Mercusuar

Mercusuar
Bab 29


__ADS_3

"Uhuyy, kiw kiw yang abis fotbar bikin syirik aja. Wih dapet duit juga nih, sabilah traktir kita ya ngga Ca?! "


Bagas langsung menghampiri dua orang yang baru datang itu.


"Bagi liat fotonya coba, gue penasaran sama komuk Fasha. "


"Ngga tau nih kok belum dikirim sama juga sama dia, apa jangan jangan kontak gue dihapus sama dia. " Re mengusap-usap layarnya yang tidak ada notif dari Fasha sampai sekarang.


Tring....


"Nah nah guys udah dikirim nih sama Fasha. " Senyumnya terbit begitu indah.


"Mana ih liat liat, duh kok gue yang exited gini sih! " Eca pun tak mau ketinggalan melihat pesan dari Fasha.


"Ngapain sih? " Bagas juga penasaran dengan kelakuan dua bestie nya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



*foto*


*foto*


*foto*


Kameranya bagus, padahal gue ngga mandi tadi pagi tapi ttp cntk.


*stiker*


Akh cuma dikasih stiker, ngga a6 lo.


Btw tnks ya potonya.


Sama-sama.


Udah boleh dihapus potonya dari pada nyampahin memo lo.


Ya


Diapus beneran?! Tega banget padahal kan bisa buat kenang-kenangan.


Sad heart


Ya, ngga jadi dihapus.


Kenapa ngga jadi, gue kan becanda lo kok polos banget sih.


Lo ngga polos emng?


Maaf gue batik.


*stiker*


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


"Ca Ca tolong pegangin gue, gue terbang Rasanya. Hwaaaa.. " Re sangat girang bahkan kini girangnya berubah menjadi histeris.


"Wanjay foto nya kaga kaleng-kaleng, gini ya kalau pinternya couplean. Gas lah buat jeje. " Celetuk Bagas.


"Males ah ribet alay pula, gue ngga butuh jeje tapi butuhnya Fasha. Mending gini aja, nah kan bagus jadinya. Kalau gini kan betah hpannya. "


Re sudah mengatur poto itu untuk dijadikan wallpaper, baik layar kunci, layar beranda, layar watsap dan semua macam layar lainnya sudah berubah menjadi gambar dirinya dan Fasha.


"Etdah buset, inimah yang ada mabok Re sekalinya buka HP. Sono sini muka Fasha semua anjay, seminggu buka HP langsung meninggal dadakan yang ada. " Rometnya tanpa jeda.


Tapi sepertinya Bagas lupa ia sedang berbicara dengan siapa.


Di sikut nya langsung perut Bagas hingga sang korban merintih kesakitan seketika itu juga.


"Makanya Gas gausah banyak bacot, enak kan di bogem. " Ledek Eca.


"Ngomong lagi gue kibas mulut lo! " Re mengacungkan kepalan tangannya pada Bagas.

__ADS_1


"Iya iya maap, sussah emang ngomongin orang yang lagi bucin kayak gini! "


"Yeee sirik lo! "


"Tau tuh! "


Drettt... Drettt.. Drettt...


"Ihh ngapain sih nelpon-nelpon ngga jelas, reseh banget! " ucapnya pas melihat nama si penelepon.


"Siapa? "


"Preman jamet itulah, siapa lagi! "


Di reject nya panggilan suara itu karena malas dan pasti isinya hal yang tidak penting.


Direject dua kali tapi masih aja nelpon, Re pun yang risih akhirnya menjawab panggilan yang ketiga.


"Apaan? "


"Lo keluar bentar gih, gua di samping kelas lo nih. Cepetan, penting soalnya! " singkat Yans kemudian menutup telponnya duluan.


"Ngga, woi?...Woi?...Halo?... " Re ingin membanting benda itu sekarang juga, tapi ia urungkan karena mengingat tidak ada garansi bila rusak.


"Mau kemana lo? " Eca penasaran.


"Bentar! "


Ia berjalan menuju samping kelas, menemui Yans yang katanya sudah menunggu di sana.


"Susah banget sih angkat telpon, gua kan pegel nungguin dari tadi sini mana kayak orang bego lagi! " ucapnya ketika Re tiba di hadapannya.


Re makin kesel karena Yans mengomel padanya, bukannya berterimakasih tapi malah berkata kasar dan mengumpat macam itu.


"Cih, emang bego! "


Kayaknya Yans ini manggil dia cuma buat marah-marah, ngomel-ngomel ngga jelas ke dia dah lah mending pergi.


"Gada waktu gue buat dengerin ocehan lo! "


"Gua kesini cuma mau minjam HP lo, soalnya ada UH ekonomi sama MTK minat and HP harus di kumpul."


"Terus hubungannya sama gue? "


"Yaa gua mau pinjam HP lo buat di kumpul, soalnya gawat kalau sampe Remedial ngga sanggup gua! " pintanya pada Re yang masih berwajah kecut.


"Ogah ih apaansi, makanya belajar biar ngga pusing buat nyontek! " di hempaskan nya tangan Yans dari lengannya.


"Hey, lo lupa gua siapa... Mau belajar sehari semalem, sebulan, seminggu tetep aja ngga masuk. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri, ayolah bentar doang kok... "


"Gue kata ENGGA ya ENGGA, ngerti bahasa manusia ngga sih?! "


Yans melihat ponsel di saku depan Re, tanpa babibu lagi dia langsung mengambilnya dan berlari seperti seorang copet.


"Nanti gua balikin! " ucapnya setengah teriak.


"Woi vangke, monyed lo ya Yans itu HP gue balikin anjr. Arhgtt, syalan emang! " umpat nya pada Yans yang sudah menghilang dari sana.


"Huaaa ada foto Fasha nya... "


Re kembali ke kelas dengan wajah muram, Yans benar-benar keterlaluan kali ini.


Dua jam pelajaran sudah berlalu, dan Yans mendatangi kelas Re untuk mengembalikan ponsel sesuai janjinya tadi.


"Permisi " ucapnya sebelum masuk kelas, dia memang berandalan tapi soal sopan santun dia tidak pernah lupa.


Yans memberitahu alasan kedatangannya kepada guru yang sedang mengajar, sementara kelas sudah geger dibuatnya.


"****, ngapain pake di balikin pas *** sih. Sengaja banget, liat lo di rumah nanti! " Re sekuat tenaga meredam emosinya, apalagi samping kanan kiri depan blakangnya sedang berbisik-bisik.


"Re, ngapain dia kesini? " tanya Eca pelan.


"Nanti juga lo tau sendiri. Sengaja banget cari masalah sama gue! "

__ADS_1


"Nih, HP lo. Makasih" ucapnya lirih kemudian pergi dari sana. Yans jelas melihat tatapan sinis nya itu, makanya dia tak mengucapkan banyak kata-kata.


Ekhmm... Ekhmm... Ekhmm...


Spontan anak-anak meledek nya dengan kata-kata seperti itu, Re langsung melayangkan tatapan kepada mulut-mulut yang mengejeknya dan beberapa ada yang langsung terdiam.


Lihat kan seberapa dia ditakuti dikelasnya.


......................


"Hari ini kita latihan split serentak, jadi tidak latihan gerakan dulu. "


"What split?! " Re terkejut setengah mati sebab konon katanya gerakan ini adalah yang tersulit dan menyakitkan.


Re keceplosan sangat keras hingga membuat orang-orang melihat dirinya dengan aneh.


"Kita mulai satu persatu, perlu diketahui jika split ini sangat penting karena banyak tendangan yang tidak bisa dilakukan jika tidak mampu split. Jadi semuanya harus bisa split maksimal selama sebulan. Paham?!" ucap Sabam Ivan.


Siap paham...


Sementara Re yang ketakukan selangkah demi selangkah pindah ke barisan belakang supaya tidak di panggil duluan.


"Fasha, Ari tolong bantu saya. Kalian cari masing-masing anak untuk dilatih ya, pelan-pelan aja jangan terlalu keras. " Sabam Ivan memanggil mereka berdua.


"Siap ban" jawab keduanya.


"Sha lo dari yang paling belakang dan gua dari yang depan ya. "


"Ok boleh. " jawab Fasha.


"Itu yang paling belakang, cewek, maju! "


Re celingukan mencari cewek di barisan paling belakang, tapi tidak ada kecuali dirinya seorang. Re berpura-pura tidak mendengar apapun dan malah menoleh kearah lain.


"Mau maju apa gua yang kesana?! " Fasha tampaknya belum menyadari jika itu Re sebab tubuhnya yang mungil.


Dengan terpaksa dia maju kedepan, dia tidak bisa kabur kali ini. Nasibnya hanya Tuhan yang tau.


"Yang lain dulu aja gimana, soalnya gue..."


"Mau nanti atau sekarang itu sama, cuman beda waktunya aja. Sini ikut! " Fasha membawanya ke dinding Gor yang biasanya dijadikan tumpuan.


"Dudu, kakinya buka yang lebar! "


"Gue lagi bisulan ngga bisa duduk, sakit. " kilahnya berbohong dan sangat terlihat oleh Fasha.


"Siapa bilang ngga bisa! " Fasha menendang bagian belakang lututnya dan berhasil membuat Re jatuh terduduk.


"Pelan-pelan... " binarnya tampak memohon.


"Hmm"


Dengan telaten dan nada tinggi Fasha mengajarinya step by step hingga sampai pada puncaknya dan Re merintih kesakitan.


"ASTAGA SAKIT, GUE NGGA KUAT SAKIT BANGET. UDAH!" Re terus memukuli Fasha yang mengajarinya, bahkan mencubit dan mencengkram bajunya.


"Udah selesai, lo boleh istirahat. "


"Bantuin gue ngga bisa berdiri! " sambil ngegas.


Karena tak tega akhirnya ia membantunya berdiri dan memapahnya sekaligus ketempat istirahat. Yah, memapahnya tanpa diminta.


"Haus... "


Seperti Re sengaja menyulitkan Fasha, akh biarlah sekali-kali doang mah.


"Nih" memberi sebotol air kemudian pergi.


Re tersenyum kecil melihatnya menjauh, ternyata botol itu sudah dibuka oleh Fasha lebih dulu sehingga Ia tidak perlu bersusah payah membuka tutupnya.


"Masih yakin ngga akan berubah karena gue? "


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2