
Rintihan pilu terdengar sendu, tertumpuk luka hati yang kian membeku. Tak ada asa disetiap tapak, hanya tangisan yang setia mengiringi masa. Sesak, makin sesak dada menanggung himpitan luka sebab rindu tak pernah hilang.
Tak kunjung usai nestapa hati, tak kunjung usai kesendirian ini. Waktu tergerus kesunyian yang tak dapat kembali. Di mana? Ke mana aku mencari bingkai wajah dan ucapanmu.
Benar praduga yang pernah singgah dipikiran. Aku di sini menunggu, kau di sana melupa. Sampai detik ini tak ada kabar darimu. Perpisahan itu meninggalkan ruang hampa yang makin mendera.
Empat bulan. Yah ... lamanya waktu berlalu tak ada lagi kabar sua darimu. Tak tahu lagi apa yang terjadi padamu. Sudahkah bahagia? Merajut kasih bersama dia? Membiarkan ku di sini bersama si luka. Membiarkan aku setia MERENGKUH DERITA yang tak kutahu di mana akhirnya.
Perempuan yang tak lelah menunggu senja menghilang, tak pernah bosan menyaksikan payoda langit jingga. Lengkungan bulan sabit mengembang seiring lukanya yang juga menganga. Pendar mata meredup, kosong tanpa harapan. Rapuh untuk merajut kembali asa. Ia hanya bisa menunggu. Menunggu sesuatu yang ia tahu tak pasti kapan akan datang.
Setidaknya hari kemarin, hari ini, juga hari esok ia kuat demi si dia (calon anaknya). Jika bukan karena itu, mungkin saat ini ia telah lebur bersama laranya.
Memberi usapan lembut dan merasai keberadaanya mampu memberi kekuatan tersendiri. "Kamu sumber kekuatan Mama, Nak. Anggap kita hidup berdua. Kita akan menyaksikan senja menghilang setiap harinya."
Kelopak mata berkedip menghadirkan rintikan hujan tanpa ritme kuat. Dua tetes air mata lolos bersama usapan di perut yang kian membuncit. Waktu cepat berlalu, namun luka dan kesedihan tak jua melarung. Terbukti air matanya tak pernah surut ketika menghadap lautan lepas. Seolah mengingatkan lagi pada kenangan lalu yang tak mau berlalu.
Hiruk pikuk tawa pengunjung pantai tak mengurangi kesedihannya. Perempuan yang seolah tercipta dalam kepedihan itu selalu sendiri meski dalam keramaian.
Lirik nada yang tak pernah bosan ia dengar, terasa pas dengan keadaan yang dirasa. Mengalun merdu namun menyayat kalbu.
Naff (Terendap Laraku)
Resah jiwaku menepi
Mengingat semua yang terlewati
Saat kau masih ada di sisi
Mendekapku dalam hangatnya cintamu
Lambat sang waktu berganti
Endapkan laraku di sini
Coba 'tuk lupakan bayangan dirimu
__ADS_1
Yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu
Sekian lama aku mencoba
Menepikan diriku diredupnya hatiku
Letih menahan perih yang kurasakan
Walau kutahu ku masih mendambamu
Lihatlah aku di sini
Melawan getirnya takdirku sendiri
Tanpamu aku lemah dan tiada berarti
"Sudah kukatakan! Jangan dengerin lagu yang bikin kamu nangis! Masih aja ngeyel." Pemuda yang baru saja datang langsung mematikan play musik yang sejak tadi menemani perempuan sendu itu.
"Mas Sakky udah pulang?" Niar mengusap kedua pipi untuk membersihkan sisa air mata.
Pemuda itu mendengkus. "Kamu gak capek nangisin yang udah lalu?"
"Lawan takdir. Jangan diam dengan berpasrah, bangkit dan tunjukan pada dunia bahwa kamu bisa mengubah takdirmu sendiri. Jangan harapkan yang gak pasti. Lihatlah yang tulus menemani."
Niar menoleh ke arah pemuda yang tengah menatapnya dengan teduh. Ia lengkungkan bibir tetapi hanya setengah. "Enggak, Mas. Yang tulus menemani berhak mendapatkan yang lebih baik."
"Kamu yang terbaik, Niar."
"Bukan. Ada yang lebih baik dariku sedang menunggumu. Kamu kakakku, dan selalu begitu."
Sakky berpaling pada lautan lepas, embusan napas panjang ia hempas. Tetapi tidak untuk kesabarannya menunggu Niar.
"Aku tetap menunggu sampek anak itu lahir," ucapnya tanpa berpaling dari deburan ombak yang saling berkejaran.
"Dia lahirpun akan tetap seperti ini. Aku gak akan pantas untukmu."
__ADS_1
Perempuan lembut itu tak ubah dengan kerasnya hati. Tetap merasa tak pantas meski Sakky tak bosan meyakinkan. Cinta tak mengenal pantas atau tidak pantas, karena cinta itu tak memiliki mata. Cinta itu buta. Hanya memiliki rasa yang hadir tanpa dipinta.
Kebersamaan, sering melakukan aktifitas bersama membuat Sakky terpaut pada perempuan yang dianggap tegar, setegar karang dilautan.
Dua Minggu lalu pemuda itu mengungkapan isi hatinya, namun perempuan yang tengah mengandung itu menolak dengan tegas. Mengatakan bahwa ia dianggap sebagai kakak dan sampai kapanpun akan seperti itu.
Apakah Sakky menyerah? Tidak! Pemuda baik itu bertekad untuk menunggu Niar membuka hati. Jika karena kehamilan yang membuat perempuan itu tak pantas menjadi miliknya maka ia akan menunggu sampai anak itu lahir. Ia menerima apapun keadaan Niar, tanpa mengeluhkan dan mengingat masa lalu yang pernah dialami perempuan itu. Cintapun lapang dada, menerima apapun kekurangan pasangan kita. Begitu ungkapan yang pernah didengarnya. Seperti ia yang akan menerima Niar dan anak yang dikandungnya. Cintanya tulus diberikan pada perempuan itu.
"Senja mulai menghilang, Mas," ujar Niar mengalihkan percakapan yang ambigu.
"Iya. Dan aku harap sedihmu juga akan hilang."
"Aamiin. Mas ini, aku sedih karna dengerin lagu tadi, loh," kelakar Niar.
"Apapun alasannya. Udah cukup kamu nangis-nangis ngeluarin air mata juga ingus, sumpek aku liatnya," balas Sakky.
"Eh, aku nangis gak pakai ingus, ya. Mana? Sekitaran hidung bersih."
"Kata siapa bersih, udah ingusan, upilan juga."
"Maaaas .... ih, nyebelin loh." Saat Niar memberengut, Sakky justru terbahak. Pemuda itu turun dari batu karang dan mengajak Niar pulang untuk pulang.
Begitulah kisah Niar dan Sakky, kedekatan mereka setiap hari yang diwarnai senda gurauan seinci dapat menyamarkan kesedihan Niar. Walau tak dapat menghapus semua beban, setidaknya kehadiran dan perasaan Sakky membuat Niar masih bertahan kuat.
•
Dibelahan kota lain.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok? Kenapa sampai sekarang dia belum hamil?"
"Dari hasil laporan, masa subur Nona Sheli berkurang, selain dampak dari program Keluarga Berencana (KB) ada juga dampak dari masalah lain, yaitu seringnya mengkonsumsi minuman beralkohol menyebabkan rusaknya siklus menstruasi hingga sulit untuk hamil."
Mendengar penjelasan dokter tersebut membuat tubuh Yusha melemas. Bukan waktu singkat ia menunggu Sheli hamil, empat bulan lebih dari pelepasan alat kontrasepsi sampai saat ini istrinya tak kunjung hamil. Hal itu membuat Yusha tak sabaran dan kembali konsultasi pada dokter untuk menanyakan apa yang terjadi dengan tubuh Sheli.
Dan kini menuai dari perbuatannya, perempuan yang tak lepas dari minuman memabukkan setiap malamnya harus menerima kenyataan jika ia kesulitan untuk memberikan Yusha keturunan.
__ADS_1
"Pasti ada cara lain agar saya tetap bisa hamil,kan? Saya akan berhenti mengonsumsi alkohol." todong Sheli.
"Bisa jika Tuan dan Nona berkenan, bisa menjalani program bayi tabung. Tetapi ada yang harus diketahui, tak semua tindakan bayi tabung langsung berhasil. Ada beberapa yang gagal dan harus mengulang dari awal."