Mercusuar

Mercusuar
Bab 30


__ADS_3

"Yaallah mampus gue.. "


Re menatap lemas puluhan anak tangga di hadapannya, setelah latihan hari ini rasanya ia tidak sanggup jika harus naik tangga sebanyak ini ke kamarnya.


Re bersimpuh di sana sambil menahan sakit di area selangkangannya, split benar-benar membuatnya menderita. Jangankan sekedar jalan bangun dari duduk pun sakitnya minta ampun.


"Ngapa lo cil, kepleset? " Yans lewat begitu saja tanpa memperdulikan Re.


"Sakit" jawabnya dengan tatapan hampa.


Yans berhenti mendengar itu, ia lalu berbalik kepada Re.


"Sini gue bantuin, diseret tapi. " ia menjulurkan tangan.


"Ngga perlu, gue belum mau mati! " tolak nya langsung.


"Canda kale, yaudah gua gendong dah kasian gua sama lo. " tawarnya.


"Bisa sendiri gue! "


Re mencoba bangkit dengan berpegangan erat pada tiang tangga, tapi bokongnya seperti dilem dengan lantai tidak bisa terangkat sedikit pun.


"Alah pake sok-sokan kuat segala, cewek gitu ya 'ribet'. Ngomong tolong aja susahnya ampun. " Yans langsung membopong Re tanpa menunggu jawabannya.


Re juga tidak memberontak alias pasrah, sebab gatau lagi harus ngapain biar bisa sampe kamar terus rebahan tanpa harus capek jalan plus nahan sakit.


Yans tampak kehabisan tenaga saat 2 tangga terakhir, Re yang merasakannya langsung paham.


"Maaf gue berat. "


"Apaan orang kayak manusia kurang makan gini. " ledek nya.


"Ck, bo'ong banget padahal berat kan! " sahutnya di iringi seringai.


Yans meletakkan Re diujung tempat tidur,memposisikan nya seelok mungkin supaya nyaman.


"Sakit apanya lo itu? " Tanya Yans sambil berkacak pinggang dihadapannya.


"Tadi split makanya 'sini' gue sakit. Takut, gimana kalau besok sekolah ngga bisa jalan? " Wajah sedihnya benar-benar menggemaskan.


"Mau ngga biar ngga sakit lagi? " terpikir sesuatu olehnya.


"Apa? "


"Gua kretek, buruan tengkurep. " ucap Yans dengan sangat yakin.


"Emang lo bisa, ntar kalo gue patah tulang mau tanggung jawab lo?! "


"Lebay lo, udah tenang aja udah jago gua yang begini begini" seraya menggeretukkan jemarinya.


"Bener yaa, awas lo! "


Re mengikuti perkataan Yans, dia berbaring terbalik di ranjang dengan ketar-ketir.


"Tahan ya palingan 'agak' sakit dikit. "


"Gausah deh kayaknya, daripada..."


"Udah ngga papa, percaya sama gua. "


Re mau berbalik tapi di tahan oleh Yans.


Dengan pede Yans meletakkan kedua tangannya di antara tulang ekor dan pinggang Re, lalu menekannya dengan sekalian hentakan hingga berbunyi.

__ADS_1


Kretkkkk...


"Aaaaaaaaaaaa.... " teriaknya akibat rasa sakit itu.


"Sekali lagi. "


"Udah... "


Kretkkkk....


"Gimana, enak kan? "


Re memang tidak berteriak tapi menggigit bantal, dasar Yans dia ngeretek nya ngga tanggung tanggung.


"Enak palak lo, sakit banget egoo. Pinggang gue Yans, pinggang gue jadi linu banget. Huhuhuhu... " Rupanya Re menahannya sampai menangis di dalam bantal.


The real sakit woy!


"Bunda... Yans nganuin aku... Huhuhuhuhu... " tangisnya sampai sesenggukan.


"Shttt, gue ngga bermaksud tadi. Jangan ngadu ya " bujuk Yans padanya.


"Bodoamat, gue bilangin papa lo. Orang udah dibilang ngga mau ngga mau masih dipaksa. Uhu.. Uhu.. Uhu.. " ucapnya di sela sesenggukan.


"Emm gue beliin martabak deh sama kwetiau, tapi jangan ngadu. "


"Sama KFC, uhu...uhu..uhu..."


"Iya deh iya, jangan ngadu tapi! "


"He'em " Re mengangguk patuh.


Yans tidak tahu bahwa ini hanya akal-akalannya semata untuk mendapatkan jajanan.


......................


Yans membantu Re turun dari mobil juga memapahnya sampai ke dalam gerai makan cepat saji favoritnya.


"Yah rame banget, udah penuh ngga ada tempat lagi. " Ucapnya dengan nada kecewa.


"Nah, itu tu ada meja kosong. " Ujar Yans yang menemukan meja kosong di sudut gerai.


Mereka berjalan menuju meja tersebut sebelum ditempati orang lain.


"Mau makan apa lo? "


"Paket combo fries ekstra saos satu sama kfc sunday satu, makasih. " ucapnya runtut tanpa jeda.


Yans shock mendengar rentetan pesanan yang terucap dari mulut Re.


"Kecil-kecil makanya banyak juga ya lo, curiga kalo cacingan. " Sontak dia mendapatkan tatapan silet dari Re.


"Lo ngga tau ya kalo cewek cantik itu makannya banyak?! "


Cihh...


Yans kemudian bangkit untuk memesan makanan. Lumayan lama dia mengantri di sana sampai kembali lagi dengan makanan makanan siap santap di tangannya. Tentu saja Re tersenyum sumringah melihatnya.


"Abisin, ngga habis gua suruh bayar sendiri lo! "


"Oke boss. "


Selera makan Re benar-benar bagus, lihat saja dia makan dengan lahap dan menikmati.

__ADS_1


Yans melihatnya makan sambil tertawa-tawa kecil, sepertinya kelemahan bocah ini ada pada makanan.


"Makan gih, malah bengong. " Ujarnya saat melihat makanan Yans belum disentuh.


Satu persatu makanan miliknya mulai habis dan yang masih tersisa cuma eskrim.


"Aduh kenyang banget gue, anw makasih ya lo sering banget jajanin gue. "


"Hmm " jawabnya saat menyedot cola terakhirnya.


"Tapi yang gue heran kok duit lo ngga abis-abis sih perasaan, atau...jangan jangan lo tukang nyo... "


"Engga lah anjay, gua nakal tapi gua bukan maling! "


"Terus ini semua? "


"Nyokap gua, dia ngasih card ke gua beberapa bulan lalu. Katanya dia mau menebus kesalahannya ke gua, cih nebus kesalahan kok pake duit. " begitulah reaksinya ketika membahas soal ibunya.


"Oalah kirain duit haram, ngga apalah terima aja lagian kan nyokap lo kerja buat lo juga. "


"Terpaksa karena duit dari bokap gua cuma dikit sekarang! "


"Yaelah makanya jangan badung jadi anak! " ucap Re sambil menghabiskan eskrim nya.


"Gatau gua begini emang karena diri gua sendiri atau karena ortu gua. " seketika tatapannya menjadi blank stare.


"Hah"


"Kadang gue kayak iri sama lo, lo itu punya orang tua tunggal tapi masih perhatian banget sama lo. Mau dengerin cerita lo, selalu bangunin lo pagi-pagi, buatin lo sarapan dan itu semua ngga gua dapet selama ini. " Yans berhenti menghela nafas.


Mendengar itu membuat hati Re luluh dan turut iba padanya.


"Papa selalu sibuk dan jarang dirumah, mama udah gatau kemana jadi gua selalu ngerasa sendirian kalau di rumah. Gua capek sendirian, sampai akhirnya ketemu mereka. Sejak itu gua mulai lupa sama rasa kesepian karena kami selalu bareng-bareng, bahkan sampek lupa rumah malah karena suka nginep di basecamp. " matanya mulai sayu.


"Iya iya gue ngerti kok posisi lo, tapi yang gue liat lo itu kayak fine aja gitu eh ternyata banyak banget masalah yang lo tutupin. "


Mendengar itu Yans tersenyum kecil.


"Yah gua mikirnya 'inikan masalah gua orang lain ga perlu tau' jadi ya masalah gua cukup buat gua sendiri aja bukan orang lain! " mata sayunya berubah menjadi lapisan air yang tampak jelas di matanya.


"Nih tisu, jangan sampek ada yang liat lo nangis apa kata mereka coba. "


"Maaf ya gua terlalu kebawa suasana nyampe deep talk gini sama lo, and lo juga pasti mikirnya gua lebay ga jelas gitu kan. " Setetes air mata nya jatuh dari mata sebelah kiri begitu saja.


Tanpa pikir panjang Re menarik pelan kepala Yans ke bahunya, memberinya tempat untuk meluapkan emosi.


Yans tidak marah, sekarang dia tahu jika ada orang lain yang benar-benar peduli pada perasaanya saat ini.


"Nangis aja sepuasnya, luapin emosi lo tanpa harus dunia tau cukup gue dan Tuhan aja yang tau. Fine... " Ucapnya yang turut prihatin pada Yans.


"Thanks ya, ternyata bocil kayak lo bisa perhatian juga. " Disela tangisnya.


"Tapi awas aja lo suka sama gue, ngga akan baik lagi gue sama lo! "


"Whyyy "


"Ya... Karena gue udah punya seseorang yang gue suka! "


"Narsis banget lo, emang dia suka sama lo? "


"Suka kok, cuma belum aja! " Jawabnya jutek.


"Like like you cill, tapi hati-hati jangan sampek perasaan lo yang dimainin sama dia ntar broken heart gue yang repot! "

__ADS_1


"Hmm, bawel banget anjay udah kayak bunda aja. "


...----------------...


__ADS_2