Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 22


__ADS_3

Niar sibuk menata menu makanan ke atas meja, sebentar lagi waktunya makan malam. Meski ia tidak tau apakah Yusha sudah pulang dari kantor atau belum yang terpenting ia tetap melakukan tugasnya.


Dan tepat saat itu Yusha menuruni anak tangga dengan menggunakan pakaian santai. Rambut gondrongnya dibiarkan begitu saja karna masih basah sehabis keramas.


Lelaki itu mengambil duduk di meja makan khusus miliknya. Tanpa melihat ke arah Niar, acuh tak acuh dengan keberadaan gadis itu.


Niar berdiri dengan kaki gemetar, jemari tangan saling bertautan dengan wajah bingung sesekali memperhatikan ke arah Yusha. Lelaki itu tampak santai, berbeda dengannya yang sedang di campur aduk perasaanya.


Dua suapan sudah di kunyah, Yusha melirik ke arah Niar, gadis itu seperti sedang gelisah. Mungkin ada hubungannya dengan masalah yang terjadi pada keluarganya.


"Ada apa?" Tiba-tiba Yusha bertanya. Ia tahu Niar ingin mengatakan sesuatu namun terlihat takut.


"Um ... ka-kapan nona Sheli akan kembali?"


"Tidak ada yang tau kapan Sheli pulang. Dia memang seperti itu, jarang bisa di hubungi. Kalau dia pulang tidak pernah memberi kabar," jawab Yusha, pria itu menyendok makanan ke dalam mulutnya. Ia tidak protes dengan rasa makanan yang di makan, itu artinya makanan itu memang sesuai dengan seleranya.


Niar menunduk, ia mengamati ujung baju yang diremas oleh jemarinya sendiri. Terlalu bingung untuk mengatakan bahwa ia mau menerima tawaran itu.


"Tu-tuan, apakah tawaran itu masih berlaku?" tanya Niar tanpa bisa menyembunyikan ke gugupanya. Perempuan itu sama sekali tidak berani menatap Yusha. Kedua tangannya yang saling bertautan mengeluarkan keringat dingin.


Alis sebelah Yusha terangkat, lalu menatap Niar. "Tawaran apa?" Lelaki itu lupa tentang rencana Sheli.


Niar memberanikan diri menatap Yusha. Sejenak keduanya saling bertatapan. "Tawaran ... menjadi istri kedua anda," ucapnya dengan cepat, lalu menunduk lagi. Gadis itu ingin menyembunyikan airmata di kedua sudut matanya. Malu dan pilu, baru kemarin ia menolak mentah-mentah, dan baru berselang satu hari tapi sudah berubah pikiran.


Yusha terdiam dengan jeli masih menatap Niar. Ia tahu gadis di depannya sedang tertekan dengan ucapannya sendiri. Mungkinkah Niar menerima tawaran itu karna masalah yang terjadi dirumahnya.


"Sepertinya saya berubah pikiran. Kamu terlalu muda untuk mengandung dan melahirkan. Kamu juga kemarin yang menolak, mungkin saya akan mencari wanita lain," ucap Yusha.

__ADS_1


"Tuan, meski umur saya masih muda tapi saya siap mengandung dan melahirkan anak anda. Saya mohon Tuan, jangan cari wanita lain. Berikan kesempatan ini kepada saya." Niar mengatupkan kedua tangannya demi mengiba pada Yusha agar tidak mencari wanita lain. Jika itu terjadi maka ia kehilangan kesempatan, dan keluarganya benar-benar akan tinggal di kolong jembatan. Tidak! Ia tidak bisa membiarkan itu. Bagaimana pun caranya, ia harus mendapatkan uang untuk membayar hutang.


"Kemarin kamu yang menolak dan tiba-tiba kamu menerima tawarannya? Secepat itu pikiran kamu berubah," ujar Yusha. Sebenarnya Yusha ingin mengetahui alasan Niar menyetujui tawaran Sheli, setelah kemarin gadis itu dengan gigih menolaknya. Pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Saya butuh uang secepatnya, Tuan. Saya harap Tuan mau memberi kesempatan itu pada saya."


"Berapa yang kamu butuhkan?"


"Seratus dua puluh lima juta, dan harus ada dalam waktu dua hari."


" Nanti saya siapkan cek satu milyar sesuai kesepakatan yang di katakan Sheli."


"Saya hanya butuh seratus dua puluh lima juta saja, Tuan. Sisanya saya tidak mau menerima. Saya terpaksa meminta bayaran itu hanya untuk melunasi hutang keluarga saya pada rentenir. Jika bukan karna hal itu saya tidak mau menerima tawaran nona Sheli," jawab Niar dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Tapi kesepakatannya kamu mendapat imbalan satu milyar," timpal Yusha cepat.


Yusha menautkan kedua alisnya, merasa bingung dengan penolakan Niar. Dibayar sesuai kesepakatan tapi tidak mau. "Tapi rasanya tidak adil jika memberimu uang tidak sesuai kesepakatan awal. Seperti ini seolah saya memanfaatkan kamu," Yusha tidak menyetujui. Ia tetap ingin memberikan hak imbalan yang sesuai.


"Anggap saja tidak ada yang di manfaatkan dan tidak ada yang memanfaatkan," jawab Niar.


"Setelah saya menerima uang itu, saya siap kapan pun anda menikahi saya," imbuhnya dengan memejamkan mata. Seolah sangat terpaksa mengatakan itu.


"Biar Sheli yang mengatur waktunya. Saya coba hubungi dia,"


"Baik Tuan," Niar berbalik, ia ingin segera pergi dari hadapan Yusha dan ingin menumpahkan tangisannya. Ia menahan sesak di dalam dada, harus rela mengorbankan diri menjadi istri kedua yang di sembunyikan. Status yang paling di hindari setiap wanita, tapi ia sendiri yang memutuskan menerima status itu demi kebaktiannya pada keluarga.


"Tunggu!" Yusha menghentikan langkah Niar. "Kamu tidak lupa, kan, larangan yang saya ucapkan kemarin!"

__ADS_1


Niar membalikkan badan. "Larangan?" ulangnya dengan bingung. Pikiran Niar terlalu kalut, hingga lupa jika Yusha pernah membicarakan larangan jika ia mau menerima tawaran Sheli.


"Tidak boleh melibatkan perasaan. Dalam artian kamu tidak boleh jatuh cinta dengan saya, karna itu akan melukai dirimu sendiri. Sampai kapanpun hanya Sheli yang akan menjadi istri saya seutuhnya. Dan kamu harus siap saya ceraikan setelah anak itu lahir!"


"Baik Tuan, saya akan mengingat perkataan anda."


Setelah menjawab itu, Niar benar-benar pergi dari hadapan Yusha. Gadis itu berjalan cepat menuju kamarnya dan segera menutup pintu.


Setelah itu badannya langsung luruh di atas lantai. Ia meredam suara tangis yang akan pecah. Setelah menyetujui kesepakatan itu berarti harus rela masa depannya menjadi korban.


••••••••••••


Usai makan malam Yusha mencoba menghubungi nomor Sheli. Berniat memberitahukan jika Niar sudah setuju dengan kesepakatan itu. Ia pun akan menyerahkan segala persiapan pernikahan pada Sheli.


Seperti biasa, nomor Sheli selalu di alihkan membuat Yusha berdecak kesal. Ia lalu mencari nomor Glory dan menunggu asisten istrinya itu untuk menjawab panggilannya.


"Selamat malam, pangeran tampan. Eh ... Tuan Yusha, maksut Eike. Hehe ... " Glory terkekeh geli.


"Gak usah banyak basa basi! Dimana Sheli? Aku ingin bicara," jawab Yusha.


"Sheli masih istirahat, coba saya bangunkan dulu."


Cukup lama Yusha menunggu suara Sheli yang menjawab. Hampir sepuluh menit tanpa mematikan panggilan telpon, kini suara Sheli menyahut. "Ada apa sayang?"


"Kapan kamu pulang?"


"Um ... sepertinya lusa. Kenapa? Apa kamu merindukanku?" goda Sheli.

__ADS_1


"Itu selalu. Tapi ada hal lain yang kusampaikan padamu, pembantu itu menerima tawaranmu. Kamu siapkan waktunya kapan aku bisa menikahinya."


__ADS_2