
"Kok ada ya orang yang ngga pernah ke kantin, mau heran tapi ini dia. "
"Iya, ngga habis pikir gue. Mereka belum ngerasain Mie ayam tujuh ribu udah dapet pangsit dua, terus minumnya es teh susu kemanisan." Sahut Eca lalu meminum es teh susu yang dibilangnya kemanisan tadi.
"Ada emangnya yang ngga makan junk food sama sekali, ga percaya gua " Bagas bersuara.
"Ada lah, itu buktinya"
"Mungkin dia pecinta comfort food jadinya alergi kalau makan makanan luar" Eca menanggapi.
Setelah Eca berkata demikian, Re tiba-tiba terpikir sebuah ide yaitu AOS ( act of servis) yang biasanya dilakukan untuk mengambil hati seseorang.
"Kenapa lo senyum-senyum gitu? "
"Ahh engga, ngga papa kok"
"Semenjak pdkt sama Fasha lo jadi aneh gini Re, takut gua kalo otak lo terganggu"
"Sembarangan! " Re menendang kaki bagas di bawah meja.
"Kayak ga tau orang lagi kasmaran aja lo gas"
Setelah itu meja mereka hening karena sudah memegang ponsel masing-masing.
"RE!!! "
"Apaan anjir tiba-tiba teriak, kaget gue?! "
Tak hanya Re dan bagas yang terkejut, semua mata di kantin menatapnya keheranan. Eca mendapat kiriman foto dari teman kosannya.
"Eca lo stres apa, malu njir diliatin orang-orang! " Seru Bagas namun tak dihiraukan Eca.
"Re, lo harus jelasin ke gue ini maksudnya apa! " Eca menarik Re dari kantin dan membawanya ke lorong mading.
Menginterogasi Re di sana dengan ekspresi kesal karena ketidakterbukaan Re padanya.
"Ada hubungan apa lo sama dia? "
Eca menunjukkan foto di ponselnya kepada Re, foto saat dirinya di bonceng oleh Yans di hari itu.
Kenapa bisa?!
Padahal jelas sudah tidak ada orang di sekolah, tapi kenapa masih meninggalkan jejak juga?
Whyyy..
"Kami ngga ada hubungan apa-apa, serius"
"Bohong! " Bagas menyangkal.
__ADS_1
"Kalau ngga ada apa-apa terus ini apa Re, kita perlu tau karena kita sahabat. Apa lo udah ngga anggep kami sahabat lagi? " Tanya Eca pada Re yang duduk terdiam.
Re berfikir apakah dia ceritakan saja yang sebenarnya pada mereka, tapi itu artinya dia sudah melanggar perjanjian diantara dirinya dan Yans. Dia benar-benar dilema sekarang, memikirkan opsi mana yang akan ia pilih.
"Re, lo masih ngga mau jawab? Se rahasia itu sampai kami ngga berhak tau"
"Ca udah, mungkin dia juga butuh waktu buat jawab. Ngga harus sekarang!"
Bagas meraih tangan Eca dan mengajaknya pergi, membiarkan Re menjernihkan pikiran yang mungkin setelah itu dia mau bercerita kepada mereka.
Namun Re menahan lengannya sehingga mereka tidak jadi pergi. Yang dikatakan Eca benar, sahabat berhak tau masalahnya. Apalagi mereka menjalin persahabatan tidak dari SMA tapi sejak SD karena dulu Re dan keluarga tinggal di tempat neneknya. Jadi Eca sudah tau semua gelap terang dalam hidupnya.
Re berfikir mereka pasti bisa mengerti posisinya saat ini.
"Sebenarnya... "
Ragu, itulah yang ia rasakan, memilih untuk terbuka kepada seseorang tentang masalah hidup kita itu tidaklah mudah.
Re menarik nafas dalam dan mencoba berfikir positif.
"Bunda dan bokap nya Yans udah nikah"
Duarrr......
"What, kok bisa?! "
Re mulai menjelaskan pada mereka panjang lebar, dan meminta mereka untuk tetap bungkam serta tetap berlaku biasa saja ketika bertemu atau berpapasan dengan Yans. Re juga menceritakan pasal dirinya dan Yans membuat perjanjian itu.
"Percaya sama kita, rahasia ini ngga akan kebongkar sampek kapan pun"
"Thanks ya guys, udah mau jadi sahabat gue yang pengertian. Gue lega rasanya, kemarin-kemarin sebelum cerita gue selalu ovt ngga jelas. Tapi sekarang plong gitu rasanya"
"Iya, kita siap bantu lo kapanpun lo butuh" Bagas.
"Bantu apaan lo, bisanya cuma nyontek doang" Pungkas Eca.
"Mikir Ca, lo juga suka nyontek anjirr"
Tawa pun mulai terdengar diantara mereka, hingga saat pak Andi sang penjaga gerbang sedang patroli menegur mereka karena tidak masuk kelas. Ketiganya pun teringat bahwa ada ulangan harian setelah istirahat namun belum belajar.
......................
.......
Day 1
Re sudah membawa bekal yang disiapkan sendiri tadi pagi, betapa bersemangat dirinya berangkat ke sekolah hari ini. Berharap sandwich buatannya dimakan oleh Fasha.
Re berjalan penuh semangat, melalui deretan loker di depan kelas IPA 6 lebih tepatnya kelas Fasha. Setelah memindai semua kotak-kotak yang ada akhirnya dia menemukan kotak yang ia cari, tertera diatasnya inisial 'Fasha X I'.
__ADS_1
Re meletakkan kotak bekalnya di dalam, menatapnya penuh harap sebelum ia tutup dan pergi dari sana.
Tak lama kemudian Fasha datang untuk memasukkan buku paket ke dalam lokernya. Mendapati ada sebuah kotak makan di sana Fasha mengambilnya. Melihat sekelilingnya mencari siapakah gerangan yang meletakkannya di sini. Nihil, ia kemudian meletakkan kembali dan menutup lokernya.
Tiba saatnya pulang sekolah, Re menunggu orang-orang pergi barulah dia menghampiri loker Fasha. Saat dibuka senyum yang menyelimuti wajahnya pudar seketika, melihat isi dari kota itu tak berubah sedikitpun. Re membawa kotak bekalnya kembali dengan perasaan kecewa. Namun dirinya tak akan berhenti sampai di sini.
"Mungkin dia ngga suka sandwich" Ia mencoba senyum walaupun sulit.
Day 2
Sama seperti kemarin, Re membawa bekal berisi nasi goreng buatannya. Dirinya rela bangun pukul 5 hanya untuk menyiapkannya ini. Berharap Fasha memakannya walaupun hanya sedikit saja.
'Semoga kamu suka '
Kalimat yang tertulis di sticky note yang ditinggalkan Re bersama kotak bekalnya.
Fasha membuka loker, mengambil buku paket tanpa menyentuh kotak bekal sama sekali. Ia pikir itu yang kemarin, tapi ternyata bukan. Menutupnya kembali lalu masuk kedalam kelas. Dirinya memang tak mau makan makanan sembarangan, apalagi tidak tau siapa yang membuatnya seperti ini.
Re memanjatkan do'a terlebih dahulu sebelum membuka loker, dan saat membukanya pun ia menutup mata.
Lagi-lagi senyumnya memudar, menyisakan seberkas kekecewaan di benaknya.
Lama ia berdiri di sana menatap kehampaan, hingga tak sadar sebelah matanya mengeluarkan buliran bening.
"Mungkin dia ngga suka nasi goreng" Simpul nya.
Day 3
Re benar-benar bermental baja, sudah dua kali kecewa namun masih saja melakukannya. Hari ini dia bangun kesiangan jadi tidak sempat menyiapkan bekal yang sempurna. Omelette buatan bulek Karsih dan salad yang ada di dalam kotak bekalnya itu. Tak lupa menuliskan sesuatu di sticky note sebelum menutup loker.
'Have a nice day :) '
Ia menempelkan sticky note dengan hati-hati, masih besar harapannya untuk Fasha mau memakannya atau tidak.
Fasha membuka loker saat jam istirahat, berniat meletakkan seragam taekwondo nya. Namun reaksinya berubah ketika menghirup aroma omelette yang memenuhi loker.
Entah kenapa tangannya tergerak untuk membuka kotak bekal itu, mungkin ini efek dari bangun kesiangan dan tidak sarapan.
Mencoba sepotong omelette sayur itu dengan antusias, benar saja ternyata rasanya tidak jauh berbeda dengan omelette buatan mami nya.
Tak bisa menolak untuk tidak memakannya Fasha pun menghabiskannya tanpa ragu.
Inilah saat-saat mendebarkan, Re membuka loker lalu mengambil kotak bekal itu. Berharap ada suatu keajaiban atau semacamnya, and honestly ia tak percaya kenapa kotak bekalnya menjadi lebih ringan.
Saat membukanya Re benar-benar tercengang tak percaya, dia kegirangan setengah mati melihat hanya tersisa salad didalamnya.
Tak henti-hentinya ia tersenyum sepanjang jalan dan menyapa semua yang lewat didepannya.
...----------------...
__ADS_1