
Langit gelap membentang luas, membebat kalut dalam irama melankolis. Satu hati terlilit kebisuan. Namun tak lantas melupakan semuanya. Tidak!!!
Hati itu masih memiliki pemilik, masih bisa mengingat sepotong kenangan. Pun masih ingat saat waktu mengingatnya bersama seseorang —sang Kekasih— dalam sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang berjarak tepatnya. Berada dalam dimensi, ruang dan menempuh arah yang sama.
Namun, Allah tak merestui dua hati untuk saling bertatap begitu saja. Dua hati dibiarkan merenung dalam doa, bersua dan bermanja lewat doa. Sedangkan si Perempuan mengandalkan sebongkah harap dalam derap. Kendatipun harap itu harus berserak mengikuti arah angin yang tak memiliki arah. Ia masih tak memiliki lelah. Sampai pada ....
Ribuan hari terpenjara dalam cemas, gelisah, resah dan gulana yang terus menyeruak. Hati ingin menegar, namun apa boleh di tentang jika raga telah lelah.
Allah maha tahu, hamba yang diberi ribuan pengganjaran itu telah sampai pada titik penghabisan. Allah maha penyayang, hingga hati yang selalu sabar akan di muliakan dengan cara indah.
•
Manik kecil itu mengetahui sedang ditatap sedemikian rupa oleh sosok dewasa yang ada di sampingnya.
"Papa Yusha, sini deh Ara bisikin," celetuk Yuara yang berhasil membuyarkan ribuan angan Yusha.
Pria bermata merah karena tak henti mengeluarkan air mata itu mendekat pada Yuara.
"Ternyata Papa Yusha lebih keren dari Papa Sakky. Hihihi ...," bisik Yuara dibubuhi suara cekikikan geli. Begitu tangan mungilnya langsung menutup mulut supaya suara cekikikan itu tak terdengar kencang.
Yusha merespon dengan melebarkan bibir namun pandangannya justru kabur tergenang cairan bening. Jika pria itu berkedip, sudah pasti air mata akan tumpah.
Setelah berhenti tertawa, gadis kecil dengan surai hitam legam itu bersuara lagi. "Tapi Papa Yusha cengeng. Itu kenapa mata papa ada airnya? Papa Yusha nangis, ya? Papa kayak Mama Cantik, setiap Yuara pura-pura tidur, Mama pasti liat buku kecil abis itu diam-diam nangis. Yuara juga pernah denger waktu Mama bicara sendiri. Katanya. Tuan, apa kabar? Aku sangat merindukanmu. Begitu." Kembali Yuara terkikik tertahan.
Yusha terhenyak. Benarkah yang diceritakan gadis kecilnya? Berati yang diceritakan Sakky memang benar, bahwa cinta Niar memang hanya untuknya. Selama ini Niar menunggu kedatangannya. Ia harus bangga atau harus menerutuki kebenaran yang terkuak secara terlambat?
Jika dari dulu, mungkin saja ia akan bangga dan bahagia. Namun, keadaanya tak bisa untuk dibanggakan. Justru hati disergap rasa bersalah sekaligus rasa sakit. Bersalah, harusnya dari dulu ia mencari kebenaran, harusnya dari dulu ia memperjuangkan cintanya dan mungkin saja saat ini mereka telah bersatu menjadi keluarga bahagia.
__ADS_1
Tetapi, rasa bersalah itu tak sampai disitu. Ia masih menahan rasa sakit, lebih sakit dari menahan sengatan bara api. Lebih sakit dari rajaman batu-batu yang dilempar ke arahnya. Semua tak sebanding dengan melihat keadaan orang terkasih dalam keadaan demikian.
Paras cantik, wajah teduh, senyum ketertraman, sendau gurauan, fisik yang dulu terlihat kuat itu kini tak terlihat seperti dulu. Semua memudar, menghilang. Kini terlihat mengenaskan. Takkan sanggup menatap barang sedetikpun. Wajah itu tetap putih bersih, namun seolah tak memiliki semangat. Matanya tak lagi memancarkan sinar. Redup seperti asanya yang mungkin juga telah hampir padam. Bibir tipis yang dulu ranum kini pucat pasi. Benar-benar takkan sanggup untuk memandang.
Tangan Yusha terangkat untuk menghapus cairan-cairan yang tak henti terproduksi dengan sendirinya. Jika tak ada seorangpun, mungkin saja ia akan menangis kencang untuk meluapkan sesak dan rasa bersalah.
"Papa Yusha, kenapa Mama Cantik manggil Papa dengan sebutan Tuan? Kenapa gak manggil Papa Yusha aja?"
Tuan? Kini ia merindukan suara yang dulu selalu memanggilnya dengan sebutan itu.
'Tuan sudah pulang?
Tuan mau makan apa? Nanti Niar siapin
Tuan pasti lelah, sini biar Niar pijitin
Berapa kalimat yang sering Niar ucapkan saat masih tinggal dalam satu atap. Namun sayang, semua terlalu singkat untuk merasai indahnya kebersamaan.
Semua hancur saat sang Ayah menyuruhnya untuk mengucap kata talak demi sebuah martabat dan jabatan. Nyatanya itu semua tak menjamin kebahagiaan. Kini hanya tinggal penyesalan atas sebuah kehancuran.
Mengingat itu, ia makin kalut dalam kesedihan. Rasanya ingin berontak pada Tuhan agar mengembalikan waktu dan semua tidak akan terjadi.
"Yu-Yuara, boleh Papa Yusha peluk kamu?" Yusha bertanya dalam kehati-hatian.
"Boleh dong, Pa. Yua juga pengen peluk papa kandung Yua."
Tangan Yusha terserang tremor ringan, meski begitu ia segera merengkuh tubuh gemuk Yuara dalam isak diam. Tak menyangka perempuan yang dulu menahan ribuan kesakitan justru mau berjuang sendirian menjaga dan membesarkan darah dagingnya. Juga tak terbayang bagaimana Niar menjalani hari-hari berat seorang diri, mengandung, mempertaruhkan nyawa demi melahirkan puterinya. Sungguh tak terbayang melewati semua itu seorang diri.
__ADS_1
"Apa setelah ini kita akan tinggal bersama?" tanya Yuara melepas pelukan Yusha karena gerah.
"Tentu. Papa akan bawa kamu dan Mama Cantik untuk tinggal di rumah Papa."
"Tapi Pa, kapan sih, Mama Cantik bisa sembuh? Yua kangen disuapin Mama, Yua kengen berangkat sekolah bareng sama Mama. Yua ... Yua ...," ucapan Yua tak lengkap karena gadis kecil itu mencebik dan hampir menangis. Genangan air mata terlihat sangat penuh di pelupuk matanya. Bocah berumur empat tahun lebih itu sangat merindukan kebersamaan bersama ibunya. Ia bisa dekat dan memandang ibunya, namun ia tak bisa lagi merasai kasih sayang sang ibu.
"Yuara Sayang, dengerin Papa. Mama Cantik akan segera sembuh. Papa janji akan menyembuhkan Mama Cantik. Papa sewa dokter terhebat juga akan merawat Mama. Setelah Mama sembuh, kita akan berkumpul dengan bahagia. Oke." Yusha berujar untuk menenangkan.
"Papa janji?"
"Iya. Papa janji, Sayang."
Jari kelingking yang berbeda ukuran saling menaut. Yusha menciptakan senyum supaya puterinya tak terlalu dengan keinginannya yang belum terwujud. Namun dalam hati ia benar-benar akan mewujudkan ikrarnya tadi.
"Ara ....!" Terdengar suara Mbok Jamu memanggil Yuara.
"Iya Nek. Yua di depan." Yuara mengeraskan suaranya.
Tak lama Mbok Jamu telah berdiri di tengah pintu. "Nenek suapin Mama Cantik, ya," ijin Mbok Jamu.
"Jangan!!! Biar Yua aja yang suapin, Mama, Nek."
Gadis kecil itu menuju Mbok Jamu dan mengambil mangkuk yang dipegang Mbok Jamu. Setelah itu masuk ke dalam mendekati Niar yang tetap dalam keadaan sama.
"Mama Cantik makan, ya! Yua suapin." Hal itu sudah menjadi rutinitas Yuara untuk menyuapi Niar. Terkadang menyisir rambut juga mengoles bedak ke wajah ibunya. Umurnya memang masih sangat dini, namun gadis kecil itu sangat pandai merawat sang ibu.
Yusha berdiri di depan pintu samping Mbok Jamu, lagi-lagi menangis tanpa suara. Tak kuat menyaksikan pemandangan yang seolah mengiris nadinya. Menimbulkan sakit yang terperi.
__ADS_1