
Yans baru saja pulang dari sekolah dan baru juga sampai di lantai dua.
Dilihatnya Re yang tengah berdiam diri di balkon, benar-benar hanya diam melamun.
Dihampiri nya ia oleh Yans dengan niat mengacau, entah sejak kapan mengusik Re menjadi hobi barunya.
"Woi koala, kerjain PR gua tuh sama sekalian buatin makalah. Ntar traktirannya dua kali lipat deh. " tawar Yans.
Ini sungguh tawaran yang sangat menguntungkan sepanjang sejarah perjokian. Tapi Re sepertinya tidak tertarik sama sekali. Mulutnya tetap terkunci rapat-rapat.
Yans berfikir mungkin imbalannya kurang sehingga Re tidak merespon.
"Yaudah tiga kali lipat, gua relain ngga jajan dua hari itu. "
Nihil, Re masih nyaman di dalam lamunannya.
"Yakin ngga mau nerima joki gua, gua ngga akan nawarin buat yang kedua kalinya loh. " ucapnya sedikit mengancam.
Finally Re melihat Yans dengan sorot sinis, walaupun tatapannya tidak mengenakkan tapi Yans tetap menunggu kalimat setuju dari mulutnya.
Re tidak berkata apa-apa ia malah pergi begitu saja, menyisakan Yans yang berselimut tanda tanya.
"Dia masih marah sama yang kemarin?! "
Yans terus bertanya-tanya tentang sikap Re hari ini, lebih tepatnya tentang diamnya Re.
Jika begini dia tidak bisa diam saja, Yans berfikir untuk melakukan sesuatu agar Re mau memaafkan dirinya dan bersedia mengerjakan tugas sekolahnya.
Yans memutar otak untuk menemukan solusi masalah ini. Di jajah nya seluruh kamar dari ujung ke ujung, berharap mendapatkan ide dari langit.
Dan benar saja, sebuah ide yang patut ia coba dan memiliki peluang besar untuk berhasil sudah didapatkan.
"Halo Do lo dimana, bisa tolong beliin gue martabak keju sama kwetiau ya SEKARANG. Oh iya satu lagi sama lemon tea sekalian, belinya di street food depan taman sahabat itu ya. Sekalian Do anterin ke rumah gua! " ucapnya dengan enteng pada Edo.
Edo pun tak berani menolak, di iyakan nya begitu saja semua permintaan Yans barusan.
"Cepet ya! " seru nya sekali lagi.
Yans sudah tenang, lalu dijatuhkan nya tubuh itu di atas ranjang. Berselancar di ponsel sambil menunggu notif dari Edo.
Dua puluh menit kemudian notif WhatsApp muncul di ponsel Yans. Segera ia bangun untuk mengambil pesanan nya dibawah.
"Bos nih pesanan lo, tumben amat lo beli makanan begini? " seraya memberikan beberapa kantong plastik.
"Gua lagi pengen aja, thanks ya Do. Duitnya udah gua tf, lebihnya buat anak-anak nongkrong aja. "
"Ok bos, gua cabut ya. " seraya menyunggingkan senyum lebar.
Dibawanya plastik plastik itu masuk kedalam sambil memastikan semua pesanannya ada di sana.
"Lho mas Yans kok malah beli makanan diluar to, padahal bulek sudah masak banyak ini buat makan malam. "
Langkah Yans jadi terhenti karena ucapan bulek Karsih.
__ADS_1
"Hehe, tapi nanti Yans tetep makan kok bulek. "
Segera ia naik ke atas dan membuka makanan makanan itu di kamarnya.
Betapa semerbak aroma martabak keju ini hingga seluruh ruangan memancarkan wanginya yang menggoda. Tak lupa kwetiau juga dibuka olehnya, dibiarkan tergelak di atas nakas.
"Hmm udah pas, tinggal nunggu mangsanya dateng sendiri. " senyum menyeringai muncul di wajahnya.
Tidak ada suara di kamar Re, benar-benar sunyi dan senyap.
Musik, menjadi pilihan alternatifnya ketika sedang badmood, gloomy atau sekedar penat karena pelajaran.
Jika mendengarkan musik perasaannya seolah pulih dengan sendirinya walaupun tidak sepenuhnya.
Benar saja, aroma martabak keju tak luput dari penciuman Re.
Keharuman nya benar-benar menyulut naluri Re hingga ia terbangun dari rebahan nya.
"Martabak keju? Kwetiau? "
Tebakan yang sangat tepat sasaran, ya jelas wong martabak dan kwetiau sudah menyatu dengan urat nadinya kok.
Re menelusuri sumber bau itu hingga keluar dari kamarnya. Terus ia berjalan hingga berhenti tepat di pintu kamar Yans. Pintunya terbuka.
Di sentuhnya handle pintu, namun ia ragu melakukannya. Bagaimana jika martabak dan kwetiau hanya angan bukan kenyataan? Kan malu sama Yans.
Akhirnya Re berhasil mengusir pikiran pikiran itu dari benaknya, di dorong lah pintu dengan amat sangat pelan.
"Itu dia!"
Re masuk dengan penuh kehati-hatian, di hampirinya makanan di atas nakas.
"Real cuy, pas banget sih gue laper. Tapi punya siapa? "
Re melihat sekeliling dan tidak ada orang selain dirinya.
"Gue makan dikit ngga dosa kan yaa..."
Re mencolek keju di martabak lalu menjilatnya.
"Kayaknya sih ngga dosa asal bilang, besok deh gue tanya buk zulfa. Kalau makan dulu izinnya terakhiran dosa ngga. "
Mulai dia melahap kwetiau, lalu disusul dengan martabak. Lidahnya sangat menikmati setiap gigitan dan kunyahan hingga remahan keju di jarinya pun ia tak rela melewatinya.
"Re Re, gampang banget jinakin nya. Dasar koala! "
Yans mengintip dari celah pintu kamar mandi, ia merasa sangat puas dengan hasilnya.
"Enak ya? "
"He'em, banget. "
"Oou, mau nambah ngga? "
__ADS_1
Re terbelalak seketika, ia baru sadar suara siapa yang sedang bicara dengannya.
"Ngga usah makasih. " Re benar-benar malu, dia ingin menyingkir seketika itu juga.
"Maaf ya ini punya gua, gua yang beli! " Yans mengambil semua itu dari hadapan Re.
Wajahnya seketika berubah menjadi muram, seakan Yans merebut sesuatu yang berharga.
Dengan sangat hati-hati ia mengunyah martabak terakhir, tidak ingin menyia-nyiakan rasanya.
"Woyla anjir, mukanya polos banget ini bocah. Diginiin aja pengen nangis. " batin Yans.
"Lo masih mau? "
Re mengangguk samar.
"Ngga papa sih kalau ngga mau, gua makan sendiri aja. " sengaja nya menggoda.
Re langsung menahan plastik yang ingin dibawa Yans.
"Jangan... "
"Okeh gua ikhlasin semua ini tapi dengan syarat lo kerjain PR Inggris sama kimia gua, gimana? "
Re tampak berpikir beberapa saat sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Yans. Mana bisa dia menolak makanan.
"Deal ya, nih lo abisin semuanya. "
Senyumnya kembali setelah kwetiau martabak dan lainnya berpindah tangan.
Re mulai mengerjakan tugas tugas Yans sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Dasar bocil, udah 17 tahun juga masih aja makan blepotan kemana-mana. "
Di lap nya noda kecap di sudut mulut Re dengan tisu. Re terkesima sekaligus heran dengan perilaku Yans padanya, berubah sedikit lebih baik.
Malam semakin larut, semua makanan sudah habis tak tersisa namun PR masih belum kelar. Re juga sudah tak tahan dengan kantuk nya itu, di pejamkan nya mata dengan kepala tergeletak di meja.
Kantuk hebat berhasil menguasai dirinya hingga ia terlelap sampai pagi.
Perlahan matanya mulai terbuka, tidur nyenyak nya diusik oleh sinar matahari yang menerobos melalui gorden. Beberapa kali ia mengerjapkan mata sampai benar-benar melek.
Dilihatnya langit-langit kamar yang asing, ini bukan kamar gue?
Detik berikutnya ia bangkit, memeriksa sekitar bahwa hanya dirinya yang tidur di atas ranjang. Ia menghembuskan nafas lega.
Tapi kemudian pemandangan di sofa benar-benar membuatnya speechless. Musuhnya rela meminjamkan ranjang untuk dirinya sementara pemiliknya tidur di sofa.
Re menghampiri Yans di sana, menatap paras damai yang menjelma jadi monster ketika sudah bangun.
Tiba-tiba terbesit di benaknya untuk melakukan sebuah kegilaan. Memanfaatkan kesempatan ini yang mustahil datang dua kali.
...----------------...
__ADS_1