Mercusuar

Mercusuar
Bab 35


__ADS_3

"Yans udah sadar, gimana perasaan ada yang ngga nyaman atau ada bagian yang sakit? "


Beruntung mereka sudah kembali ke posisi semula sebelum bunda melihatnya, mungkin hanya sedikit terkejut. Sedikit.


"Ekhm, ngga ada kok bun cuma masih agak lemes aja lagian juga udah sering kebegini. " jawabnya masih dengan memperhatikan Re sedang merapikan rambut.


"Anak jaman sekarang, sering jatuh kok malah seneng. Dipikir enak tidur di rumah sakit, kasihan tu papa kamu khawatir takut kamu kenapa-napa. " bunda menatapnya serius.


"Emang bisa khawatir" lirihnya sebatas bibir bergerak tanpa suara.


"Lo aja yang ngga liat, diem diem gitu papa juga khwatir banget gue liat. Lo nya aja yang sering buat masalah makanya... "


"Ngobrolin apa kedengarannya asik banget?" papa tiba-tiba muncul di sana membuat ucapan Re terjeda.


"Engga bukan apa-apa kok mas, gimana udah selesai administrasi nya? " bunda mencoba mengalihkan.


"Ya. Gimana kakinya, ada yang sakit? "


"Lumayan sakit tapi ga masalah kok nanti juga baikan sendiri. "


"Bagus lah, bun kita pulang dulu yuk ngambil barang-barang takutnya nanti kemalaman di jalan. " ajak om Hadi setelah menengok arlojinya menunjukkan pukul delapan lewat.


"Yaudah, Rere tunggu sini dulu ya takut nanti Yans butuh apa-apa susah kalau ngga ada yang nungguin. Ngga papa kan kalau bunda sama papa tinggal pulang bentar?"


"Iyaa "


"Jangan berantem, papa tunggu di mobil ya. " om Hadi mengelus kepala Re kemudian pergi.


Sementara bunda masih melihat Yans seperti tak tega ingin pergi.


"Bunnn..? " Re mengingatkan.


"Beneran ngga papa ditinggal? "


"Engga bun, Yans bukan anak kecil lagi ngga akan ilang. " ucap Yans seperti bukan orang yang sakit.


"Yaudah iya, Re kakaknya di jagain lo?! "


"Heu'uh bunda... " suaranya sedikit tinggi supaya didengar bunda yang berjalan menjauh.


"Ekhm, haus" ucap Yans dengan suara lemah.


"Terus? " rupanya Re tidak paham dengan kode yang terang-terangan seperti itu.


Yans melebarkan matanya dan seolah memerintahkan Re untuk mengambil air yang ada di atas meja. Dengan malas dia mengambilnya. Tak lupa juga membantu Yans duduk lalu merebahkan nya kembali.


"Tx" singkatnya


"Emm, ada yang lain ngga? " tanya nya siapa tau Yans memerlukan hal lain.


Di jawab dengan gelengan serta seulas senyum menutupi rasa sakitnya.


"Kasian banget, pasti lama sembuhnya terus kalau jalan pake pake tongkat. "


"Wah ngeledek, gua sih maunya di dituntun sama lo kayaknya asik kemana-mana di pegangin. " goda nya balik.

__ADS_1


"Dih ogah banget nuntun-nuntun lo, mau di taro di mana coba muka gue kalau sampek temen-temen gue tau seorang Re bantuin musuhnya sendiri! " tolak nya mentah-mentah.


"Yaelah musuhnya kan di sekolah, kalo di rumah bukan. "


"Yaa tetep aja gamau pokoknya, udah ah laper pen cari makan dulu! " ia hendak pergi namun urung.


"Woi ntar dulu, ini nih punggung gua gatel tolong garukin! "


"Garukin?! " Re terkejut berani sekali Yans menyuruhnya menggaruk punggung.


"Gatel banget anjay, buruan ih! " seraya menggeliat supaya punggungnya bergesekan dengan kasur.


"Iya iya bentar, ada ada aja deh. Tau gua anti nyentuh-nyentuh orang! "


"Ga ikhlas? Yaudah gua garuk sendiri aja! "


Mendengar itu kesalnya bertambah, padahal baru saja saling berpelukan tapi sudah bak anjing dan kucing lagi.


"Agak miring gue susah buka bajunya! " serunya pada Yans dan langsung diikuti perkataannya.


Di singkap nya baju Yans sebatas punggung hingga terlihat otot punggung yang lumayan menonjol. Otot perutnya juga terlihat sedikit.


"Bagus juga ternyata badan dia, ada ototnya lagi. Astaghfirullah Re jangan khilaf, inget Fasha lebih menawan. " bisiknya sepanjang menggaruk punggung.


"Agak kirian dikit, gatelnya disitu. " tidak ada respon, "woi, bukan di situ yang gatel. Malah bengong, naksir ya ama badan gua?! " lanjutnya.


"Engga ******, terus dimana kalau bukan di sini? Di sini?! "


"Sebelah kirinya, agak keatas dikit, nah iya disitu. "


Digaruk nya punggung itu sedikit kuat, berharap lecet dan menimbulkan stretch mark. Tapi sepertinya Yans menikmati sentuhannya. Syalan memang.


"Udah belum? "


"Belum bentar lagi, masi gatel. " Yans terlihat sangat menikmatinya.


"Bos? " matanya terbelalak menyaksikan itu.


Suara orang lain yang tiba-tiba muncul di sana, iya di sana didepan dua orang yang sedang melakukan hal intim layaknya pacar atau saudara.


Sontak keduanya nengok bersamaan kearah orang tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Edo.


"Kok ngga ketok pintu dulu, atau salam gitu?! " Yans.


"Orang pintunya kebuka lebar gitu. "


"Ya tapi kan... " Re tidak jadi bersuara.


"Sendiri kan lo?! "


"Sama anak-anak. "


Detik berikutnya muncul segerombolan manusia dengan membawa berbagai macam bingkisan.


Yang awalnya ingin menyapa secara bersamaan menjadi gagal fokus pada Re dan baju yang terbuka di sana. Bahkan sampai ada yang mangap hingga melongo.

__ADS_1


Segera mereka membenarkan posisi setelah loading beberapa saat. Re juga membantu Yans kembali ke posisi yang benar, namun agak sedikit gelagapan tingkahnya.


"Kalian tau gua di sini? " Yans membuka suara untuk mengalihkan kecanggungan yang terjadi di sana.


"Yaa tadi gua telpon lo dan kata orang yang jawab lo kecelakaan, langsung gua ajakin anak-anak. Sekalian gua bawain ini " seraya menaruh buah tangan yang mereka bawa.


"Cuma segini, mana yang lain? "


"Biasalah mereka pada alasan ngga bisa. "


"Hah, sebanyak ini aja masih ada yang lain! " dalam hatinya bersuara.


"Bos kok ada...dia? " tanya salah seorang membuat Re merasa tertekan seketika.


Emm...


Yans hendak menjawab tapi sorot mata Re memancarkan sebuah ancaman.


"Kenalin, adek gua. "


Duarrr.....


Re nyaris kehilangan detak jantung dan berpegangan pada sudut meja.


What the ****!


Adek?


Kok bisa?


Sejak kapan?


Pertanyaan semacam itu keluar dari mulut mereka, bahkan ada beberapa yang ternganga karena mendengar kalimat itu.


"Percuma juga ditutupin, ya jadi nyokap dia nikah sama bokap gua. Makanya dia jadi adek gua sekarang! " nadanya seperti tidak sedang bercanda.


"Wah gila sih ini ngga habis pikir gua. " semua mata langsung tertuju ke manusia itu. "Ah maksud gua ngga nyangka aja gitu kalian bisa akrab di sini, padahal kan kalo di sekolah..." melihat tatapan Yans membuat lidahnya kaku dan peluh sehingga terpotong.


"Diem ngga, atau abis lo sama bos ntar! "


"**** ******, ngapain sih pakai di woro-woro segala. Hwakhh syalan! " masih dengan senyum yang menggantung indah di sana.


"Karena sekarang dah jadi adek nya boleh lah ya bos di gebet? " Andre.


"Nyari mati?! "


Mendengar itu semua orang menyoraki dan menertawakannya hingga membuat kamar ramai heboh.


"Lanjut aja ngobrolnya, gue mau cari makanan depan bentar. " pamitnya melihat Yans sekilas kemudian pergi.


Tawa anak-anak pun lanjut setelah pintu tertutup, akhirnya Re bisa keluar juga dari situasi menyebalkan itu.


"Mati berdiri gue disitu lama-lama, mending makan laper. "


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2