
Dari berbagai malam yang tercatat disepanjang kehidupan, malam ini adalah malam sangat panjang dalam sejarah. Malam indah dan teristimewa.
Tentang kedatangan seseorang yang mampu membuka kembali tabir imajinasi. Memberitahu bahwa pekat tak selamanya mencekam.
Berapa waktu terakhir tak ada keistimewaan yang sangat menawan kecuali detik ini. Gemintang tengah tersenyum, bersaing dengan banyaknya lampion yang tengah menari-nari di atas awan. Sedikit gulana tersamarkan dengan aroma wanginya.
Banyaknya lampion itu pengibaratan hatinya yang tengah asik terombang-ambing. Entah akan redup atau bersinar. Akan cepat tanggal atau tetap berusaha tinggal di pekatnya malam. Bisa saja terbang bersama angin tanpa tujuan yang direncanakan.
Bersama banyaknya lampion juga terdengar serangkai rapalan doa yang semoga bisa mengetuk pintu langit. Meminta kebahagiaan setelah melalui ujian panjang. Itu doanya.
Sedangkan hati yang diam karena lelah?
Masih terbungkam oleh kabut tebal. Terasa kelu untuk sekadar mengucapkan sepatah kata dari bibir pucat yang sama sekali tak mengeluarkan nada. Pun dengan netra yang hanya mampu memandang tanpa bisa merespon sebuah arti imajinasi. Satu kata yang bisa digambarkan tentangnya adalah berpasrah. Tak kuasa menentang suratan takdir, jalan hidup dilakoni sesuai yang telah ditetapkan. Jika menemui titik lelah, maka biarkan angin membawanya ke tempat yang indah.
•
Sama sekali tak pernah terpikir bisa memandang pendar bulan bersama. Merasai semilir angin berhembus mengalun searah. Gelapnya malam tak terasa telah tersamar. Terangnya hati karena bisa saling menggenggam.
Pertemuan adalah hal yang paling diinginkannya. Terbayang memeluk dan tersenyum bersama. Namun naasnya senyum itu teriringi oleh air mata.
Tak terhitung berapa kali seorang Yusha Demitri menghapus jejak air mata. Nyatanya masih saja berhasil lolos, lolos, dan lolos.
"Sekarang aku sudah datang, Niar. Bukankah sejak lima tahun lalu kamu menunggu kedatanganku?" ucap Yusha.
Perempuan yang anteng duduk di kursi roda itu hanya menatap dengan kehampaan.
"Maafkan, aku." terhitung puluhan kali pria mengenakan pakaian formal itu mengucap kata 'maaf' namun tetap tak ada respon.
"Semua yang terjadi padamu adalah kesalahanku."
__ADS_1
"Harusnya lelaki sepertiku tak pantas kamu tunggu. Tak pantas kamu cintai. Aku hanya lelaki pengecut."
"Aku lelaki bodoh yang tak bisa memperjuangkan cintaku dan cintamu. Aku terlalu takut dengan bayangan, hingga hatiku dan hatimu yang justru tersiksa. Maafkan aku."
"Maukah kamu memaafkan aku? Aku janji apapun yang terjadi, kamu dan puteri kita adalah yang utama. Akan kuperjuangkan apapun demi kalian. Walau aku harus kehilangan semuanya, tapi aku tak ingin kehilangan kamu, atau puteri kita. Kalian sangat berharga."
Tangan sebelah kiri ia gunakan mengelus punggung tangan Niar yang tak berdaya. Lalu, tangan kanan ia gunakan menghapus air matanya.
"Aku akan menyiapkan pengobatan terbaik untukmu. Kata Sakky, kamu selalu gigih dalam berjuang. Kali ini ... untuk kali ini aku mohon gigihlah untuk sembuh. Puteri kita sangat merindukanmu. Aku pun ingin mendengar suaramu lagi. Suara yang kurindukan sejak terakhir kita saling bicara."
"Semangatlah untuk sembuh agar Yuara tak lagi bersedih dan menangis. Aku yakin, kamu gak akan tega membiarkan Yuara tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Kamu pernah mengalami itu sejak lahir, meski kisahnya berbeda, tapi sama-sama tak mendapat kasih sayang. Katamu, seperti itu sangat menyakitkan. Sekarang jangan biarkan putri kita mengalami hal yang sama. Dia sangat membutuhkanmu. Jangan biarkan Yuara tumbuh tanpa kasih sayangmu. Sudah banyak yang kamu lakukan demi memperjuangkan kehidupan Yuara, sekarang saatnya kita bahagia dengan hidup bersama."
Tangan Yusha beralih mengelus pipi Niar. Dengan netra yang memindai setiap inci lekuk wajah perempuan yang amat dirindukan.
"Aku tau kamu wanita kuat. Kamu sangat hebat, kamu akan berhasil melewati ujian ini."
"Papa Yusha ...!!!" panggil Yuara berteriak kencang dari pintu rumah.
"Apa, Sayang?" tanya Yusha saat Yuara tengah menghampiri mereka.
"Ma, Ara sekarang udah bisa gambar Papa Yusha. Liat gambaran Ara, Ma. Bagus, enggak? Papa Yusha terlihat tampankan, Ma? Papa Sakky juga tampan, kan?" Yuara bertanya pada Niar dengan menunjukan satu hasil gambarannya.
Lalu apa yang terjadi?
Sayangnya, tak ada apapun. Niar bergeming dengan mulut terkatup rapat. Hanya bola mata cekungnya yang berkedip pelan.
"Biasanya Mama akan bilang bagus, terus kasih nilai gambaran Ara. Setelah itu memberi Ara ciuman. Ayo, Ma, kasih nilai gambaran Ara seperti biasanya!" pinta Yuara menyodorkan buku gambar di pangkuan Niar. Namun jemari-jemari tak berdaya itu tak bergerak sama sekali. Membuat Yuara menatap nanar. Keinginan sederhana yang dulu selalu dikabulkan oleh sang ibu, kini tak bisa lagi.
Netra kecil itu mulai mengembun. "Mama, maafin Yua. Semua gara-gara Yua yang nakal, Mama jadi begini. Pukul Yua, marahi Yua, Ma. Tapi Yua pengen denger suara Mama lagi. Yua pengen dipeluk Mama lagi. Bukan Yua yang peluk Mama. Ma ... Papa Yusha udah dateng, Papa janji mau ajak kita kerumahnya, Mama harus sembuh. Nanti kita bisa liat rumah Papa Yusha yang katanya gede banget. Ada kolam renangnya juga. Mama cepetan sembuh, ya," ujar Yuara dengan mulut mencebik. Netra yang mengembun tadi telah menumpahkan cairan bening.
__ADS_1
Yusha menggigit ujung bibir, berharap bisa meredakan sakit tak terkira yang menghujam tepat di ulu hati.
'Lihatlah, Niar. Putri kita sangat menginginkan kamu kembali seperti dulu. Kamu harus berjuang untuk sembuh. Harus. Demi aku dan Yuara' batin Yusha.
(Aku dulu selalu berjuang. Tertatih melawan segala lara sendirian. Kali ini aku ingin berjuang, tapi hatiku terasa melemah. Aku lelah. Ragaku tak bertenaga. Aku seolah terkurung dalam kebisuan. Tak mampu lagi mengungkap apapun yang aku inginkan.
Selagi napas masih bisa kuhembus, nama kalian berdua yang akan kusebut, meski hanya mampu kusebut dalam hati)
"Hei, Yuara anak Papa paling hebat. Jangan nangis. Mama Cantik akan segera sembuh. 2 hari lagi Om Kelvin sudah selesai mengurus keberangkatan kita ke luar negeri, nanti Mama Cantik akan dirawat oleh dokter hebat. Oke. Mama akan segera sembuh. Kita doain Mama terus, ya." Yusha berujar menenangkan sang puteri kecilnya.
"Beneran, Pa?"
"Beneran. Papa Yusha gak pernah bohong."
"Mudah-mudahan Mama Cantik segera sembuh. Setelah sembuh, Ara janji gak bakal nakal lagi. Yua ... eh, Ara, bakal nurut semua omongan Mama."
Yusha segera memindah tubuh Yuara ke pangkuannya. Ia ciumi pucuk kepala puterinya dengan lelehan air mata. Ia bangga dan bahagia Niar bisa mewarisi sebuah sikap ketegaran pada puterinya. Menjadikan Yuara yang baru berumur empat tahun empat bulan itu tumbuh dengan kuat. Sekuat Niar yang dulu selalu dihadapi ketidakadilan.
.
.
.
.
.
Gimana? Udah puas belum menyesap taburan bawangnya?🤭 Nanti akak mei kasih puncaknya. Setelah Mahendra, Vivian, Pak Bejo juga Sumiati berkumpul di Yogyakarta, kita akan memasuki wilayah End. Oke.👍
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia menunggu sampai bab ini. Maafkan akak mei, ya.🙏 Aturan 100 bab tamat, eh, molor Sampek bab segini. 1 atau 2 bab lagi deh. Dan nanti akak mei kasih bonus 1bab atau 3bab bonus ektra part.