Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 56


__ADS_3

Tidak ada yang tahu ketika takdir sudah menggariskan ketentuannya. Orang asing yang sama sekali tidak dikenal menjadi penolong. Namun sebaliknya terjadi, orang yang punya ikatan darah justru membiarkannya hidup dalam kesepian. Dalam keadaan terpuruk, Niar mengucap syukur bisa dipertemukan dengan seorang pemuda berisik tapi baik hati. Walau ada perdebatan kecil tapi akhirnya Sakky mau membantunya.


Saat ini ia sedang duduk di dalam kursi penumpang di samping Sakky, pemuda yang menggumamkan lirik lagu tanpa segan meskipun ada keberadaan orang asing di dekatnya.


Niar terdiam dengan tetesan airmata masih setia membasahi pipi yang memerah. Sejak tadi tak henti tersapu jemari tangan. Keresahan hati enggan berlalu. Pikirannya masih membayang, bagaimana ia akan membesarkan anaknya seorang diri? Bukan hanya itu saja, mungkin saja di tempat yang baru ini akan ada desas desus mengenai asal usul dan cerita sebelumnya. Pasalnya ia datang ke kota asing dalam keadaan hamil tanpa seorang suami.


Hal itu pasti terjadi. Bahkan Sakky, pemuda yang menolongnya saja sempat berpikir jika ia perempuan korban naf su bejat pria tak bertanggung jawab. Apa lagi pandangan orang lain.


"Mbak, kenapa nyari rumah sewa di Alun-Alun Pinggir Kota Kulon? Di sana tempatnya terpencil dan rumah-rumah warga jaraknya menjauh dari warga lainnya," tanya Sakky sekaligus memberitahu. Belum mendapat jawaban, mulut cerewetnya sudah bersuara lagi, "tapi, ada panorama sendiri sih, di kota itu. Setiap hari kita di suguhi pemandangan gratis bisa nikmatin pantai alami yang belum di olah menjadi tempat wisata. Aku denger dari diskusi pak camat, pemerintah sedang bernegosiasi dengan salah satu perusahan besar untuk menjadikan Pantai Alun-Alun Kulon menjadi tempat wisata." Panjang lebar Sakky berkalimat.


"Aku memang suka tempat terpencil." Titik, Niar tidak berniat menjabarkan jawabnya.


Lagi-lagi terlihat Sakky mendekus sebal. Perempuan yang membuat harinya apes, tak suka banyak berbicara. Kalimat panjang lebar seperti mendongeng hanya di balas satu buah kalimat.


Sakky mencoba memahami raut wajah Niar, terlihat sedang menanggung beban berat. Tetapi ia tak mau ikut campur, ia bukanlah siapa-siapa. Membiarkan Niar dalam lamunannya.


Mobil pikap dikendarai Sakky telah berhenti di rumah sederhana bercat biru langit yang tampak sedikit memudar akibat terbias terik matahari. Seperti yang dikatakan Sakky, rumah warga tampak berjauhan dari rumah lainnya.


Belum usai Niar mengamati keadaan sekitar, suara khas ibu-ibu menyambangi telinganya.


"Loh, kok, Thole Sakky udah pulang jam segini? Tumbenan?" Kalimat yang diucapkan ibu paruh baya bisa di dengarnya.


Niar turun bersamaan dengan Sakky, ibu tadi lebih mendekat untuk memenuhi rasa penasarannya. "Weh ... pulang-pulang kamu bawa cewek cantik, 'Le'? Dia pasti calon menantuku, to? Ya, Allah Gusti ... akhirnya doaku selama ini terkabul. Aku gak repot-repot keliling bikin lowongan perjodohan." Ibu paruh baya menerocos tanpa jeda, "wealah, Nduk cah ayu, bening banget." Ibu itu memuji Niar.


'Lengkap-lengkap pengapesanku, Gusti. Tadi buk dokter yang salah paham. Sekarang si Mbok ikutan begini.' Batin Sakky frustasi. Mengusap-usap kepala yang tidak kenapa-kenapa.

__ADS_1


Niar yang kebingungan melihat ke arah Sakky. Berharap pemuda itu membantu untuk menjelaskan. Sedangkan ibu paruh baya itu terus menerus bersuara.


"Mbok, stop!!!" teriak Sakky. Barulah ibu paruh baya itu diam.


Hasanah, ibu paruh baya adalah ibunya Sakky. Bu Hasanah di panggil dengan si Mbok Jamu, sesuai dengan profesinya yang jualan jamu keliling perkampungan. Mbok Jamu sendiri sama seperti Sakky, banyak berbicara tetapi bersikap baik.


"Dengerin Sakky, Mbak ini 'Sakky menunjuk ke arah Niar' bukan calon mantu, si Mbok. Sakky ketemu di jalan dan tak bawa pulang," jelas Sakky.


"Loh ... kok ngono 'begitu', 'Le'?"


"Kok ngono 'begitu'? Ya memang ngono, loh, Mbok."


"Jadi, cewek ini bukan calon mantu, si Mbok?"


"Bukan,"


Sakky mengajak Niar masuk ke rumahnya. Saat masuk ke ruang tamu hanya ada ala kadarnya, terdapat kursi dari anyaman bambu dan lemari usang di pojok ruangan.


Sakky menjelaskan tujuan Niar ikut ke rumahnya yaitu meminta bantuan untuk mencarikan rumah sewa.


Saat Mbok Jamu pamit ke dapur untuk menyuguhkan minuman, Sakky ikut membuntuti di belakangnya. Lalu pemuda itu menjelaskan kondisi Niar yang sedang hamil muda. Awalnya Mbok Jamu sangat terkejut, tapi Sakky membekap mulut sang ibu agar memelankan suaranya. Takut di dengar oleh Niar dan perempuan itu akan bersedih lagi.


"Maaf ya, Mbok. Sakky nolong orang gak liat-liat. Kira-kira dia ngerepotin kita gak, ya, Mbok?" ucap Sakky sambil tangannya beralih mengambil tempe goreng di atas piring lalu di cocolkan ke atas cobek berisi sambal teri. Mengunyah tempe pedas dengan mulut kepedasan.


Buk ...

__ADS_1


Mbok Jamu memukul lengan putranya. "Nolong orang tuh, yang ikhlas 'Le' biar dapet pahala. Memang kalau kita mau nolong orang kudu 'Harus' dimetrogasi dulu?"


"Introgasi, Mbok!" Sakky membenarkan kata yang salah.


"Yoh, ho'o ngono kuilah 'Ya, iya begitulah' maksud, si Mbok."


"Mbok, urusan Mbak kae 'itu' Sakky pasrahin ke si Mbok, ya. Sakky mau antar barang lagi, takut si Bos marah." pamit Sakky, sebelum kaburpun masih sempat mengambil dua potong tempe goreng untuk menemani perjalananya.


"Iya, kamu tenang aja, nanti Mbok yang urus."



Sakky sudah pergi, kini Mbok Jamu menemani Niar duduk di ruang tamu dengan suguhan teh hangat dan ubi jalar rebus.


Niar merasa tidak enak hati merepotkan keluarga yang sama sekali tidak dikenalnya. "Ibu, maaf ya, saya merepotkan," ucapnya.


"Loh, ya, gak merepotkan to 'Nduk'. Ibu seneng bantuin kamu. Kata Sakky, kamu mau cari rumah sewa di pinggiran kampung, ya?"


"Iya, Bu. Apa Ibu bisa membantu?"


"Ibu bisa cariin sesuai keinginan kamu, tapi ... kalau Ibu boleh usul, lebih baik cari di samping sini saja. Di pinggir kampung takut ada orang niat jahat celakain kamu. Di sini ada Ibu dan Sakky yang bisa mantau kamu."


Niar hampir tidak percaya dengan tuturan Mbok Jamu, masih ada orang baik yang mau menolong orang tidak di kenal seperti dirinya.


Mbok Jamu memandangi Niar, mengingat Niar datang ke kota ini tanpa siapapun dan tanpa ada yang dikenal membuat hatinya timbul rasa kasihan. Menduga, perempuan yang tengah hamil tanpa suami itu sedang menyembunyikan masalah. Tetapi, pikiran Mbok Jamu sama dengan Sakky, tidak ingin ikut campur sebelum Niar sendiri yang bercerita. Ia hanya perlu saling menolong sesama manusia.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, ya, Bu. Ibu sangat baik sampai memikirkan hal itu."


__ADS_2