Mercusuar

Mercusuar
Bab 18


__ADS_3

Re masih kepikiran pasal kejadian tadi, kenapa Fasha bisa tiba-tiba begitu?


Apa dia ada penyakit yang disembunyikan selama ini?


Tapi penyakit apa yang jika kambuh seperti itu?


Re membuka ponselnya menelusuri situs pencarian dengan menyebutkan ciri-ciri yang dialami Fasha tadi.


"Phobia? Phobia apa tapi?" Re mengulang semua adegan yang mereka lakukan di pikiranya.


"Masa iya phobia sama badut ngaco aja. " Re tersenyum tak percaya dengan spekulasinya sendiri.


Re kemudian membaca seluruh artikel yang berkaitan dengan phobia trauma atau semacamnya.


"Fiks emang beneran phobia inimah. "


"Siapa yang phobia, bunda dengerin dari tadi ngomongin phobia terus? " tanya bunda yang sedang mengemudi di sebelah Re.


"Itu bun teman Rere tadi phobia nya kambuh tadi di skolah, untung ada aku disebelahnya. "


"Gimana emang kambuhnya? " tanya bunda lagi.


"Ya gitu deh, kayak orang panik gitu malah sampek hampir pingsan kok. Tapi ya bun Re herannya sama alasan kambuhnya itu, masa iya phobia sama badut jalanan." tutur Re yang menolak menerima spekulasinya sendiri.


"Bisa aja, yang namanya phobia kan ngga pandang itu apa. Kalau emang takut ya takut beneran. " jelas bunda.


Mereka pun masuk ke dalam rumah bersamaan. Tapi Re langsung labas ke kamarnya begitu saja.


Tok tok tok...


"Woy keluar lo! "


Tujuan utama Re adalah kamar Yans, bahkan ia melupakan ganti pakaian.


"Cepet keluar, gue tau lo ada di dalem! "


Re sudah tidak bisa menahan semua ini lebih lama lagi.


Krekk...


"Apaan sih berisik banget ganggu orang tidur anyink. " Yans keluar dengan wajah bantalnya, dia benar-benar baru saja bangun dari tidur nyenyak nya.


Tak mau ada yang melihat keributan mereka, Re mendorong tubuh Yans juga diikuti dirinya yang masuk kedalam.


"Wah wah apa nih, gua belum izinin lo masuk tapi udah main nerobos aja ke kamar orang! "


"Hah,apa, gue ngga salah denger? " Re mengibas-ngibaskan telinganya dihadapan Yans.


"Lo masih tau izin ternyata, kalau Lo tau terus yang tadi itu apa? Tiba-tiba datang nyamperin gue pake alesan balikin jedai, itu maksudnya apa coba?!"


Emosinya masih belum meluap sepenuhnya.


"Eh tunggu tunggu, lo bilang apa tadi, gua alesan?"

__ADS_1


"Lah emang iya! "


"Sadar woi, masih untung ya gua peduli sama lo. Gua balikin jedai syalan itu, sebenarnya juga males gua." Yans menjauh dari Re.


"Gua ngga butuh peduli dari lo, lagian kan bisa dirumah kenapa harus disekolah. Lo mau ngelanggar perjanjian kita ya, atau lo mau semuanya tau kalau kita siblings sekarang?!" sahutnya.


"Selama rahasia ini ngga bocor dari mulut kita sendiri orang juga ngga akan ada yang tau, santai lah. Palingan juga mereka ngiranya lo deket sama gua. "


"Itu juga gue ngga mau! " jawab Re dengan keras.


"Kenawhy, bukannya orang-orang seneng ya kalau deket sama gue? " Yans memicingkan matanya.


"Dih narsis. Sorry ya gue engga! "


"Ckk, yakin? " tanyanya meledek.


Re menghampiri Yans dan melontarkan kalimat ancaman.


"Pokoknya ini jadi peringatan pertama buat lo, kalo sampek lo buat part 2 nya siap-siap aja gue aduin ke bokap lo yang engga engga biar dipindahin ke overseas! "


Kemudian dia pergi dengan membanting pintu hingga menimbulkan suara keras.


Yans mengulum bibir, ia sekuat tenaga menahan tawa sejak sejak tadi. Tapi sekarang sudah tidak bisa di tahan lagi.


Wuahahahha...


Hahaha...


"KENA lo cil, emang enak di kerjain. " ucapnya masih dengan sisa tawa di wajahnya.


"Dia ngeledek gue?! " Re ternyata masih di depan pintu.


"Apanya yang lucu coba, masih kurang apah omelan dari gue?! "


"Huaaa, yaallah kenapa kau datangkan manusia menyebalkan seperti ini. Huuu uuu... "


Re menggigit kertas ulangan harian nya hingga robek menjadi dua.


...


Di ruang tunggu acara atau lebih tepatnya aula 2 SMA Nusantara Re dan Fasha tengah berbincang sembari menunggu giliran mereka perfom, tapi sejak tadi Re yang terus berbicara sementara Fasha hanya mendengarkan.


"Sha, lo masih belum jawab pertanyaan gue yang kemaren loh? " Re menagih hutang pada Fasha, hutan penjelasan maksudnya.


"Yang mana? " tanya Fasha seakan lupa kejadian kemarin.


"Yang kemaren lah, yang mana lagi?! " sungut Re.


"Kalau gua jawab lo ngga akan ganggu gua lagi? " dia malah bertanya balik.


"Yaa...tergantung, gue masih sanggup atau engga. Selama gue masih sanggup ya gue jabanin. " jawabnya santai seperti di pantai.


Fasha melihat Re dari balik komik yang sedang ia baca lalu kembali lagi.

__ADS_1


"Gue ada phobia akut dari kecil dan kemarin kebetulan kambuh tiba-tiba. " singkatnya.


"Pantesan gejalanya sama, tapi biasanya phobia itu ada objeknya kan nah lo phobia sama? " Re masih penasaran.


"Ngga ada jawaban untuk yang kedua kalinya! " Fasha menutup komiknya lalu pindah tempat duduk.


"Fasha... tanggung banget loh, gue masih penasaran. Janji ini yang terakhir, gue ngga akan tanya lagi abis ini. " ia menghampiri Fasha lagi persis seperti ekor.


Fasha tak menggubris nya, ia duduk dengan tenang dan damai.


"Plis... " Re mengganggu Fasha dengan mengguncang tangannya.


Ekhm...


Duar, mereka menoleh bersamaan mendengar suara itu.


"Maaf ganggu kak, gue disuruh pak Sam manggil kalian abis ini giliran kalian yang tampil. " ucap siswa itu.


"Duluan aja, nanti kami nyusul. " Re bersuara.


"Sekarang aja. " Fasha bangkit.


Dia berjalan lebih dulu dan meninggalkan Re yang masih teronggok di sana.


"Untung sayang, kalau ngga udah gue fermentasi lo Sha. "


Kini tiba giliran mereka tampil. Re dan Fasha sudah memegang alat musik masing-masing. Dalam hitungan ketiga pertunjukan dimulai, perpaduan antara dua alat musik yang menghasilkan instrumen indah.


Semua orang tampak menikmati permainan mereka, tak terkecuali keduanya yang juga sama-sama larut dalam alunan.


Tanpa terasa sudah setengah permainan saja, tapi sesuatu terjadi di salah satunya.


"Kenapa dia? " Fasha bertanya-tanya pasal irama biola yang turun tidak sesuai, padahal sebelumnya fine-fine aja.


Beruntung penonton tidak ada yang menyadarinya.


"Ini gua yang salah apa dia yang lupa partitur nya? "


Fasha menyadarkan Re dengan kode melalui piano. Dan benar saja, setelah itu instrumen keduanya seimbang seperti semula.


Selesai sudah penampilan dari mereka, semuanya mengucapkan terimakasih kecuali Re yang tiba-tiba tampak pucat. Keseimbangannya pun mulai goyah.


Re tidak tau kenapa tubuhnya seperti ini, sangat tidak nyaman.


Semua menuruni panggung secara bergantian, Re berusaha untuk tetap biasa saja. Baru turun satu anak tangga tapi kakinya mulai lemas, begitupun pandangannya yang mulai kabur.


"Fasha... "


Orang-orang di sana kaget dan berteriak melihat Re yang tiba-tiba terhuyung lemas. Beruntung di depannya ada punggung Fasha sehingga ia tak jatuh ke tanah.


Dengan sigap Fasha mengangkat tubuh mungil itu di bantu beberapa orang juga. Dibawanya Re dengan berlari, takut bila sesuatu berbahaya terjadi padanya jika tidak cepat di tangani.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2