
Senja sore ini masih sama, begitu anggun dan enggan mengheningkan cipta untuk semesta. Bias tajam masih amat sibuk menyilaukan mata-mata yang menatap. Kehangatannya menentramkan seluruh dunia.
Ada butiran-butiran debu yang asik menari-nari di bawah alam bawah sadarnya. Merasakan runcingnya batang-batang senja yang berhasil menembus lorong-lorong waktu.
Begitulah pengibaratan seperti —ia— sehelai tubuh yang amat layu.
Menatap kosong tanpa asa membara tanpa semangat menggebu. Lembar-lembar goresan luka setia membingkai wajah yang suram durja. Kelam menghitam tanpa penghidupan.
Ia yang selalu berlagak tegar menghadapi hantaman kepiluan —berjuang selama hidup demi asa yang diimpikan bisa terwujud, pun demi rasa yang masih ada harapan untuk bersama— namun kini hati yang berlagak tegar itu menunjukan titik kelemahan.
Ia kini benar-benar tenggelam dalam karam. Hidup tanpa balutan semangat. Diam membisu dalam bayang tak jelas. Tak ada satu pun mampu mengembalikan kehidupannya —pun dengan si gadis kecil yang dulu selalu menjadi penyemangat, kini tak mampu membangkitkan semangat— tenggelam dalam duka lara saking banyaknya sembilu yang dirasa.
Lengkungan senyum tak pernah lagi menghiasi kalamnya. Tak ada lagi eskpresi ceria yang ditunjukan saat mengajari si kecil baca tulis ataupun saat menemani puterinya bermain. Semua hari-hari telah terenggut detik itu jua.
Raganya hanya menerima tanpa melawan apapun perbuatan sekitar. Berpasrah pada kehidupan.
•
"Ma, Yua bikin gambar bagus. Liat ini, ada Mama Cantik, ada Papa Sakky dan ditengah ada Yua yang bahagia. Oh ya, Ma ... Yua pengen gambar Papa Yusha, tapi Yua gak tau wajahnya seperti apa? Apa dia lebih tampan dari Papa Sakky?" Gadis kecil yang menyodorkan buku gambar di depan Niar asik berceloteh, meskipun tak sekali mendapat jawaban tetapi tak pernah lelah bercerita di depan mamanya.
"Mama udah laper belum? Nanti Yua suapin." Yuara mengembalikan buku ke tas sekolah, setelah itu berdiri di depan kursi roda yang di duduki Niar.
"Ma, Yua pengen liat Mama senyum lagi. Yua pengen denger suara Mama bacain dongeng buat Yua. Mama ngambek terus, Yua minta maaf buat Mama seperti ini. Yua anak nakal, gak nurut sama Mama. Pukul Yua, Ma, tapi Mama jangan diam lagi. Yua cuma pengen denger suara Mama." Kristal bening telah menetesi pipi gembul bocah kecil itu. Namun isak tangis masih bisa ditahan.
Hampir satu bulan pemandangan baru sekaligus pemandangan amat memprihatinkan terus berlangsung. Mengoyak hati Sakky hingga terasa pedih. Selama satu bulan itu juga tak ada lagi bahagia yang menghampiri. Tangis menghiasi hari-hari terberat mereka.
Ia langkahkan kaki mendekati gadis kecil yang menyorot dengan kesedihan sampai tak tega ia melihatnya.
"Yua Sayang, kamu kuat, Nak. Gak boleh nangis. Mama butuh waktu untuk sembuh, kita jangan berhenti berdoa ya."
__ADS_1
"Tapi kapan Mama akan sembuh, Pa? Yua kangen dipeluk Mama. Yua pengen denger suara Mama," adunya dengan sesak kepiluan.
Kedua netra Sakky tak kuasa membendung kristal-kristal yang terbentuk dengan sendirinya. Miris dan sakit mendengar keluhan gadis kecil yang telah dianggap seperti buah hatinya sendiri. Ia tahu jika takdir ini terlalu kejam bagi kehidupan Niar dan Yuara. Dipaksa menerima takdir terperih dalam sejarah hidup yang dilalui.
Mbok Jamu muncul dari pintu dapur membawa semangkuk bubur. Tetapi Yuara segera meminta mangkuk itu. "Biar Yua yang suapin, Mama," pintanya.
Sakky mengangguk, setelah itu Mbok Jamu memberikan mangkuk bubur pada Yuara.
"Mama makan dulu, ya." Kristal bening telah tersapu bersih, kini kembali menegar. Seperti itulah sikap Yuara Sora Demitri, suasana hati mudah berubah.
Perempuan yang duduk di kursi roda hanya diam menerima komando dari sang anak. Ketika Yuara menaruh sendok di depan mulut, Niar hanya berpasrah membuka mulut dan mengunyah tanpa berkomentar apapun.
Sejak membuka mata kembali pasca kejadian kelam waktu itu, Niara Livia Putri menjadi sosok berbeda. Satu kalipun tak mengucap kata, mulutnya diam seribu bahasa.
Mbok Jamu, Yuara, pegawai toko dan paling utama pria bernama Sakky sangat syok melihat keadaan Niar.
Dokter menerangkan bahwa perempuan itu mengalami trauma psikis berat yang kini membuat perempuan itu hanya diam seribu bahasa. Tak memiliki ekspresi apapun, tidak merespon orang-orang sekitar yang mengajaknya berinteraksi. Diam dengan tatapan kosong tanpa kehidupan.
Mata Sakky sampai tak sanggup menyaksikan perubahan Niar, perempuan yang selama lima tahun terakhir menjadi idamannya kini terlihat mengenaskan.
•
Susah payah Sakky mendorong kursi roda Niar membawanya ke pinggiran pantai. Selama ini setiap sore tak pernah melewatkan langit menguning di ujung barat. Menyaksikan senja menghilang salah satu rutinitas yang menjadi kesenangan Niar.
Yuara berlari kesana kemari dengan lincahnya. Biasanya Niar akan tersenyum saat menyaksikan puteri semata wayangnya bermain dengan gembira, namun sejak satu bulan ini tak ada ekspresi apapun. Wajah suram selalu terbingkai.
"Pacar Papa Sakky jangan main jauh-jauh, Sayang. Papa gak bisa kejar kamu. Papa harus jagain Mama Cantik!" teriak Sakky saat Yuara sedikit jauh dari pandangannya.
"Oke Papa Ganteng, Yua cuma larian ke sana dan balik lagi ke sini," jawab Yuara.
__ADS_1
Sakky beralih duduk dibatu karang dengan mengamati wajah Niar. "Liat ... Ara terlihat tegar. Tapi dia sangat merindukanmu. Sembuh dan kembalilah demi Ara, juga demi aku," ucap Sakky lirih. Namun terang saja hanya suara angin yang terdengar sedangkan Niar hanya diam dengan kedipan matanya.
•
Bruk ....
"Auh ...." Yuara mengaduh.
"Kamu gak pa-pa?"
"Baju Yua kotor," sahut Yuara dengan meneliti baju dan membersihkan dengan tangan mungilnya.
"Sini Om bantu." Tangan mungil Yuara terulur menggapai tangan seseorang yang tadi tak sengaja ditabrak.
"Tuan Yusha ... ada telpon dari Nyonya Besar," sela Kelvin.
"Kamu jawab aja dan bilang aku lagi gak mau diganggu."
"Apa Om adalah Papa Yusha?" tanya Yuara.
Yusha beralih memperhatikan Yuara dengan kening mengerut. Tentu saja tidak paham dengan pertanyaan anak kecil berumur 4 tahunan itu.
Yuara membalas menatapi wajah Yusha. "Papa Yusha mau jemput Yua sama Mama Cantik, ya?"
Kening Yusha makin dalam mengerut, benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Yuara.
"Maaf, Om kurang paham dengan perkataanmu, anak manis." Yusha berjongkok di depan Yuara. Ada perasaan aneh saat meniti wajah gadis kecil itu yang mengira hampir mirip dengannya.
"Nama Om Yusha?" tanya Yuara dan Yusha mengangguk.
__ADS_1
"Kata Mama Cantik, Papa Yua namanya Yusha Demitri. Terakhir Mama bilang, Papa Yusha mau jemput Yua. Papa Yusha sekarang udah datang tapi Mama Cantik masih sakit," cerita Yuara.