Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 90


__ADS_3

Setelah kepergian Niar bersama Sakky, Yusha menunduk dengan tangan kanan menyusut netranya yang berair.


Ketiga kalinya perasaan terperih harus ia rasakan. Pertemuan tak pernah berhasil menyembuhkan rindu, justru makin sengsara dengan hadirnya tumpukan rindu yang baru.


Pria yang masih mengenakan pakaian formal menoleh ke depan gerbang, mobil sedan putih sudah merangkak pergi. Meninggalkan kepiluan yang menghancurkan hari-hari ke depannya.


Kini Yusha menoleh ke belakang. Di tempat yang tadi masih berjajar tiga orang tengah menyaksikan ke arahnya. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Kelvin. "Lakukan sekarang!" perintahnya yang sudah dipahami oleh Kelvin.


"Baik, Tuan. Saya akan melapor sekarang. Cegah Nona Sheli, dan saya akan mengurus Jerry."


Yusha melangkah cepat menuju satu orang yang akan ia hakimi atas perbuatannya selama ini.


"Aku gak bisa mentolerir rahasiamu lagi. Setelah sidang ke-3, kita akan resmi bercerai!"


"Enggak! Ketua hakim gak akan Nerima gugatan kamu," jawab Sheli.


"Kalian akan bercerai?!" Mahendra benar-benar terkejut. Ia sama sekali tidak mengetahui sidang perceraian anaknya. Sedangkan Yusha juga tidak merundingkan dulu dengan mereka.


Vivian tidak tahu, tapi perempuan paruh baya itu sudah tidak kaget, mengingat Yusha tidak memiliki perasaan lagi dengan Sheli. Ia justru mendukung perceraian itu karena telah mengetahui belang dari menantunya.


"Iya, Pa. Sudah dua kali persidangan kami, tinggal satu kali lagi ketua hakim akan memutuskan hubungan kami," terang Yusha.


Mahendra memijat pelipis. "Ada apa ini, Yusha? Apa pikiranmu sudah tercemari dengan perempuan murahan tadi? Setelah bercerai dengan Sheli lalu berniat kembali dengan perempuan itu?!"


"Pa, jangan lagi menyalahkan apapun pada Niar, dia korban keegoisan Sheli juga korban kesalahan Yusha. Dia gak seperti yang Papa tuduhkan. Semua awalnya dari Sheli, dialah yang bersalah!" Kini tatapan tajam Yusha menembus netra Sheli.


"Yusha, aku juga korban kenapa kamu salahin aku? Inget, semua udah aku lepas, aku korbanin buat mempertahankan rumah tangga kita, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru menceraikan aku tanpa rundingan."


"Kamu berkilah kalau kamu korban?!" Yusha tersenyum mengejek. "Yakin kamu korban?!" Manik Yusha menatap jijik ke arah Sheli.


Mahendra dan Vivian kebingungan mendengar kalimat mereka yang saling menyalahkan.

__ADS_1


"Baiklah, setelah Papa dan Mama melihat bukti ini, apa Mama dan Papa masih percaya kalau menantu kalian adalah korbannya."


"Bukti apa, Yusha?!" tanya Sheli terlihat ketar-ketir. Namun Yusha tak menghiraukan, pria itu mengotak-atik layar ponsel. Setelah menemukan yang dicari, ia lalu memberikan ponselnya pada Mahendra. Terpampang kembali adegan tak senonoh Sheli dengan Jerry, dengan percakapan-pecakapan yang mencengangkan.


Belum selesai durasi video ditonton, napas Mahendra memburu dengan badannya terhuyung ke belakang. Vivian dan Yusha segera memegangi.


"Eng-enggak, Pa, Ma, video itu gak benar, itu editan! Ya, itu hasil rekayasa!" kilah Sheli membela diri. "Tega kamu sama aku, Yusha!" tuding Sheli.


Yusha tersenyum masam. "Mata kamu buta gak bisa bedain mana editan mana asli! Lihat sendiri kalau gak percaya!" Yusha memberikan ponselnya pada Sheli. Walau nanti Sheli akan menghapus video itu, tetapi ia tidak bodoh. Sudah ada salinan yang ia amankan.


"Ternyata jala ng yang sesungguhnya adalah kamu!!!" Vivian mendekati Sheli.


Plak ... plak ...!!!


Dua kali tangan Vivian memberi tamparan sampai pipi Sheli berubah memerah.


Sheli menatap berani pada Vivian. Ia memegangi pipinya yang terasa panas.


Sheli bernapas naik turun, perempuan itu tak bisa membela diri, semua telah terbongkar.


"Gak lama lagi nikmati hari-harimu di penjara! Polisi akan segera datang untuk membawamu ke rumah yang baru!!"


"Apa ...?!" Sheli menebarkan bola mata. "Kamu gak mungkin ngelaporin aku?! Gak ... ! Jangan laporin aku, Yusha! Kamu lupa aku perempuan yang kamu cintai? Kamu gak akan tega laporin aku!! Kamu cuma nakutin aku, kan?" Sheli mulai dihinggapi rasa takut.


"Please Yusha, yang kamu lihat gak seperti itu kejadiannya. Aku ... aku dipaksa Jerry. Aku ... mana mungkin aku tega melakukan itu. Aku mencintaimu, aku gak mungkin mengkhianatimu!!"


"Kamu gak cinta aku, tapi cinta dengan hartaku! Sudah jelas direkaman tadi kamu sendiri yang katakan itu!"


"Nikmati sisa harimu di jeruji besi, Sheliana Rebbeca. Setelah ketua hakim menyetujui perceraian kita, aku akan kirim surat itu ke kantor polisi."


"Enggak Yusha! Jangan lakukan ini! Aku mau bebas, gak mau di penjara!" Sheli membanting ponsel Yusha dan berusaha untuk lari. Tetapi Yusha sikap mencekal tangan Sheli agar tidak bisa kabur.

__ADS_1


"Lepas, breng sek!!!" Sheli meronta-ronta.


Tepat saat itu Mahendra memegangi dadanya, mulutnya mengguguh kesakitan. Vivian segera mendekati suaminya untuk menenangkan.


Dua satpam segera berlari ke teras rumah majikannya saat Sheli berontak dan teriak-teriak seperti orang kesetanan.


Setelah Sheli di amankan dua satpam, Yusha membawa Mahendra ke mobil dan menyuruh Deddy untuk mengantarkan ke rumah sakit. Ia masih menunggu kedatangan Kelvin dengan polisi agar Sheli segera ditangkap.


"Yusha ...!! Ampuni aku!!! Aku gak mau di penjara. Tolong cabut tuntutannya!" raung Sheli.


Yusha tak bergeming, pria itu memunguti ponsel juga lembaran uang yang masih bercecer di lantai. Ia mengingat perkataan Sakky, jika Niar mengumpulkan uang sebanyak itu dengan jerih payah dan cucuran keringat.


Tak selang lama mobil polisi telah berhenti di depan gerbang, melihat itu Sheli makin blingsatan ingin melepaskan diri. Berteriak histeris saat dua polisi memborgol tangannya.


"Yusha, tolong aku, Yusha!!!" teriakan Sheli yang terakhir di dengar oleh Yusha, setelah itu hilang dibawa mobil polisi.


Rencana Yusha untuk membongkar kedok Sheli harus dipercepat. Sebenarnya ia akan membongkar semuanya saat sidang perceraiannya sudah sah pada saat ketuk palu. Hanya saja ia tak bisa menahan lagi tingkah Sheli yang membuatnya murka.



"Assalamualaikum." Air mata Niar sudah tumpah ruah saat sampai di depan rumahnya. Ia mengucap salam dengan suara gemetar.


"Walaikum salam." Pria paruh baya muncul dengan wajah tuanya yang lelah sepulang bekerja. Pak Bejo membatu setelah membukakan pintu, tak percaya jika yang di hadapannya sekarang adalah Niar.


"Bapak ...." Niar mencium takzim tangan Pak Bejo. Pria paruh baya itu tak kuasa menahan lelehan cairan bening di sudut matanya.


"Ya Tuhan, apa Bapak gak salah lihat? Ini beneran Niar putri Bapak?"


"Iya, Pak. Ini Niar putri Bapak."


Pak Bejo merengkuh Niar. "Kamu pulang, Nak?"

__ADS_1


"Pa-k ...." Terdengar teriakan dari dalam kamar. Niar dan Pak Bejo segera masuk ke kamar.


__ADS_2