
"He.. Hehehe... Hehehehe"
Re memeluk guling kesayangannya dengan erat, menenggelamkan wajahnya yang berseri-seri di dalam sana.
Wajah Fasha yang tertawa lebar terpampang jelas di langit-langit kamar. Membuat Re makin terhipnotis dengannya. Apalagi cara dia menatap Re yang telah berubah dari sebelum-sebelumnya.
"Makin di liat-liat Fasha kok makin gemes sih, kan jadi pengen peluk. Aaaa... " teriaknya di dalam guling seraya menghentakkan kaki di kasur berkali-kali.
"Baru liat dia ketawa aja rasanya udah gini, gimana nanti kalo udah jadi gf nya mungkin bisa gila kali ya gue. " Re menerka-nerka dalam hayalan nya sendiri.
Drettt.. Drettt.. Drettt.. Drettt..
Ponselnya bergetar di dalam saku, segera diambilnya lalu menerima panggilan itu.
"Halo, kenapa? " heran kenapa Yans menelpon di waktu begini.
'Apa benar ini keluarga dari Yans adhuyuda ? ' orang diseberang bertanya.
"Iya...ini siapa dan kenapa telpon saya? "
Kebingungan nya kian bertambah, apalagi terdengar dari suaranya jika bukan Yans yang berbicara padanya.
'Nomor ini ada di paling atas riwayat panggilan jadi terpaksa saya telpon, ini saya mau memberitahukan kalau anak ini jadi korban kecelakaan beruntun di jalan merdeka. '
"Kecelakaan?! " bangkit langsung dari tidurnya.
Mendengar ucapan orang diseberang sontak membuat Re terbelalak sempurna. Ia masih tidak percaya lantaran pulang tadi dirinya masih berpapasan dengan Yans. Tapi sekarang....
"Iya betul, sekarang lagi di perjalanan menuju RS Sentosa. Tolong keluarga bisa ke rumah sakit sekarang. "
"Iya iya, kami ke sana sekarang! "
"Secepatnya ya. "
Telpon tertutup, tapi Re masih tertegun di posisinya saat ini.
"Bunda, papa " langsung dia berlari keluar mencari dua sosok itu di lantai bawah.
"Bun...bunda?! "
Re berteriak memanggil-manggil bunda dan menyusuri ruang tamu hingga dapur, namun tak mendapati bunda atau Om Hadi di sana.
"Kemana sih bunda?! Bun..."
"Kenapa, bunda di teras? " Jawab bunda dengan suara yang sama kerasnya.
Mendengar sahutan dari bunda Re langsung berlari menghampirinya di luar.
"Bun itu, anu, itu..." otaknya mendadak lupa dengan apa yang mau dia katakan.
"Anu, itu, apa sih? " bunda tengah menyiram tanaman jadi kurang merespon.
__ADS_1
"Yans bun, Yans kecelakaan! "
"Kecelakaan, yang bener kamu! Dimana Re, kok bisa kecelakaan?!" Bunda seolah meminta penjelasan detail darinya.
"Bunda, tanya tanya nya nanti aja yah. Sekarang yang penting kita ke rumah sakit dulu biar tau gimana keadaan yang sebenarnya. "
"Yaudah ayuk " bunda terlihat panik dari gelagat nya.
"Kerumah sakit, siapa yang sakit? " Om Hadi baru saja sampai.
"Yans mas, kecelakaan! "
"Kecelakaan?! Duh anak itu, terus sekarang dimana dia? "
"Barusan Re dapet kabar katanya di bawa ke RS Sentosa Pa. "
"Yaudah sekarang kita semua kesana, ayuk buruan! "
"Bun, yakin ke rumah sakit bawa-bawa itu? " tegur nya pada bunda yang tidak sadar sedang menjinjing gembor.
"Astaga bunda lupa. " barulah di taruh gembor itu.
Akhirnya mereka berangkat dengan satu mobil menuju rumah sakit. Terlihat dari wajah keduanya yang sama-sama tegang ditambah kecepatan mobil menembus 90km/jam. Re tidak bisa berbuat sesuatu, ia hanya bisa berdoa semoga Yans tidak separah yang ada di bayangannya.
"Sus, pasien kecelakaan yang belum lama datang di ruang mana ya, anak laki-laki SMA dan kalau ngga salah tadi kesini sama ambulans. Yah, Yans adhuyuda? " dari suaranya om Hadi sudah menggambarkan jelas guratan khawatir.
"Masih di ruang UGD pak, di sebelah sana. " jawab suster sambil menunjukkan letak UGD.
Re duduk di bangku, sementara om Hadi dan bunda berdiri di didepan pintu. Raut khawatir yang mendalam jelas terlihat pada keduanya, belum lagi tidak ada kabar lebih lanjut dari orang-orang yang ada di dalam sana.
"Semoga lo baik-baik aja. " singkatnya di bangku rumah sakit.
Srettt...
Beberapa orang keluar dengan menyeret brankar dan membawanya entah kemana.
Tentu saja sepasang paruh baya dan gadis itu mengikutinya. Mengikuti hingga brankar terhenti di sebuah kamar rawat inap.
"Dokter, gimana kondisi nya? "
"Tidak ada luka yang parah, hanya fraktur ringan di kaki kirinya dan sudah di tangani dengan baik oleh kami. Jadi keluarga tidak perlu khawatir, mungkin setelah beberapa minggu masa pemulihan pasien sudah normal seperti biasa. " terang dokter laki-laki itu.
"Alhamdulillah, tapi ini kenapa masih belum sadar ya dok? " Bunda ikut bertanya.
"Sebentar lagi pasti sadar, ini mungkin pengaruh bius saat tadi menjahit luka. Jika ada sesuatu pada pasien segera hubungi kami, saya permisi dulu. "
"Ah iya, terimakasih dok. " tak lupa Om Hadi menjabat tangan sangat dokter sebagai rasa terimakasih.
"Sama-sama"
Melihat Yans terbaring di sana membuat Re berempati untuk melihatnya lebih dekat. Melihat kaki dan kepala yang terbalut perban dengan sedikit noda darah membuat dirinya meringis, seakan luka itu pindah ke kepalanya.
__ADS_1
"Saya ke depan dulu ya ngurus administrasi, nanti kalo Yans sadar telpon saya. "
"Iya mas. "
"Bandel sih susah dibilangin, kalau udah gini kan wes kapok ra bakal diulang lagi. Iya kan! " celoteh bunda sambil membenahi selimut dan meluruskan kaki Yans .
"Diinfus, kepala luka, kakinya patah kasian banget. Pasti sakit banget kan? "
Re menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi dahi dengan perlahan. Menyibak nya sambil berharap penuh bisa tersadar, buat darting memang tapi jika tidak ada dia sepi rasanya.
"Re jangan pegang sembarangan itu luka lo, nanti nambah infeksi gimana. " lihatlah betapa perhatian bunda padanya.
"Hu'um"
"Yaudah bunda ke toilet bentar, awas tangannya usil! " ancam bunda dengan lirikan tajam.
"Denger sendiri kan, sekarang bunda lebih sayang lo dari pada gue. Awas aja kalo sampek bunda ngga sayang lagi sama gue, patahin tangan lo! "
Mulutnya berkata-kata demikian tanpa berfikir, mengeluarkan kesal yang bercampur sedih dengar cara seperti itu. Sebenarnya perasaan sedih menghantuinya namun sekuat tenaga ia tempis.
"Lo diem aja, berarti lo terima gue marah-marah iya?! "
"Gua terima kok. "
Suara yang terucap sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar itu langsung membuat Re mendongak. Melihat sosok yang matanya bahkan belum terbuka lebar.
Re masih tertegun, perasaannya campur aduk antara sedih dan bahagia. Sedih karena keadaan Yans yang tidak baik-baik saja dan bahagia karena akhirnya dia sadar.
"Bengong? "
Melihat itu Re tidak sanggup lagi, air matanya keluar bak menganak sungai.
"Huaaaaa... " akhirnya ia jatuh ke pelukan Yans yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Memeluk erat sambil terus menangis.
Hiks...Hiks...hiks..
"Ututututu, bocil bisa nangis juga ternyata. Cup cup cup, udah gua ngga papa kok. Gausah lebay gitu juga kali, kayak apa aja. " jawab Yans yang pasrah dipeluk seperti itu.
"Sapa yang khawatir, orang gue cuma kangen doang kok. " jawabnya di dalam pelukan.
"Oh kangen ya, yaudah sini sini peluk. " ucapnya yang kemudian membalas pelukan itu, lebih erat.
"Huhuhuu... Hiks... Hiks... "
"Panggil kakak dong. " bisik nya di telinga Re.
"Ga gamau, hiks hiks"
Suara gemas Re membuat senyum di wajah pucat itu merekah sempurna. Tetap tersenyum meski menahan sakit di sekujur tubuhnya.
...----------------...
__ADS_1