Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 80


__ADS_3

Pertemuan ini bukan hanya angan, bukan sekedar maya. Sempat berpikir ilusi karena terlalu merindu, namun kenyataanya inilah sebenarnya. Tanpa meminta tanpa mengiba, kini dipertemukan tanpa kesengajaan.


Hari ini ia memunafikkan. Melalui bibir segala yang dipinta hati ia tolak. Bibir mengatakan tidak! Padahal hati memohon untuk lebih lama memindai wajah pria itu. Hati meraung-raung untuk dikasihani agar genggaman itu tak terlepas. Karena ia tahu, mungkin ini terakhir kali bisa bingkai wajah pria itu, menyimpan setiap garis wajah agar terpatri dalam memori. Ini terakhir kali jemari mereka menggenggam, setelah terlepas, maka lepas untuk selamanya.


Pria yang tak mampu menerapkan hati lagi-lagi harus dihadapi kebimbangan. Memilih mengejar Niar atau kembali pada Sheli.


Saat pria di hadapannya tengah menoleh ke kebelakang, Niar melanjutkan langkah.


"Niar ...!"


Lagi, kaki itu terhenti. Pandangan mata makin pilu menatapi Yusha. Pria yang telah menumbuhkan cinta lalu mematahkannya sebelum merasai puncak.


"Aku pasti kembali untuk menemuimu."


Kuharap katamu itu benar. Karena sejauh ini aku selalu menunggu. Tapi aku takut. Takut kamu tak pernah muncul kembali. Aku takut kamu hanya memberiku sebuah harapan kosong. Terlalu banyak kedustaan yang telah kulihat. Aku lelah berharap yang tak pasti. Di sini aku menunggu, sedangkan di sana kamu melupa.


Niar tak menjawab, perempuan itu tak mampu untuk berkata. Hanya batin yang merangkai jawaban. Namun tak tersampaikan.


"Niar ...," panggilan seseorang mengalihkan Niar untuk berbalik.


"Mas Sakky?"


Dari tempatnya berdiri Yusha mengernyit melihat kedatangan pemuda yang baru pertama kali dilihat.


"Aku sudah larang buat pergi ke pasar. Kenapa ngeyel? Ayo kita pulang," ucap Sakky. Pemuda itu berjalan melewati Yusha dan mengambil keranjang berisi belanjaan milik Niar yang tadi ditinggal begitu saja.


Setelah itu kembali menghampiri Niar dan menarik pergelangan Niar pelan untuk di ajak pergi.


Dalam langkah kepergiannya, perempuan berderai air mata itu meninggalkan senyum indah sekaligus senyum terakhir untuk Yusha yang bergeming menatapi dirinya.


Perpisahan itu menyita perhatian Yusha tentang siapa pemuda yang tiba-tiba datang dan berani menggenggam tangan Niar. Ada hubungan apa di antara mereka berdua?


Hati Yusha masih menyelami pertemuan singkat yang hanya akan menambah kerinduan. Bagai mimpi yang tak bisa dipinta untuk lebih lama singgah. Terlalu singkat.

__ADS_1


Kini Niar telah pergi bersama pria itu, ia tak bisa memanggil atau mencegah lagi.


Tubuh Yusha melemas, seolah kembali pada kehampaan. Jika logika telah hilang, mungkin ia akan meraung untuk meminta perempuannya tinggal. Bahkan mata itu sampai berkaca-kaca hanya menatapi hilir mudik tanpa objek menarik hati.


"Yusha ... ngapain kamu di sini? Kamu kenapa?" Sheli mendekat dan bertanya khawatir melihat Yusha bergeming di pinggir jalan dengan tatapan kosong.


"Tuan Muda?" Kelvin ikut khawatir melihat keadaan Yusha.


Kalian tidak tau. Aku sudah menemukannya, tapi tak bisa mencegahnya. Aku kehilangan dia lagi! Ingin sekali Yusha berteriak untuk menjawab pertanyaan keduanya. Namun, apa daya. Ia tak bisa melakukannya.


Dalam perjalanan pulang Yusha benar-benar rapat menutup mulut. Pria itu selalu memejamkan mata, padahal hanya untuk menutup luka pada matanya.


"Sayang, kamu kenapa sih dari tadi diam aja? Kamu beneran sakit? Setelah ini kita langsung ke rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu serius."


Sebanyak apapun Sheli berkata, Yusha tetap tak menanggapi.



"Halo, Ma. Makasih udah jemput kami," ucap Sheli pada ibu mertuanya yang merelakan waktu untuk menjemput ia dan Yusha di bandara.


"Sayang, kamu sakit apa, Nak? Apa yang kamu rasain?" Vivian beralih pada Yusha dengan meniti tubuh anaknya.


"Yusha gak kenapa-napa, Ma. Aku capek, pengen istirahat."


"Gak kenapa-napa gimana? Kamu terlihat lemas gini. Kita ke rumah sakit dulu baru pulang."


Tak ada pilihan, Yusha hanya menuruti mereka. Setelah itu ia bisa istirahat.


Setelah sampai di rumah sakit, Yusha diperiksa dokter umum. Namun dokter itu tak mendeteksi penyakit apapun, hanya mengatakan tekanan darah Yusha sedikit rendah. Selain itu semua baik-baik saja.


Saat Yusha diperiksa oleh dokter, Sheli diikuti Kelvin tengah menemui dokter lain untuk melepas alat kontrasepsi.


"Ma, Yusha kebingungan. Yusha bukan sakit fisik, tapi angan Yusha yang tercemar. Aku bimbang, Ma. Aku tak tau kenapa seperti ini."

__ADS_1


Yusha mencoba mencurahkan isi hati dihadapan ibunya. Pria itu terlalu bingung untuk kebimbangan hati yang tak kunjung menemukan jalan keluar.


Kini Vivian dan Yusha tengah berada di pinggir kolam renang. Setelah pulang dari rumah sakit, Sheli meminta izin untuk menemui Glory. Entah sungguhan menemui Glory atau Jeryy, mereka tak ada yang tahu.


"Apa maksud kamu, Nak? Apa pekerjaan membuatmu terbebani? Kalau itu, nanti Mama bicara sama papa agar kembali membantu kamu. Papa juga gak terlalu sibuk." Vivian menanggapi lain.


"Bukan itu, Ma. Angan Yusha tak bisa lepas dari ... Niar." Ada ketakutan saat mengatakan sebuah kejujuran, tetapi Yusha tak tahu lagi ingin berbicara pada siapa.


"Niar pembantu murahan itu!" Vivian langsung berang saat Yusha menceritakan tentang Niar.


"Ma, dia perempuan baik. Bahkan dia sangat baik."


"Heh, baik apanya? Jelas dia menghancurkan rumah tanggamu, menyakiti Sheli. Kamu bilang semua baik?! Mama akan marah jika kamu masih mengingat tentang perempuan rendah itu!"


"Tadi, Yusha bertemu dengan dia, Ma. Perpisahan kedua ini menyadarkan Yusha kalau aku memiliki rasa padanya."


"Yushaka!!!" Vivian hampir saja melayangkan tamparan saking marah dengan pengakuan anaknya. "Jangan gila kamu!"


"Yusha memang gila, Ma. Dan gila ini gara-gara Sheli."


"Ampuni Yusha, Ma."


Saat Yusha bersudut di bawah kakinya, kedua mata Vivian sudah mulai menggenang.


Di bawah kaki Vivian, Yusha menceritakan semuanya. Bahkan tentang surat pernyataan dari dokter yang mengklaim ia mandul hanyalah sebuah surat rekayasa. Ia pria normal, ia subur dan bisa memiliki anak.


"Astaga ... Yusha!!!" pekik Vivian terkejut dan memegangi kepalanya yang langsung terserang denyutan hebat. "Bagaimana kalian merancang semua ide gila ini?" Vivian mulai menangis.


"Ma, Yusha minta jangan menghakimi Sheli. Ia memintaku merapatkan rahasia ini. Yusha bercerita sama Mama karna aku terus dihinggapi rasa bersalah. Dan aku juga akhir ini selalu kepikiran sama Niar. Aku hanya jujur sama Mama, sepertinya Yusha menyukai Niar."


Vivian berpaling. Tetapi mulutnya berucap. "Kamu terjebak pada permainan yang kamu ciptakan sendiri! Saat ini bukan kamu yang akan dibayangi rasa bersalah. Mama juga merasa sangat bersalah. Ya Tuhan ...."


"Maafin Yusha, Ma."

__ADS_1


"Minta maaflah pada perempuan itu. Dosa kita terlalu banyak padanya. Apalagi papa menuduh dan melemparkan kalimat tidak pantas pada Niar."


"Ma, tolong untuk sekarang jangan membicarakan ini dengan papa atau Sheli. Yusha akan mencari Niar kembali."


__ADS_2