Mercusuar

Mercusuar
Bab 14


__ADS_3

"Cepetan ini buku tugas lo, gue mau turun. " Re memanggil-manggil Yans yang tak kunjung keluar kamar.


Kreask...


Pintu terbuka


"Sini gua cek dulu! "


Re memberikan bukunya dengan sikap jutek yang tak kunjung hilang sejak semalam. Dilihatnya Yans dengan tatapan tajamnya.


"Ok selesai, nah gitu dong kan bagus jadi orang yang bermanfaat buat orang lain. " Yans tersenyum tanpa dosa.


"Bermanfaat bermanfaat, inimah dimanfaatin yang ada! "


"Apa imbalannya, uang, barang, atau apapun? " Tawarnya dengan enteng.


"Gue belum kepikiran, simpen dulu aja ntar suatu saat gue tagih! "


Mereka pun turun bersama untuk sarapan sebelum berangkat sekolah.


"Pagi semuanya"


"Pagi sayang"


"Pagi Re"


"Kayaknya sarapan pagi ini mewah makanannya? "


"Hmm, ambil sendiri ya makan nya. " Ucap bunda yang tengah menuangkan susu di gelas Yans.


"Bun Rere juga mau minum susu nya, masa cuma dia yang dikasih. " Sungutnya yang iri pada Yans.


"Iya tunggu sebentar, nanti juga bunda tuangin buat kamu. " Sahut bunda.


"Pa Yans berangkat. " Dia berpamitan setelah minum susu beberapa tegukan.


"Hey ngga sarapan dulu kamu?! "


"Ngga"


"Astaga, sarapan bareng-bareng sebentar saja apa susahnya sih susah banget diatur nya. " om Hadi lagi-lagi mengomentari sikap putranya sendiri.


"Udah mas, ngga baik marah-marah di meja makan. " Bunda mengingatkan.


"Bun, hari ini bunda kan yang nganter aku? "


"He'em, abisin dulu sarapannya baru berangkat. "


"Iyaa"


"Mba Rere ini pesanannya sudah bulek buatin, ada semur ayam plus nugget sama minuman biar semangat belajarnya. " Seraya menyerahkan paperback pada Re.


"Oh iya, makasih ya bulek udah dibuatin ini pasti ennakk banget. " Re menyunggingkan senyum.


"Iya sama-sama, monggo dilanjut sarapannya. " Bulek Karsih kemudian kembali ke dapur.


"Akhir-akhir ini kamu suka bawa bekal sayang kenapa, uang jajannya kurang? "


"Engga bun bukan gitu, Rere cuma... cuma.. Cuma males aja kalau harus antri ke kantin. " Bualnya.


"Bun, Rere, saya berangkat dulu ya mau ada meeting pagi jadi buru-buru. " Om hadi berpamitan setelah meneguk kopi terakhirnya.


"Iya, hati-hati mas. "

__ADS_1


Om Hadi keluar dengan terburu, mengingat waktunya yang tidak banyak lagi.


"Loh Yans kok ngga berangkat kamu? " Tanya om Hadi pada Yans yang masih di teras sejak tadi.


"Motor ku mogok pah ngga bisa dipake, aku bareng papa ya berangkatnya. " Belum di jawab oleh om Hadi tapi dirinya sudah membuka pintu mobil.


"Ngga bisa ngga bisa, mending kamu bareng Re berangkatnya dianter sama bunda. "


"Kenapa ngga bisa kan sekalian pah, lagian juga ngelewatin. " Sahutnya.


"Sekarang papa ada meeting diluar kantor jadi ngga lewat sekolah mu, udah pokoknya bareng saja sama Re wong sama aja kok. " ucap om Hadi yang sibuk dengan ponselnya dan tak memperhatikan Yans bicara.


"Yaudah kalau gitu anterin Yans dulu bentar. "


"Papa udah telat Yans, ayo pak jalan! "


Om Hadi langsung masuk kedalam mobil dan melaju tanpa mendengarkan jawaban Yans lebih dulu.


"Arghtt sialan, udah mepet lagi ngga sempet mesen ojol jugaan anak-anak pasti udah berangkat. Pasrah lah anjirr gatau lagi gua! "


Yans mondar-mandir menunggu Re dan bundanya, ia sudah tidak sabar lagi kalau menunggu lebih lama sebab Thunder sudah janjian kumpul sebelum masuk pagi ini.


"Loh Yans, kok masih dirumah? " Tanya bunda yang keluar bersamaan dengan Re.


"Yans mau bareng tante, motornya mogok soalnya. " Ucapnya sedikit ragu.


"Owalah, yasudah ayo berangkat nanti terlambat kalian. "


Re memicingkan matanya pada Yans sebelum dia masuk ke mobil.


Di dalam Re menatap Yans yang duduk dibelakang melalui cermin, ketika tatapan mereka bertemu Yans lebih dulu memalingkan wajah. Tatapan Re seolah sedang mengintimidasi dirinya di sana.


Bunda menghentikan mobilnya ketika tiba di depan gerbang Nusantara. Yans pun keluar dengan santai seolah tak ada masalah yang harus ditutupi. Sementara Re, dia masih di mobil.


"Bentar bun itu masih rame di gerbang, tunggu sepi bentar. " Padahal jelas matanya mengawasi Yans yang jalan santai, menunggu orang itu benar-benar hilang dari pandangnya agar tak ada yang tau bila mereka berangkat bersama.


"Bun Rere masuk dulu ya, assalamu'alaikum. "


"Waalaikumsalam, belajar yang sungguh-sungguh ya nak. "


Dirinya yang bertubuh mungil berlari sambil membawa paperback, sangat menggemaskan melihatnya begitu.


"Widih apaan nih Re, setelah sekian lama akhirnya lo bawa kue juga buat kita. " Bagas mengambil paperback itu.


"Enak aja, ini bukan buat lo tau. "


"Lah kalau bukan buat kita terus buat siapa njir?"


"Masih nanya lagi, makanya grup itu di baca gas percuma masuk gc ngga nimbrung! " Eca.


"Intinya bukan buat lo! "


"Yaelah kirain buat gua. "


"Eh Ca gimana, lo udah bilang sama pelatihnya? " Tanya Re antusias.


"Udah lah, nih bajunya gue ambilin sekalian. Kurang baik apalagi coba gue ini. " Eca memuji dirinya sendiri.


"Aaaaa... Makasih Ca, lo emang yang terbaik pokoknya. Nanti deh gue traktir mie ayam. " Re mengerlingkan matanya pada Eca yang langsung senyum sumringah ketika mendengar kata traktir.


"Eca doang gue nya ngga? "


"NGGAK! " Sahut keduanya serempak.

__ADS_1


......................


Alunan irama piano yang indah sedang dimainkan oleh jemari lentiknya, suaranya yang estetis memenuhi semua penjuru sanggar musik.


"Fasha"


Panggilan itu membuat musiknya berhenti, disaat dia menoleh ternyata wajah Re yang dilihatnya. Fasha kembali melanjutkan permainannya seolah wajah tadi sudah tertiup angin dan menghilang.


"Lo belum makan kan, nih gue bawain lunch ayam semur and nugget lo pasti suka. " Re menyodorkan paperback itu.


Ditunggu nya beberapa saat tapi Fasha tak kunjung mengambilnya.


Mungkin dia lagi fokus latihan jadi ngga ada waktu buat makan sekarang.


Re memperhatikan nya dengan saksama, mengapa disaat dia sedang bersungguh melakukan sesuatu aura ketampanannya keluar hingga Re nyaris wafat dibuatnya.


"Boleh kan kalau gue ikutan main juga? "


Diambilnya sebuah biola di lemari lalu mulai memainkannya perlahan. Lama kelamaan alunan biola dan piano menyatu dengan sempurna, menciptakan irama yang lebih indah dari sebelumnya.


Tiba-tiba tepukan tangan terdengar dan menghentikan musiknya.


"Wah, bagus bagus kalau begitu besok kalian saja yang tampil toh? " Ucap pak Sam dengan logat Medan nya.


"Tampil? Tampil apa pak? " Tanya Re pada pak Sam.


"Tampil seperti ini di acara peresmian kepala sekolah baru, bisa toh? "


"Akhh acara itu ternyata, saya sih ngikut Fasha aja pak soalnya dia yang ngajakin tadi. " Re melihat Fasha dengan senyum kemenangan.


"Kapan gua ngajakin lo? " Tanyanya pelan.


"Dua menit yang lalu. "


"Insane girl! "


" Pokoknya harus bisa karena sudah tidak ada waktu lagi untuk cari yang lain. Apalagi permainan kalian tadi sudah lumayan, cuma tinggal moles sedikit lagi. "


"Iya Pak. " Jawab Fasha.


Trettttt....


Trettt...


"Maaf Pak saya mau masuk kelas dulu. "


"Iya iya silahkan, tapi nanti istirahat kedua balik lagi ya. "


"Siap pak. "


"Jangan lupa dimakan ya. " Ucapnya pada Fasha lalu pergi dengan cepat.


"Saya juga permisi pak. "


"Ya, sana sana. "


Fasha berjalan keluar sanggar setelah pamit dengan pak Sam.


"Hey nak, ini punya kau ketinggalan! " Pak Sam memanggil Fasha dengan membawa paperback dari Re tadi.


"Buat bapak aja pak, saya sudah kenyang. "


"Ee tepat sekali saya belum sarapan, makasih ya nak. "

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2