
"Ibu ...." Niar memeluk tubuh kurus Sumiati. Keduanya terisak dalam rengkuhan hangat.
"Ni-Niar ... ka-mu pu-la-ng?"
"Iya, Bu. Niar pulang ingin jenguk Ibu. Maafin Niar ya, Bu. Aku lama gak pulang." Niar mengusap punggung tangan Sumiati yang pucat dan hanya tinggal tulang yang terbungkus kulit.
"I-bu ya-ng min-ta ma-af ... am-pu-ni Ibu, Na-k. I-bu sa-ngat ber-dosa," ucapan Sumiati terhenti karena isak tangis yang makin menyesakkan dada.
Bahu Niar terguncang karena isak tangisnya yang tak dapat ditahan. Mengingat masa pedih ketika ketidakadilan yang dulu pernah dilakukan Sumiati amatlah perih membekas dihatinya. Sejak lahir hingga terakhir ia pergi dari rumahnya Sumiati masih saja membencinya. Betapa ia hidup dalam keterpurukan namun tak ada yang merangkulnya, ia tetap sendiri dalam keadaan apapun.
"Ibu ... Niar sudah memaafkan Ibu. Niar gak pernah benci Ibu. Bagaimanapun perlakuan Ibu dulu kepadaku, Niar gak bisa mengabaikan surga yang selalu ingin kukejar. Surga Niar ada di telapak kaki Ibu, ridhoi perjalanan Niar agar suatu saat anakmu ini mendapat kebahagiaan yang hakiki."
Sumiati menggeleng, ia merasa tak pantas mendapat maaf semudah itu dari anak ia sia-siakan sejak dalam kandungan. Anak yang hampir saja ia bunuh karena menganggap kehadiran Niar sebagai anak pembawa sial. Namun, si Anak Pembawa Sial itulah yang nyatanya selalu berbakti, selalu mengerti dengan keadaan orang tuanya.
Nesva, mengingat anak sulungnya Sumiati makin kencang menangis.
Sejak keluar dari penjara satu bulan lalu, Nesva memilih pergi menjadi TKW ke negeri orang. Sebelum keberangkatannya, sempat terjadi cekcok antara Nesva dan Pak Bejo yang pada saat itu menyuruh Nesva untuk merawat ibunya, namun Nesva menolak.
Si Sulung justru memarahi keadaan Sumiati yang dianggap sangat merepotkan. Tak sampai disitu, Nesva juga tidak berubah dengan perbuatannya, ia menuntut Pak Bejo untuk mencari uang banyak agar wajahnya yang berubah jelek bisa kembali dioperasi.
"Bu, sudah. Yang lalu biarlah berlalu. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Semoga ke depannya hubungan kita lebih baik. Sekarang hati Niar senang dan bahagia bisa merasakan pelukan hangat dari Ibu. Pelukan seperti ini yang selalu Niar dambakan sejak kecil. Terima kasih banyak, Bu, akhirnya aku bisa merasakan keikhlasan kasih sayang Ibu. Niar udah gak ada beban lagi untuk hari kedepannya."
"Ka-mu sa-ngat ba-ik, Ni-ar. Ha-rus-nya I-bu bang-ga pu-nya a-nak se-pertimu. Ta-pi ... bo-dohnya Ibu ma-lah mem-bencimu." Napas Sumiati terengah-engah, tangan kiri terangkat memegangi dadanya.
"Ibu gak apa, kan?" Melihat ibunya dengan napas tersengal membuat Niar sedikit khawatir.
Pak Bejo mendekati istrinya. "Bu, pelan aja jangan dipaksa bicara panjang. Niar ngerti keadaan Ibu, putri ibu juga sudah memaafkanmu, jadi Ibu yang tenang."
Sumiati mengangguk lemah.
__ADS_1
"Pak, sebaiknya Ibu di rawat ke rumah sakit aja, biar dokter memeriksa keadaan Ibu. Ibu pasti bisa sembuh seperti dulu," ujar Niar.
"Ke rumah sakit butuh biaya besar, Niar. Bapak gak akan sanggup membiayai."
"Ibu gak perlu mikirin biaya, Niar yang akan tanggung semua biayanya."
"Eng-gak, Ni-ar. I-bu u-dah pas-rah kalau Tuhan me-manggil I-bu. I-bu ha-nya nunggu ka-mu pulang," kata Sumiati.
"Bu, jangan bicara seperti itu. Ibu pasti bisa sembuh. Umur gak ada yang tau, Bu. Bisa saja yang sehat wal'afiat yang lebih dulu pergi. Kalau Ibu ingin Niar lebih berbakti pada Ibu, tolong Ibu turuti permintaan Niar. Ibu harus semangat untuk sembuh."
"Tapi Nak, kami selalu merepotkan kamu. Kamu punya kebutuhan sendiri, lebih baik uang tabunganmu untuk biaya hidupmu," timpal Pak Bejo.
"Bapak tenang aja, insyaallah, kebutuhan Niar tetap tercukupi meski Niar membiayai pengobatan Ibu."
Pemuda bernama Sakky seperti pengawal, berdiri di samping kusen pintu dengan mengamati interaksi keluarga Niar. Ia pernah mendengar cerita Sumiati dari ibunya, bahwa perempuan yang berumur hampir sama dengan ibunya itu tidak pernah memperlakukan Niar dengan baik, bahkan membenci Niar.
Kini suatu keberuntungan bisa menyaksikan taubatnya seorang ibu zalim yang meminta maaf pada puterinya yang dizalimi. Meski begitu pria yang mengenakan kemeja flanel itu tak kuasa menahan suasana haru ketika Niar menjawab dengan kalimat-kalimat bijaksana, dan mau memaafkan ibunya dengan lapang dada tanpa timbal balik membenci.
"Pak, Bu, anak ibu itu udah jadi janda sukses. Dia punya tiga toko milik sendiri, bahkan dia bos dari 9 karyawan," timpal Sakky. Setelah dari tadi berdiri sebagai pengamat, kini ia mau menimpali obrolan satu keluarga itu.
"Nak, siapa lelaki itu?" tanya Pak Bejo.
"Astagfirullah, Niar sampek lupa sama Mas Sakky. Maafin Niar, ya, Mas." Niar menyengir.
Sakky pura-pura mendekus. "Namaku emang gak kecatet dalam memorimu, jadinya gak pernah kamu inget."
"Gak gitu, Mas ...."
"Niar, kamu udah nikah lagi?" tanya Pak Bejo lagi.
__ADS_1
"Enggak, Pak," jawab Niar.
"Aamiin ...doain aku bisa menikahi anak bapak." sambung Sakky.
"Mas ....!" Niar melirik ke Sakky yang cekikan.
"Kalau enggak, lalu kamu hamil anak siapa?" Pak Bejo terkejut menatap puterinya dengan lekat.
"Ini anak Tuan Yusha, Pak."
"Apa ...?!" jawaban Niar barusan membuat Pak Bejo dan Sumiati terkesiap.
Niar menunduk menyembunyikan tetesan kristal bening.
"Ini bagaimana? Bapak bingung. Kalau anak dalam kandunganmu anaknya Nak Yusha, lalu kenapa kamu berpisah? Bukankah seharusnya kalian bersama?"
Niar mulai menceritakan semua yang dialami, tentang makian Tuan Mahendra sewaktu di rumah sakit. Lalu, tentang pertemuannya dengan Mbok Jamu dan Sakky, menceritakan semua kebaikan mereka. Juga tentang kedatangannya beberapa waktu lalu ke rumah Yusha untuk membayar hutang. Semua ia ceritakan dengan detail. Sedetail air matanya yang kembali mengucur deras.
Pak Bejo mengelus dada, hatinya ikut sedih mendengar semua kejadian-kejadian yang dialami puterinya.
Namun ada kebanggaan tersendiri melihat Niar bisa bertahan kuat menjalani kisah takdir peliknya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Setelah ini akak mei skip panjang, ya.🙏 Biar gak BULET😁