Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 60


__ADS_3

Bisa saja hal yang tidak berharga pada saat ini, namun sangat berharga untuk hari esok. Jangan menyia-nyiakan yang ada di depan mata, apa yang kita pandang saat ini, belum tentu esok bisa kita dekap. Sesuatu yang telah pergi, akan sulit untuk kembali.


Tentang hati, tak jarang yang tersesat ketika sudah berpindah haluan. Sungkar untuk kembali. Sejatinya yang telah tergores akan tetap meninggalkan bekas, meskipun telah di obati. Bisa saja tertimpa bahagia, namun yang terukir masih meninggalkan sebuah kenangan.


"Nak Yusha ada keperluan apa? Tumben datang kemari? Dan, di mana Niar? Apa tidak ikut pulang?" Pak Bejo memborong pertanyaan.


Deg ...


Yusha membeku mendengar Pak Bejo yang justru menanyakan keberadaan Niar. Bukankah seharusnya ia yang mencari perempuan yang kemarin ia talak. Lalu di mana Niar?


Lidah Yusha terkunci, melihat gelagat Pak Bejo yang memang menunjukan ekspresi tidak tahu membuat Yusha mengerut. Berati lelaki paruh baya itu belum tahu tentang perceraiannya kemarin?


Seketika hati Yusha berkecamuk. Bagaimana ia akan menjelaskan dan mempertanggung jawabkan perbuatanya kemarin. Ia berpikir sudah tenang karena Niar di antar oleh asistennya. Dan Kelvin tidak menjelaskan apapun padanya. 'Di mana kamu, Niar?'


"Maaf Pak, memangnya kemarin Mbak Niar gak pulang?" Kali ini Reo yang bertanya, ia menduga Yusha sedang kebingungan dengan situasi saat ini.


"Kemarin?"


"Bukan, maksud saya hari sebelumnya," ralat Reo.


"Sejak Niar minta ijin untuk kembali ke rumah suaminya, ia belum kembali dan belum memberi kabar. Bapak kira Nak Yusha tidak jadi menceraikan anak saya dan Niar masih tetap di rumah Nak Yusha. Memang apa yang terjadi? Lalu anak saya ke mana?" Pak Bejo mulai memasang raut khawatir. Menatap lekat pada Yusha yang juga terlihat khawatir.


"Tolong jelaskan, Nak Yusha. Apa yang terjadi?" tuntut Pak Bejo tidak sabaran, apalagi Yusha hanya terdiam.


Yusha memberanikan diri membalas tatapan Pak Bejo. Sorot mata tajamnya bergerak-gerak, menandakan ia takut, bingung, resah dan khawatir menjadi satu. Ia pun bertanya-tanya, di mana Niar berada?


Melihat Pak Bejo menyorot dengan permohonan, akhirnya Yusha membuka mulut untuk menceritakan kejadian beberapa hari lalu secara detail.


Kali ini Pak Bejo yang harus terhenyak. Rasa khawatir yang belum genap, kini telah penuh mengerubungi hatinya.


"Apa dia memantapkan niat untuk pergi merantau?" ucap Pak Bejo tanpa sadar setelah Yusha menyelesaikan ceritanya.


"Merantau?" ulang Yusha.

__ADS_1


"Waktu kepulangan kemarin, Niar memang bercerita ingin bercerai dengan Anda, dia juga sempat bercerita ingin merantau ke kota lain, tapi saya belum memberi ijin," cerita Pak Bejo.


"Emang si Kelvin gak ngasih tau lu?" Reo menyela dan bertanya pada Yusha.


"Enggak." Yusha bangkit dan berjalan menuju luar ruangan. Ia ingin meminta pertanggung jawaban Kelvin tentang kepergian Niar.


"Halo, Tuan?"


"Kemana kamu mengantar Niar pergi?" sentak Yusha dengan sinis dan tidak sabaran.


"Sa-saya hanya mengantar sampai di Stasiun Jaya Abadi, Tuan." Kelvin menjawab ragu. Dari seberang bisa merasakan hawa dingin sedang menyelimuti tuan mudanya.


"Jadi, kamu tidak mengantar sampai ke depan rumahnya?"


"Tidak, Tuan."


"Kenapa kamu tidak bilang?"


"Nona Niar yang melarangnya."


"I-itu ... em ... itu ...." Kelvin mati kutu untuk menjawab. Mungkin setelah ia menjawab tidak tahu, maka saat itu riwayatnya akan tamat.


"Jawab, Vin! Jangan katakan kalau kamu juga tidak tau!" pekik Yusha merah padam.


"Maaf Tuan,"


Satu kata maaf sangat mudah di tebak apa maksut Kelvin.


Klik ....


Yusha mengakhiri panggilannya. Pria itu kembali masuk ke rumah Pak Bejo dan kembali duduk di tempat yang tadi.


"Bapak coba hubungi nomornya, tapi tidak aktif," kata Pak Bejo.

__ADS_1


"Terakhir Kelvin mengantarkannya ke Stasiun Jaya Abadi, tapi tidak tau kemana tujuannya," sahut Yusha.


"Astagfirullah ... ke mana kamu, Niar?" tanya Pak Bejo lebih ke dirinya sendiri.


"Pak, jika Niar sudah menghubungi Bapak. Tolong kabari saya, walau kami sudah tidak memiliki hubungan apapun, tapi tidak mungkin saya membiarkan Niar hilang tanpa kabar. Setidaknya kita harus tau, dia di mana. Dan saya minta maaf, mungkin ini juga karna kelalaian saya tidak memastikan secara langsung waktu kemarin," ucap Yusha merasa bersalah.


"Tidak sepenuhnya kesalahan Nak Yusha. Mungkin ini sudah menjadi keinginan Niar untuk mengalihkan kesedihan. Dia ingin menjauh sementara waktu dari kita."


Menjauh satu hari dari kita untuk mengalihkan kesedihan. Dalam hati Yusha tersenyum teriris membenarkan kalimat yang keluar dari mulut Pak Bejo. Ingatannya kembali pada saat di mana ia mengucap talak untuk Niar, perempuan itu terlihat sangat bersedih. Tersadar, selama ini ia tak pernah benar memperhatikan kebahagiaan Niar. Mungkin hanya sekedar menjadi teman saling melempar canda, tetapi tak sekalipun ia menanyakan tentang keinginan terbesar Niar yang belum dicapai.



Reo kembali mengemudi mobil, Yusha tak mungkin menyetir dalam keadaan seperti itu.


"Tenang Bray, nanti kita cari info di Stasiun Jaya Abadi," ucap Reo membuyarkan pikiran Yusha.


"Kira-kira dia pergi ke mana?" jawab Yusha melemas.


"Tenang, kita akan mencarinya. Melihat gelagat lu yang kek gini, gue curiga lu ada rasa sama daun muda itu?"


"Gue gak tau! Gue juga bingung dengan hati gue. Apa yang gue rasa, apa yang gue inginin, semua fifti-fifti."


Ponsel Yusha berdering, ia segera melihat siapa yang menelpon, harapan terbesar Niar lah yang menghubungi. Namun, ia menelan ludah kelu saat nama Sheli yang tertera.


"Lu gak angkat? Bini berbisa lu bisa ngamuk ntar." Reo bisa melirik pada layar ponsel yang dipegang temannya. Ia pun tahu jika Sheli lah yang menghubungi.


"Gue lagi males."


"Nah, kan, lu mulai berubah gini."


"Gue gak berubah. Jangan berpikir rasa gue hilang buat Sheli. Gue abis tengkar aja sama dia."


"Masih nyangkal, belum juga sadar. Lu biarin Sheli gitu aja, tapi saat ini lebih mentingin Niar. Apa namanya kalau gak mulai berubah."

__ADS_1


Yusha tak lagi mendebat. Ia memilih mencerna setiap makna yang diucapkan Reo. Memang benar, ia memilih mencari keberadaan Niar daripada meladeni kicauan Sheli. Padahal, setiap waktu telpon dari Sheli yang selalu ditunggu. Kali ini. Entah hanya kali ini atau ada lain kali lagi, ia sangat mengharapkan Niar yang menelpon. Hatinya tidak takut menanggung kemarahan Sheli. Namun lebih takut jika terjadi sesuatu pada mantan istrinya itu.


'Jika ku tau kamu punya tujuan lain, aku pastikan kemarin aku sendirilah yang akan mengantarmu pulang. Kamu belum cukup tangguh menghadapi dunia luar. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Semoga aku bisa menemukanmu dan memastikan keadaanmu baik-baik saja.'


__ADS_2