Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 103 (extra part 1)


__ADS_3

Mendengar Yusha berteriak, lantas seluruh keluarga yang tadinya sedang beristirahat di toko segera berlari mendekati Yusha. Juga dengan berapa pengunjung pantai yang masih ada di sekitaran sana turut mendekat. Mereka dibuat penasaran apa yang terjadi saat seorang pria berteriak histeris juga menangis kencang.


"Niar, kamu gak mungkin pergi ninggalin aku. Kamu ... kamu sedang bersandiwara 'kan? Kamu cuma mau ngerjain aku? Bangun Niar! Kamu gak mungkin pergi! Ini cuma mimpi. Bagun Niar! Banguuuun!!!" Yusha semakin histeris saat kelopak mata Niar tetap terpejam. Menggerakkan tubuh Niar dengan ritme berturut-turut namun tak ada respon.


"Yusha, apa yang terjadi?" tanya Sakky.


"Hei, kamu paling lama bersama Niar. Bilang padanya, sandiwara ini gak lucu. Aku benci dia pura-pura pergi. Dia gak mungkin pergi!!!"


Sakky sangat terkejut mendengar ucapan Yusha. Matanya tertuju pada wajah Niar yang pucat pasi. Air mata telah menggenang, juga tangannya bergetar hebat untuk menyentuh pergelangan Niar demi memeriksa denyut nadi perempuan yang tergolek lemah itu.


Deg ... deg ...


Jantung Sakky seolah ikut terhenti, tubuhnya melemas tak bertenaga. Pria mengenakan celana jins itu menjatuhkan kedua lututnya di hadapan Niar.


"Inalillahi wa inalillahi raji'un ...," ucapnya pelan juga dengan air mata yang makin deras membasahi pipi.


"Astagfirullah halazdhim ... Enggak!!! Putriku gak mungkin meninggal!!! Kamu pasti salah!" Sumiati berteriak histeris. "Putriku pasti sembuh. Yusha ... tolong bawa putriku ke luar negeri, cari dokter terbaik buat obati penyakitnya. Dia harus sembuh, dia harus hidup bahagia. Aku rela menjual organ tubuhku untuk biaya pengobatan Niar. Yang terpenting dia sembuh. Tolong ... jangan sampai putriku meninggal."


Pak Bejo ikut terisak pilu mengetahui putri keduanya memilih menyerah. Mungkin raga Niar sudah tidak mampu bertahan. "Kenapa kamu ninggalin Bapak, Nak? Harusnya Bapak yang lebih dulu pergi. Baru saja kamu akan hidup bahagia bersama pilihanmu, kenapa takdir harus berkata lain?"


"Pa, Niar, Pa ... benarkah perempuan sebaik Niar pergi secepat ini?" Vivian jatuh dalam rengkuhan Mahendra.


"Papa juga gak nyangka, Ma. Baru berapa menit lalu kita minta maaf. Tapi sekarang ...," kalimatnya terhenti. Mahendra pun turut bersedih. Ada penyesalan dulu telah menyakiti dan merendahkan Niar. Ternyata takdir kehidupan Niar begitu singkat.

__ADS_1


"Genduk ... hiks ... kamu gak mungkin pergi ninggalin si Mbok 'kan? Kamu selalu nemenin si Mbok, apa kamu tega liat si Mbok sendirian pas Sakky pergi kerja? Bangun, Nduk! Bangun!!! Kamu pernah bilang pengen kumpul bareng semua keluargamu. Bukankah mereka sudah datang? Lalu kenapa kamu malah pergi? Harusnya kamu bahagia, keinginanmu terkabul sekarang. Tapi kenapa si Mbok harus kehilanganmu. Kamu wanita hebat, Nduk. Bertahan dalam kesengsaraan, kini saatnya kamu bahagia, tapi kenapa kamu memilih menyerah. Saat kamu bertaruh nyawa untuk melahirkan Ara sendirian, kamu bisa bertahan dengan kuat. Kenapa sekarang ...."


"Kenapa semua orang menangis?" Suara Yuara mengalihkan perhatian semua orang. Terutama Yusha, pria itu semakin sesak menahan isak tangis.


"Papa Sakky, kenapa nangis? Papa Yusha juga nangis? Nenek Jamu? Opa, Oma? Nenek dan Kakek Jauh juga nangis? Memang ada apa?" tanya Yuara dengan polosnya.


Sejenak mereka menghentikan tangisan. Mbok Jamu yang membantu Niar merawat Yuara tak kuasa menahan kesedihan, tubuhnya melemas dan pingsan. Sakky dengan sigap menyangga bahu ibunya. Pria yang juga sangat syok atas kepergian Niar kini kembali terisak perih membayangkan nasib Yuara ke depannya.


"Pacar Papa Sakky, ayo kita pulang duluan. Nanti kita mampir ke Alpa buat beli eskrim, mau?" Sakky meminta bantuan berapa orang untuk membantu mengangkat tubuh Mbok Jamu. Ia yang lemas harus tegar demi Yuara.


Yusha masih tetap mendekap tubuh Niar dengan erat. Sedu sedan terdengar memilukan. Semua tak menyangka jika Niar pergi untuk selamanya.


Pertemuan singkat tadi menjadi akhir mereka menyaksikan Niar masih bisa menghirup udara yang sama. Setelah ini mereka tak dapat lagi menatap wajah sendunya.


"Papa Yusha, kenapa tangan Mama dingin? Mata Mama juga terpejam? Apa Mama sedang tidur?"


Yusha membatu. Ia tak tahu harus memberi jawaban apa. Bagiamana ia akan menjelaskan bahwa Niar, Mama Cantik itu sudah pergi ke tempat jauh dan tidak bisa kembali.


Tetesan kristal bening tak henti menetes dari kedua bola mata Yusha. Jika tidak dihadapan puterinya, sudah pasti ia berteriak sekeras mungkin. Meminta pada Tuhan agar mengembalikan nyawa Niar. Mengembalikan senyum Niar.


Ia menaruh harapan besar bisa membangun keluarga bahagia bersama orang yang dicintai. Namun apa daya, harapan itu kini hancur berkeping-keping. Melebur tak ada sisa.


Dengan langkah gontai Sakky membawa Yuara menjauh. Ia harus menenangkan Yuara supaya tidak terlalu bersedih.

__ADS_1


"Ara ... dengerin Papa Sakky. Ara mau jadi anak hebat, gak?"


"Mau."


"Ara inget pas Mama Cantik bilang gak boleh jadi anak lemah?"


"Inget dong."


"Kalo gitu Ara gak boleh nangis ya kalo tau Mama Cantik pergi ke surga."


"Bukannya surga itu tempat yang sangat jauh, Pa? Kata Mama, kalo udah pergi ke surga udah gak bisa kembali. Yua gak ijinin Mama kesana. Nanti Mama gak bisa kembali. Siapa yang nemenin Yua? Siapa yang kepangin rambut Yua? Nanti Yua tidur sama siapa?" Perkataan polos dari anak umur empat tahun lima bulan itu justru membuat dada Sakky semakin dihimpit rasa sesak. Ia tak sanggup melihat Yuara ditinggal ibunya. Anak itu masih terlalu kecil harus berpisah dengan sang ibu.


Tangan Sakky tak henti menghapus kedua sudut matanya agar kristal bening yang menggenang tidak tumpah ruah.


"Allah lebih sayang dengan Mama Cantik, dengan kepergian Mama Cantik ke surga, Mama Cantik gak akan kesakitan lagi. Gak akan menangis lagi. Mama akan senang berada di tempatnya yang baru," ujar Sakky berusaha menahan suara tangis.


Yuara terdiam dengan mengamati wajah Sakky. Netra kecilnya mulai berkaca-kaca. "Pa ... boleh gak Yua ikut Mama Cantik ke surga? Yua gak mau ditinggal Mama. Yua mau ikut Mama ke surga."


"Anak kecil belum boleh ikut ke surga. Yang bisa masuk surga itu hanya pilihan Allah. Belum saatnya kita pergi kesana. Ara mengerti?"


"Surga itu dimana, Pa? Nanti kalau Yua udah besar mau susul Mama ke surga."


"Surga itu ada di atas langit. Sekarang Ara harus jadi anak kuat dulu. Gak boleh nangis dan gak boleh terus-terusan nyariin Mama Cantik, ya. Ingat, Mama udah bahagia di surga. Kita hanya perlu mendoakan yang terbaik untuk Mama Cantik agar tenang tempatnya yang baru."

__ADS_1


__ADS_2