Mercusuar

Mercusuar
Bab 21


__ADS_3

Yans terbangun karena suara alarm yang nyaring. Ia duduk selama lima menit untuk bermeditasi, setelah itu barulah dia beranjak dari sofa.


Hal pertama yang dilihatnya ada ranjang yang telah kosong.


Re ternyata bangun lebih pagi darinya.


Yans lanjut membereskan sampah-sampah bekas makanan semalam barulah setelah itu dia pergi mandi.


Yans meregangkan otot-ototnya, tidur di sofa semalaman membuat tubuhnya pegal-pegal. Mulailah dia melucuti pakaiannya dengan santai, ia masih belum menyadari sesuatu sampai akhirnya cermin lah yang memberi tahu dirinya.


"Muka gua!" ia terkejut setengah mati, "Pasti ini kerjaan bocil kematian itu, arghh dasar koala syalan! "


Yans sekuat tenaga menggosok wajahnya yang di lukis menyerupai panda oleh Re. Mata dan mulutnya diberi bulatan hitam yang sangat besar, lalu pipinya di beri kumis memanjang.


"Rereee... awas aja lo nanti, dendam gua!" Yans terus meneriaki Re dari dalam kamar mandi.


Pagi-pagi tapi emosinya sudah di puncak saja, yang paling sialnya tinta itu sudah kering jadi sulit dibersihkan.


Uhuk.. Uhukk..


Buru-buru Re mengambil minum untuk mengurangi tersedak.


"Pelan-pelan sayang makan nya, minum yang banyak biar ilang keselek nya. " tutur bunda lembut.


"Aneh, kok keselek nya tiba-tiba ngga jelas banget. " Re bisa merasakan bahwasanya ini bukan tersedak biasa.


"Sudah siang kok belum bangun juga anak itu, sudah seperti ngga punya beban saja. " Om Hadi tampak menanti kedatangan Yans.


"Re coba panggil Yans mungkin dia belum bangun, kasian kalau nanti terlambat! " perintah bunda.


"Ngga usah dipanggil juga bentar lagi turun dia. "


Benar saja, tak lama dari itu Yans muncul sudah dengan wajah bersih.


"Tuh kan apa Re bilang. "


Re melipat bibirnya supaya tidak tertawa, mengingat bentuk wajah Yans setelah dicoret-coret olehnya.


Pandangannya ia alihkan kearah lain seolah bukan dia pelakunya.


Yans menempati bangku yang ada disebelah Re sambil melayangkan tatapan andalannya.


Re merasa seseorang terus menatapnya hingga dia merasa bersalah sudah mempermainkan Yans. Akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi sarapan duluan.


"Bun Rere tunggu di mobil ya. "


Ia hanya melewati Yans tanpa melihatnya sedikit pun.


Sementara Yans, ekor matanya masih menguntit Re yang sudah menghilang dibalik pintu.


"Kalian berantem? Bunda perhatiin dari tadi kayaknya kalian diem dieman? " bunda tau ada sesuatu diantara mereka.


"Jangan-jangan kamu suka gangguin dia di sekolah ya?! "


Belum sempat Yans menjawab om hadi sudah menodongkan pertanyaan keras seperti itu padanya.


"Engga pah, kenapa sih papa ini bawaannya curiga terus sama Yans. Kayaknya semuanya salah ada di Yans, heran! " dituduh seperti itu dia tidak terima.


"Lagian juga ngga ada apa-apa, kenapa pada sibuk semua. "


Sudah tidak heran lagi bunda jika pagi-pagi di suguhkan pertikaian antara bapak dan anak seperti ini. Bunda membiarkan, toh nanti juga berhenti sendiri.

__ADS_1


"Ahaha hahaha... Yans Yans emang enak di usilin, pasti dia shock banget liat mukanya sendiri. Ngga habis fikri gue, keterlaluan sih tapi ngabrut woy. Uahahaha... "


Puas Re tertawa di dalam mobil, mengingat tadi saat Yans turun dan menatapnya seakan ingin menyembelih Re detik itu juga membuat dia puas. Mengganggu siblings adalah suatu pencapaian terbesar yang patut diapresiasi.


......................


Di kantin sekolah Re bengong, hanya mengaduk-aduk es teh dari tadi. Dua orang di depannya pun tidak dianggapnya ada. Pikirannya hanya tertuju pada Fasha, Fasha dan Fasha lagi.


Tidak tau bagaimana sikap Fasha padanya setelah kejadian kemarin. Angin Feel bad sedang menerpa hatinya.


"Masih mikirin yang kemaren? " Eca bersuara.


"Ngga mau mikirin, tapi pikirannya dateng sendiri gue harus apa. " jawab Re.


"Saran gue sih mending lo lanjutin aja Re, udah terlanjur basah juga kan? " Bagas memberinya saran.


"Yah mau ngga mau, tapi gua takut kalau hasilnya sama kayak kemaren. Gue tu kayaknya butuh semacam trobosan baru buat ngambil hati dia. " Re menelisik dalam di pikirannya.


"Bener tuh, soalnya modal usaha doang kalau ngga ada triknya sama aja boong. Ngga guna! " timpal Eca.


""Emhh gua tau siapa yang bisa bantuin kita." Bagas berucap demikian dengan sangat yakin.


"Siapa gas? " Re langsung antusias.


"Nih, dukun cinta namanya madam Gory. " Seraya menunjukkan video tiktok yang fyp di ponselnya.


Bagas nih agak laen ya bun idenya.


"Eh lo gila ya, cinta sih cinta tapi ngga di pelet juga anjay. Gamau gue pake cara gituan. " Re menolak mentah-mentah saran Bagas yang menurutnya diluar fikri itu.


"Inalillahi bukan santet Re makanya liat dulu nih. "


Re mulai melihatnya.


"Mana tau kan belum dicoba. "


"Gitu gitu nanti gagal, males gue sia sia."


"Ya ngga tau Ca kan belum dicoba. Apa salahnya di coba dulu!"


Re tampak mempertimbangkan ide ini.


"Gimana?"


"Boleh deh. "


"Mantap, nah gitu dong. Yaudah jadinya kapan nih kita kesana? " Bagas memandang keduanya bergantian.


"Ntar balik aja. "


"Boleh deh. " Bagas mengangguk-angguk.


"Cabut yuk, udah bel tau. "


Ketiganya pun beranjak pergi dari kantin.


Saat perjalanan pulang, Eca tak sengaja melihat Fasha lewat di depan sana.


"Re Fasha tuh."


"Mana? "

__ADS_1


"Barusan itu lewat, udah sana buruan samperin nyet. "


Eca begitu saja mendorong Re, nasib baik dia tidak nyungsep.


"Xavier"


Deg...


Fasha tertegun mendengar panggilan itu, panggilan yang telah lama ia rindukan.


Imajinasinya mulai merancau dengan gila, mengharap ini sebuah keajaiban dari Tuhan.


Tapi lagi-lagi dirinya sedang dipermainkan.


"Gue mau bilang maaf sama lo soal... " belum selesai dia bicara Fasha sudah memotong kalimatnya.


"Bisa ngga, ngga usah ganggu gua lagi 'muak' tau ngga! "


"Maaf tapi ngga bisa Sha, gue udah terlanjur jatuh sama pesona lo. "


"Ada ya orang kaya lo gini, gatau malu! "


Re mencoba tetap tenang di posisinya.


"Ada, ini buktinya yang lagi berdiri di depan lo. "


"Crazy girl! " Fasha mulai melangkah pergi.


"Satu lagi, jangan pernah lo sebut nama itu di depan gua! " lalu pergi begitu saja.


Re menghembuskan nafas, mencoba mengembalikan ekspresi seperti semula.


"Gimana gimana? " mereka menghampirinya.


"Masih sama. " senyumnya tetap turut serta di sana.


"Ya gue ngerti kok, tenang aja kita selalu disini buat lo. " Eca merangkulnya sebagai penyemangat.


......................


"Yakin lo gas ini tempatnya? " Re bersuara


"Ya emang ini, liat tuh ada plang nya 'dukun cinta madam Gory'. "


Ketiga siswa itu sudah sampai di pekarangan rumah


"Tapi kok vibenya nyeremin ya. " Eca sedikit ragu.


"Terus gimana ini, jadi masuk ngga kita?! "


"Masuk lah orang udah nyampe, lagian gue juga sebenarnya penasaran sama madam Gory yang lo bilang itu. " Re meyakinkan.


"Yauda ayok! "


"Laki kan lo, yaudah sana duluan! " Seru Eca.


"Duluan gas! " Tambah Re.


"Huh iya iya, ujung-ujungnya gua juga yang jadi korban! "


Mereka bertiga pun melangkahkan kaki ke rumah itu, mengetuk pintu lebih dulu sampai suara memperbolehkan mereka masuk.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2