Mercusuar

Mercusuar
Bab 16


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Rere pulang bun. " Re masuk kedalam namun tak mendapati seorang pun di sana.


"Ini orang-orang pada kemana ih kok sepi gini. Bulek Bulek" Ia juga mencari-cari keberadaan bulek Karsih ke dapur.


"Iya mbak Rere kenapa? " Bulek Karsih meletakkan ponselnya dan menghampiri Re.


"Ini pada kemana semua orangnya, kok sepi bulek? "


"Anu mba ibu sama bapak pergi ke kondangan temen kantor gitu tadi katanya, barusan saja berangkat. " Jawabnya pelan.


"Yah Re sendirian dong. "


"Yo ndak to mba, kan ada bulek terus ada mas Yans juga di atas. Mba Re lapar, mau bulek masakin sesuatu?" Sahutnya yang tidak membenarkan ucapan Re.


"Ngga usah Rere masih kenyang bulek, Rere ke kamar dulu ya. "


Sesampainya di kamar Re langsung merebahkan tubuhnya di kasur, menyalakan ponsel lalu membuka WhatsApp.


Benar saja, bunda berpamitan padanya melalui chat. Segera ia membalasnya singkat lalu menaruh ponselnya yang masih menyala.


Saat melihat langit-langit kamar Re mengingat lagi kejadian tadi, dimana Fasha tersenyum untuk pertama kalinya di hidup Re.


"Aaa, cute banget yaAllah sumpah. Ngga sabar


Senyumnya terus mengembang seolah dia baru saja memenangkan lotre. Lama kelamaan senyumnya berubah menjadi tawa, sangking senangnya Re sampai berguling-guling.


"Bocil increase! " Yans berhenti bermain gitar karena merasa terganggu.


Yans jengah mendengar Re tertawa sendirian di kamarnya entah karena apa. Akhirnya dia turun kebawah untuk menonton film.


"Halo bro, kenapa? " Yans menerima telpon dari anak Thunder.


'Sini bos, ini anak-anak udah pada ngumpul di basecamp.'


"Pas banget bokap gua lagi ngga ada,gas lah. Siapa aja disitu? "


'Gue, Edo, Andre, Jordi banyak dah pokoknya.' jawabanya singkat.


"Yo, tunggu gua otw."


Yans menutup telpon kemudian bergegas untuk pergi.


"Ee lah dalah, mau kemana mas Yans malam-malam begini pakai jaket sama bawa helem segala?" Entah sejak kapan bulek Karsih sudah berdiri di depan pintu.


"Eh bulek kok tiba-tiba udah disini aja, Ini Yans mau keluar bentar cari angin boleh yaa? " Yans memelas dihadapan bulek Karsih berharap bulek yang baik hati membolehkannya.


"No no no, ngga bisa!. Bapak tadi sudah pesen sama saya buat jagain mas Yans supaya ndak keluyuran sama temen-temennya."


"Sebentar doang, ntar Yans udah pulang sebelum papa pulang. Janji!"


Ucapan itu justru mendapat gelengan dari bulek Karsih.


Bulek Karsih tetap berpegang teguh pada pendiriannya, tidak tersentuh sama sekali dengan permohonannya.


Yans kembali ke ekspresi semula, ia memalingkan muka lalu pergi balik ke sofa.


"Ga bisa bro, bokap gua ternyata nyewa bodyguard buat mata-matain gua dirumah. Kalian aja deh, still have fun even without me bro. " Pesan suara yang ia kirimkan di GC Thunder.


"Arght sialan, gua ngga bisa kalo gini terus yaallah. Orangnya sih pergi tapi kaki tangannya dimana mana. " Yans menggusar rambutnya.


Re turun dari kamarnya, duduk di sofa lain sambil asyik bermain ponsel.

__ADS_1


Disaat asyik-asyiknya scroll reels instagram suara aneh yang memalukan terdengar dari perut Re.


Krukk..


Kruykk..


"Laper... Pengen makan kwetiau yang ada pangsit nya. " Re merengek seraya mengelus perutnya.


"Oii, lo masi ada utang ya sama gue tadi pagi. Sekarang bayar, gue lapar pengen makan kwetiau! " Ucapnya pada Yans.


"Yaudah sana nge-gofood ntar gua yang bayar, ribet amat! " Jawab Yans.


"Gue maunya kwetiau langganan gue yang ada di depan taman sahabat, ngga mau yang lain! "


Ucapan itu membuat dia ditatap oleh Yans dengan sudut matanya. Detik berikutnya Re menelan ludah karena takut.


"Nih uangnya, sana beli sendiri itu udah sekalian ongkos lo pulang pergi! "


Seraya meletakkan dua lembar uang seratus ribu di meja.


"Kok jadi gue yang beli, ya harusnya elo lah bete bener gue. Besok-besok ogah gue ngerjain lagi, bulshit ajg! " Umpatnya kesal.


"Ok gue yang beli, tapi lo harus ikut juga! "


Re diam, tak tau harus jawab iya atau mencari cari alasan. But, perutnya benar-benar udah lapar.


Re tak menjawab, ia beranjak pergi dari sofa menuju lantai atas.


Sepuluh menit kemudian ia sudah turun lagi dengan pakaian sangat tertutup, hoodie hitam oversize dan pakai masker tidak lupa juga kacamata hitam.


"Ayok"


"Lo mau beli kwetiau apa mau nyopet? "


"Ya ya ya, terserah lo cil! " Ucapnya tepat di depan wajah Re.


Mereka berdua jalan keluar berdampingan, tak lupa izin dengan bulek Karsih agar tidak dikira kabur.


Langit sudah gelap dan jalanan juga lumayan sepi. Angin berhembus meniup helaian rambut panjang Re yang di jedai berantakan. Ditambah Yans membawa motor ini seperti ngajak mati.


Re memperhatikan deretan warung pinggir jalan, takut-takut jikalau kelabasan.


"STOP! "


Sontak Yans mencengkram rem dengan kuat hingga ban belakang motornya terangkan keatas. Begitu juga dengan tubuh Re yang nyaris menyatu dengan punggung Yans, beruntung kedua tangannya menopang jadi tidak sampai menyentuh.


"Kenapa lagi?! "


"Bang ini warung kwetiau nya, lo mau kemana gue tanya?! "


"Ohh"


Yans lantas membelokkan motornya ke depan angkringan dengan nama 'Kwetiau sabar menunggu'.


"Bu, kwetiau nya dua porsi makan disini ya. " Re langsung mengambil tempat duduk.


"Iya dek ditunggu ya. "


"Lo ngga mau makan sekalian? "


"Ngga, gua ada urusan bentar lo tunggu sini aja. Jangan kemana-mana ntar gua balik lagi. "

__ADS_1


"Hmm, awas aja kalau ngga balik lagi. "


"Inget, jangan kemana-mana! " Peringatan Yans sekali lagi. "Buk, titip bocah ini ya jangan sampai ilang ini makanannya saya yang bayar. " Yans meninggalkan uang di gerobak penjualnya.


"Iya dek tenang aja. "


Setelah itu Yans melaju dengan kecepatan full menuju basecamp Thunder. Kesempatan nya setelah diperbolehkan keluar dengan alasan mengantar Re.


"kwetiau sama pangsit emang the beast pokoknya, udah lama gue ngga makan ini. " Padahal belum ada seminggu dia makan disini yang terakhir kali.


Dengan antusias Re makan dua porsi kwetiau sampai habis tanpa sisa. Masih belum kenyang, Re memutuskan untuk membeli martabak yang ada di seberang tenda kwetiau.


"Bang martabak kejunya satu ngga usah pake susu ya. "


"Tunggu ya neng. " Ujar abang penjual martabak.


Re menunggu agak jauh dari penjualan martabaknya.


Lumayan ramai hingga butuh waktu untuk mendapatkan seloyang martabak saja.


"Cantik, sendirian aja nih. "


Pemuda tidak jelas tiba-tiba menghampiri Re dengan satu rekannya. Re menjadi risih dan terganggu karena itu, ia akhirnya mengalih berharap dua orang tadi enyah darinya.


"Eee mau kemana cantik, sini aja sama kita. Minta nomornya dong. "


Lengan Re ditahan hingga ia tidak bisa pergi, Ia berusaha melepaskan cekalan itu.


"Apaan sih pegang-pegang, ngga sopan tau! " Re menghempaskan tangan itu dengan kasar.


"Udalah sama kita aja, ntar gua beliin martabak deh. "


"Ngga! "


Re benar-benar naik pitam, ingin sekali rasanya ia melayangkan kepalan tangannya.


"Ayolah"


Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menarik Re ke dalam pelukan. Merangkul pundaknya sebagai perlakuan seorang kakak pada adik kecilnya.


"Hey kamu disini pantesan aku cari kemana-mana ngga ada taunya disini , udah jajannya kan pulang yuk! " Ucap Yans pada Re dan membuat dua pemuda keparat tadi segan padanya.


"Tapi martabaknya belum jadi."


"Besok lagi ya martabaknya udah malem ini. " Yans mengusap kepalanya pelan, "Makasih ya bang udah jagain adek saya. "


Kemudian ia pergi masih dengan Re di pelukannya.


"Sama-sama"


Mereka kembali membelah jalanan kota yang tenang dengan kelap kelip lampu pinggir jalan yang indah.


Yans merasakan tidak ada gerakan apapun dari orang yang duduk di jok belakang.


"Lain kali kalo ada orang-orang brengsek kayak tadi lo jangan diem aja, minimal minta tolong kalau ngga bisa ngelawan. "


Swing...


Tidak ada jawaban apapun, Yans juga meras pundaknya seperti memikul sebuah beban.


"Yaelah tidur ni bocah, dasar baby. Baby yang imut" Yans tersenyum simpul kala mengingat ekspresi Re saat di peluknya tadi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2