ditekan bunda berbunyi, membuat bulek Karsih berlari ke depan untuk membuka pintu.
"Oalah ibu sudah datang, monggo buk masuk. Bapak sudah menunggu dari tadi di meja makan" ucap wanita tua namun masih terlihat sangat sehat itu.
"Iya, tadi Re dandannya lama jadinya kemalaman berangkat nya " bunda lagi-lagi menggoda Re.
"Bundaaa" Re tersenyum kesal.
"Nduk e ayu tenan to Iki, namine sinten ayu?" Tanya bulek Karsih yang menuturi langkah mereka.
"Re ibu"
"Panggilnya bulek saja, seumuran to sama mas Yan"
Benar apa yang dikatakan bulek Karsih, om Hadi sudah stay dimeja makan. Melihat kedatangan mereka beliau bangkit dari kursi.
"Yasudah, saya tinggal kebelakang dulu ya Bu dan mba Re nya. Monggo dinikmati seadanya" bulek Karsih langsung pergi sah mengantar mereka ke meja makan.
"Anggi, Re, silahkan duduk. Kita makan sambil ngobrol-ngobrol santai aja ya"
Bunda dan re mengambil tempat setelah dipersilahkan sang pemilik rumah.
"Maaf ya sudah buat mas Hadi menunggu lama" bunda membuka obrolan.
"Sudah tidak usah dipikirkan lagi, ayo dipilih mana yang disuka. Mau semua juga boleh buat Rere, biar tambah tinggi itu harus makan yang banyak" Om Hadi tersenyum dan dibalas senyuman juga oleh Re.
"Mau saya ambilkan nasi mas?"
"Oh, boleh-boleh. Tidak usah banyak-banyak"
"Re mau bunda ambilin juga? " Tanya bunda setelah memberikan piring kepada Om Hadi.
__ADS_1
"Mau, sama sayur terus udangnya juga bun"
"Ayamnya sekalian masih utuh tu. Ga usah sungkan-sungkan loh, bentar lagi kan jadi rumah sendiri juga" Seraya menunjuk sepiring semur paha ayam.
"Dia ngga suka paha ayam, gatau kenapa"
Re lantas meraih piring yang diberikan bunda dan semuanya mulai menyantap makanan.
"Kok dari tadi ngga lihat Yan mas, memangnya ngga mau ikut makan dia? "
"Jam segini belum pulang dia, ngga tau anak laki-laki susah banget diatur nya. Saya juga heran, di kerasin malah tambah jadi. Ngga tau lagi harus diapain itu anak" Jawab om Hadi disela makan.
"Biasa mas, anak laki-laki memang semuanya begitu. Apalagi masa-masa nya muda gini, sukanya nongkrong sama main-main"
"Ngga seperti Rere, pinter terus rajin cantik juga" Puji om Hadi.
"Engga kok om, Rere juga sering kok nongkrong sama temen-temen Rere. Tapi cuma sebentar, kalau lama bunda marah-marah" Kalimat terakhirnya langsung membuat bunda menoleh.
"Ahaha, jadi maksud Re bunda itu sebenarnya galak?"
"Ibu mana sih yang ngga marah kalau anak perempuannya pulang malam" ucap bunda menggunakan logat khas ibu-ibu nyindir.
"Om Rere mau ke toilet, dimana ya toiletnya? "
"Kamu lurus aja terus belok kanan" Seraya menduding lorong di sudut ruangan.
"Re permisi dulu"
Tak lama dari itu bel rumah berbunyi, dengan cepat bulek Karsih membukakan pintu.
"Mas Yan udah pulang to, buruan ganti baju mas terus temenin papanya makan. Lagi ada tamu penting" Ucapan bulek dengan logat lemah lembut nya.
Yans langsung menyalami bulek Karsih setelah masuk.
"Tapi masnya ndak mau kenalan dulu to sama ibu? "
Yans tak menjawab dan malah melenggang begitu saja. Bulek yang tau sifat aslinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Yans, udah pulang kamu? Sini dulu ada yang mau papa kenalin ke kamu" Mendadak logat om Hadi menjadi dingin.
"Hmmm" Yans tak menjawab bahkan menoleh pun tidak. Ia menaiki anak tangga tanpa rasa bersalah dan menghilang dibaliknya.
"Kamu liat sendiri kan Nggi, ya gitu kelakuannya sama orang tua udah ngga ada sopan santunnya lagi" Kesal om Hadi.
"Om kenapa kok tiba-tiba kesel gitu? " Re kembali duduk.
"Bukan apa-apa, om cuma kesel kalau dia begitu ke orang lain. Sekolah tapi seperti tak ada etika! "
"Sudah lah mas biarin dia istirahat, mungkin lelah. Saya ngerti kok"
"Kita mengobrol diruang tamu saja gimana, sekaligus ada yang mau saya diskusikan dengan kamu Anggi mengenai hari H nanti"
"Oh iya mas boleh"
"Emm, bun kayaknya perut Rere begah deh karena kekenyangan. Jadi mau jalan-jalan sama cari angin diluar, bolehkan? "
"Iyah sayang boleh"
Karena sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan om Hadi maka Re memilih untuk pergi.
"Besar dan bagus juga rumahnya, tapi sayangnya sepi kayak kuburan"
Re bergumam sendiri di teras rumah berlantai dua itu.
__ADS_1
"Ini kok ada motor punya siapa, tadi kayaknya ngga ada deh? "
"Tapi kok gue kayak kenal sama motor ini, punya siapa ya? " Re tampak berfikir keras untuk mengingatnya.
Ia berjalan menuju motor berwarna merah nyala itu. Diamatinya betul-betul mulai dari atas sampai bawah, hingga sebuah wajah menyebalkan muncul di pikirannya.
"Yans si brengsek itu?! "
"Woy ngapain disitu?! " Teriak seseorang sontak membuat Re menoleh.
"Eloh?! Kok bisa dirumah gua? " Yans menduding wajah Re, cewek yang menurutnya selalu buat kesal disekolah.
"Hah rumah, tunggu-tunggu jadi rumah ini rumah lo? Jangan bilang lo anaknya om Hadi?! "
"Oh jadi itu yang di dalem nyokap lo? " Yans tersenyum sinis.
"Iya bokap gua Hadi, kenapa? Nyokap lo ngga jadi nikah karena tau kalau gua anaknya?! "
Re menatapnya kesal, ingin sekali rasanya dia menebas mulut kaleng rombeng itu.
Huahhhh....
Teriak Re dalam hatinya.
"Siapa bilang, gue ngga perduli juga lo anaknya om Hadi atau bukan. Sampe kapan pun kita ngga akan pernah jadi keluarga sekalipun bokap lo udah jadi bokap gue, lo lo gue gue" Sinis nya.
"Cih kepedean, emangnya gua mau engga! "
"Karena udah gini pokoknya anak di sekolah ngga ada yang boleh tau, kalau mereka tau itu pasti ulah lo dan gue buat perhitungan sama lo! "
"Ok, berlaku juga buat lo! "
"Ok deal"
Kesepakatan akhirnya terjalin diantara mereka berdua. Kesepakatan yang berisi ancaman jika hubungan diantara keduanya di ketahui sekolah.
"Lo masih ada utang 'Makasih' sama gua! "
Re langsung paham maksud dari kalimatnya, perihal tragedi tadi siang.
"Makasih! "
"Mas makasih ya sudah undang kami makan malam disini"
"Sama-sama, jika sempat besok saya mampir ke rumah"
Mereka keluar dari pintu dan langsung membuat Re menjauh dari yans.
"Sama Yan diajak kalau bisa biar makin deket ya kan"
Yans yang malas mendengarnya langsung berjalan masuk kedalam.
"Ngobrolin apa tadi Re? "
"Kalian sudah saling kenal kan sebelumnya? "
"Oh, engga om kami baru kenalan tadi. Kalau disekolah Re cuma sering liat tapi ngga tau namanya" Diiringi senyum untuk menutupi kebohongannya.
Hufttt..
"Yasudah, kami pamit dulu mas"
"Ayo sayang kita pulang"
__ADS_1
...----------------...