
Waktu berjalan tanpa berniat mundur ke belakang. Seperti batang jarum pada arloji, tak mungkin berputar mundur kembali.
Begitupun dengan kehidupan, tak mungkin beranjak ke masa lalu. Dan serupa dengan usia, takkan kembali meski berlakon sama.
Semua yang bernapas takkan tahu kapan akan tutup usia. Menjadi rahasia Tuhan. Dia pengatur kehidupan yang sangat baik. Manusia hanya bisa menurut dan berpasrah ketika takdir Tuhan telah ditetapkan.
Semua yang bernapas akan kembali kendatipun dengan waktu yang berbeda.
•
Jingga sore nampak berkilauan di atas awan. Menggeser awan mendung yang berapa saat lalu begitu kelabu. Angin semilir masih memiliki daya tarik sendiri tentang kesejukan saat menerpa kulit.
Yusha maupun Niar masih berada di tempat yang sama. Duduk di pesisir pantai yang menampilkan panorama indah. Tak sakalipun menjemukan netra yang memandang.
Pak Bejo dan yang lain telah berpindah tempat. Mereka beristirahat di toko milik Niar. Toko itu tak jauh dari tempat Yusha dan Niar duduk.
Berapa kali netra sendu itu menitikkan air mata. Dan selalu Yusha yang menghapus.
"Kenapa kamu menangis? Apa ini tangis bahagia karena kedua orang tuaku sudah merestui hubungan kita? Juga tangis bahagia karena bapak dan ibumu datang menemuimu? Mereka datang ingin memberi semangat dan mendoakan kesembuhanmu?" ujar Yusha.
"Niar, besok kita akan pergi ke luar negeri. Mencari kesembuhan untukmu. Aku mohon, semangatlah berjuang demi kami. Semua menunggu kesembuhanmu. Setelah sembuh, kita akan membangun keluarga yang bahagia. Aku janji."
Sesuatu yang tak disangka, Niar menggelengkan kepala pelan. Respon pertama kali yang diperlihatkan.
Yusha tertegun, pria itu diam mengamati wajah Niar. Lalu, berapa saat bibirnya menyunggingkan senyum. Ini awal yang baik. Setidaknya perempuan itu telah menunjukan perubahan.
"Kamu mengerti semua yang ku katakan?" Yusha meyakinkan. Niar menatap Yusha dan berkedip pelan.
Yusha semakin erat menggenggam tangan Niar. Bibirnya tetap tersungging senyuman.
"Setelah ujian terakhir ini kita lewati, aku akan mengucap ijab qabul lagi. Kita bangun nikah untuk yang kedua kali."
Lagi-lagi kepala Niar menggeleng pelan. Membuat Yusha melebarkan bola matanya tak percaya.
"Kamu sudah menunjukan perubahan, aku yakin kamu segera sembuh." Pria dengan bola mata berkaca-kaca itu tersenyum menahan haru. Ia sangat senang dengan perubahan yang ditunjukkan oleh perempuan lemah di sampingnya.
"A-aku ... lelah."
Pertama. Kalimat pertama yang keluar dari bibir pucat Niar sejak satu bulan terakhir hanya diam membisu.
Kali ini Yusha membatu. Hampir tak percaya jika Niar telah berhasil mengucap dua kata meskipun terdengar lirih.
"Ka-kamu ... sudah____" ucapan Yusha tak selesai.
Tangan yang biasanya lemah tak berdaya, kini terasa menggenggam telapak tangan Yusha. Manik Yusha turun mengamati telapak tangannya yang terasa sedang digenggam.
__ADS_1
Lengkungan senyum makin lebar menghiasi wajah Yusha. Pria itu bahagia menyaksikan perubahan pada Niar.
"Maafkan aku, Niar. Kedatanganku sangat terlambat. Andai aku datang saat hatimu memanggilku, kita tidak akan terpisah begitu lama. Aku telat menyadari perasaanku. Sungguh, maafkan aku."
Niar mengangguk pelan membuat Yusha tersenyum dalam tangis haru.
"Aku dulu terlalu pengecut, munafikkan perasaanku sendiri. Aku tidak menyadari bahwa aku telah jatuh cinta padamu sejak kita menyatu malam itu. Aku masih dihantui perasaan dengan Shelly, hingga tak menyadari datangnya cinta yang baru." Tangan sebelah Yusha terangkat untuk membersihkan sisa air mata.
"Aku baru tau jika kamu sangat menyukai pemandangan senja yang akan menghilang. Untuk itu, mungkin ini momen yang tepat supaya aku mengungkapkan isi hatiku."
"Di bawah langit jingga, aku ingin mengatakan sesuatu yang baru pertama kali ini aku ucapkan di depanmu."
"Niara Livia Putri, aku ... Yushaka Demitri Mahendra telah jatuh cinta padamu. Meski aku terlambat mengungkap cinta, tapi saat ini dan selamanya, aku berjanji cintaku hanya untukmu, Niar. Walau apapun yang terjadi. Itu janjiku padamu."
"A-aku juga jatuh cinta padamu sejak pertama kali merasakan perhatianmu. Tak ada nama lain yang kusebut selain Yusha dan Yuara. Kalian akan tetap ku ingat meski kita tak bisa bersama."
Yusha benar-benar membatu mendengar Niar berkalimat panjang. Hatinya semakin membuncah bahagia. Harapannya muncul begitu besar jika Niar telah kembali. Cintanya akan segera kembali.
"Aku selalu menunggu kedatanganmu, tapi saat kamu datang. Kini tibanya aku harus pergi. Uhuk-uhuk ...." Suara batuk Niar disertai napasnya yang memendek.
"Bukan kamu yang akan pergi, tapi kita. Aku akan menemanimu kemanapun kamu pergi."
"Tidak! Putri kita sangat membutuhkanmu. Kemarin aku yang merawatnya, sekarang aku titipkan Yuara padamu. Aku percaya kamu bisa menjadi ayah yang baik. Katakan pada putri kita, aku sangat menyayanginya." Napas Niar makin memendek, membuat Yusha tiba-tiba diserang sedikit rasa khawatir. Netra Yusha tak sedetikpun beralih dari wajah pucat Niar. Sayup nan teduh, namun baginya Niara Livia Putri tetap perempuan paling cantik di hatinya.
"Aku sangat menyukai pemandangan senja menghilang. Saat inipun momen pertama kita melihat senja menghilang, dulu aku sangat menginginkan hal ini terlaksana. Dan sekarang Tuhan telah mengabulkannya. Terima kasih."
"Meskipun dari tempat berbeda." Niar membalas sangat pelan.
"Yuara sangat suka menggambar kita. Sampaikan jika aku ingin mendekap gambarannya," pinta Niar.
"Tentu saja, putri kita akan senang hati menggambar untukmu. Dia pasti sangat senang tau kamu sudah sembuh." Perasaan Yusha semakin bahagia. Tanpa tahu apapun bisa terjadi atas kehendak-Nya.
"Saat ini aku sangat bahagia, Tuhan telah mengabulkan keinginanku. Bolehkah aku bersandar dalam pelukanmu? Aku lelah," ujar Niar.
Yusha mengangguk penuh, lalu segera meraih tubuh Niar untuk direngkuh dalam kehangatan dan kebahagiaan. Meski terhalang oleh kursi roda, namun tubuh mereka bisa berdekatan.
"Senja hampir menghilang, bersama aku yang akan pergi. Hanya terima kasih dan maaf yang bisa kuucap." Niar mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Yusha. Yusha membalas dengan mencium pucuk kepala Niar yang tertutup hijab putih.
"Ku tunggu kamu di pintu surga. Di tempatku yang baru." Suara itu hampir menyerupai bisikan. Meski begitu gendang telinga Yusha masih bisa mendengarnya karena tubuh mereka menyatu dalam rengkuhan.
Sesaat tanpa dikomando, dua netra Yusha mengeluarkan kristal bening. Perasaanya terlalu kalut hingga tak bisa mencerna kalimat-kakimat aneh yang keluar dari bibir Niar. Hatinya ditutupi kebahagiaan karena bisa mendengar suara merdu itu lagi. Hingga tak bisa menelaah pesan terakhir dari perempuan bermata sayup itu.
"Aku mencintaimu, Niar. Aku sangat mencintaimu," bisik Yusha di atas pucuk kepala Niar.
"A-aku ... juga sangat ... mencintaimu, Yushaku." Bersama dengan kelopak matanya yang tertutup. Seulas senyum tersungging bahagia. Seolah ia pergi tanpa beban.
__ADS_1
Tangan Niar melemas dan terjatuh. Tubuh yang tadi bisa dirasakan kehangatannya kian melemah.
Yusha masih menyelami warna jingga yang terkepung awan-awan hitam.
"Lihat, arah barat itu awannya sangat bagus seolah membentuk senyuman," kata Yusha yang masih belum sadar akan kepergian seseorang untuk selamanya.
"Pantas saja kamu sangat menyukai senja menghilang."
Tidak ada respon, Yusha menunduk dan merenggangkan pelukannya. Saat menatap wajah Niar, kedua mata yang berapa saat tadi memancar indah telah tertutup rapat.
"Niar ...! Niar ...! Niar ...! Niar, buka matamu. Hei ... Niar! Kamu tidur?" Panik. Yusha menepuk-nepuk pipi Niar pelan. Berharap mata Niar kembali terbuka. Meski tak secerah matahari, namun hatinya akan melega jika mata itu tetap terbuka.
"Niar, bangun Niar!! Buka matamu! Niar ... Tidak!!!!!!!!!"
"Jangan tinggalkan aku, Niar!!! Jangan pergi!!!" Yusha berteriak dan menangis kencang. Ia rengkuh tubuh perempuan yang di cintai. Namun sayang, tubuh itu kini tak memiliki kehidupan lagi.
Tuhan maha tahu, batas mana manusia bisa bersabar. Batas mana manusia harus selalu MERENGKUH DERITA. Kini tak ada lagi lara, tak ada lagi kesakitan. Jiwa Niar telah bahagia di alam fana. Rengkuhan derita itu telah berhasil dilepas oleh sang Pemilik Kehidupan.
Perempuan yang dulu terlahir tanpa keberuntungan kini bisa merasakan keberuntungan. Ia pergi setelah Tuhan mempertemukannya dengan keluarganya. Kebaikan, kesabaran, keikhlasan juga kebaktiannya mampu mengubah sikap buruk orang-orang masa lalu supaya lebih baik lagi. Sungguh, kehidupannya memberi pelajaran baik. Maka Tuhan pun telah memberi tempat yang baik.
Selamat jalan Niara Livia Putri. Kau kan tenang di alammu yang baru. Lelahmu akan segera berlalu. Kau tidak akan melulu MERENGKUH DERITA. Allah akan memberimu tempat indah. Insyaallah.
.
.
.
.
.
.
Mohon jangan mengambil kesimpulan terlalu jauh. Ini hanya fiksi, bukan kisah nyata. Jadi, orisinil cerita karangan. Tidak ada sangkut paut kejadian di dunia nyata.
Maaf saya tulis sad ending. Sebab itu bab ini tidak bisa panjang. Ini memang konsep yang sudah saya pilih sejak awal. Jadi, murni memang seperti ini cerita akhirnya, tidak ada perubahan sama sekali.
Ini bab terakhir. Tapi nanti akak mei akan tulis ekstra part. Mungkin 2/3 bab lagi.
Terima kasih telah setia bersama Niar.
Kita telah sampai pada penghujung cerita. Ambil hikmah yang bisa diambil. Jangan sia-siakan keberadaan seseorang. Karena kita tidak tahu, kapan napas akan terhenti. Selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa pamrih. Sejatinya Allah maha tahu segala perbuatan kita.
Salam sayang dari Akak Mei.😘😘
__ADS_1
Silahkan menangis berjamaah.