
Re menurunkan kaca jendela mobil, mendongakkan sedikit kepalanya untuk melihat hujan yang masih mengguyur sekolah.
"Mau turun disini apa bunda masuk nyampe dalem? " tanya bunda yang masih menggenggam kemudi mobil.
"Ngga usah bun disini aja. " jawabnya.
Ia kemudian membuka pintu mobil dan keluar ke tengah hujan.
"Eh, itu di belakang ada payung Re. Rere?, dasar bocah. "
Panggil bunda namun Re sudah tidak ada lagi di sana, dia nekat berlari menembus hujan hanya karena satu hal.
"Fasha, gue nebeng ya. "
Ucapnya saat sudah berada di samping Fasha, dilihat-lihat Fasha juga sepertinya tidak keberatan sama sekali. Mereka berdua jalan berdampingan dibawah naungan sebuah payung.
Dilihatnya bayangan dirinya dan Fasha dipermukaan air, yang hilang lalu muncul kembali ketika kaki berpijak. Begini saja sudah membuat Re nyaman hingga ia tidak merasakan jika bahunya basah karena tak kebagian payung.
"Astaga baju gue, yah basah... " seraya menempis-nempis bahunya supaya tidak ada kotoran yang tertinggal di sana.
Fasha melihat itu, melihat Re yang seperti panik sendiri membersihkan bajunya ia spontan mengeluarkan sebuah ide.
Dimiringin kan nya sedikit kesamping supaya bajunya tidak basah lagi. Re menyadarinya dari bayangan dan langsung menoleh pada Fasha.
Tetap dengan ekspresi datar andalannya seolah tidak terjadi atau tidak melihat apapun.
"Ternyata dia peka. "
Thread seperti ini saja mampu menghangatkan hatinya dan membuat dia tersipu.
Ternyata sifatnya tidak sedingin wajahnya.
"Thanks yah"
Re lari begitu saja setelah mengucapkan terimakasih dan sukses membuat Fasha memperhatikan karena kekonyolan dirinya.
......................
"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak..."
Sapa Bu Heni di IPA 3 dan dijawab dengan lesu oleh semua siswa, sebab ya kalian pasti tau lah kalau ini guru yang mapel nya paling dibenci umat sejagat raya.
Selain itu guru ini juga suka kasih kejutan ke muridnya iya kejutan, kejutan UH tiba-tiba misalnya.
"Kalian pr udah? " Tanya Bagas dari bangku belakang dengan nada songong.
"Udah. Lo udah Re? " Tanya Eca gantian.
__ADS_1
"Hmml, lo tumben Gas ngerjain pr ada apaan? " Re membuka tasnya mengambil buku latihan yang berisi pr minggu lalu.
"Iya, tadi pagi baru ngerjain liat punya si Sigit. " Sahutnya sembari kipas-kipas dengan jawaban hasil contekan itu.
"Minggu lalu ada pr kan, nah sekarang kumpulkan pr nya. " Ujar Bu Heni dan sukses membuat gupek anak-anak di barisan belakang.
"Waduh mampua gue! " Ucapnya yang terlihat tak baik-baik saja itu.
"Ngapa?! " Eca mengernyitkan dahi padanya.
"Buku gue ngga ada Ca. " Ucapnya dengan melihat Eca dan Bagas secara bergantian.
"Kok bisa, coba lo cariin lagi siapa tau nyelip."
"Udah tapi ngga ada, seingat gue tadi udah gue bawa kok. Masa iya ketinggalan di mobil bunda? " komuknya memperlihatkan semburat kepanikan.
Mereka pun membantu Re menggeledah tas, mengecek buku satu persatu memastikan tidak ada yang terlewat. Namun nihil, dari semua buku itu tak ada satupun yang bersabjek 'Kimia (L)'.
"Huft"
Re melongo meratapi entah gimana nasibnya setelah ini, mau menyalin pun sepertinya sudah tidak ada waktu lagi. Apalagi tempat duduknya berhadapan langsung dengan meja guru.
Ia hanya bisa menunggu, menunggu di hukum seperti yang sudah-sudah.
"Kalau ngga salin jawaban gua di buku lain dulu? " Bagas menawarkan.
"Bentar, coba gue ngomong. "
Ia kemudian bangkit dan menghadap bu Heni dengan Eca di buntutnya.
"Kenapa, kalian sudah kumpul pr? "
"Nah itu dia masalah nya bu, buku pr saya ketinggalan di mobil tadi. Jadi... Boleh ngga bu kalau misalnya punya saya menyusul? "
"Wah gimana ya, ibu sih boleh aja cuman kalau gitu kamu berarti sudah melanggar kesepakatan kelas yang udah kita buat. Terus gimana dong? "
"Janji deh bu, besok saya pasti bawa..." Dengan nada mengiba.
"Iya bu, nanti saya bantu ingetin Re deh biar dia ngga lupa lagi. " Eca menimbrung.
"Ok untuk tugas ibu kasih keringanan buat kumpul besok, tapi ibu tidak bisa mentolerir kesepakatan kita di awal. Jadi silahkan lakukan hukuman atau kamu duduk di kelas tapi dengan catatan alpa dan nilai kosong. " Ucap Bu Heni dengan wajah dinginnya.
Re tampak diam beberapa saat, menggigit bibir bawahnya untuk memilih diantara dua pilihan itu.
"Baik bu. " Re kemudian berjalan menjauh dari sana.
"Buk saya..."
__ADS_1
"Caa! "
Re lebih dulu menyela ucapan Eca sebab ia tahu bahwa Eca pasti akan mengemis untuknya sementara dia tidak akan sudi mengemis untuk hal seperti ini, terkecuali satu hal yang itu.
Eits tapi jika berhubungan dengan hati itu tidak tergolong mengemis, tapi berjuang karena sejatinya cinta itu dikejar bukan di sumbangkan.
Berdiri dia di bawah tiang bendera, beruntung hari ini mendung jadi worth it lah stand in here selama sejam pelajaran ngga nyampe kusem-kusem amat ntar.
"First time gue selama jadi anak teladan berdiri di sini, ngga papa lah lumayan bisa liat-liat siapa tau si anu lewat ya kan. Dari pada di kelas betmut! " sambil celingukan kesana kemari.
"Woi ngapain lo disitu, cosplay jadi murid dihukum?! " teriak yans dari depan UKS.
"Emang lagi dihukum! " jawabnya ketus, "paansi, males banget ketemu manusia satu itu! " lanjutnya lirih.
"Hah apaan ngga denger gue? Ngibul aja lo cil orang pinter kok dihukum, maksud lo dihukum karena terlalu pinter jadi guru ngga sanggup ngajarin lo gitu?! " Yans dengan enteng mengejeknya.
"Apa urusan lo, orang pintar juga manusia nyet. Ketimbang lo pura-pura sakit biar ngga belajar, cih kalau gue sih malu ya sama diri gue sendiri. " ejek nya ganti.
"Sembarangan aja kalau ngomong, gini-gini gua juga ngga pernah berdiri panas-panasan di situ kayak... "
"Ah diem lo banyak bacot, udalah sono pergi lama-lama gue sumpelin juga mulut lo! "
Yang masih mengejeknya dengan tertawa bahkan mengambil gambar Re dengan ponselnya.
"Yans, disini kamu rupanya. Tadi bilangnya sakit kepala sama perutnya tapi kok malah ketawa-ketawa di sini apa kamu bohongin saya ya?! " seorang ibu guru menghampiri Yans.
"Akh anu bu, saya sudah mendingan barusan minum obat dari uks. Ini saya lagi mau balik ke kelas. " sambil cengengesan.
"Engga ding buk, dia dari tadi di situ main game saya saksinya bu. Dia juga ngga sakit bu, tadi tuh cuma akting karena dia ngga suka pelajaran biologi dia bilang sendiri gitu buk tadi. "
Re ternyata pandai memanfaatkan kesempatan untuk membuat Yans terkena maslah.
"Eh engga bu dia fitnah, saya emang beneran sakit bu. " ucapnya dengan raut meyakinkan, "ngga usah ngadi-ngadi lo ya awas aja nanti! " Yans berusaha memutar balikkan fakta.
Wleee...
"Sudah sudah, ibu lebih percaya sama dia daripada sama kamu Yans. Ayo sekarang ikut ibu ke kantor! "
"Aw aw aw, buk sakit buk. Sakit ibu! " rintihannya saat guru menarik kupingnya sambil berjalan.
Itu sih rasanya pedes-pedes gimana gitu, ygy.
"Ahaha mampus lo jamet rasain, emang enak di jewer sampek kantor. Salah sendiri ngacau gue, Re zevanka Calista di lawan! "
Re tersenyum jahat melihat Yans yang kesakitan, tanpa ia sadari sepasang mata sedang memperhatikannya dari kejauhan. Mengamati setiap gerakan yang ia lakukan dengan perasaan bingung, bingung akan perlakuan-perlakuan gadis itu padanya selama ini.
__ADS_1