
"Nona tunggu!" seru Kelvin yang masih mengikuti namun jarak mereka cukup jauh. Kelvin tertinggal di belakang karena beberapa kali menabrak pengunjung pantai yang memang masih ramai.
Niar dan Sakky tak lagi melewati jalan pintas, justru memutar arah yang lebih jauh agar Kelvin terus terkecoh. Pantai Alun-Alun Ujung Kulon masih asri. Pepohonan masih tumbuh subur di pesisir pantai. Memudahkan Sakky dengan Niar bersembunyi dibalik salah satu pohon besar.
Napas keduanya tersengal, gemuruh dada Niar naik turun dengan membuka mulut untuk alternatif pernapasan lain. Berbeda dengan Sakky yang sudah bernapas normal, karena fisiknya jauh lebih kuat dari perempuan.
Niar berjongkok dan memegangi perutnya yang terasa mengencang. Mungkin akibat gerakan reflek, ia berlari tadi.
"Kamu gak apa?" tanya Sakky khawatir, saat melihat Niar meringis dengan tangan fokus di depan perut.
"Perutku sedikit sakit, Mas. Seperti kram."
"Sabar, setelah ini kita akan ke rumah sakit. Tahan sebentar."
Niar mengangguk. "Aku kuat, Mas. Begitu juga dengan calon anakku. Coba lihat, apa orang tadi masih mengejar kita?"
Sakky melakukan yang dikatakan Niar. Pemuda itu berjalan mengendap dibalik pohon lain untuk mengintip Kelvin, apakah masih mengejar atau sudah kembali.
Saat tangannya menyingkirkan dahan ranting yang menggangu jalan, Sakky terhenyak. Pria itu diam dengan kedipan mata pelan, kening yang mengernyit seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Susu hamil!!!" pekiknya terkejut. "Susu hamilnya ke mana? Tadi-tadi kubawa?" ujar Sakky melebarkan bola mata ke arah Niar.
Perempuan itu tidak begitu merespon, rasa sakit dan ketakutan berkecamuk menghantui dada.
"Gak apa, Mas. Besok bisa beli lagi," ucap Niar.
Senja hampir berhasil meninggalkan peraduannya. Di bawah pohon yang masih mirip dengan hutan terlihat seram karena mulai gelap. Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dan kembali lewat jalur pintas yang hanya orang-orang lokal yang tahu.
•
__ADS_1
Kelvin kembali untuk menghampiri Yusha, sang tangan kanan itu terengah-engah mengatur napas yang memendek akibat berlari sejauh puluhan meter.
Manik Yusha melirik Kelvin, merasa aneh dengan sekretarisnya itu. "Ada apa, Vin? Kamu kurang kerjaan lari-larian di pinggir pantai?" Bibir sebelah Yusha terangkat.
"Mungkin dia lagi olah raga," sahut Sheli mencibir.
"Vin! Kamu belajar gila! Ngapain kamu bawa susu hamil?" sentak Yusha yang baru menyadari bungkusan plastik putih berisi satu kotak susu hamil yang dipegang Kelvin. Ia bisa membaca dari bungkusnya yang terlihat sebagian.
"Sa-ya ta-di ... sedang mengejar No-na Niar, Tuan," ucap Kelvin masih terengah-engah. Pria yang berkeringat itu mengatur napas sedemikian rupa.
"Apa?!" sentak Yusha terkejut.
"Iya, Tuan, saya tadi melihat Nona Niar. Tapi saat saya panggil, Nona Niar justru berlari menghindari saya. Dan, Nona Niar tidak sendirian, ada seorang pria yang menggandeng tangan Nona untuk di ajak berlari," terang Kelvin. "Dan susu ini, saya ambil saat pria itu tak sengaja menjatuhkannya," imbuhnya.
Yusha terhenyak dengan raut wajah benar-benar terkejut. "Yang benar, Vin?! Kamu yakin itu Niar?"
"Yakin, Tuan. Saya sangat yakin!"
"Diam kamu, Sheli! Aku malas mejelaskannya!" balas Yusha. Pria itu beralih pada Kelvin. "Suruh pengawal sisir daerah sini. Sekarang juga!" perintah Yusha. Pria yang terlihat cemas itu mulai melangkah untuk menyisir sendiri daerah itu.
"Yusha ... !!!" panggil Sheli dengan suara kencang. Namun pria itu bersama Kelvin telah berlalu. Menurut jejak langkah kemana Niar tadi berlari.
"Yusha!!! Keterlaluan kamu!!" pekik Sheli dengan kemarahan tinggi. Tangannya terkepal kuat hingga buku tangannya memutih. "Breng sek !!!" pekiknya tertahan.
Seorang model papan atas harus menahan malu saat sang suami yang notabene billioner muda mengacuhkan panggilannya, lalu pergi begitu saja.
Perempuan itu berbalik tanpa mengikuti Yusha, ia akan kembali ke hotel tempat Yusha menginap.
•
__ADS_1
"Mana Vin?! Kemana dia pergi?!"
"Mereka tadi berlari ke arah sini, Tuan. Saya kehilangan jejak karna menabrak beberapa pengunjung."
Langit mulai menggelap, namun semangat Yusha tak menyurut untuk menyisir daerah pantai untuk menemukan Niar.
"Sebenarnya Nona Niar tadi ada di belakang Anda, Tuan. Saya tidak begitu paham mengenalinya. Saya melihat tubuh Nona terjatuh, dan sepertinya sedang menangis. Sekali lagi maafkan kebodohan saya yang tidak mengenali Nona Niar, saya hanya diam mengamati dari samping. Setelah seorang pria datang untuk membantu berdiri, saat itu saya baru mengenali wajah Nona. Nona Niar sempat berbalik saat saya memanggil, tapi setelah itu mereka berdua justru berlari." Kali ini Kelvin menjelaskan secara detail. Keadaanya sudah tenang, hingga bisa menceritakan dengan gamblang.
Keterangan Kelvin tak membuat Yusha melega, lebih menimbulkan teka-teki yang rumit. Ia dan beberapa pengawal tak ada yang menemukan Niar, meski telah menyisir daerah yang tadi dilalui.
Petang benar-benar telah datang, langit mulai berhias satu, dua bintang. Pencarian harus terhenti karena minim pencahayaan. Bahkan pesisir bagian barat itu lebih mirip hutan rindang. Akhirnya Yusha menyuruh mereka untuk kembali. Dengan niat besok akan kembali untuk mencari.
•
Seperti yang dikatakan Sakky tadi. Dua orang itu tak lantas pulang ke rumah, melainkan mencari rumah bidan terdekat untuk memeriksa kondisi Niar.
Setelah diperiksa, beruntung kondisi janin masih kuat dan bisa dipertahankan. Namun, Niar disarankan untuk istirahat total selama 3 hari.
Sakky mengajak Niar untuk pulang ke rumahnya, ia takkan membiarkan perempuan itu dicekam kegelisahan seorang diri.
"Mas, aku gak apa, biar Niar pulang ke rumah aja."
"Kamu mau pulang ke rumah dan menangis semalaman?" tebak Sakky.
Niar diam dengan menundukkan wajah. Bagaimanapun tebakan Sakky memang benar. Hatinya terlalu menanggung sakit dan kecewa, faktor kuat itu yang pasti membuatnya menangis semalaman.
Ia mencoba bangkit, mencoba kuat untuk menghilangkan bayangan masa lalu. Ia hampir menemui ketenangan hidup saat berada jauh dari mereka. Tetapi, asanya membumbung tinggi, hilang tersapu keadaan yang hanya beberapa detik lalu ia lihat. Seakan jiwanya kembali pada titik terendah. Di mana ia kembali menerima keadaan nestapanya.
Menyedihkan, perempuan itu tersenyum dalam kegetiran. Menertawai jalan hidupnya yang seolah punya mimpi indah, namun pada kenyataan hanya kesedihan, kekecewaan dan kesakitan yang selalu menghampiri.
__ADS_1
'Astagfirullah hallazhim.'
Tak ada pilihan lain saat Sakky menarik tangannya untuk terus melangkah masuk ke rumah pemuda itu. Ia hanya menghargai kebaikan Sakky, yang sekarang menjadi malaikat penolong. Seperti seorang kakak yang selalu ingin melindungi adiknya. Seperti itu anggapan Niar. Tak tahu tentang anggapan Sakky sendiri.