Mercusuar

Mercusuar
Bab 8


__ADS_3

"Pagi semuanya" sapa Re yang baru turun.


"Selamat pagi sayang" balas bunda.


"Mau sarapan roti atau nasi goreng?" Lanjut bunda.


"Emm roti aja bun"


Bunda lalu mengambil selembar roti panggang dan mengoleskan selai blueberry diatasnya.


"Gimana Re tidurnya semalem, nyenyak?" tanya om Hadi yang juga sedang sarapan.


"Lumayan, cuma kalau malam dinginnya kerasa banget. Udah selimutan tetep aja kedinginan" ujarnya dengan suara khas.


Bunda meletakkan roti tadi di piring Re dan ikut sarapan.


"Sarapan dulu, ngobrolnya stop dulu ya"


Re mengambil roti itu dan hendak melahapnya, namun dirinya teringat sesuatu.


"Astaga kelupaan, handphone aku masih di kamar. Bentar ya Bun"


"Anak zaman sekarang, handphone ketinggalan sudah kayak apa aja" heran bunda.


Di tangga Re berpapasan dengan Yans yang hendak turun, keduanya tak saling menyapa atau pun sekedar melihat. Sungguh melelahkan jika begini terus sampai akhir.


"Yans ngga sarapan dulu nak? " Tanya bunda.


Ia masih tak menghiraukan sampai om Hadi menyebut namanya. Dirinya dengan terpaksa berbalik, mengambil roti di atas piring lalu pergi.


"Yans mulai sekarang ATM kamu papa bekukan, di kasih ATM kerjaannya cuma foya-foya selalu pulang malem keluyuran ngga jelas! "


"Kok gitu sih pah, kita kan udah sepakat sebelumnya. Papa juga ngga bilang aku ngga boleh foya-foya, uang segitu doang di permasalahin! " Bantahnya yang tidak terima dengan keputusan ayahnya.


Om Hadi tetap fokus makan dan sesekali menyeruput kopi.


"Seusia kamu itu seharusnya udah ngga berketergantungan lagi, sudah bisa cari uang jajan sendiri. Keputusan papa sudah bulat, jadi mulai sekarang uang jajan kamu diatur sama mama Anggi! " Om Hadi mengakhiri sarapan dengan menyeruput kopi.


"Shhhh, baru juga sehari udah berkuasa aja! " dumelnya sendiri.


"Ngga pamit kamu?! "


"Udahlah mas, anak seperti itu ngga bisa dikasari. Percuma di marahin yang ada malah tambah membangkang"


"Saya udah ngga tau lagi harus diapakan anak itu, saya serahin semuanya sama kamu ya sayang. Mohon didikannya ya sayang karena dia dari dulu kurang perhatian orang tua, apalagi ibunya"


Bunda tersenyum menanggapi permintaan om Hadi barusan.


"Loh roti Rere mana bun, kok ngga ada? " Celingukan dia mencari keberadaan roti selai yang sesaat tadi masih utuh di atas piring.


"Tadi dimakan sama abang mu, sebentar bunda buatin lagi"

__ADS_1


'Sejak kapan gue ada abang'


"Rere mau berangkat sama siapa nak? "


"Bunda" Ucapnya yang tengah melahap roti.


"Bunda belum ambil mobil sayang, jadi berangkatnya bareng papa aja ya"


Whattt...


Re melongo seketika, kalau nanti ada yang liat gimana. Masa iya baru sehari udah kebongkar aja. Re melihat arlojinya, sudah jam tujuh lewat juga tidak ada jalan ninja lain dan akhirnya ia mengangguk karena tertekan.


"Berangkat dulu ya sayang"


"Yaa, hati-hati ya mas"


"Berhenti di sini aja pak" Seru Re kepada supir om Hadi.


"Loh kok disini Re, kan masih di depan sana gerbangnya?


" Akhh ngga om di sini aja, soalnya.... Em... Rere mau beli siomay itu dulu om" Untung saja matanya jelalatan dan menemukan tukang siomay untuk dijadikan alasan.


"Harusnya tadi sarapan yang banyak"


Re keluar setelah bersalaman, menunggu mobil itu pergi barulah dia berjalan. Memperhatikan sekitar dan memastikan tidak ada mata yang memperhatikannya.


......................


Fasha Fasha, dapetin nomornya aja sulit apalagi hatinya. Gue harus gimana lagi sih buat deketin lo?!" Re menatap galau kearah Fasha yang melintas di depan kelas.


"Hu'um, gue udah coba tanya ke beberapa anak yang famous tapi tetep aja ngga ada yang punya. The real spesies langka di bumi"


"Sulit banget sih idup lo, jadi kasian gue"


ledek nya pada Re yang mengerucutkan bibirnya.


Re menyandarkan kepalanya di bahu Eca, mengasihani nasibnya sendiri yang malang dalam urusan percintaan.


"Eh bentar geh, Fasha itu anak taekwondo kan kalau ngga salah?" Tanya Eca tiba-tiba.


"Terus apa hubungannya?"


"Gue kan dulu sempat join taekwondo tuh, jadi harusnya masih ada dong GC nya" Eca tersenyum aneh, Re yang mengerti makna senyum itu langsung ikut tersenyum juga.


"Harusnya masih ada, kalau belum logout"


Eca menelusuri pencarian di WhatsApp, membuka room chat grup dan men scrool kontak-kontaknya.


Keduanya tersenyum lebar ketika sebuah kontak berinisial Fasha Xavier Ibrahim muncul di layar.


Dengan cepat Re mengeluarkan ponselnya dan menambahkan nomor itu ke kontaknya.

__ADS_1


"Yeah, akhirnya. Gue jadi excited pengen liat ekspresi dia pas buka chat gue"


"Ahaha, dia pasti langsung serangan jantung sih menurut gue. Jangan lah juga langsung lo spam, di blok yang ada"


.....


"Hay, lagi ngapain? " Re langsung duduk tanpa izin terlebih dulu.


Fasha tak menjawabnya, ia tetap tenang dan fokus membaca. Sementara Re, menopang dagu sambil memandangi wajahnya dari depan.


"Perpus bukan buat duduk santai, tapi buat baca buku. Kalau cuma mau duduk mending di kantin" Usirnya secara halus.


Re langsung ngeh maksudnya, dia bangkit mengambil asal sebuah buku lalu berpura-pura membacanya.


"Gue heran, kenapa jam istirahat bukannya ke kantin tapi lo malah ke Perpus? "


"Coba pertanyaannya dibalik" Seraya membuka lembar berikutnya.


"Ya...karena gue pengen liat lo, ngga ada yang salah kan?" Balasnya.


"Enak ya mereka, bisa ngerjain tugas bareng sama pacar di perpus. Gue iri jadinya" Re melihat couple kelas sebelah di meja yang tak jauh darinya.


"Bisa diem ngga?! "


"Bisa, tapi bukan sekarang"


Fasha yang kesal memutuskan untuk pindah meja, tapi tetap saja diikuti oleh Re.


"Fasha, liat nih" Re menunjukkan room chat nya dengan nomor Fasha.


Fasha hanya melihatnya sekilas seolah tak perduli. Membuat Re tak bersemangat lagi karena ekspresi Fasha tak sesuai harapannya.


"Dapet dari mana lo? "


"Ngga perlu tau gue dapet dari mana, yang penting gue berhasil dapetin tanpa harus ngemis ke lo. Se effortless itu kan gue"


"Itu karena gue suka sama lo Fasha" Hanya terucap dalam hati.


Fasha benar-benar sudah jengah dengan perilaku Re, ia menutup buku dengan kasar lalu membereskannya.


"Eh mau kemana? "


"Gua udah selesai bacanya! "


"Inget ya, sejauh apapun lo ngehindar dari gue sejauh itu juga gue deketin lo. Gue ngga akan nyerah! "


"TERSERAH"


Setelah mengucapkan itu Fasha langsung pergi begitu saja, meninggalkan re yang bergejolak asmara.


"Sabar Re, lo harus step by step buat dapetin dia. Ngga bisa instan"

__ADS_1


"Gue tau, dan gue bakal terus berusaha sampai akhir! "


...----------------...


__ADS_2