Mercusuar

Mercusuar
Bab 22


__ADS_3

"Kalian butuh apa ke sini? "


Mereka bertiga duduk di depan madam Gory dengan canggung, rasanya tidak nyaman duduk berhadap-hadapan dengan orang yang berpenampilan aneh. Apalagi anting yang seperti peleg motor dan rambut kribo nya semakin membuatnya terlihat aneh.


"Saya terima servis mak comblang, konsultasi masalah cinta, mengusir pelakor dan lain-lain. Jadi kalian mau yang mana? "


Dukun cinta itu bertanya sambil menatap penuh rayu kepada mereka, lebih tepatnya kepada Bagas.


"Apaan anjir dia ngeliatin gua kayak gitu, merinding gua cok. " gumamnya lirih.


"Sttt! " Eca menekankan.


"Ehmm, jadi gini mbah, saya ada... " belum usai Re berbicara tapi dipotong oleh dukun itu.


"STOP, jangan panggil saya mbah tapi madam 'madam Gory'! "


Re langsung tersentak saat itu juga karena suara keras dukun itu.


"Iya madam, Saya itu punya crush madam tapi crush saya itu setia banget sama pacarnya jadi dia selalu nolak saya. Jadi saya mau minta trik dan tips dari madam gimana caranya crush saya itu mau jadi pacar saya gitu. "


Terangnya yang di balas anggukan oleh madam gory.


"Apa itu kras? "


Wah sungguh pertanyaan yang membagongkan. Mereka semua bergeleng mendengarnya.


"Kasih tau Ca" suruh Re.


"Crush mbah bukan kras, madam maksudnya. Crush itu orang yang disukai. "


"Oo ya ya.... Saya paham, jadi sebenarnya kamu mau jadi pelakor begitu? "


"Kok pelakor sih mbah?! " Re tidak terima dirinya disebut pelakor.


"Bukan madam, maksud teman saya itu dia suka sama orang yang masih setia sama pacarnya itu padahal pacarnya udah meninggal. " jelas Bagas.


"Oo ya ya saya paham."


"Males gue kalo kayak gini, dukun apaan coba gajelas gini. " dumelnya berbisik.


"Jadi apa solusinya?! "


"Tunggu sebentar, madam mau terawang dulu. "


Dukun itu kemudian memejamkan matanya sambil membaca suatu mantra aneh.


Lama mereka menunggu sampai bosan dan jengah, mana tempatnya sempit dan juga engap.


"Berdasarkan penerawangan saya, kamu harus dekati dia dengan menggunakan parfum pemikat ini. "


"Parfum apa?! "

__ADS_1


"Parfum penakluk hati, jadi kamu cuma semprotin ke baju kamu saat ketemu dia, nah pas nanti dia mencium aromanya dia pasti langsung... "


"Ngga, ngga mau gue pake cara gituan. Tadi lo bilang halal ya Gas, terus ini apa ajg! " Re emosi karena ini melanggar ideologinya, "Ogah gue make gituan! " lanjutnya.


Re langsung bangkit dan pergi dengan kesal, dia tidak mau menghuni cara yang disarankan dukun abal-abal itu.


"Lah mau kemana itu, saya belum selesai ngomong! " dia meneriaki kepergian Re.


"Akh anu madam sepertinya teman saya ngga mau pakai cara ini. " Eca bingung harus bicara apa.


"Yasudah kalau dia ngga mau kalian saja ya? "


"Oh ngga usah kami ngga perlu begituan madam. " tolak Bagas.


"Terus ini gimana, saya sudah capek-capek pakai ilmu saya tapi malah ngga jadi! "


"Kami minta maaf madam, kami pulang dulu. Assalamu'alaikum" Bagas menarik tangan Eca untuk pergi.


"Ehh mau kemana, bayar dulu lah disini ngga ada yang gratis. Sini cepek! " madam menahan mereka berdua.


Keduanya saling menatap untuk melihat siapa yang akan membayarnya.


"Bayar gas! "


"Huuh gua lagi yang kena, tombok inimah namanya! " Bagas mengambil uang dari dompetnya.


"Gini dong, yaudah boleh pulang. " ucap madam setelah uang cepek di tangannya.


"Apes banget ketemu dukun abal-abal gitu, mana minta di bayar lagi! "


"Dia pikir gue mau pake kayak gituan, mit amit gue ngga se frustasi itu juga kali. "


"Makanya Gas cek dulu dukun cinta beneran apa bukan! " Lagi-lagi Eca menyalahkan Bagas.


"Gua lagi gua lagi yang kena semprot, iya iya maaf. Gua yang salah, semuanya salah gua! "


"Dih, emang lo yang salah njir. Disalahin kagak mau ni orang aneh. "


......................


"Xavier" panggil seseorang di belakangnya.


Detik berikutnya Fasha menoleh kebelakang, melihat siapakah gerangan yang memanggil nama khususnya itu.


"Nara? "


Fasha tertegun dan speechless seketika setelah tahu gerangan yang memanggilnya.


"Em" senyuman yang lama dia rindukan akhirnya bisa dilihat lagi.


Melihat itu Fasha tidak bisa menahan untuk memeluknya. Berlari sekuat tenaga lalu jatuh ke pelukan Nara, di peluknya dengan erat supaya tidak pergi lagi.

__ADS_1


Dipeluk oleh orang yang sama, tubuh yang sama, tapi kenapa rasanya sudah berubah. Tidak sepertiPelukan pelukan yang dulu.


"Kenapa kamu pergi dari aku, kamu udah ngga sayang lagi sama aku? " Fasha menguraikan pelukan itu.


"Kata siapa Vir, justru aku tuh sayang banget sama kamu. Cuma tuhan tidak mengizinkan kita untuk bersama. " Ucap Nara dengan senyum sedih di wajahnya.


"Yaudah kalau gitu bawa aku juga Ra, biar kamu ngga kesepian dan kita bisa sama-sama. Please! " Ditatapnya Nara dengan penuh harap.


"Stt, gaboleh ngomong gitu vir nanti Tuhan denger. "


"Ga papa, kan memang itu yang aku mau. "


Fasha meraih tangan kanan Nara dan menggenggamnya dengan erat.


"Vir dengerin aku, stop nyalahin diri kamu dan keadaan karena aku. Coba belajar buat nerima ini semua karena memang ini yang terbaik buat aku, buat kamu juga. " Nara menatapnya dengan binar berkaca, menatap dalam berharap tergerak hatinya.


Fasha terdiam, mendengarkan ucapan Nara dengan serius.


"Yah... masih banyak hal hal indah yang belum kamu lewatin. Masih ada mama yang harus kamu banggain dan masih ada seseorang yang harus kamu jaga sama seperti kamu jagain aku dulu. "


Fasha masih menelaah kalimat terakhir yang Nara ucapkan. Apa maksud dia berkata seperti itu.


"Siapa? "


"Nanti kamu pasti tau sendiri kok. Mau kan ngelakuin itu seenggaknya demi aku Vir, soalnya aku sedih liat kamu hidup seperti itu terus-terusan. "


Nara memegang wajah Vir dengan tangannya, mencoba berbicara dari hati ke hati.


"Kalau itu mau kamu aku akan coba. "


Jawaban yang membuat Nara meneteskan air mata, inilah keinginannya pada Fasha.


Tak tega Fasha lantas menariknya ke dalam pelukan, ia mengerti betul bagaimana perasaan gadis ini.


Keduanya benar-benar larut dalam dekapan hingga tanpa sadar tubuh mungil itu mulai memudar. Menyisakan manik manik cahaya yang dipeluknya.


"Ra...aku belum puas meluk kamu jangan pergi dulu, sebentarrr lagi Ra." Fasha membuka matanya, mendapati pelukan nya yang kosong.


"NARA..."


Teriaknya histeris ketika itu juga, tak disangka lagi-lagi Nara pergi tanpa berpamitan padanya.


Fasha membuka matanya lebar-lebar, melihat langit langit kamar dengan tatapan kosong.


Menyeka sudut matanya yang meneteskan air entah kenapa.


Meski sulit tapi Fasha tak menyesalinya, karena hanya di sini yang bisa membuat dia dan Nara berjumpa.


Perjumpaan yang teramat sangat singkat itu membuat dirinya sadar bahwa sikapnya selama ini adalah kesalahan, kesalahan yang terjadi ketika seseorang benar-benar frustasi akan Tuhan takdir dan keadaan.


__ADS_1


...----------------...


__ADS_2