
Belum hilang nestapa yang lalu, kini datang lagi sembilu yang baru. Hati kian lelah menghitung harapan yang hinggap di langit-langit ranjang. Mengharapkan masih ada satu harapan yang bisa kugenggam. Tapi apa yang kudapat? Kehampaan.
Jalan-jalan terjal telah tertempuh, rindu berkali-kali menghancurkanku. Kenangan-kenangan itu semakin sering menyayatku. Membuatku menjerit tanpa nada.
Kuterbakar dalam doa-doa yang tak pernah sampai ke langit. Dan menjadi bara kemarahan, keputusasaan. Makin menipis pada Rabb-ku. Salah apa aku? Dosa apa aku? Hingga bencana di hati tak kunjung Kausudahi?
Aku lelah ...
Aku menyerah ...
Aku berpasrah ...
Kau yang membuat skenario untuk hamba-Mu.
•
Menginjakkan kaki di rumah Sakky, Niar tak banyak bicara selain menjawab pertanyaan Mbok Jamu yang mengkhawatirkan dirinya.
Perempuan yang masih terlihat lemas itu meminjam bilik tempat ibadah di rumah Mbok Jamu untuk menenangkan diri.
Jika saja ia kembali pulang ke rumahnya, dengan leluasa perempuan sendu itu bisa menumpahkan segala tangis. Tetapi ia telah berjanji pada Sakky, jika takkan ada lagi rintik air mata yang jatuh, ia akan melupakan kejadian tadi. Meski mustahil, setidaknya di depan Sakky dan Mbok Jamu ia akan menunjukan ketegaran walau hatinya tak berbentuk.
"Ya Allah, Le. Genduk ayu-ayu kok nasibnya begitu ya? Kasihan sekali," ucap Mbok Jamu merasa prihatin dengan yang dialami Niar.
"Hem, Mbok. Dia pasti sedih banget liat mantan suaminya lagi dipeluk sama istrinya. Niar sampek jatuh ke tanah, nangis-nangis begitu. Harusnya lelaki itu tau kalau Niar lagi hamil anaknya. Tapi liat mereka berdua bahagia, sepertinya lebih baik Niar tetap di sini," ujar Sakky. "Gak usah dikasih tau," timpalnya.
"Iya, Le. Mbok juga jengkel! Tadinya Mbok pikir kasihan sama calon anaknya, dia butuh kasih sayang dan butuh pengakuan dari ayahnya. Tapi udah tau laki-lakinya begitu, jadi gak ikhlas kalau Niar kembali sama mantan suaminya. Nanti kalau udah lahir, biar kita aja yang bantu rawat."
"Kita, Mbok? Termasuk Sakky?"
"Yo iyolah, siapa lagi?"
"Kok Sakky, loh, Mbok!"
"Biar kamu belajar jadi Bapak-bapak'an! Udah tua gak laku-laku."
__ADS_1
"Nanti Mbok kalau Lilis putus sama cowoknya, coba aku lamar dia buat jadi mantumu. Sekarang susah mau 'slinding tackle'." Sakky cengengesan.
"Lilis, Lilis, Lilis aja! Rambut kriting aja kamu senengi 'sukai', kayak gak ada cewek lain!"
"Tapi dia paling unggul di kampung kita, Mbok. Bihinol!" Sakky makin terkekeh.
"Oh, matamu jelalatan! Lihat aja, Mbok gak akan kasih restu kalau kamu bawa dia kemari!"
"Enggaklah, Mbok! Becanda doang!" Pria itu memang suka mengerjai ibunya. Ketika sang ibu kesal dan memajukan bibir untuk mengomel panjang, pada saat itu Sakky justru terbahak. Mbok Jamu pun tidak pernah marah sungguhan, ia dan putranya menang punya cara sendiri untuk mempererat hubungan mereka sebagai anak dan ibu.
"Opo 'apa' Genduk jadi nginap di sini?" tanya Mbok Jamu beralih serius.
"Kalo dia pulang ke rumahnya, Sakky takut Niar jatuh sakit. Kata bidan, dia harus istirahat total selama 3 hari, gak boleh stres karna pikiran. Jika sendirian, pasti semalaman bakal nangis terus."
"Iya-ya, kalau pulang ke rumahnya Genduk bakal sedih karna kepikiran terus. Yo wes 'ya sudah' biar Niar nginap dulu di sini. Kamu laporan dulu sana sama Pak Komari, takut menyalahi aturan kalo kita gak lapor."
"Heeh, iya, Sakky sampek lupa gak lapor sama Pak RT. Ya udah, Sakky pergi dulu, nanti biar sekalian ke Alfa buat beli susu hamil lagi. Asem, udah beli mahal-mahal malah jatuh. Untung aja uang bonus dari bos masih. Jadi, Sakky masih ada sisa uang." Sakky berdiri dan masuk ke kamarnya untuk mengambil kunci motor dan jaket, setelah itu baru terlihat keluar mengendarai motornya.
Mbok Jamu pergi ke dapur, sekalian mengecek Niar, apakah sudah selesai mengadu pada Sang Pencipta atau masih mendekatkan diri untuk meminta kekuatan.
"Nduk, udah selesai wiridannya?"
"Ayo makan dulu, terus minum obate."
Niar menghembuskan napas panjang dengan mengikuti langkah ibu paruh baya itu.
"Mbok cuma masak sayur santan tahu campur labu siam. Kalo lauknya ada gorengan oncom, sama ikan asin," terang Mbok Jamu dengan membimbing Niar untuk duduk.
"Gak apa, Mbok. Itu malah enak." Niar tersenyum.
•
Yusha harus menelan kecewa saat tidak berhasil menemukan Niar. Pria itu kembali ke hotel tempatnya menginap, namun di kejutkan keberadaan Sheli yang duduk dipinggir ranjang. Perempuan itu mengenakan lingerie tipis. Bibir terpoles warna merah, seolah menantang untuk di lu mat. Rambut gelombang berwarna keemasan itu di biarkan tergerai, seolah memberi kesempatan pada Yusha untuk menyingkirkan dibelakang telinga.
Tetapi apa reaksi Yusha? Pria itu justru melengos dan melenggang menuju kamar mandi tanpa menegur tanpa menghampiri.
__ADS_1
Sheli mengembuskan napas kasar, lagi-lagi ia dibuat marah dengan sikap Yusha yang kian berubah.
Beberapa saat Yusha telah selesai membersihkan diri, pria itu keluar dari kamar mandi sudah mengenakan celana khaki pendek. Lalu berjalan menuju meja rias untuk merapikan rambut panjangnya.
"Yusha, kamu kira aku hantu? Keberadaanku gak kamu anggap sama sekali," ucap Sheli mengawali pembicaraan.
"Itu anggapan kamu sendiri! Kalau kamu seperti hantu, aku gak bisa liat kamu," jawab Yusha enteng tanpa beralih.
"Kamu tau, aku menyusulmu ke sini karna mau kasih kabar. Aku udah mutusin berhenti jadi model dan lebih belain keinginan kamu untuk jadi istri yang nurut."
Gerakan Yusha terhenti, akhirnya pria itu beralih menatap Sheli. "Benarkah?"
Sheli mengangguk penuh, lalu tersenyum lebar. "Aku juga udah putusin buat berhenti program KB agar kita segera punya anak." Perempuan itu bangkit dan berhambur memeluk Yusha.
Yusha diam tak membalas pelukan Sheli, juga tak menolaknya. Namun ada yang berbeda.
Bukankah ini yang diinginkan? Ini yang selalu dituntut dari Sheli? Harusnya ia senang, harusnya ia memeluk Sheli dengan pelukan cinta. Tetapi, lagi-lagi pria itu dibuat bingung oleh perasaanya sendiri yang sekarang telah berubah tak menginginkan apapun dari perempuan itu. Justru menginginkan kabar baik dari perempuan lain. Bukankah sekarang ia yang menjadi jahat? Ia yang tak punya hati dan malah menghancurkan dua hati.
"Kamu diem aja? Kamu gak seneng?" tanya Sheli merajuk saat Yusha tak merespon apapun.
"Senang. Tentu saja aku senang," balas Yusha menyembunyikan kebenaran hatinya. Pria itu memasang senyum palsu di depan Sheli.
"Gitu, dong! Besok kita kembali ke Jakarta, aku udah buat janji temu sama dokter untuk melepas alat kontrasepsinya. Setelah itu kita akan punya baby lucu seperti keinginanmu."
.
.
.
.
.
*Oncom: tempe bercendawan yang dibuat dari bungkil kacang (ampas kacang tanah yang sudah diambil minyaknya) sering dicampurkan ampas tahu; ampas tapioka dan dicendawankan dengan jamur oncom atau dengan ragi bulat; monalia sitophila
__ADS_1
Hayo ... siapa yang berpindah haluan sama Mas Sakky? Dia manis loh, meski cuma kerja di toko furniture. Dia juga baik, perhatian cuma kadang ngeselin. Beberapa part lagi akak mei skip aja ya, biar babnya gak kebanyakan dan cepet end.
Terima kasih untuk kelen yang masih setia di sini. Maaf ya kalau berbelit dalam merangkai dialog atau narasinya. Akak mei takkan lelah untuk belajar agar menyuguhkan yang lebih baik.