
"Guys balik nya ntar aja ya jamkos ini. " ucap Eca pada Re dan Bagas yang tengah istirahat di kantin.
"Kalian tau ngga yang lagi viral di tiktok sekarang, yang cowok bunuh ceweknya itu? " tanya Re yang tengah scroll layar ponsel nya.
"Iya udah tau gue yang itu, gerem banget gue liat cowok 'brengsek' kayak gitu. Really dog! " Umpat nya yang kesal mengetahui hal tersebut.
"Yang brengsek dia tapi ngga usah nyemprotnya ke muka gua juga anjrit! " Bagas tidak terima dengan eca yang menekankan kata brengsek didepan wajahnya.
"Ya biar lo ngga terjerumus kejalan sesat kayak gitu, biasanya kan cowok maunya yang enak-enak doang giliran udah kenapa-napa ngga mau tanggung jawab! "
Timpal Eca dengan nada tak ramahnya.
"Emang muka gua kliatan kayak muka-muka psikopat apa?! "
"Mana gue tau lah! "
Mereka masih berlanjut perang mulut sampai akhirnya Re menyela ucapan mereka.
"Woy udah malah adu bacot lagi, males gue dengerinnya. Awas aja ntar kalau sampek jadian, biasanya ribut-ribut gini ujungnya suka. " keduanya langsung terkesiap mendengar kalimat yang keluar dari mulut Re.
"Najis gue! "
"Gua juga anjrit! "
"Loh jedai gue mana ya? " ia tampak mencari-cari sesuatu di sakunya.
"Nih jepit rambut lo semalem ngga sengaja kebawa sama gua. " seraya memberikan jedai yang Re maksud.
Re terbelalak sempurna, begitupun dengan Eca dan Bagas ekspresi mereka malah lebih tercengang lagi.
"Ngapain lo kesini, inget ya ini sekolah bukan rumah! " Re bertanya dengan pelan dan tatapan mata penuh isyarat pada Yans.
"Iya tau, gua cuma mau balikin itu saja. "
"Yaudah sono buruan pergi, gamau gue kalau semuanya sampek tau. Go away now! " mata Re mengisyaratkan Yans untuk pergi dari sana detik itu juga, mengingat banyak orang yang memperhatikan mereka.
"Iya bawel ini juga mau pergi. "
Yans kemudian pergi dengan santainya seolah tidak ada yang melihatnya dari awal.
"Woah apa maksudnya tadi, dia jelas jelas gamau kalau orang tau tapi tadi apa? Akhh syalan! " Re teramat kesal, apalagi melihat tatapan orang-orang di sana yang pasti sedang membicarakan dirinya.
"Re lo harus ati ati, ini pasti bakal jadi trending topik di skolah. Apalagi kan denger denger dia mantannya banyak. "
"Aaa Caa gue harus gimana kalau sampek orang tau kalau gue sama dia itu... "
"Udahlah Re terima aja, mau gimana lagi emang jalannya gini. " tambah Bagas.
__ADS_1
"Gamau gue pokoknya ngga mau, lo ngga tau dia itu orangnya gimana udah nyebelin suka memperbabu lagi. "
Rasanya ingin dia berteriak kepada manusia satu itu tapi apalah saya ini tempat umum.
"Sttt udah udah nanti mereka tambah curiga, balik yuk lanjut dikelas aja. Gue rasanya ngga bisa nafas dengan baik kalau diliatin terus kek gitu. " ucap Eca yang merasa sangat terintimidasi oleh tatapan tatapan jahanam itu.
"Hmm yaudah" Re pun merasa demikian setelah kedatangan Yans tadi.
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan kantin dan kembali ke kelas. Tak habis pikir apa sebenarnya motif Yans melakukan hal itu.
......................
"Awas aja lo nanti di rumah, ngga akan gue kasih ampun. Hiks hiks, kesel banget gue sama Yans pengen gue bejek bejek rasanya! " Omelnya sendiri di jalanan sekolah.
"Sengaja banget cari masalah sama gue, mana manusia purba itu sini gue pecahin palaknya pake batu!"
Re menendang batu sungguhan yang ada di depannya dan benar saja batu itu mental hingga mengenai kepala.
Bukan kepala Yans sialnya.
"Woy sakit anjing, siapa sih yang ngelempar kena palak gua anjay! "
"Ehh maaf maaf gue ngga sengaja nendang batu tadi. " ucap Re pada siswa di depannya.
"Huh gimana sih, untung palak gua ngga bocor kalau ngga abis lu! " sahut siswa itu masih dengan meringis kesakitan.
"Iya, sorry" Re malas meladeni itu.
Re langsung pergi menghampiri Fasha sebelum dia mendapatkan ocehan lebih banyak lagi.
"Kedepan bareng yaa"
Mereka jalan berdampingan diantara ratusan siswa siswi yang juga akan pulang.
Entah kenapa Re merasa ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya dengan tatapan aneh. Secepat itu kah beritanya menyebar?
"Ngga tau gimana nasib gue setelah hari ini. " wajahnya berubah menjadi masam.
Fasha melihat Re sekali, ia yang hari ini diam membuat Fasha penasaran. Dilihatnya wajah itu tampak seperti Omemikirkan sesuatu saat melamun.
Orang-orang sudah mulai surut namun Re masih diam terpaku.
Tiba-tiba seorang badut jalanan terlihat dari kejauhan, raut wajah Fasha berubah seketika usai melihatnya. Bukan pada badut nya tapi pada balon merah yang dibawa badut itu.
Gugup, tangannya mulai gemetar dan berkeringat. Fasha mencoba untuk tetap tenang dengan cara menutup mata, tapi justru bayang-bayang akan tragedi balon merah yang dia alami sepuluh tahun silam kembali menghantuinya. Bayangan akan kemalangan bocah laki-laki yang sangat polos sedang tersiksa baik fisik maupun batinnya.
Fasha membuka mata berharap hantu itu sudah pergi, namun tidak mereka malah berjalan kearah sekumpulan siswa di sana. Anak-anak lain justru memanggil manggil badut itu dan tampak senang.
__ADS_1
Sementara Fasha, gugupnya berubah menjadi rasa panik dan takut yang sangat over. Keringat mengucur deras di keningnya, tidak tau apakah ia sanggup menahan efek traumatis yang muncul saat ini.
Re kaget, sebuah tangan tanpa aba-aba langsung menggenggam tangannya. Re melihat kebawah dan betapa tercengang dan senang nya dia mengetahui itu adalah tangan Fasha.
Tapi seperti ada yang aneh, tangan itu basah dan wajahnya seperti sedang menahan sesuatu.
"Fasha lo ngga papa? " tanya Re.
Fasha masih terpejam dan tidak menjawab. Detik berikutnya ia mulai kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh namun Re berhasil menahannya.
"Sha jawab dong lo kenapa, oh mending sekarang kita duduk dulu di pos satpam. " Re menuntun Fasha perlahan lahan.
"Duduk di sini, sekarang buka mata lo dan tarik nafas terus buang. "
Fasha mengikuti semua instruksi dari Re dan pikirannya benar-benar kacau saat ini.
Re juga ikut khawatir melihat Fasha begini, beruntung kini dia jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Badut itu, apa masih ada disana? " tanya Fasha dengan binar ketakutan yang terlihat sangat jelas.
"Engga dia udah pergi kok. " Re masih setia menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.
Mendengar itu Fasha menghembuskan nafas lega.
"Gimana, udah baikan? "
"Hmm, i'm fine"
"Ok kalau gitu gue lega, anw barusan lo kenapa? "
Fasha diam, ia malah melipat bibirnya pertanda bungkam.
"Mau balik bareng gue? Itu gue udah dijemput soalnya. "
"Ngga makasih, gue bisa balik sendiri. "
"Yaudah kalau gitu gue balik duluan. " pamit Re.
Fasha mengangguk pelan, sudah berpamitan tapi Re tak kunjung pergi juga. Fasha bingung dan menautkan tanya di wajahnya.
"Tangan gue" ucap Re singkat.
Ternyata Fasha lupa untuk melepaskan genggamannya dari tangan Re. Akhh betapa bodohnya dia.
"Pertanyaan gue tadi ngga harus lo jawab sekarang, tapi gue bakal nunggu sampek lo siap buat jawab nya. "
Re kemudian pergi meninggalkan pos satpam, meninggalkan Fasha yang menatap kepergiannya.
__ADS_1
"Dia tau kalau gua jelas jelas hate sama dia, but why... "
...----------------...