Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 66


__ADS_3

Hari ini Yusha telat berangkat ke kantor. Kepala yang berdenyut masih mendominasi keberangkatannya pagi ini. Begitupun perut yang tak di isi apapun demi mengejar waktu.


"Tuan Muda, berapa hari ini Anda terlihat lesu. Apa perlu kita membuat janji dengan dokter?" tanya Kelvin, yang berdiri di depan meja kerja Yusha.


"Gak perlu," jawab Yusha singkat. Pria itu menyandarkan kepala di kursi ergonomis yang ada di ruang kerjanya. Tangan kanan memijat-mijat pelipis.


"Vin, siapkan satu orang untuk mengawasi istriku," ucapnya tanpa mendongak.


"Maksud Anda, Nona Sheli?" Kelvin memastikan.


"Iya, siapa lagi? Sekarang istriku cuma dia," sentak Yusha tertahan, merasa geram. Suasana hati sedang berkecamuk, sedikit saja ada yang tak sesuai bisa berakibat menyulut emosi.


"Awasi kemanapun dia pergi!" perintah Yusha.


"Baik, Tuan Muda." Asisten itu tahu lingkup perasaan bosnya sedang gelap, ia tak bisa banyak tanya. Yang akan membuat Yusha semakin murka.


"Kapan kita pergi ke Jogja?"


"Empat hari lagi, Tuan."


"Siapkan semuanya, aku akan ikut ke sana."


"Bagaimana dengan kesehatan Anda? Apa tidak apa-apa jika ikut terbang ke Jogja?"


"Aku tidak apa, sekaligus bawa orang-orang kita ke sana untuk mencari Niar!"


"Anda ingin mencari Nona Niar?"


"Heem ...."


"Baik, Tuan, saya segera mempersiapkan semuanya." Kelvin membungkukkan badan sebelum keluar dari ruangan Yusha. Pria yang tidak bersemangat itu nampak memejamkan mata.



"Ada apa pagi-pagi bangunin gue, Glo?" desis Sheli memegangi kepala yang masih berdenyut akibat kadar alkohol yang dikonsumsi semalam.


"Pagi?! Buka biji mata lu, ini hampir tengah bolong, Sheliana Rebecca, tercinta, tersayang ...!" omel Glory dari sambungan telepon.


"Hem ... gue kira masih pagi," jawab Sheli enteng. Perempuan itu meneliti ruangan, tentu saja tak menemukan siapapun. Sisi ranjang tempatnya berbaringpun terlihat rapi, ia menebak jika semalam Yusha tidak tidur bersamanya lagi. Mengingat hal itu perempuan yang berantakan dengan rambut yang tergerai bebas nampak memendam kesal.

__ADS_1


"Gawat Shel!!! Gawat-gawat, gawat!!!" pekik Glory.


"Apaan sih? Apanya yang gawat?" sentak Sheli kesal. Sang asisten itu memang heboh di segala suasana.


"Semalam suami lu nelpon gue, nanyain hubungan lu sama Jerry."


"Apa ...?" Sheli terperanjat.


"Hist ... teriakan lu bikin telinga gue, budek!"


"Kamu serius, Glo?"


"Udah aku anterin kamu pulang, tak lama dari itu suami lu nelpon nanyain hubunganmu sama Jerry, dia juga marah-marah karna kamu pulang dalam keadaan mabuk berat," terang Glory menceritakan yang semalam.


"Kenapa Yusha curiga sama gue? Apa semalam gue ngomong ngawur, ya?" Sheli bertanya sendiri. Lalu kembali bersuara, "ini semua gara-gara, elu, Glo!"


"Kok, lu nyalahin gue!" sentak Glory tidak terima.


"Iya, semalam gue udah bilang gak mau pulang, tapi lu yang maksa. Tau kalau orang mabuk bisa ngomong ngawur, apalagi seharian gue sama Jerry. Ah ... sial. Pantes aja, Yusha gak tidur sama gue! Dia pasti marah," tebak Sheli.


"Bukan gue! Jerry yang nyuruh gue bawa lu pulang."


Terdengar Sheli berembus kasar, sebagai luapan kekesalan bercampur bingung. Apa setelah ini Yusha akan marah lagi. Dada itu bergemuruh, mengutuk hal yang sudah terlewati. Perempuan yang belum berganti dari semalam mengingat dan mengutuk Niar yang menjadi penyebab berubahnya sikap Yusha.



Hampa dan kekosongan menyeruak seketika saat kaki panjangnya memasuki rumah.


Kemana dia yang selalu menyambut dengan keriangan? Kemana dia yang menyiapkan sepiring makanan lalu berceloteh manja. Tak ada lagi, semua tak ada lagi semenjak ia pergi. Pria bernetra sendu itu kehilangan bayangan itu.


Sendu merayu rindu, nama itu mondar-mandir dalam angan, menyatu dengan bayang. Terngiang suara mendayu merdu. Namun kini, kepergianmu penyebab menjadi lara.


Kenangan tentangmu kian menyiksa jiwa. Hari ini, bertambah satu oktaf keyakinannya atas hati yang mulai berpindah haluan. Sedikit meyakini jika bidadari yang pergi itu telah membawa seperempat jiwanya.


"Kamu sudah pulang, Sayang?" Suara Sheli mengejutkan Yusha. Pria itu beralih peda sumber suara yang ada ternyata Sheli muncul dari arah ruang makan.


Setelah mengetahui Sheli mendekat, Yusha tak mengindahkan kedatangan perempuan itu, kejadian semalam belum hilang dari ingatannya. Bagaimana sang istri memanggil nama pria lain saat tidak dalam ketidaksadaran penuh.


Yusha melonggarkan ikatan dasi, melangkah ingin menuju kamar untuk menyegarkan diri.

__ADS_1


"Yusha! Aku menyambutmu pulang. Kenapa kamu cuekin aku," kesal Sheli dengan memberengut.


"Tumben kamu menyambutku?" Sudut bibir Yusha terangkat, seolah mencibir Sheli.


"Aku gak ada jadwal keluar, jadi, seharian ini nungguin kamu pulang. Ohya, aku juga bikinin pancake coklat kesukaanmu, loh." Perempuan itu berubah tersenyum cerah. Ia tahu jika sang suami sedang marah, maka perlu mengeluarkan jurus aktor, dengan berpura-pura baik dan menunjukan perhatian penuh agar hati Yusha kembali meluluh.


"Nanti aku makan, sekarang aku ingin mandi dulu," ucap Yusha setengah tak perduli.


"Ough, oke ... aku siapin baju gantimu."


"Gak perlu!" sergah Yusha, ia memandang Sheli dengan pandangan dingin. "Biasanya kamu gak ada waktu untuk ngurusin hal-hal kecil seperti itu, kenapa sekarang berlagak menunjukan perhatian? Apa diam-diam kamu merasa bersalah? Atau sedang menutupi sebuah kebohongan?" Yusha mencecar pertanyaan yang mengandung sindiran.


Sheli terlihat gelagapan. Berati apa yang dikatakan Glory tadi pagi memang benar, semalam ia telah merancau tidak jelas dan menimbulkan kecurigaan bagi Yusha.


"Kamu bicara apa, sih? Kalau aku ada waktu aku bakal perhatian lebih ke kamu, Sayang. Selama ini kamu tau sendiri bagaimana padatnya jadwalku."


"Dan aku juga mulai terbiasa tanpa kamu, karna kamu terlalu sibuk!" Kalimat singkat itu mengakhiri perbincangan mereka karena Yusha sudah berlalu.


Ditinggal begitu saja membuat Sheli makin marah. 'Lama-lama sikapmu semakin kurang ajar, Yusha! Cih, kalau bukan karna kebodohanmu, aku lebih baik pergi dan menikmati kehidupan bebasku,' batin Sheli menggebu.



"Akhir-akhir ini sikap kamu berubah, semenjak kamu dekat dengan perempuan kampung itu!"


"Dia sudah pergi, kenapa harus dibahas lagi!"


"Dia memang pergi, tapi meninggalkan pengaruh buruk."


"Jangan menyalahkan orang lain yang sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kita. Harusnya kamu bisa introspeksi diri, dari siapa hubungan rumah tangga kita bisa sedingin ini!"


"Kamu menyalahkan aku!" sentak Sheli menatap nyalang ke arah pria yang terlihat santai menikmati makan malamnya.


"Apa aku bilang begitu?"


"Yusha!!! Keterlaluan kamu!"


Ceetak ... !


Bunyi sendok yang dibanting kuat ke atas piring. Ia yang sedari tadi menahan emosi tak lagi terbendung saat Sheli berdiri, berteriak dengan suara kerasnya.

__ADS_1


Brak ... !


Tak puas sampai di situ, Yusha ikut berdiri dan menggebrak meja dengan kedua tangannya.


__ADS_2