Mercusuar

Mercusuar
Bab 33


__ADS_3

Eca menempelkan kupingnya pada daun pintu, berusaha menangkap suara dari dalam. Pasalnya dia sangat penasaran dengan pemilik bayangan tadi.


"Cuma kresek-kresek gada yang lain. Tapi siapa? "


Sudah tau begitu tapi masih saja dilanjutkan menguping nya, memang dasar anak bolot.


"Hah, apa, ini, kamarnya... "


Krekkk...


Pintu dibuka, memperlihatkan visual Yans dengan kaos dan kolor pendek.


Untuk pandang pertama mereka saling terkejut, bertanya-tanya mengapa ada orang ini di sini.


Krik.. Krik.. Krik.. Krik..


"Ca?! " Re melihat keduanya secara bergantian.


Re memecah kebengongan diantara mereka, Eca tersadar dan langsung cabut dari sana.


"Itu beneran, Yans? kok lo ngga bilang sih kalau itu kamarnya?! "


"Emang lo tanya? " balas Re.


"Au ah! " kesalnya karena kesalahan yang menurutnya memalukan itu.


"Lagian lo iseng banget segala nguping di situ, malu kan akhirnya. Udah sana ganti, ngomel terus yang ada ngga jadi buat proposal nanti! " omel Re sembari menyalakan laptopnya.


"Iya iya, bawel! "


Diambilnya setelah piyama dan masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Sembari menunggu Eca mandi, Ia terlebih dahulu menyiapkan template proposal yang akan digunakan. Kalau ada template kenapa harus buat dari awal.


......................


"Tadi siapa namanya om lupa? " Tanya Om Hadi di sela makan.


"Eca om. " jawab Eca diiringi senyum.


"Iya Eca, rumahnya dimana? " lagi.


"Rumah asli Eca di semarang om, "


"Loh kok jauh sekali, jadi bolak-balik setiap hari? "


Sontak semuanya melipat bibir menahan tawa.


"Dengerin dulu pa, itu belum selesai anaknya ngomong! " ucap bunda.


"Engga om, disini Eca ngekost deket sekolah. " ujung-ujungnya Eca tetap senyum karena tidak bisa menahan tawa.


"Owalah begitu, om kira kamu bolak-balik Semarang Bandung setiap hari. "


"Yakali 3 taun bolak-balik terus, lumpuh yang ada. " celetuk Yans hingga membuat semua pandangan orang di meja makan mengarah padanya.


"Ahaha ya...ya...ya... , masuk akal tumben kamu pinter. " om Hadi menanggapi.


Dipuji ayah sendiri tidak membuat Yans tersanjung sedikit pun.


"Lo jadi balik? " tanya Re yang sudah usai makan.

__ADS_1


"Jadi, udah mesen ojol kok gue. "


"Kenapa ngga nginep aja Eca, udah malem loh ini nanti malah ada apa-apa di jalan anak gadis rawan kan. " tawar bunda.


"Ehehe engga deh tan, soalnya Eca ngga bawa ganti buat besok sekolah terus masih banyak kerjaan juga di kosan. InsyaAllah aman kok tan. "


"Yasudahlah kalau Eca ngga mau nginep ya tante bisa apa... "


"Besok pasti Eca nginep kok tan. "


Setelah mengucapkan itu Eca langsung mendapat tatapan tajam dari Yans.


"Lain kali maksudnya, iya lain kali kalau Eca main lagi ke sini. " ucapnya sungkan.


"Biasa aja kali, ga akan dia ngunyah lo mentah-mentah. " Re mematahkan tatapan Yans dengan ucapannya.


Tring.....


"Om, tante, Eca mau pamit dulu ojol nya udah nungguin di depan. "


"Iya hati-hati ya nak. "


Eca mengemasi barang-barang nya dan beranjak, diikuti Re yang mengantar kepulangan nya.


"Ternyata keluarganya ngga seburuk yang gue kira, lo termasuk beruntung sih Re bisa punya keluarga cemara part 2. " leluconnya membuat Re tersenyum hambar.


"Di permukaan sih emang cemara keliatannya, cuma... gatau lah Ca. "


"Why, lo masih belum nerima sepenuhnya? Re, gue yakin bokap Yans ataupun Yans itu orang baik. Percaya sama gue! " seraya menepuk pundaknya sekaligus mengisyaratkan kepergian.


"Hmmm, bye, ati-ati"


......................


Tidak lupa tengak-tengok siapa tau Fasha di juga lewat bersamaan dengan nya.


"Huft ngga ada. "


"Ini dia yang ditunggu, how are you? " Nana tersenyum manis.


Sangking manisnya hingga membuat Re ingin muntah.


"Apalagi? " to the poin.


"Oh lupa ya, urusan kita yang kemaren kan belum selesai. Bener kan guys? "


Kali ini dia hanya membawa dua orang di sisinya, meski begitu tidak sedikitpun menggoyahkan mental Re.


"Mana lagi yang belum selesai? " dengan nada malas dan jengah nya.


"Gua belum sempet kasih pelajaran ke lo kemaren, jadi gue belum puas dan masih ada dendam ke lo. " ucapnya santai.


"Oh gitu, boleh, boleh boleh aja tapi lo harus dengerin ini dulu! "


Re mengeluarkan ponselnya dan mencari hasil rekaman yang dia dapat kemarin.


*Wait, hah pacar?


Vina, segala pura-pura lupa lagi!


Ohh Vina, mantan gua itumah. Ngapain dia ngelabrak lo?

__ADS_1


Mau mantan mau pacar ngga peduli intinya bilangin JANGAN USIK GUE LAGI. Bilang juga kalo 'lo dan gue' itu ngga ada apa-apa!.


Bilang lah sendiri, itukan urusan lo. Gua juga ngga suka sama dia ngapain bawa-bawa gua! *


Wajah mereka memucat seketika apalagi Nana yang paling parah. Mereka benar-benar diam tanpa harus di pukul.


"Gimana, masih mau ngelakuin hal-hal konyol kayak gini? Buat apa, biar diliat sama dia? Terus balikan? Ga sadar apa cuma di main-mainin. Kak jadi cewek itu harus pinter jangan terlalu polos, seenggaknya pinter memilah. " Re berdiri tepat di hadapannya.


"Maaf kalo bahasa gue terlalu kasar, tapi inget ya kak lupain dia karena dari ucapannya aja dia udah ngga pantes. Bye "


Bibir Nana bergetar, tak sedikitpun ia bisa berkata-kata atau sekedar mengucapkan maaf. Mendengar voice Yans langsung membuat dia menyadari posisinya selama ini, posisi yang tidak ada harganya alias figuran.


"Na, Nana lo kenapa na... " menyadarkan dari lamunan sahabatnya.


"Gue... Gue.. "


"Fasha, Hai " Re menghampirinya sebagai pelarian.


Fasha hanya melihatnya sekali lalu kembali fokus mendengarkan lagu. Re memperhatikannya, bahkan dari samping pun cahaya ketampanan miliknya sudah terpancar begitu jelas.


"Boleh ikutan dengerin? "


Fasha tidak bisa menolak, tentu saja dia berikan satu earphone pada Re.


"Emmm, gue apal lagu ini! " ucapnya setelah beberapa saat earphone terpasang di telinganya.


Re dengan asyik mengikuti alunan musik, hingga membuat Fasha bergeleng-geleng karena kekonyolan dirinya.


"Jalan yang bener kesandung nanti. "


"Ngga bisa, ini lagunya terlalu relate sama gue. " masih dengan anggukan dan liukan santai.


Dan benar saja, Re tidak melihat papan kuning yang berisi peringatan lantai licin.


Bugggg....


"Aaaawwww.. "


"Tuh kan gua bilang apa, kebanyakan gaya sih. " Fasha spontan mengatakan itu.


"Sakit...ngga bisa berdiri.. " rintihnya yang masih terduduk di lantai.


Beberapa orang yang melihatnya terkekeh pelan, Fasha menjadi kasihan melihat Re mendapat reaksi seperti itu.


"Makasih"


Bukannya turut iba Fasha justru tertawa bertubi-tubi,tawa yang sudah ditahan sejak awal akhirnya terlampiaskan. Entah kenapa melihat orang yang terpeleset sangat lucu, apalagi kalau melihatnya langsung.


Re tidak marah sama sekali, akhirnya dia bisa melihat Fasha tertawa seperti itu. Tawa yang selama ini ia impi-impikan.


"Selucu itu ya? "


"Lumayan, tapi kalau orang lain yang liat maybe lebih ngabrut dari gua. Hahaha " masih dengan tawanya.


"Tenang aja, Re kayak gini cuma sama Fasha doang kok ngga sama yang lain. "


Duarr.....


Senyumnya memudar seketika mendengar kata-kata itu, tapi Re justru tersenyum lebar. Sangat lebar!


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2