
Ada yang berbeda dengan makan malam kali ini. Yusha hanya duduk di tempatnya sedangkan Niar sibuk memanaskan makanan yang tadi sudah dingin.
Yusha asik memainkan ponsel, tiba-tiba terdengar suara sepatu mendekat. Yusha mendongak untuk melihat siapa orang itu. "Shel, kamu pulang?" Yusha sedikit terkejut melihat istrinya tiba-tiba datang.
"Aku di usir mama, di suruh pulang ke rumah suamiku," jawab Sheli malas, melempar tas kecil ke kursi sampingnya.
Yusha tersenyum simpul. "Mama benar, harusnya kamu pulang ke rumah kita. Bukannya pulang ke rumah orang tuamu." Berbeda dengan Sheli yang cemberut, Yusha justru terlihat senang.
"Maaf Tuan, sedikit lama," ujar Niar mengalihkan perhatian keduanya.
Sheli memandang Yusha dengan tatapan menyelidik. "Secepat ini kamu menyetujui ideku, Yusha?" tanya Sheli dengan terkejut.
"Apa maksut kamu, Shel?" Yusha balik bertanya, tidak mengerti maksut pertanyaan Sheli.
"Apa perempuan ini yang kamu pilih jadi rahim pengganti untuk melahirkan keturunanmu?" tukas Sheli.
"Jangan gila, fikiranmu, Shel! Dia pembantu pilihan mama. Bukan perempuan seperti yang kamu tuduhkan!" sentak Yusha kesal memandang Sheli. Tak habis pikir dengan pikiran istrinya yang langsung menuduh Niar sebagai calon umpan untuk mengandung anaknya. Padahal wanita itu hanya pembantu pilihan Vivian.
Sheli tersenyum miring. "Santai saja, Sayang. Padahal aku udah seneng kalau dia yang jadi wanita itu. Wanita yang akan menjadi istri keduamu." ujar Sheli santai.
"Maaf Nona. Saya di sini cuma bekerja jadi asisten rumah tangga bukan ingin menjadi istri kedua!" Niar menyahut dengan tegas.
Sheli tidak menangapi Niar, perempuan itu tidak berpaling dari suaminya. "Nanti kita bicara, melanjutkan yang kemarin."
__ADS_1
"Shel, jangan mulai. Kamu baru pulang, kalau kita bahas yang kemarin suasananya bakal kacau lagi," balas Yusha tidak setuju.
"Aku mau kamu secepatnya ngambil keputusan, Yusha! Besok pagi aku ada pemotretan ke Korea."
Yusha membuang muka dan bernapas kasar. "Kamu baru pulang kemarin dan besok pagi udah pergi lagi?" Yusha tersenyum miring. "Bahkan kamu belum melayaniku, Sheli. Aku suamimu, butuh waktu berduaan denganmu."
"Apa kamu mulai protes dengan pekerjaanku? Ayolah Yusha, ini baru empat bulan kita menikah dan kamu sudah mulai bosan, kan? Padahal dari awal aku sudah jelaskan tentang hal ini!" sentak Sheli mulai tersulut emosi.
"Bayanganku tidak sejauh ini, Shel. Aku kira kamu masih punya waktu untuk kita. Tapi pekerjaanmu semakin tak terkendali. Bahkan untuk berdua denganmu harus menunggu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu!" Yusha tak mau kalah. Lelaki itu pun menaikkan nada bicaranya.
"Maaf, Tuan, Nona, saya permisi. Jika sudah selesai, panggil saja saya ada di belakang." Niar menyela. Ia tidak enak berdiri di antara Yusha dan Sheli yang sedang berdebat, lebih baik memilih pergi.
"Ya–ya pergilah! Enyahlah!" balas Yusha.
"Pekerjaanku sedang di puncak, untuk itu aku sangat sibuk. Dan aku belum siap berhenti dari pekerjaanku. Terserah, kamu gak ada pilihan lain Yusha, jika kamu tetap menginginkan anak dalam waktu dekat, menikahlah dengan wanita lain. Suruh wanita itu hamil anak kamu setelah itu ceraikan dia! Kamu tenang aja, aku bakal terima anak itu seperti anakku sendiri, karna itu darah dagingmu," ucap Sheli tanpa pemikiran. Wanita itu mengira masalah akan selesai dengan mudah, tanpa terpikirkan masalah lain akan muncul.
Tapi Sheli terlihat santai menyantap makan malamnya.
"Inilah makanya aku males cepet-cepet nikah. Kamu aja yang gak sabaran pengen berkomitmen! Takut aku di rebut Jerry. Tapi akhirnya nuntut aku segera punya anak!" Kali ini Sheli mulai menaikan nada bicaranya.
"Yusha, biarkan aku menikmati pekerjaanku dan turuti ideku kemarin! Atau ...," Sheli menghentikan perkataanya.
"Atau apa, Shel?" tanya Yusha menyelidik.
__ADS_1
"Atau akhiri hubungan kita."
Ucapan Sheli membuat Yusha sangat terkejut, lelaki itu sampai bangkit dari duduknya. "Shel, jangan main-main dengan ucapanmu! Aku bener-bener gak ngerti dengan jalan pikiranmu! Begitu sulit di terima akal. Kebanyakan perempuan setengah mati mempertahankan miliknya, sedangkan kamu ... dengan mudahnya kamu menyuruhku melakukan ide gilamu! Menikah lagi demi mengandung dan melahirkan anakku? Kamu tidak takut aku jatuh cinta dengan istri keduaku, jika itu terjadi?" gertak Yusha dengan tatapan tajam.
"Bisakah kamu jatuh cinta dengan wanita lain selain aku?" tantang Sheli. Sejenak keduanya saling adu pandang sengit. Berusaha mempertahankan keinginan masing-masing. Yusha lebih dulu mengakhiri pandangan sengit itu dan kembali duduk dengan napas kasar.
"Sekali ini dengarkan aku, berhentilah bekerja. Aku sanggup menafkahimu, aku sanggup membelikan barang mahal, bahkan aku sanggup membelikan separuh dunia ini. Apa yang kamu inginkan tinggal bilang padaku!"
"Aku gak butuh itu Yusha! Aku masih ingin bebas meniti karir. Aku ingin seluruh dunia mengenalku!" Sheli tetap keras kepala dengan keinginannya.
"Oke terserah!" Yusha beranjak menaiki tangga. Sheli seolah tidak perduli, perempuan itu masih duduk ditempatnya.
Namun tak berapa lama Yusha telah bersiap pergi, lelaki itu mengenakan kaos putih yang di balut jaket denim. Lalu tanpa melihat arah Sheli melewatinya begitu saja.
"Yusha! kamu mau kemana? Besok pagi aku akan pergi ke Korea!" teriak Sheli. Tapi Yusha tak menghentikan langkahnya sama sekali.
"Yusha ... !" Sheli memanggil Yusha sekali lagi.
Akhirnya Yusha terhenti tanpa menoleh. "Terserah!" Biasanya Yusha selalu luluh ketika Sheli mengulang panggilannya. Tapi kali ini terlihat sekali kilat kemarahan di mata Yusha. Hatinya terluka saat Sheli mengatakan 'Atau akhiri hubungan kita'. Yusha terluka, kenapa semudah itu Sheli mengatakan berpisah. Apa perasaan Sheli sudah memudar untuknya?
"Dasar pria egois!" ucap Sheli geram. Namun mobil Yusha sudah terdengar menjauh. Sekeras apapun ia berbicara, Yusha tidak akan mendengar.
Sheli meninggalkan meja makan dan pergi ke kamar. Ia juga tidak memanggil Niar. Di biarkan makanan itu begitu saja. Makan pun terasa hambar seperti hubungannya yang sudah 4bulan tapi semakin hari semakin hambar.
__ADS_1
Niar yang memang belum tidur beranjak ke meja makan untuk membereskan makanan yang terhitung masih utuh, hanya di makan sedikit oleh Sheli.
"Ternyata pasangan suami istri tampan gak menjamin rumah tangganya baik-baik aja. Lagian istrinya juga aneh, kok ada gitu istri nyuruh suaminya nikah lagi?" Niar berbicara sendiri dengan tangannya sibuk membereskan sisa makanan. Tak habis pikir dengan rumah tangga yang di jalani majikannya. Harta berlimpah tapi justru masalah datang dari kehadiran juga penolakan tentang buah hati.