Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 21


__ADS_3

Sore hari mobil Alphard putih telah kembali ke garasi rumah Yusha. Dengan langkah gontai Niar masuk ke dalam rumah itu. Wajahnya nampak kacau dengan mata menyipit, hari ini terlalu banyak ia menangis hingga tubuhnya seolah kehilangan tenaga.


Gadis itu langsung menuju kamarnya dan menyimpan tas kecil ke dalam lemari kayu. Ia duduk sejenak di atas busa tempatnya tidur dengan beberapa kali menghembuskan napas panjang. Pikiran dan badannya terlalu lelah, hingga tanpa sadar tubuh itu berbaring dan memejamkan mata. Berharap mendapatkan mimpi indah, agar bisa tersenyum dalam mimpinya.


•••••••••••••••••


Di sebuah hotel mewah dan di kamar room suite, seorang modeling papan internasional sedang adu cakap dengan asisten pribadinya.


"Gila ... gila ... gila, Lo Shel!!! Eike gak ngerti lagi sama jalan pikiran kamu, ye. Mengerikan!" ujar Glory bergidik ngeri dan menggelengkan kepalanya pelan.


Modeling papan atas itu tersenyum masam, tangan kanannya bermain dengan ponsel pintar yang baru beberapa saat lalu menutup panggilan dari seseorang. "Kenapa Glo? Berapa tahun kamu nemenin aku? Kamu pasti sudah hapal dengan sifatku?" balas Sheli santai.


"Jangan sadis-sadis amat Shel! Gadis itu kelihatanya polos banget, kasihan kalau cuma kamu manfaatin demi kepentinganmu sendiri!" ujar Glory mencoba menasehati.


"Justru karna dia polos, mudah untuk di atur!"


"Kasihan Shel! Dia cuma kamu jadiin korban ambisimu."


"Udah deh, diam! Kamu tau aku gak mau hamil anaknya Yusha."

__ADS_1


"Kalau gitu lepasin pria tertampan di muka bumi itu! Biar buat gue aja!"


"Pisang makan pisang Lo!" sentak Sheli dengan bibir manyun. Perempuan itu kini duduk di samping asistennya.


"Kalau kamu gak ingin hamil anaknya Yusha, ngapain Lo kawin cepet sama dia. Lo bisa tolak lamaran Yusha, walau dia cinta mati sama Lo. Tapi gue yakin, dia bakal ngerti."


"Si tua bangka itu punya rencana mau jodohin Yusha sama anak rekannya, makanya aku terima lamaran Yusha waktu itu. Gak mungkin aku lepasin berlian berharga gue, gitu aja. Sayang banget, dong." Sheli mendengus kesal.


"Dari pada kek gini, bikin susah sama bikin dosa, kan?" Glory sangat antusias menolak rencana Sheli. Di rasa kali ini Sheli cukup keterlaluan dengan melibatkan orang lain dalam urusan rumah tangganya. Perempuan penuh ambisi itu mengorbankan kepolosan Niar.


"Dosa? Memang kamu tau rupa dosa itu seperti apa? Bulshiet, Glo! Aku gak mikirin dosa, yang terpenting segala keinginanku tercapai!" ucap Sheli menatap dengan keangkuhannya.


Setelah mengambil napas, Glory kembali memandang Sheli dan berkata. "Kekayaanmu bahkan tidak seimbang dengan kekayaan Yusha. Dia satu-satunya pewaris perusahaan Hugs Way, dia bisa membeli setengah pulau ini. Kalau aku jadi kamu, Shel. Aku bakal pilih Yusha daripada petualangmu di dunia hiburan ini. Kamu gak perlu capek-capek ngatur jadwal pemotretan, tinggal minta apapun sama Yusha bakal di kasih."


"Huh ... mulut piranhamu itu memang bikin kupingku budek setiap hari! Kamu lama ikut aku tapi gak ngerti jalan pikiran dan kesenanganku. Di dunia hiburan ini aku bebas melakukan apapun tanpa batasan hanya jadi seorang istri yang norak, nunggu suami pulang kerja, duduk santai di rumah gak ada kerjaan. Itu membosankan, Glo! Dan, aku masih bisa merasakan kesenangan lain," di akhir kalimat Sheli menatap Glory dengan kedipan matanya.


"Ah iya ... Parah! Bener-bener parah! Gimana aku kerja sama ular derik macam kamu ye! Punya bisa yang sangat berbahaya, tanpa pandang bulu lagi. Kali ini bukan wanita polos itu aja yang kamu manfaatin, bahkan Yusha pria tertampan di muka bumi ini juga kamu kibulin. Astaga ... Sheli! Gue udah angkat tangan deh, yang penting kamu jangan nyusahin aku. Aku gak bakal sanggup belain kamu kalau ulahmu di ketahui ranah publik. Jika ulahmu kebongkar dan Yusha murka, tanggung ndiri akibatnya!"


"Sialan Lo ngatain aku ular derik!" umpat Sheli melirik sinis. Lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Kamu bisa ceramahin aku panjang lebar, Glo. Tapi kamu gak akan bisa mahamin perasaanku. Perasaan gak bisa dipaksa, walau kita menikah dengan orang terkaya sejagat raya dan paling tampan di planet bumi ini, gak bisa jamin hidup kita bahagia. Kebahagiaan didapat dari kenyamanan," ungkap Sheli dengan serius.

__ADS_1


"Serah Lo deh. Capek gue! Gue mau cari angin dulu. Sumpek nasehatin Lo gak didengerin," jawab Glory dan beranjak pergi.


"Dasar monyet! Situ ngomong maunya di dengerin, giliran gue yang curhat malah di tinggal pergi. A*****!" Sheli mengumpat saat Glory keluar dari kamar hotelnya. Wanita itu berpindah ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar dengan tersenyum masam. "Yusha-Yusha, banyak wanita yang menggilai wajah dan kekayaanmu, beruntung banget aku yang bisa nahlukin kamu. Tapi sayang ... Kamu gak beruntung dapetin seorang Sheliana Rebbeca."


•••••••••••••


Sore hari Yusha baru pulang dari kantor. Ia meminta Kelvin menghentikan mobilnya di depan pos satpam. Membuka kaca mobil dan memanggil Dedi. "Apa Niar ikut kamu pulang?"


"Iya, Tuan. Seperti perintah anda tadi, Niar tidak menginap di rumahnya," jawab Dedi, supir yang mengantar Niar pulang.


Yusha mengangguk. Setelah itu Kelvin kembali menginjak gas untuk mengantarkan tuannya sampai di depan pintu rumah.


Yusha masuk ke dalam rumah, namun sepi, tidak ada aktifitas seorang pun. Sebenarnya lelaki itu masih sangat penasaran dengan masalah yang terjadi di keluarga Niar. Sepertinya sangat serius, namun tidak mungkin ia menanyakannya langsung.


Akhirnya Yusha memutuskan untuk menyegarkan diri lebih dulu, sebelum nanti turun untuk makan malam. Dan saat itu ia akan menanyakannya pada Niar. Gengsi yang besar menahannya untuk ikut campur.


Suara adzan maghrib membangunkan tidur Niar. Gadis itu terkejut melihat jam weker menunjukan pukul enam lebih. "Aku ketiduran hampir satu jam! Apa tuan Yusha sudah pulang?" pekiknya kaget. Ia segera bangun dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, sebelum nanti menghangatkan makan malam untuk Yusha.


Di rumah besar milik Yusha benar-benar sepi ketika hari mulai gelap, rumah sebesar itu hanya di huni satu majikan dan satu pembantu. Sedangkan di post satpam setiap malam ada tiga orang yang bertugas jaga. Selain itu tidak ada pekerja lain.

__ADS_1


Yusha memang tidak suka kebisingan. Walau rumahnya sebesar mansion, tapi ia lebih suka kesunyian. Seperti hatinya yang selalu sunyi.


__ADS_2