Mercusuar

Mercusuar
Bab 24


__ADS_3

"Sekarang silahkan pemanasan individu, waktunya hanya lima menit. " ucap sabam Ivan kepada mereka.


Mereka pun mengikuti perintahnya dan mulai menggerakkan satu persatu bagian tubuhnya.


Tak terkecuali Re di belakang sana, dia melakukan pemanasan dengan mengikuti gerakan orang di depannya.


"Fasha, nanti kamu yang latih mereka ya! " seraya menunjuk sekumpulan murid sabuk putih.


"Bukannya si Ari Bam, biasanya kan dia? "


"Dia ngga masuk, ini barusan WA saya. Ngga papa, ntar biar saya yang handle sabuk kuning nya. " sabam Ivan meyakinkannya.


"Okelah" seraya mengangguk beberapa kali.


"Good"


Fasha berdiri di depan barisan, terlihat beberapa gadis kegirangan karena dia yang melatih hari ini.


"Sebelumnya saya informasikan kalau sanbae Ari tidak datang dan akan digantikan oleh saya sendiri. Bagaimana apa ada yang keberatan? "


Re seperti mendengar suara yang tidak asing, tapi dia terlalu pendek untuk bisa melihat Fasha di depan sana.


"Ngga kok ngga ada, masa iya kita nolak kalau sanbae Fasha yang ngajarin yakan guys?! "


Iya...


Jawab beberapa orang yang ada di depan dengan suara lantang, kemudian dibalas senyum tipis.


"Eh itu yang di depan siapa? "


Tanya Re kepada cowok tinggi dan gemuk yang menutupi pandangannya.


"Oh itu, sanbae Fasha emang kenapa? " tanya baik.


"Sanbae Fasha seriusan?! "


"Iyalah, kenapa sih"


"Ngga, ngga ada apa-apa. "


Tidak tau betapa senangnya Re hari ini, akhirnya dia bisa melihat Fasha dari dekat tanpa membuat-buat alasan.


Latihan pun dimulai, sambil sesekali Fasha keliling mengecek mereka.


"Itu yang di barisan paling belakang, tangannya salah! " Fasha menegurnya dari jauh.


Dengan cepat Re mengubah tangannya sabil mengomel kesal.


"Ngpain sih pake teriak, biar satu gor tau gue salah. "


Salahnya karena tidak memperhatikan dengan benar.


Dilihatnya Fasha dengan tatapan, saat Fasha menatapnya balik dia malah memalingkan wajah.


Dia berjalan kearah Re. dengan tatapan yang tak putus. Re tetap tenang dan berpura-pura tidak menyadarinya. Sampai akhirnya mereka berhadapan.


"Apa?" Tanyanya pada Fasha yang menatapnya lebih dari semenit.


"Kaki Lo itu salah, terus ini apa coba? Ngga tangan yang posisinya begini?" Seraya menduding kaki dan tangan Re.


"Terus gue harus gimana, dari tadi salah terus kayaknya? "

__ADS_1


Fasha lantas berjongkok di hadapan Re, tentu saja ia kaget melihatnya.


"Kaki kanan majuin lagi! Tangannya coba lebih serong lagi! "


Re melakukan sesuai dengan apa yang Fasha katakan.


"Masih salah " Fasha berdecak pelan.


Tiba-tiba saja sebuah tubuh seperti memeluknya dari belakang, benar-benar tanpa jarak.


Terkejut, tentu saja lebih terkejut dari sebelumnya. Tidak tau apakah jantungnya masih bisa berdetak normal setelah ini.


"Nah, begini yang bener. "


Ternyata Fasha hanya membenarkan tangannya tidak lebih dari itu, apa lagi meluk.


Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi yang sebenarnya terjadi di dalam sangatlah 'bombastis side eye'.


Benar-benar diluar naila.


"Huuh Sha... Sekali lagi lo giniin gue liat aja, gue botakin rambut lo! "


Re ke lokernya untuk mengambil minum karena sangat kehausan. Di bawanya botol minum ke arena latihan, saat sedang meneguk air penglihatannya menangkap sosok Fasha yang sedang bermain ponsel.


Ia pun menghampirinya.


"Jari lo... udah sembuh? " Re ikut menyelonjorkan kaki disebelah Fasha.


"H'mm " sambil menunjukkan jarinya yang terdapat bekas luka.


"Tante sehat? "


"Heem, kenapa tiba-tiba nanyain nyokap gua? "


Masih menikmati paras Fasha yang memukau walau hanya tampak separuh.


"Oh, sama aja kayak nyokap gua. "


"Sama, apanya? " Re ngga mudeng dengan perkataan Fasha.


"Sering nanyain lo. "


"Apa iya? Wah jangan-jangan tante Rumi kangen juga sama gue. Gue boleh ngga main lagi, ke rumah lo? "


Ia antusias menunggu jawaban dari pertanyaan pamungkas itu.


"Terserah"


Kalau terserah berarti boleh kan ya secara ngga langsung.


Sungguh jawaban yang menyenangkan hati, kapan lagi dibolehin main kerumahnya cuma-cuma tanpa harus muterin otak buat cari sepuluh alasan dalam lima menit.


"Kak Fasha, minta tolong bukain botol ini dong."


Seorang adik kelas mendekati Fasha dengan botol minuman ditangannya.


Re melihat senyum di wajah anak itu yang seperti dibuat-buat alias caper, diambilnya langsung botol itu sebelum sampai di tangan Fasha.


" Sini gue aja yang buka! "


Senyumnya hilang seketika kala Re menunjukan wajah tak ramahnya.

__ADS_1


"Kenapa bukan kak Fasha aja sih?! " Gumamnya yang samar terdengar di telinga mereka.


"Udah nih, dia tangannya lagi sakit jadi ngga bisa BUKA TUTUP BOTOL! " Tak lupa diiringi tatapan sinisnya yang membuat adik kelas itu bermuka masam dan pergi.


"Lo kenapa? "


Fasha menatapnya dengan heran, tidak tau kenapa Re menunjukan sikap seperti itu kepada anak tadi.


"Ngga suka aja sama cewek caper yang deketin lo kayak gitu! "


"Aneh, orang dekat sama gua kan ngga ada hubungannya sama lo. "


Deg...


Wajah Nara terlintas di pikiran Fasha, ia lantas membisu setelah mengucapkan itu.


Teringat pula dengan ucapan Nara kala itu.


"Akh em gua ngga bermaksud..." lirihnya.


"Gapapa kali santai aja, udah biasa juga." Re tersenyum palsu.


Fasha jadi serba salah, ia harusnya tidak mengatakan itu tadi dasar bodoh memang.


"Banyak juga ya ternyata yang ngefans sama lo disini. "


Re ingin tau apa reaksi Fasha setelah mendengar itu.


"Iya tah, tapi gua ngga ngerasa gitu? "


"Ya lo mah ngga ngerasa, tapi gue yang ngerasain! " sahutnya dengan nada kesal.


"It's ok, but I don't care with them. "


"Cuak, cowok kan seneng kalau disukain banyak cewek-cewek ya kan?! " ledek nya.


"Ga percaya terserah! "


"Bohong aja eleh... "


Dia malah semakin memancing kesabaran Fasha.


"DIEM" wajah dinginnya mulai terlihat.


"Yang benerr... "


Sekarang tatapan tajamnya ikut memburu Re di sebelahnya.


Melihat itu nyali Re langsung menciut seketika dan mematung di tempat.


Di tatap nya Re dengan serius lalu dahinya disentil oleh Fasha.


"Awww... "


Bukannya meminta maaf Fasha malah tertawa melihat wajah Re yang kesakitan.


"Sakit tau, kok asal nyentil sih " sambil mengusap dahinya.


"Mang enak... " ledek nya lagi.


"Ohh jadi gitu sekarang! "

__ADS_1


Tidak mau kalah, Re langsung menjewer kuping Fasha dan membuatnya mengaduh kesakitan.


...----------------...


__ADS_2