Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 33


__ADS_3

Sejak usai melakukan kewajiban sebagai pasangan suami istri, tak henti bibir Niar mengembangkan senyum dengan rona pipi memerah menyembunyikan rasa malu.


Setelah meninggalkan Yusha di kamar mandi, ia segera merapikan tempat tidur yang terdapat bercak darah dan bekas percintaan mereka. Ia benar-benar malu mengingat kejadian yang di lakukanya bersama Yusha.


Setelah tempat tidur sudah rapi dengan seprei baru, ia beranjak keluar kamar untuk memasak sarapan pagi. Mencari kesibukan lain agar bayangan malam pertama itu bisa tersamarkan ataupun menghilang.


Yusha yang baru selesai mandi tak lagi mendapati Niar ada di dalam kamar itu, ia keluar kamar hanya dengan melilitkan handuk sebatas pinggang.


Pagi ini wajah Yusha terlihat lebih fress dan berseri. Sebelum menaiki anak tangga, ada keinginan melihat Niar sedang melakukan apa.


Yusha melangkahkan kakinya menuju dapur. Lelaki itu bersandar di samping pintu tanpa menegur Niar. Posisi Niar sedang memunggunginya.


Niar sedang sibuk memotong sayuran, meski begitu mulutnya tak henti berbicara sendiri. "Sakit yang semalem aja masih terasa, gitu di tambah lagi. Sssstttt, rasanya gak nyaman buat jalan, perih," gerutunya. "Tuan Yusha membohongiku, dia bilang gak akan sakit. Tapi ini perih banget. Badanku rasanya remuk redam," sambungnya. "Tapi rasanya gimana gitu waktu di ujung ... eum ... Aaa' ... Niar! Kamu ini mikirin apa sih. Pagi-pagi mesum!" Niar memukul kepalanya pelan, menerutuki pikirannya yang terus terbayang kejadian semalam.


Yusha menahan gelak tawa, merasa lucu melihat tingkah Niar yang berinteraksi sendirian.


Tanpa ia sadari sedikit demi sedikit hari-harinya mulai berubah. Ia yang jarang tersenyum, juga jarang memperlihatkan giginya untuk tertawa lebar, sejak kedekatannya bersama Niar beberapa hari lalu membuat mood seorang Yushaka membaik.


Yusha juga menertawai cara berjalan Niar yang seperti pinguin, dengan kaki sedikit melebar.


Tanpa aba-aba tubuh Niar berbalik. "Astagfirullah, jurik!" pekik Niar terkejut mendapati Yusha berdiri di samping pintu dengan bersedakep dada. Yusha melebarkan bola mata, dengan cepat Niar menutup mulut dan matanya.


"Apa itu jurik?" tanya Yusha.


"Bukan apa-apa, Tuan. Anda tiba-tiba di sini, bikin kaget aja."


"Kalau gak kesini, gak akan tau tingkah aneh kamu yang sering berbicara sendiri," cibir Yusha.

__ADS_1


Niar berubah cemberut, gadis itu memanyunkan bibir. Tidak mau memandang ke arah Yusha, ia malu sendiri melihat Yusha hanya mengenakan handuk, sedangkan tubuh bagian atas di biarkan terbuka.


"Bikinin minuman jahe," pinta Yusha.


"Baik, Tuan," jawab Niar.


Yusha hampir berbalik, tapi ia urungkan. Lelaki itu kembali seperti semula. "Kalau masih sakit, gak usah masak. Biar bi Mur yang masak. Kamu istirahat aja," ucap Yusha.


"Gak apa, Tuan. Saya bisa mengerjakan dengan pelan. Saya harus masak untuk sarapan anda," tolak Niar.


"Sudah aku bilang, biar bi Mur aja yang masak. Aku gak suka di bantah, Niar! Setelah bikinin minuman jahe, istirahat aja." Yusha menatap tajam, ia tidak suka ada orang membantah ucapannya.


"Tapi ..., " sanggah Niar ingin protes. Tapi Yusha kembali bersuara. "Gak ada kata tapi! atau ... mau kubuat gak bisa berjalan sungguhan, supaya kamu mau istirahat?" ancam Yusha menggertak.


"Enggak, enggak! Baiklah, setelah ini saya akan istirahat." Terpaksa menyetujui, jika ia tetap bersikeras membantah, takutnya Yusha akan sungguhan melakukan ancamannya.


Setelah lelaki itu tidak terlihat, Niar segera melakukan tugasnya kembali. Kali ini lebih cekatan dalam meracik bumbu, ia tak bisa membiarkan Yusha pergi ke kantor tanpa sarapan. Biasanya bi Mur dan Sari datang terlambat, mereka tidak bisa di andalkan.


Yusha berdiri di depan cermin besar, memeriksa punggung yang terasa perih. Ternyata banyak bekas cakaran kuku di sana. Dan itu perbuatan Niar semalam, dengan brutal mencakar punggungnya dengan kuku panjang.


Tiba-tiba sekelebat bayangan Sheli melintas, hingga rasa bersalahnya ikut menghampiri. "Shel, maafin aku. Aku tidak bisa menuruti perkataanmu. Maafkan aku yang telah berbohong," ucap Yusha merasa bersalah. Ia berbicara di depan cermin seolah Sheli ada di sana. "Untuk selanjutnya, aku takut tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku punya naf su, pasti sulit untuk di kendalikan jika aku sering berdua dengan Niar," imbuh Yusha dengan wajah kebingungan.


Ponsel di atas nakas mengejutkan Yusha, lelaki itu melangkah dan mengambil ponselnya. Ternyata tuan Mahendra yang menelpon. Ia segera menjawab dan berbincang-bincang dengan papanya.


Berapa lama Yusha sudah bersiap dengan pakaian kantornya, menuruni anak tangga menuju meja makan. Di sana bisa melihat Niar sibuk mengusung makanan dari dapur. Yusha mengambil duduk di tempat biasanya.


"Ini minuman jahenya, Tuan."

__ADS_1


Mata Yusha terfokus pada makanan di atas meja. "Makanan ini kamu yang masak?" tanyanya dengan tatapan tidak suka.


"I-iya, Tuan. Maaf ... saya gak tega kalau Tuan berangkat ke kantor tidak sarapan. Bi Mur dan mbak Sari datengnya agak siang," jawab Niar takut-takut. Pandangan Yusha tidak seramah tadi pagi.


Yusha menghembuskan napas panjang, mengambil cangkir berisi minuman jahe dan menyeruput dengan pelan. Cangkir itu kembali di letakan di atas meja.


Melihat Yusha diam saja Niar berinisiatif mengisi piring kosong dengan makanan yang tadi di masaknya, lalu memberikan piring itu di depan Yusha. "Silahkan di makan, Tuan," ucapnya.


"Kamu duduklah dan ikut sarapan," ajak Yusha.


"Saya nanti saja," tolak Niar.


"Niar, mulai sekarang jangan membantah apapun perintahku. Aku gak suka di bantah!" tegas Yusha.


Melihat wajah Yusha yang serius, membuat Niar takut lalu menganggukkan kepala. "Baik Tuan," jawabnya. Perempuan itu duduk di seberang meja yang di duduki Yusha.


Mereka menikmati sarapan pagi hanya berdua.


Tak lama, bi Mur dan Sari datang. Keduanya menunduk sebentar di depan Yusha. "Selamat pagi, Tuan," sapa bi Mur.


"Pagi," balas Yusha dengan suara terdengar datar. "Bi, tunggu sebentar," kata Yusha menghentikan keduanya.


"Mulai besok, kalian berdua harus datang lebih pagi. Dan jangan biarkan Niar melakukan pekerjaan berat," ujarnya, lalu Yusha beralih menatap Niar. "Hari ini biarkan dia berisitirahat, dan layani dia dengan baik ..., " perkataan Yusha harus menggantung saat Niar menyela dengan cepat.


"Tuan, itu terlalu berlebihan," protes Niar tidak setuju.


"Sudah aku katakan! Jangan membantah perkataanku, Niar! Kamu sekarang istri keduaku, kedudukanmu sama seperti Sheli."

__ADS_1


Perkataan Yusha membuat kedua asisten rumah tangga itu sangat terkejut. Mereka melebarkan kedua mata menatap Niar. Hanya dalam waktu kurang lebih dua bulan Niar datang ke rumah itu sebagai pembantu, tapi pagi ini tiba-tiba tuan mereka memberitahukan jika Niar sudah resmi menjadi istri keduanya, tentu saja hal itu sangat mengejutkan. Keduanya hampir tidak percaya, dan bertanya-tanya tentang kebenaran fakta itu.


__ADS_2