Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 72


__ADS_3

Rentetan waktu membawa jiwa berada pada tempat asing yang selama ini tak pernah terbayangkan, bahkan sedetikpun. Harapan-harapan dan mimpi sukses yang akan menjadi kebanggaan tersendiri.


*Merantaulah agar kau tahu arti penghidupan, agar kau merasakan bagaimana menghayati diri sendiri, agar kau tahu arti kepulangan, dan agar kau paham tentang kerinduan.*


Yah ... setelah ditelaah, kalimat itu memang benar adanya. Selama ini tak sekalipun terpikir berjauh dari mereka. Tak sekalipun memikirkan mimpi-mimpi indahnya, ia hanya fokus pada kebaktiannya terhadap orang tua. Labirin yang sama tak mengizinkan ia untuk bangkit wujudkan asa. Tentang kerinduanpun sangat benar, ketika jauh, kerinduan terasa menyiksa. Setiap malam hati menjerit, terlunta-lunta menahan rindu. Bahkan kesepian sampai menertawakannya atas keinginan untuk bertemu namun terhalang ketidakberdayaan.



"Hari ini panas banget, ya, Mbok. Tapi alhamdulillah, pembeli sangat rame." Senyum Niar melebar. Ia dan Mbok Jamu baru selesai melayani pembeli yang dari tadi tak lengang dan terus berdatangan.


"Hari ini luar biasa banget ramenya, apalagi kalau pantai ini udah resmi dibuka untuk orang luar, ya? Pasti banyak bule-bule yang datang." Mbok Jamu terkekeh lucu.


"Iya. Mudah-mudahan aja semua berjalan lancar, biar pantai ini segera diresmikan."


"Eh, ini udah jam satu loh, orang dari kota itu belum datang juga, ya? Padahal Pak Camat, Pak Lurah dan Perangkat Desa udah pada ngumpul buat menyambut? Jangan-jangan ditunda lagi."


"Kalau ditunda, kasihan mereka yang sudah partisipasi untuk menyambut tapi malah gagal," sahut Niar.


Bibir pantai hampir penuh dengan orang-orang dewasa maupun anak-anak. Mereka terlihat bahagia berkumpul dan berbincang, mungkin dengan sanak saudara atau tetangga.


Mata Niar mengabsen dari ujung hingga ujung, orang-orang menyungging senyum. Seperti ia yang menyungging senyum namun menyembunyikan lara.


Tak usai untuk meratapi nasib, nyatanya hidup terus berjalan meski tertatih dalam kesakitan. Larut dalam kesedihan hanya akan menenggelamkan diri pada banjir air mata. Saat ini ingin melupakan kesah walau hanya sementara.


Melihat anak-anak berlarian dan tertawa bahagia membuat Niar ingin menghampiri mereka.


"Mbok, boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa, Nduk?"


"Niar pengen jalan-jalan. Apa Mbok keberatan kalau Niar titip toko sebentar?"


"Owalah, enggak. Wes sana kalau mau jalan-jalan, serahkan toko sama si Mbok."

__ADS_1


"Makasih, ya, Mbok."


Niar mulai menjauh dari toko, perempuan anggun berbalut gamis motif bunga-bunga kecil itu mulai menyisir pinggiran pantai. Bibir mengembang senyum saat melihat riuhnya anak-anak kecil yang bermain bola, berlarian, ada pula yang bergulat dengan pasir sekadar membuat istana pasir bak negeri dongeng. Jika ia tak malu, mungkin ia pun ingin mencetak-cetak pasir sedemikian rupa, namun usianya tak lagi pantas. Membuat Niar melanjutkan langkah.


Beberapa saat, Niar dibuat penasaran dengan riuhnya pengunjung pantai yang berbondong-bondong menuju satu tempat di mana ada tenda yang terpasang.


"Mungkin tamu yang ditunggu udah datang," ucap Niar pada dirinya sendiri. Ia yang penasaran memutuskan untuk mengikuti mereka.


Dari arah lain.


"Vin, norak banget ada tenda segala! Mereka pikir mau nyambut artis, sampek segitunya! Lihat, banyak banget orang-orang yang sudah berkumpul," bisik Yusha lirih pada asistennya.


"Saya juga tidak tau, Tuan. Saya pikir kita hanya sebagai orang biasa, tanpa sambutan meriah begini," balas Kelvin yang juga berbisik.


Pak Camat dan Perangkat Desa sangat antusias menyambut kedatangan Yusha.


Pria berjas hitam dengan kaca mata hitam sangat menawan dan terlihat unggul dibanding yang lainnya. Rambut gondrong disisir rapi dan dikuncir kebelakang. Satu kata untuk memuji, perfect.


Tetapi, ketika Yusha tiba di bawah tenda, saat itu manik Niar dengan jelas bisa melihat siluet pria yang amat dirindukan.


Deg ....


Debaran jantung bertabuh riuh menyakiti rongga. Tanpa menunggu waktu lama, cairan bening sudah berhasil terkumpul di kedua matanya. Bergantian membasahi pipi yang memerah akibat kesilauan matahari.


Sekuat hati ia melupakan gambaran pria itu. Sekuat hati ia menghindari agar tak selalu bertemu. Kenapa? Kenapa takdir tak henti mempertemukan?


Tuhan punya rencana apakah?


Benteng menara tinggi yang dibangun seolah runtuh. Rindu yang menyiksa ingin ia kikis dengan lembaran baru, namun, takdir tak mengizinkan.


Ia tak tahu, kehadiran Yusha sebagai obat rindu atau justru makin dalam menciptakan lubang pilu.


Derai makin deras membanjiri wajah. Sesak kian menghimpit. Menjerit tak menimbulkan suara. Lebih sakit dari sebilah pisau yang menancap. Remasan tangan bergetar menahan sembilu. Apa yang lebih sakit, ketika bertemu tanpa bisa memberitahu.

__ADS_1


Perlahan kaki melangkah mundur, ia takkan sanggup menatapi pria itu. Pria yang sampai saat ini bertahta dalam hati. Namun, pria itu juga penyebab kegetiran hidupnya. Membuat terombang-ambing dalam rindu dan kesunyian.


Segera mungkin Niar pergi dari tempat itu, kaki dipaksa melangkah cepat. Secepat deraian air matanya.


"Loh-loh, Nduk, kamu kenapa?" Mbok Jamu terkejut melihat Niar datang dengan isak tangis.


"Mbok ...." Niar memeluk Mbok Jamu. Menangis tersedu di pelukan ibu paruh baya yang telah dianggap ibu keduanya.


"Mbok, ayo kita pergi dari sini," ajak Niar setelah melepas rengkuhannya dari tubuh Mbok Jamu. Perempuan itu menoleh ke belakang, raut khawatir terlihat jelas. Sebelum Yusha mengetahui keberadaanya, ia harus segera pergi dari tempat itu.


"Loh, kenapa? Ada apa?" tuntut Mbok Jamu.


"Nanti Niar jelasin. Yang penting kita pergi dulu. Kita pulang sekarang!"


Memendam rasa penasaran, Mbok Jamu mengikuti ajakan Niar. Mereka berdua secepatnya membereskan dagangan dan menutup toko lebih awal. Niar dan Mbok Jamu melewati jalan pintas, agar tidak diketahui oleh Yusha.


Sampai di rumah Niar duduk dengan napas tersengal. Melihat Niar tidak baik-baik saja, Mbok Jamu berlalu ke belakang untuk mengambilkan minum.


Wajahnya nampak pucat, bibir bergetar dengan air mata yang tak menyurut. Ia menunduk, ia menutup wajah dengan dua telapak tangan. Kembali tersedu, kembali sakit, kedatangan pria itu mengingatkan akan luka yang hampir mengering. Tentang rindu yang hampir berlalu, tentang cinta yang tak terbalas. Tentang benih yang ia sembunyikan.


"Nduk, kamu kenapa, to? Mbok takut liat kamu tiba-tiba begini? Ini, minum dulu!"


Meski air telah mengaliri tenggorokan, tak membuat Niar melega. Kecamuk di hati tetap terasa.


"Aku menjauh, Mbok. Aku ingin menyembunyikan dia (calon anaknya) Tapi kenapa takdir mendekatkan? Aku harus bagaimana, Mbok? Apa ini pertanda dari Tuhan jika aku tidak bisa menyembunyikan anak ini?"


Mbok Jamu mengernyit, belum paham dengan cerita Niar.


"Mendekatkan dengan siapa?"


"Dengan ayah dari bayi yang aku kandung."


"Hah?" Mbok Jamu terkejut dan melebarkan bola mata. "Ayah dari anakmu? Ada di sini?"

__ADS_1


__ADS_2