
"Re Re sini nak, buruan! " panggil bunda yang tengah menyusun cake yang baru matang satu persatu kedalam etalase.
"Iya bun kenapa? " Re datang dari dapur masih dengan celemek dan sarung tangan dipakainya.
"Kamu di sini aja bantuin mba Ayu layanin customer, biar bunda yang di dapur. "
"Hmm, "
Bunda kemudian pergi, dan Re melucuti sarung tangan yang dipakai satu persatu lalu membuangnya di tong sampah.
Re dengan perhatian penuh mengangkat croissant dari loyang dan dipindahkan ke dalam etalase, menaruhnya sesuai label rasanya. Croissant disini berbeda dengan croissant di bakrie lain, itulah yang membuat toko ini identik dengan kue terlaris nya yaitu croissant.
"Mba ada croissant almond sama coklat? "
"Ada bu, mau berapa potong? "
Re mengangkat kepalanya untuk menyapa pembeli itu, tapi alangkah kagetnya dia melihat siapa yang bicara barusan.
"Tante Rumi! "
"Rere, yaallah tante kira siapa tadi. "
Re menghampiri tante Rumi untuk menyapanya lebih dekat.
"Pantesan kok aku kayak kenal sama suaranya, eh ternyata beneran tante. Duduk dulu tan. " Re mengajaknya ke meja tamu untuk berbincang sebentar.
"Iya iya makasih. Rere tiap weekend di sini ya sama bunda? " tanya tante Rumi membuka percakapan.
"Yaa gitu deh tan, cuma kalau bunda tiap hari di sini. Oh iya tan, kemarin kukis nya enak ngga? " tanyanya dengan antusias.
"Kukis? " beliau tampak berfikir sejenak, "Oo kukis yang kemarin itu dari kamu ternyata, enak kok tante suka SUKA BANGET MALAH. Fasha ini ngga bilang kalau Rere yang kasih kukis nya kan jadinya tante ngga enak, makasih ya sayang. "
"Omg gue di panggil sayang, aaaa cagyaaa... " teriaknya dalam hati.
"Nah itu bunda, bun ada yang nyariin bunda nih. " panggil nya pada bunda.
"Siapa? " tanya bunda yang kemudian menghampiri mereka di meja tamu.
"Tante ini bunda Re, bun ini tante Rumi mamanya temen Re di skolah. " ucap Re bergantian.
"Halo bu apa kabar? " tante Rumi menyapa lebih dulu dengan bersalaman dan berpelukan singkat.
"Baik baik alhamdulillah, sepertinya saya sering melihat ibu di sini tapi kan belum saling kenal seperti ini. "
"Iya bu kebetulan saya langganan disini, jadi sering belanja ke sini. " jawab tante Rumi.
"Emm, bun, tan , Re mau kedepan bentar ya. Tante sama bunda lanjut aja ngobrolnya Rere ngga mau ganggu, permisi. "
Pamitnya yang padahal ingin bertemu Fasha di depan toko.
"Cowok, sendirian aja" sapa nya pada Fasha yang tengah duduk bermain ponsel.
__ADS_1
"Akhh, kok lo bisa disini juga? " Fasha heran dibuatnya.
"Lah ini kan toko gue lo lupa, ini kali kedua loh kita ketemu di sini lo inget kan? " Re berharap Fasha mengingatnya.
"Maybe, tapi gua lupa itu waktu kapan. " jawabanya setelah beberapa saat mengingat tapi tetap aja lupa.
"Yah sayang banget, padahal waktu itu pertama kali lo senyum sama gue. " gumamnya.
"Hah? "
"Engga, gue cuma ngga kepikiran aja kenapa waktu itu lo beli birthday cake sama bawa buket juga. Buat siapa emang? " ia tak merubah ekspresi nya sedikit pun.
"Oh itu, ada lah intinya. Kenapa nanya gitu? " Fasha malah bertanya balik.
"Ngga papa gue kepo aja sama orang yang bisa buat seorang Fasha romantis kayak gitu. "
"Yah lo bener, emang cuma dia yang bisa buat gua ngerasa kalau Fasha itu bukan orang yang kayak gini. "
Re langsung mengerti maksud perkataannya, perkataan yang membuat hatinya tersentil walau Fasha tidak memberitahu identitas orang itu.
"Tapi sekarang udah ngga ada lagi Fasha yang itu, Fasha ya Fasha dan tetap jadi Fasha yang egois selamanya ngga akan pernah berubah. "
"Siapa bilang lo ngga akan berubah, lo percaya ngga kalau sebentar lagi Fasha 'yang ini' bakalan berubah habis-habisan karena satu orang. "
Saat mengatakan 'yang ini' Re menepuk pundak Fasha dan menatapnya dengan kesungguhan, kalimat itu membuat Fasha mengernyitkan dahinya.
"Siapa? "
"Aku "
Jawaban singkat namun membuat jantung Fasha terkena serangan secara tiba-tiba, serangan yang diakibatkan oleh adrenalin rush atau lonjakan adrenalin yang dipicu oleh ketegangan otot syaraf karena reaksi kimia berlebihan setelah mendengar hal mengejutkan dari seseorang.
Atau orang indo sering menyebutnya dengan deg-deg an!
......................
Hari senin di akhir bulan, dimana hari upacara di laksanakan. Upacara sudah hampir berakhir, hanya tinggal menyanyikan lagu nasional lalu penutupan.
Khusus untuk bagian lagu wajib nasional ini seluruh peserta bernyanyi, bernyanyi dengan semangat yang tinggi tapi tidak dengan murid barisan belakang.
"Pengumuman pengumuman, pemenang kejuaraan Olimpiade Sains nasional tingkat provinsi. Juara pertama di raih oleh siswa SMA Nusantara dari kelas 11 ipa 6 Fasha Xavier Ibrahim dan juara kedua diraih oleh Re zevanka Calista dari 11 IPA 3, untuk kategori Fisika tingkat SMA." ucap MC upacara dengan lantangnya, kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan nama-nama siswa lainnya yang mendapat juara juga.
"Re nama lo Re, NAMA LO DI PANGGIL" Eca sangat kegirangan hingga melompat lompat di depan Re.
"Ca, bisa ngga reaksinya b aja?" Re menghentikan tingkah Eca.
"Ngga bisa!"
"Samaaa gue jugaaa!"
Alhasil mereka melompat kegirangan bersama-sama, dan mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar.
__ADS_1
"Untuk nama-nama yang disebutkan tadi silahkan maju ke depan untuk mengambil penghargaan dari pihak sekolah. "
Re sedikit terkejut karena namanya disebut oleh MC tadi, padahal ia tidak berharap banyak dari olim kali ini. But she was so excited to come forward.
Buat yang pernah ngalamin pasti kalian tau kan gimana rasanya maju ke depan pas upacara dan diliatin sama semua mata. Itu tu rasanya sebelas dua belas lah sama walk in red carpet, cuma ini versi low budget nya gitu.
Re berdiri diantara Fasha dan tiga siswa lainnya, tentu saja di memilih di sebelah Fasha supaya bisa deket-deket terus.
Kepala sekolah menyerahkan piala, piagam dan amplop kepada mereka satu persatu. Kemudian dilanjutkan dengan sesi dokumentasi sambil diiringi tepukan tangan serta siulan yang sangat meriah dari seluruh siswa.
"Selamat ya buat juaranya." Ucap Fasha seraya menjulurkan tangannya di hadapan Re.
"Ya thanks, lo juga congratz yah. Sehebat apapun gue, tetep aja ngga bisa ngalahin dewa fisika yang satu ini. " Ucap Re saat menerima jabatan dari Fasha diiringi senyuman paling indahnya.
Inilah momentum yang sangat ia impikan sejak bertemu Fasha, bisa bersandingan karena sebuah prestasi bukan esensi semata.
"Gue boleh ngga fotbar sama lo disini? " Re tidak mau melewatkan momen indah seperti ini, apalagi melihat mood Fasha yang sedang cerah seperti matahari ini.
"Yaa, of course. " diiringi anggukan samar.
"Kak kak boleh tolong fotoin kami bentar ngga? "
"Boleh, mau pake kamera apa HP? " jawab kakak kakak dokumentasi itu.
"Pake HP aja gapapa, tapi gue lagi ngga bawa HP jadi pake HP lo aja ya? " semoga Fasha ngeluarin hpnya.
"Nih, " diberikannya HP itu kepada si tukang foto.
"Oke siap ya, 1...2...3..."
"Ganti gaya, 1...2...3..."
"Ganti gaya lagi, 1...2...3..."
"Lagi, 1...2...3..."
"Lagi, lagi, lagi, lagi"
"Udah kak cukup, makasih ya kak. "
Tak lupa dikembalikannya lagi ponsel itu kepada Fasha.
"Sama-sama"
"Emm nanti kirim ke watsap gue ya, mau gue simpen buat kenang-kenangan. Yaudah gue duluan yaa, bye "
Fasha menjawabnya dengan mengerjapkan mata sebab ia tengah memeriksa hasil jepretan barusan, apa dirinya terlihat tampan atau justru ngaib.
"Ecaaaa..."
Re berlari sekuat keledai untuk memeluk Eca yang masih setia menunggunya di depan BK. Di peluknya sangat Erat Eca yang bertubuh mungil sama seperti dirinya, hingga gadis itu kesulitan bernafas.
__ADS_1
"Re lepas, gue susah napas egoo! "
...----------------...