Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 94


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 10 pagi, namun Yuara belum terlihat keluar. Beberapa kali Niar melongok ke ruang kelas anaknya, mendapati Yuara belum keluar lantas Niar kembali duduk di tempat tunggu yang telah di siapkan pihak sekolah.


Niar mengambil duduk di ujung, sedikit jauh dari rombongan ibu-ibu lain.


"Mama ...." Suara yang paling dihafal dalam hidupnya telah terdengar, Niar menoleh bersamaan dengan senyumnya yang terbit.


"Sayang ...," sambut Niar gembira.


"Ayo kita pulang, Ma," ajak Yuara.


"Ayo ...." Niar menggandeng tangan kecil puterinya dan bergegas menuju gerbang sekolah yang lumayan jauh.


"Kita gak dijemput Papa Sakky ya, Ma."


"Tadi Papa Sakky udah bilang begitu."


Ibu dan anak itu berjalan beriringan, gandengan tangan tak pernah terlepas di sepanjang kaki melangkah.


Saat tiba di depan gerbang, Niar mengajak Yuara duduk di bawah pohon sambil menunggu angkutan umum lewat.


"Ma, Yusha Demitri itu siapa? Kenapa ibu guru selalu bilangin Yusha Demitri adalah ayah Yua?" Bocah kecil yang asik bermain kancing baju seragamnya lagi-lagi bertanya pertanyaan yang sama seperti semalam. Manik Yua kini beralih pada wajah Niar yang sedikit gugup.


"Papa Yua itu hanya Papa Sakky kan, Ma?"


Niar menunduk, tidak ingin bertatapan dengan manik kecil milik puterinya. Ia merasa terintimidasi dengan tatapan yang terus saja menyorot ingin menuntut jawaban.


"Ma ...!" panggil Yuara sedikit kesal. Sang ibu hanya diam tak memberinya jawaban yang memuaskan.


"Sayang ... Mama pikir kamu masih kecil, belum saatnya mendengar cerita yang sebenarnya."


"Cerita apa, Ma?" Yuara mengerutkan kedua alis dengan raut wajah terlihat penasaran.


"Cerita tentang papamu."


"Papa Yua, Papa Sakky kan, Ma? Bukan Yusha Demitri?"


Niar menggeleng. Yuara tetap fokus pada ibunya.


"Kalau Mama kasih tau, Ara mau janji ... gak boleh marah dan ngambek."


Gadis kecil dengan buliran keringat di area pelipisnya mengangguk ragu. Namun tak sedetikpun beralih pandang dari wajah teduh ibunya.


"Sebenarnya papa kandung Ara memang bernama Yushaka Demitri ...."


Mendengar itu tubuh kecil Yuara membatu dan hanya gerakan mata yang berkedip pelan.


"Papa Yusha sibuk kerja, jadi gak pernah pulang. Dia kerja di tempat sangat jauh, untuk itu kita di tinggal di sini." Niar menerangkan dengan sehalus mungkin agar mudah dipahami oleh Yuara. Ibu satu anak itu mengelus pucuk kepala gadis kecilnya. Namun tangan sebelah digunakan untuk menghapus jejak air mata yang menetes.


Lima tahun bukan waktu singkat untuk mengubur masa lalu. Banyak bulir air mata yang telah tumpah, namun tetap saja sajak masa lalu tidak bisa terhapus.

__ADS_1


"Jadi Yua punya dua papa?"


"Yah ... bisa dibilang begitu."


"Mama dulu nikah dengan Papa Yusha?" tanya Yuara. Dan Niar mengangguk sebagai jawaban.


"Setelah itu menikah dengan Papa Sakky?" Kali ini Niar bergeming.


"Kenapa Papa Yusha gak pernah datang? Kenapa gak pernah beliin mainan seperti Papa Sakky? Papa Yusha gak sayang sama Yua?!" runtut Yuara.


"Bukan begitu, Sayang ...," ucapan Niar terhenti saat lagi-lagi Yuara bersuara.


"Papa Yusha gak sayang sama kita! Yua gak mau Papa Yusha! Maunya Papa Sakky aja!" Yuara berubah cemberut.


"Ara sayang ... sekarang memang kita bersama Papa Sakky. Tapi sebentar lagi Papa Yusha akan menjemput kamu," ujar Niar pelan. Sejak semalam perempuan menggunakan jilbab putih itu mempunyai firasat bahwa Yuara akan bertemu dengan ayah biologisnya. Kapan dan dimana ia tak tahu, tetapi perasaanya sangat kuat.


"Gak mau! Papa Yua cuma Papa Sakky, bukan Papa Yusha!"


Niar mengembus napas panjang. Inilah alasan kenapa ia belum siap untuk menceritakan kebenaranya. Yuara masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan.


Perbincangan ibu dan anak itu harus terhenti saat angkutan umum berhenti di depan mereka. Niar mengajak Yuara untuk mendekat. Tetapi Niar menolak saat di dalam angkutan umum itu tak ada penumpang lain. Menghindari hal-hal yang ditakutkan, Niar memilih kembali duduk di tempat tadi dan menunggu angkutan umum yang lain.


"Kenapa gak jadi, Ma?"


"Di dalam gak ada penumpang lain, Mama takut. Kita nunggu angkutan yang lain aja."


"Ma, ayo beli eskrim!" ajak Yuara. Beberapa waktu tadi meruntut pertanyaan tentang Yusha, tapi sesaat kemudian sudah melupakan topik pembicaraan yang tadi.


Ini pertama kali bagi mereka menunggu angkutan umum, hari-hari sebelumnya pemuda bernama Sakky yang selalu mengantar dan menjemput mereka.


"Sebentar, Sayang." Tepat saat itu ponsel Niar berdering, perempuan itu sibuk membuka tas dan mencari benda pipih yang bersembunyi dibalik buku dan barang lainnya.


"Halo ... Mas?"


"Kalian udah pulang?" tanya Sakky dari seberang telepon.


"Sudah, Mas. Ini lagi nunggu angkot."


"Ma ... ayo, dong! Yua haus, pengen beli eskrim," rengek Yuara.


"Sebentar Sayang, Papa Sakky telpon nih," balas Niar. "Ara mau ngomong sama Papa Sakky, gak?"


"Gak mau!"


"Halo ... Ara kenapa, Niar?" sela Sakky.


"Iya, halo ... Mas. Dia minta eskrim." Niar memberitahu.


"Coba kasihin hp-nya sama dia, aku ingin bicara," pinta Sakky.

__ADS_1


"Katanya gak mau."


"Apa dia ngambek?"


"Yah ... Mas pasti tau gimana dia, kalau gak dituruti langsung deh andalannya ngambek." Niar tersenyum tipis dengan melihat ke arah Yuara yang masih terlihat cemberut.


Yuara turun dari bangku yang diduduki, tanpa aba-aba berlari ke kedai eskrim yang lumayan jauh.


"Mama ...!!!" teriak Yuara.


Niar sangat terkejut. "Ara ...!!!" teriak Niar bergegas mengejar tanpa perduli sambungan telepon belum terputus.


"Halo ... Niar!!!" Sakky memanggil-manggil lewat sambungan telepon tetapi tak mendapat jawaban, justru mendengar suara Niar sedang berargumen kasar dengan suara asing.


Terdengar suara Niar yang meminta tolong, setelah itu bunyi ponsel yang terjatuh. Kini suara Niar dan suara tangisan Ara terdengar menjauh.



Tak menghiraukan pekerjaan yang belum usai, Sakky kalang kabut mengendarai mobil pick up segera kembali ke kotanya untuk mengetahui apa yang terjadi.


Pria yang mengendarai mobil dengan kecepatan penuh itu terlihat sangat khawatir. Menduga telah terjadi hal buruk yang menimpa dua perempuan yang amat di sayangi.


Pria itu mengumpat kasar saat terjebak macet yang menghambat perjalanannya.


"Halo, An ...." Sakky menjawab telepon.


"Mas, Mbak Niar masuk rumah sakit. Dan Ara nangis terus," terang Ana, perempuan yang diberi wewenang menjaga salah satu toko milik Niar.


"Apa ...?!" Sakky terkejut. "Tunggu sebentar, aku bentar lagi sampek," jawab Sakky panik.


"Mbok Jamu udah di susul sama Anggi, tapi belum datang. Tadi ada nomor baru yang hubungi ke toko dan kasih tau kalau Mbak Niar mengalami musibah."


"Bagaimana keadaan Niar?"


"Masih ditangani dokter."


"Kamu tenangin Ara dulu. Sebentar lagi aku datang, belikan apapun yang Ara mau biar dia tenang."


"Baik, Mas."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Akak mei kembali setelah satu minggu rehat sejenak. Saya kembali untuk menuntaskan cerita Niar yang hanya tinggal berapa bab ya.🙏


Ayo, silahkan komen yang greget lagi, ya.🤭


__ADS_2