Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 67


__ADS_3

Buku-buku tangan memutih akibat kepalan tangan yang semakin kuat. Rasa sakit di telapak tangan tak sebanding dengan pesakitan hatinya. Resah gelisah, amarah terpendam yang tak tahu harus tersalur bagaimana. Ia memendam segala sesuatu sendiri, tanpa bisa berbagi pada siapapun. Hanya Reo yang tahu perasaanya, namun itu pun tak sepenuhnya.


Hari-hari makin kacau, kesenangannya sirna. Kebahagiaanya entah pergi kemana. Kini tinggallah pertikaian yang melelahkan jiwa. Ia ingin menyudahi, namun tak tahu harus mengawali.


Perempuan yang dulu sangat dicintai kini tak lagi sama, berubah dengan seiringnya waktu. Bukan raga yang merubah, tetapi hati dan perasaanya yang mulai terasa asing.


"Kamu benar-benar berubah, Yusha." Tatapan berani yang tadi ditunjukan satu menit kemudian telah merubah sendu. Perempuan itu mulai menunjukkan isak tangis.


"Katakan, Shel! Aku berubah bagaimana?"


"Apa kamu udah gak cinta sama aku? Cintamu berubah?"


"Bukankah pertanyaan itu harusnya aku yang tanyakan padamu? Selama pernikahan kita berlangsung, segala keinginanmu selalu aku turuti, termasuk kebohongan besar dan ide gila yang harus menyeret perempuan tidak bersalah. Dan pernahkah kamu memikirkan aku? Keinginanku? Pernah kamu menunjukan rasa cintamu? Mungkin aku dulu salah mengartikan rasaku padamu, yang sebatas naf su namun ku artikan cinta. Obsesi yang tak ku pahami membuat kita bersatu tanpa bisa saling memahami." Panjang lebar Yusha memaparkan rasa kecewanya.


Perempuan terisak itu nampak terhenyak, tak menyangka Yusha berani mengatakan kalimat demikian. "Yu-Yusha ...," lirih Sheli memanggil. Tatapan Yusha beralih. Antara tak tega namun ada kekecewaan yang juga turut dirasa.


"Kita bukan ABG yang harus mementingkan keinginan masing-masing. Kita sudah berkomitmen, harusnya kamu ingat dan pelajari apa saja yang harus diutamakan dalam menjalin rumah tangga. Jika kamu masih egois dengan kesenanganmu, aku tidak tahu lagi ...," ucapan Yusha berhenti. Ia tak ingin menjabarkan, membiarkan Sheli mengartikan potongan kalimat tersebut.


"Apa maksud kamu, tidak tau lagi?"


"Aku rasa kamu tau maksudku."


"Kamu benar-benar berubah aneh! Sejauh mana perempuan kampung itu mencuci pikiranmu? Apa jangan-jangan kamu mulai menyukai dia dan sekarang mau mencampakkan aku? Hah?"


Yusha tersenyum sinis dan membuang pandangan lurus ke depan. Menghirup udara dan membuangnya perlahan. "Masih saja membahas orang lain! Ini tentang kita, bukan tentang Niar atau siapapun. Dan aku juga tidak membahas tentang Jerry, yang semalam kamu panggil-panggil namanya. Niar pun sudah pergi gak tau kemana, apa kamu masih saja menyalahkan dia?"

__ADS_1


"Dia hanya pulang ke rumahnya, dan kamu bisa saja mendatangi perempuan itu tanpa sepengetahuanku."


"Baru sadar jika kamu sering menuduh sesukamu. Berkata tanpa berpikir. Dan asal kamu tau, dia tidak pulang kerumahnya, perempuan itu pergi entah kemana."


"Hoo ... ternyata kamu tau banyak tentang perempuan kampung itu?" selidik Sheli.


"Sudahlah, hal ini gak akan ada ujungnya. Bahasanmu melebar kemana-mana. Sekarang terserah kamu mau apa. Aku lelah, aku gak tau lagi harus bagaimana. Gak sekalipun kamu menganggapku sebagai suamimu. Semua masih kusembunyikan. Tentang mama dan papa yang menyalahkan Niar atas hasutanmu, aku masih diam, aku harap kamu bisa memperbaiki sikap. Tapi semakin keterlaluan. Sekarang gimana? Apa mau kamu?" tantang Yusha yang kini pada batas kesabarannya.


"Kenapa kamu tanyakan itu? Aku ingin kamu seperti dulu. Memberiku limpahan cinta, menyayangiku sepenuh jiwa. Dan aku ingin kamu seperti dulu, selalu mendukung apapun keputusanku."


"Masih saja egois. Aku gak bisa. Sudah kuputuskan, mulai sekarang kamulah yang harus mengikuti keinginanku. Tinggalkan pekerjaanmu dan mulailah peranmu sebagai istriku. Satu tahun lebih kita menikah, apa kamu akan tetap seperti ini? Kapan aku bisa memiliki keturunan jika kamu selalu sibuk. Jika kamu selalu egois."


"Keturunan-keturunan saja yang kamu bahas! Apa gak ada yang lain? Lama-lama kamu seperti namamu, selalu nuntut soal keturunan!" desis Sheli dengan tertahan.


"Dari sini sepertinya kutahu pikiranmu. Sepertinya memang kamulah yang gak ingin melahirkan keturunanku!"


"Terserahmu. Yang terpenting aku sudah memberimu pilihan. Pikirkan baik-baik, jika kamu memilih karir dan egomu, mungkin sementara waktu kita harus introspeksi diri dengan cara tinggal terpisah."


"Seserius itu?" tanya Sheli dengan melebarkan bola mata.


"Apa kamu anggap ini hal sepele?"



Hari ini dibantu Mbok Jamu dan Sakky, Niar mencari lapak kecil untuk membuka usahanya. Rencananya mulai besok ia akan mengadu nasib sebagai penjual pernak-pernik juga baju khas daerah itu.

__ADS_1


"Nduk, kamu gak capek? Dari tadi mondar-mandir menata barang," kata Mbok Jamu.


Niar menggeleng dengan tersenyum, menunjukan raut kesenangan. "Enggak, Mbok. Niar lebih semangat."


"Hem ... tapi pikirkan juga kandunganmu, janinmu masih rentan, Nduk."


"Iya, Mbok. Kalau udah terasa lelah, nanti Niar istirahat."


'Ya Allah, mudah-mudahan usahaku mendatangkan rezeki yang barokah. Mendatangkan rezeki juga untuk calon anak ini,' batin Niar. Tangan kanan ia angkat untuk mengelus perutnya yang masih datar, namun beberapa bulan lagi akan mengembang seiring bertumbuhnya janin yang sempurna.


Setelah semua barang disusun rapi ke dalam etalase. Kini tinggal pulang ke rumah. Tetapi Niar meminta izin untuk lebih lama lagi karena ingin menikmati matahari tenggelam. Akhirnya Mbok Jamu menugaskan Sakky untuk menemani Niar, menjaga perempuan itu hingga tak ada marabahaya yang bisa mendekati.


"Kamu favorit banget jalan-jalan dipinggir pantai?"


"Dari kecil tempat yang selalu ingin aku kunjungi adalah pantai. Aku kira pantai adalah tempat indah untuk kita menghabiskan sisa kesenangan."


"Berbeda denganku, aku bosan, karna sedari kecil sudah bermain dengan tempat ini."


"Ayo kita duduk di sana, Mas, sepertinya indah untuk menyaksikan senja menghilang!" ajak Niar.


Sakky menuruti langkah Niar menuju batu karang yang ada dipinggir pantai. Mereka berdua duduk bersama dengan bentangan jarak memisahkan.


Niar mengamati awan jingga yang mulai berbaur dengan warna lainnya, hingga tercipta perpaduan yang menawan.


Keduanya mengunci mulut, suara angin dan riuh anak-anak bermain ditepi pantai lebih dominan.

__ADS_1


Sesekali Sakky mencuri pandang ke arah Niar, hatinya makin terasa aneh setiap kali berduaan dengan perempuan itu. Debaran jantung lebih cepat dengan perasaan senang bisa memandangi senyum indahnya. Ah, perasaan apa ini? Tidak mungkinkah itu perasaan suka?


Berbeda dengan Sakky, hati dan pikiran Niar justru berkelana mengingat sosok yang tak ingin menghilang. Rindu, ia sampai lelah mengungkapkan satu kata itu. Nyatanya rindu itu tak pernah sampai.


__ADS_2