
Saat Yusha ingin berganti posisi tapi badannya terasa berat, kedua matanya menyipit untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata tubuh Niar menindih di atas dadanya. Lelaki itu sempat terkejut, beruntung otaknya segera mengingat jika Niar sudah resmi menjadi istri keduanya.
Yusha terdiam sejenak, entah apa yang di pikirkan. Namun kedua matanya dengan dalam menyelami wajah Niar. Gadis itu tertidur dengan wajah polosnya, dengan bulu mata sangat lentik dan bibir ranum alami tanpa polesan lipstik. Jika di perhatikan lebih detail, ternyata Niar sangat manis dan terlihat imut.
Lama menyelami wajah Niar membuat jiwa kelelakian Yusha memanas, dalam jiwanya membara menginginkan sesuatu. Namun berkali-kali ia menghembuskan napas kasar, menerutuki keadaan yang ada. Tidak mungkin ia menyerang Niar dalam kamar sempit seperti ini, bahkan lebih mirip kandang ayam. Tanpa peredam suara, bisa saja seisi rumah mendengar suara mereka.
Pluk ...
Tak sengaja tangan Niar memukul wajah Yusha.
"Auh ... " Yusha mengaduh tertahan. Pikiran yang sempat membayangkan hal indah menjadi buyar seketika.
"Tu-tuan," pekik Niar terkejut mendengar suara Yusha mengaduh. Mata Niar melirik tempatnya tertidur. "Astagfirullah haladzim .... " Gadis itu kembali memekik tertahan. Segera menegakkan badannya dan menunduk karna malu.
"Huh .... " Yusha mendengus sebal.
Di luar suara mengaji dari speker mushola sudah terdengar, ternyata sudah hampir subuh.
"Kamu enak tidur di atas badan saya! Gak ngerasain badanku remuk redam seperti tidur di atas batu!" sentak Yusha dengan kesal.
"Maaf Tuan, tapi biasanya saya tidur di sini gak kenapa-napa," kata Niar pelan.
__ADS_1
"Pokoknya kita harus segera kembali ke rumahku," paksa Yusha.
"Iya Tuan, setelah sarapan, saya ikut anda pulang."
Jam enam pagi Niar sudah menyelesaikan masakan sederhananya. Gadis itu membuat secangkir kopi untuk pak Bejo juga secangkir teh untuk suaminya. Suami? Ketika mengingat itu Niar tersenyum getir.
Menumpuk gelas ke atas nampan dan membawanya ke ruang tengah. Ternyata Yusha masih belum keluar. Karna penasaran, ia kembali ke kamarnya dan melihat Yusha sedang berganti pakaian dengan rapi dengan menguncir rambut gondrongnya.
"Tuan, saya sudah membuatkan teh hangat untuk anda."
Suara Niar mengejutkan Yusha, lelaki itu berbalik dan menatap Niar. "Bersiaplah, kita segera pulang," perintahnya. Niar mengangguk dan berlalu keluar.
Ketika Niar sudah bersiap, ia mempersilahkan Yusha untuk ikut sarapan bersama keluarganya. Lelaki itu sempat menolak, tapi berkat bujukan pak Bejo ia tak enak untuk menolak. Akhirnya ia duduk di antara keluarga Niar. Sangat canggung dan tidak nyaman. Di sela-sela itu, ia mengirim pesan pada Kelvin agar segera menjemputnya. Namun pesan yang di kirim sama sekali belum terbuka. Yusha mengumpat kesal pada anak buahnya itu.
"Ayo Nak Yusha, silahkan ambil nasi dan lauknya. Nikmati yang ada ya. Walau terlihat sederhana, tapi di jamin enak. Semua masakan Niar memang mantap. Semenjak dia bekerja di rumah Nak Yusha, Bapak kangen masakan dia." Pak Bejo bercerita dan dengan ramah mempersilahkan menantunya untuk mengambil makanan. Namun tangan Yusha masih enggan untuk mengambil nasi. Pria itu melihat ke kanan dan kiri seolah mencari seseorang.
Sumiati hanya diam saja tanpa berniat menyahut, wanita itu sedang menerutuki nasib baik yang menimpa Niar. Tanpa di sangka, anak yang di benci dari lahir itu mendapat keberuntungan memiliki suami tampan dan juga kaya. Walaupun hanya di jadikan istri kedua, tapi setidaknya gadis itu bisa menikmati fasilitas mewah di rumah Yusha. Mengingat itu membuat Sumiati penasaran dimana alamat rumah Yusha. Ibu dua anak itu ingin mengetahui sekaya apa menantunya.
Di belakang terdengar suara piring saling beradu, Yusha beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Ia menemukan Niar sedang mencuci perabotan yang tadi di gunakan untuk memasak. "Waktunya sarapan, kamu tidak ikut sarapan?"
"Tuan ... saya masih membereskan dapur. Anda bisa sarapan lebih dulu." Niar melihat Yusha, tapi tidak menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
"Tinggalkan pekerjaan itu! Ayo kita sarapan. Sebentar lagi Kelvin datang dan kita akan pulang," ucap Yusha dengan datar.
Akhirnya Niar menghentikan kegiatannya dan menemani Yusha duduk di meja makan agar lelaki yang menjadi suaminya itu tidak canggung berada di antara keluarganya.
Niar mengambilkan makanan untuk Yusha, lelaki itu tak henti mengamati lauk pauk yang ada di piringnya. Sayur santan terong dengan sambal, dan lauk ikan goreng juga ikan asin. Lelaki itu menelan ludah bulat-bulat. Tidakkah ia sakit perut memakan makanan aneh itu? Selama ini makanan yang ia konsumsi harus ada takaran nilai gizi. Sebagai pemilik cabang Restauran di beberapa daerah, makanan yang ia makanpun selalu enak dan lezat.
"Ayo Kak, di makan," ucap Niar menawari Yusha. Tanpa menjawab dan hanya memandang Niar dengan sorot mata kesal bercampur aduk geram.
"Saya minum teh saja," tolak Yusha. Ia tidak bisa membiarkan makanan itu masuk ke dalam perutnya, bisa saja ia langsung masuk rumah sakit karna lambungnya bermasalah.
"Maaf ya, Nak Yusha. Harusnya Niar menyiapkan menu makanan yang enak untuk di hidangkan kepada Nak Yusha. Tapi karna Niar itu memang sedikit bodoh, jadi dia masak menu begini." Setelah dari tadi tidak bersuara, akhirnya Sumiati tak bisa menahan diri untuk mempermalukan Niar di depan Yusha. Dengan terang-terangan ibu paruh baya itu melirik tidak suka pada Niar. "Kamu ini gimana sih, Niar! Udah tau suamimu pasti gak doyan makan beginian, masih aja kamu masak," ketus Sumiati.
"Di dapur adanya cuma itu, Bu. Niar gak sempet belanja ke warung, takut kesiangan. Kak Yusha juga ngajak pulang pagi ini," jawab Niar.
"Halah ... alasan kamu aja itu!" Sentak Sumiati.
"Bu! Gak enak dengan mantu kita, Ibu tolong jaga sikap. Niar bukan lagi seutuhnya milik kita, dia sudah menjadi bagian dari Nak Yusha, jadi jangan perlakukan Niar seenaknya!" pak Bejo memperingati istrinya dengan tatapan tajam.
Raut muka Sumiati berubah merah padam, lalu berbicara lirih dengan penuh penekanan. "Anak dungu pembawa sial, tetap akan seperti itu! Gak akan berubah!" desisnya.
Bukan hanya pak Bejo yang menatap Sumiati, Yusha pun melemparkan pandangan tajam pada ibu mertuanya sendiri. Sedikitnya ia bisa membaca situasi, mungkin selama ini Niar di tindas oleh ibunya sendiri.
__ADS_1
"Niar, ayo kita bersiap. Kelvin sudah di perjalanan menuju kesini," ucap Yusha.
Kini semua pasang mata mengarah pada Yusha, lelaki itu terlihat kesal. Melihat itu Sumiati membungkam mulut karna takut melihat tatapan dingin Yusha mengarah padanya.