
Awan mendung tak beranjak dari kota Yogyakarta. Rintik gerimis turun membasahi bumi dengan ritme yang sama. Awan kelabu menjadikan hati kian di dera suasana sendu.
Pun dengan air mata para keluarga kian tumpah ruah saat jenazah Niar di tidurkan di ruang depan. Kain kafan putih menutupi seluruh badan, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ustadzah dengan berapa para warga membaca surah yasin di samping sisi kanan dan kiri.
Yusha, pria itu duduk dengan lemas di samping jenazah perempuan yang paling dinanti. Namun, sejauh penantian panjangnya harus berakhir tanpa pelabuhan. Bagai mimpi indah berkalimat singkat dengan Niar, setelah itu ia tak dapat lagi mendengar atau pun memandang perempuan itu. Rindu makin menyakiti kalbu.
Pria mengenakan kopiah hitam dengan ciri khas rambut gondrong itu tidak malu terisak pilu di samping jenazah Niar. Terkadang Yusha tidak bisa mengontrol diri hingga meneriaki nama Niar.
Vivian maupun Mahendra setia berada di sisi Yusha, menangkan jiwa puteranya agar bisa mengontrol emosi.
Sakky tidak nampak dalam ruang itu, rupanya sedang sibuk menenangkan Yuara yang sedari tadi menanyakan ibunya. Meskipun Sakky telah menjelaskan keadaan Niar, namun anak kecil itu masih belum mengerti jelas tentang kepergian ibunya. Ia masih belum bisa dipercaya akan ucapannya. Semalaman Yuara enggan beranjak dari sisi ibunya, tidur di samping jenazah Niar lalu memeluknya.
"Yua mau tidur di samping Mama. Ini terakhir Yua bisa peluk Mama." Begitu permintaan Yuara semalam yang justru membuat hati kelurga makin teriris perih.
"Papa Sakky, Yua pengen liat Mama," pintanya dengan tangisan.
"Kalo Ara liat Mama dan nangis, nanti Mama sedih. Mama gak jadi bahagia mau pergi ke surga."
Yuara terdiam dengan mengamati wajah Sakky, pria yang selama ini menemani dan memberi kasih sayang seperti ayah kandungnya sendiri. Bibir mungil itu mencebik namun belum mengeluarkan kata. Terlihat sedang berpikir.
"Yua gak akan nangis. Tapi Yua pengen lihat wajah Mama sebelum Mama pergi ke surga."
"Tubuh Mama sudah disucikan dan sudah dikafani, Yua gak bisa liat wajah Mama Cantik."
"Yua mau liat yang terakhir, Pa. Yua mau kasih gambaran Yua kemarin seperti permintaan Mama." Dua tetes kristal bening kembali hadir di pipi Yuara.
__ADS_1
Sakky tak tega menyaksikan wajah polos itu. Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang tetap penuh oleh pelayat.
Ketika Yuara turun dari gendongan Sakky, gadis kecil itu mengambil satu kertas yang terdapat gambaran semua anggota keluarganya. Meskipun tidak jelas dan mungkin terlihat abstrak, tetapi dengan semangat ia mengambil gambaran itu. Lalu kaki kecil Yuara melangkah mendekati jenazah sang ibu.
Sangat pelan Yuara menjatuhkan tubuhnya.
"Ma, ini gambaran Ara yang terakhir. Di sini ada Yuara, Papa Sakky, Papa Yusha, Nenek Jamu, Kakek dan Nenek Jauh dan Oma juga Opa. Gambaran Ara bisa nemenin Mama pergi ke surga. Biar Mama gak kesepian di surga. Kata Papa Sakky, Allah sayang sama Mama, jadi Mama di ajak pergi ke Surga. Di sana Mama gak sakit dan gak nangis lagi." Yuara menaruh kertas di atas pangkuannya. Kedua tangan mungilnya bergantian menghapus air mata yang akan jatuh. Terlihat jika Yuara menahan suara tangis.
Setelah itu ia ambil kembali kertas gambaran tadi. "Kalo Ara gak nangis, Ara jadi anak kuat dan hebat. Ara gak nangis, Ma. Ara cuma sedih gak bisa tidur dengan Mama, gak bisa denger Mama baca dongeng. Ara sama siapa kalo malam gak bisa bobok? Ara pasti rindu Mama. Seperti Mama yang selalu rindu Papa Yusha."
Deg ...
Hati Yusha bagai tertombak besi runcing kala mendengar kalimat Yuara —seperti Mama yang selalu rindu Papa Yusha— bahkan puterinya tahu jika selama ini Niar selalu merindukannya.
Hati Yusha bertambah sedih dengan ribuan penyesalan yang tertumpuk. Andai, kata itu justru menyiksanya kala ia berpikir 'seandainya ia datang lebih awal. Seaindainya ia mengetahui perasaan Niar dari dulu' mungkin waktu belum mengajarkannya pada kata terlambat. Mungkin saat ini mereka sudah bersama. Penyesalan takkan menyergap dengan sayatan kesakitan.
"Papa jangan nangis, nanti Mama sedih. Mama belum ke surga, tapi Ara sudah kangen lagi, Pa."
"Jika Yuara kangen, kamu bisa mendoakan Mama."
"Boleh Yua peluk Mama Cantik?"
"Boleh. Tapi jangan nangis ya, kasihan Mama kalo Yuara nangis."
Yuara mengangguk lemah. Setelah itu tubuh kecilnya rubuh di atas jenazah Niar. Tangan mungil itu merengkuh semampunya. Kedua mata kecil yang kelelahan mulai di pejamkan. Menikmati pelukan terakhir di atas jenazah sang ibu. Tanpa air mata, tanpa kesedihan. Karena berapa saat gadis kecil itu tertidur di atas tubuh Niar.
__ADS_1
Merasai kenyamanan saat mendekap tubuh sang ibu. Kenyamanan yang terakhir kali bisa dirasakan. Setelah ini. Ya, setelah berapa menit lagi, ia tak bisa lagi mendekap tubuh ibunya.
Bukan hanya Yusha yang tersayat-sayat melihat pemandangan sedih di depannya. Semua anggota keluarga, juga tetangga yang datang untuk melayat merasakan suasana yang sama. Mereka tak tega menyaksikan Yuara mendekap tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa.
Pak Ustad meminta persetujuan dari Yusha dan yang lain untuk segera memakamkan jenazah, namun melihat Yuara terlelap membuat Yusha tak tega. Ia meminta waktu sebentar lagi.
Akhirnya tegang waktu 30 menit telah usai, bagaimanapun jenazah Niar segera dimakamkan. Sudah sejak semalam jenazah itu diinapkan dalam rumah, kini tiba waktunya jenazah Niar dihantarkan ke peristirahatan terakhirnya.
Seperti pesan terakhirnya, Niar ingin dimakamkan dilokasi dekat pantai. Seperti semasa hidupnya, perempuan anggun nan shalihah itu sangat suka menghabiskan waktu di bibir pantai untuk menikmati senja menghilang. Bahkan ketika ia tutup usia bersamaan dengan senja menghilang. Sungguh kuasa Allah maha pengabul segala doa.
Demi keinginan Niar yang terakhir, Yusha meminta ijin lebih dulu pada perangkat desa setempat. Pria itu mengeluarkan dana cukup besar untuk membuka lahan pemakaman di sana.
Jenazah Niar telah di turunkan ke liang lahat, saat itu Yusha tak kuasa menahan kesedihan. Pria itu menjatuhkan tubuh di atas tanah. Juga menjatuhkan air mata kesedihan.
*Kemarin aku gak percaya kamu benar-benar pergi. Tapi saat ini ....
Niar, kisah kita begitu singkat. Tapi kesetiaanku masih panjang. Perempuan manapun tidak akan berhasil menggantikanmu.
Pertemuan kemarin bukan sebagai pengobat rindu, justru awal rindu yang akan dimulai tanpa penghujung. Setiap rinduku akan ada doa. Peluk doa itu agar kamu tenang.
Kuminta hadirlah dalam mimpiku jika aku merindukanmu.
Semoga aku bisa bangkit untuk menjaga putri kita.
Pergilah dengan tenang, suatu saat aku akan menyusulmu di pintu surga. Seperti kalimat terakhirmu.
__ADS_1
Selamat jalan, Niara Livia Putri. Selamat jalan, cintaku. Kamu akan menempati ruang tersendiri di hatiku. Aku akan tetap mencintaimu*.