Mercusuar

Mercusuar
Bab 19


__ADS_3

Fasha mempercepat langkahnya hingga panggilan orang-orang yang membawa tandu terabaikan. Ia takut jika kejadian terakhir kali terulang kembali di hadapannya.


Re tidak pingsan ia hanya lemas tak bertenaga. Dilihatnya wajah Fasha dengan lekat, baru kali ini mereka sedekat cicak dan tembok. Dekat memang, tapi tak saling menyapa.


Andai ini terjadi di situasi yang berbeda pastilah dia bahagia. Namun anai nya terlalu sulit untuk diwujudkan.


"Sha, kenapa lo gini ke gue?" Re menangkap sosoknya yang berbeda dari biasanya.


"Ini buat gue makin berharap sama lo tau ngga! " ia berdialog dengan dirinya sendiri.


"Karena udah gini jadi jangan salahin gue Sha kalau 1001 macam cara gue lakuin buat dapetin lo. "


Tekadnya semakin kuat untuk memperjuangkan hati Fasha.


Fasha menurunkan Re di bangku ruang tunggu, menempatkannya dengan hati-hati.


"Tunggu, gue panggilin anak PMR buat kasih lo obat. " Fasha ingin beranjak namun tangannya diraih oleh Re.


"Gue ngga butuh obat, gue butuhnya Fasha ada di samping gue. " ucapnya lirih.


Fasha masih diam di tempatnya, tak ubah sedikitpun.


"Tapi gua ngga bisa disamping lo terus-terusan. " jawabnya.


"Kenapa? Apa gue ngga pantes buat lo? Apa ada yang salah di gue? Bilang Sha gue butuh jawaban dari lo! "


Fasha berbalik, melepaskan tangan yang menahan dirinya untuk pergi dengan lembut.


"Maaf, gue ngga punya jawabannya. " Lagi-lagi Fasha menjawab dengan singkat.


Terlihat wajahnya yang penuh harap akan balasan perasaan dari laki-laki dihadapanya. Tapi balasan tulus yang dia inginkan, bukan atas dasar belas kasihan atau lainnya.


Fasha beranjak dari sisi Re, melangkah jauh meninggalkan gadis yang terduduk lemah disana.


"Sha sebenarnya... Selama ini gue suka sama lo! " akhirnya terucap juga kalimat itu, kalimat yang menjadi landasan ideal dalam perjuangannya selama ini.


Fasha tertegun mendengar kalimat itu, tak disangka ternyata kutukan itu benar-benar terjadi.


Tidak ada pilihan lain baginya selain menolak perasaan itu. Ini semua demi keduanya, dia tak mau menjalani hubungan atas dasar kebohongan.


"Gua juga suka sama lo. "

__ADS_1


Jawaban Fasha sungguh mencengangkan, namun itu terkesan seperti sebuah kebohongan.


"Bohong kalau gue jawab gitu Re! "


Matanya memerah, Re berusaha menahan air yang memenuhi kantung matanya. Juga berusaha untuk tetap tegar walau perih menghujam hati berulang kali.


"Kasih satu aja alasannya ke gue! " pintanya di situasi yang sulit dijelaskan ini.


"Yang gua bilang kayaknya udah cukup buat dijadiin alesan! " Fasha enggan berbalik sedikit pun.


Re bangkit dari duduknya dengan perlahan, menghampiri Fasha sambil merambat dari kursi ke kursi.


"Sha liat gue, coba bilang sekali llagi! " tantang Re tepat dihadapan Fasha.


"GUE NGGA SUKA SAMA LO, dan ngga akan pernah suka 'sama lo'. " Singkat, padat dan jelas.


Tangannya gemetar hebat, tapi masih ia tutupi dengan senyuman.


"Ok ngga masalah, Fasha suka sama Re atau Engga itu mutlak hak Fasha.Tapi satu hal yang harus Fasha tau, sampek kapan pun Re ngga akan pernah berhenti buat perjuangin Fasha! " binarnya sudah berkaca-kaca, tapi masih ia tahan Re tidak mau menangisi hal konyol seperti ini.


Fasha maju selangkah dan membuat Re mundur selangkah secara otomatis.


"Bagus dong kalau ngga ada yang suka sama Re jadi ngga ada yang ngejar-ngejar, dan gue bisa fokus 6 perjuangin Fasha tanpa gangguan apapun." Jawabnya dengan enteng.


"Terserah!" Ia mendahului Re begitu saja tanpa pamit.


"Lo gini karena belum bisa move on dari mantan lo kan! " Angin apa yang membuatnya berani mengungkit hal ini.


"Seenggaknya dia pantes buat gua ketimbang lo ! " Kalimat terakhirnya sebelum tubuh tinggi Fasha hilang dari pandangan.


Sebelah matanya mengeluarkan beban yang sedari tadi ia tahan. Mulai luruh tetes demi tetes hingga membasahi wajahnya.


"Sejelek itukah vibes gue di mata lo Sha? "


Re mulai goyah dari pijakannya sendiri, mulai diseret nya perlahan kaki itu hingga ke dekat kursi. Duduk dengan tenang, lebih tepatnya menenangkan diri.


Re diam sesaat, melihat ada sebuah permen glukosa di atas meja. Sepertinya ini belum ada sejak awal, atau mungkin...


"Masih sama kayak yang waktu itu pernah lo kasih ke gue Sha. " ini kali kedua Fasha memberinya permen glukosa itu, hanya saja dulu tak saling mengenal.


Dengan cepat Re membuka bungkusnya lalu ia makan, di pejamkan nya mata untuk menikmati setiap rasa yang ada. Tapi entah mengapa permen itu justru membuat air matanya menetes lagi, lebih deras dari sebelumnya.

__ADS_1


"Re... "


Panggil seseorang yang membuatnya tersentak dan mengusap wajahnya. Menyisakan merah di mata dan hidung yang berair.


"Kalian kok... Kok bisa tau kalau gue disini? "


"Gue liat lo hampir pingsan tadi makanya gue buru-buru nyariin lo. " ucap Eca.


"Thanks ya Ca. "


"Kenapa nangis Re, lo sakit, mananya? " wajah Eca benar-benar khawatir.


"Akhh engga, ini gue cuma pusing aja tiba-tiba sampek ngga sadar kalo keluar air mata. " dalihnya sambil mengusap mata.


"Fasha mana, kok lo malah ditinggal sendirian sih?! "


Re tak menjawab pertanyaan itu.


Eca mengamati Re beberapa saat kemudian ia duduk di sebelahnya.


"Ohh gue tau, lo abis berantem sama Fasha kn? Jawab Re! "


"Caa"


"Re ngga usah bohong di depan gue, percuma. Gue paham lo itu gimana, dan gue juga berhak tau sebagai bestie. " Eca berusaha meyakinkannya.


"Caa... Apa yang gue lakuin selama ini salah? Kenapa gue ini seakan-akan jelek banget di mata dia?! "


"Sttt, lo ngga salah dan lo juga ngga jelek. Yang Fasha bilang ke lo itu bukan judge untuk lo tapi untuk diri dia sendiri, ingat Re ini bukan akhir dari segalanya. Lo masih ada kesempatan buat pindahin hati Ree! " Eca tak kuasa melihat Re seperti ini, tapi mau bagaimana lagi ini sudah jalan yang dia pilih.


"Ngga bisa Caa dan ngga akan bisa. Diawal gue udah prediksi kalau ini bakal terjadi dan gue yakin itu, tapi kenapa pas beneran terjadi rasanya sakit banget Caa. Gue ngga ekspek bakal nangis gini " Re sampai sesenggukan lalu Eca membawanya ke dalam pelukan karena tak tega.


"Udah udah ngga usah nangis lagi, gue paham perasaan lo. Sekarang lo tenangin dulu diri lo disini, terus baru lo pikirin pilihan lo antara lanjut atau stop sampek sini."


Pundak Eca sampai basah karena Re. Eca kemudia menangkup wajah Re dan membawanya ke depan mata.


"Apapun putusan lo gue bakal support selama lo sanggup jalaninnya. Inget kata-kata gue Re, stop kalau lo udah capek. Karena sejatinya 'berjuang buat orang yang tidak ingin diperjuangkan itu sangatlah menyakitkan'. "


Re mengangguk pelan lalu kembali jatuh kepelukan Eca, melanjutkan sisa tangisan yang dia punya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2