Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 30


__ADS_3

Kedua kalinya Niar duduk di meja makan berhadapan dengan Yusha. Tidak terlalu canggung seperti waktu pertama kali, tapi tetap tidak nyaman. Lebih leluasa untuk makan di dapur atau tempat lainnya.


Walau ia sudah mulai lebih dekat dengan Yusha, tapi terkadang tatapan Yusha masih membuatnya takut. Ekspresi dan suasana hati lelaki itu masih sulit untuk di tebak.


Saat menikmati makan malam ponsel di atas meja berdering, tergambar wajah Sheli di layar itu. Yusha segera menjawab telpon sebelum sang ratu utama itu marah. "Hallo, sayang," sapa Yusha.


Mendengar itu Niar berhenti mengunyah makanan. Perempuan itu melirik ke arah Yusha yang mengalihkan pandangan. Niar berhembus napas panjang namun sangat pelan agar tak mengganggu Yusha.


"Aku lagi makan malam. Kamu sendiri? Kenapa suara musiknya keras banget? Kamu lagi di kelab?" cecar Yusha menanyai Sheli lewat panggilan telpon.


"Kapan kita ketemu, aku merindukanmu, baby."


Ucapan Yusha barusan mampu menimbulkan nyeri di ulu hati Niar. Seolah mengingatkannya bahwa ia hanyalah istri cadangan, bukan istri utama. Itu menyakitkan.


"Lusa malam kamu pulang? Baiklah, aku tunda satu malam perjalanan bisnisku supaya bisa bersamamu."


"Ti-tidak! Kamu tetap yang utama, sayang." Ketika mengatakan kalimat itu suara Yusha terdengar lirih, dengan melirik ke arah Niar. Niar langsung membuang pandangan ke arah lain.


"Oke, baby. Love you, muach .... " Kalimat terakhir sebelum Yusha mengakhiri panggilannya.


Setelah ponsel itu di letakan kembali ke atas meja, Yusha memperhatikan raut wajah Niar. Merasa tak enak hati dengan wanita itu, ia menerutuki kebodohannya yang tidak berpindah tempat dan membiarkan Niar mendengar percakapannya.


Suasana makan malam yang tadinya menghangat kini berubah dingin. "Heem." Yusha berdehem untuk menetralkan suasana kembali.


Satu suapan, tetap tak ada yang bersuara. Yusha dan Niar hanya sesekali saling melirik. Tapi Niar bersikap biasa saja, seolah tidak mendengar percakapan tadi. Namun perasaan Yusha sendiri yang merasa tidak enak. "Maaf," ucap Yusha yang tidak tahan untuk meminta maaf.


"Tidak apa, Tuan. Itu hak anda. Saya bisa pura-pura tidak mendengar," balas Niar mencoba bersikap santai.


"Kedepannya akan saya usahakan lebih berhati-hati. Supaya tidak canggung." Yusha berkata dengan sungguh-sungguh.


Niar mengangguk dan mereka melanjutkan makan malam dalam keheningan.


Mengingat Yusha akan melakukan perjalanan bisnis, membuat Niar takut tinggal di rumah sendirian. "Tuan, kalau lusa malam anda akan pergi. Saya takut tinggal sendirian."


"Eum, nanti biar saya suruh bi Mur menginap di sini buat nemenin kamu. Sebenarnya besok malam Sheli sudah kembali, tapi dia sering pergi dadakan. Lebih baik di temeni bi Mur juga," jawab Yusha.


Yusha sudah menyelesaikan suapan terakhirnya, tapi di piring Niar masih tersisa banyak. "Saya ke ruang kerja sebentar," pamit Yusha dan beranjak dari meja makan.

__ADS_1


"Hanya mendengar pembicaraan mereka seperti tadi, kenapa harus sekesal ini sih," Niar merutuk diri sendiri. "Sadar Niar! Kedepannya akan lebih dari ini." Perempuan itu memukul kepalanya pelan. "Yah ... beginilah posisimu. Tersisih dan menjadi yang kedua," sambungnya. "Jangan berharap lebih!" lanjutnya dengan cemberut.


Yusha yang masih belum terlalu jauh bisa mencuri dengar rutukan Niar. Lelaki itu tersenyum lucu. 'Ada-ada saja kelakuannya.' batin Yusha.


•••••••••••••••••


Tepat pukul sepuluh malam Yusha keluar dari ruangan kerja, ia bersiap menuruni tangga menuju kamar Niar.


Saat membuka pintu kamar itu lebih gelap karna lampu utama telah di matikan dan hanya menggunakan lampu hias.


Yusha melangkah pelan menuju ranjang yang di tiduri Niar. Lelaki itu berdiri dengan bingung melihat Niar bersembunyi di balik selimut tanpa terlihat seujung rambutpun. Yusha berpikir, benarkah Niar tertidur atau hanya berpura-pura.


Melangkah tanpa suara, Yusha berpindah di sebelah Niar. Menunggu gadis itu untuk bergerak.


Selimut itu bergerak-gerak tapi Niar masih betah dalam persembunyiannya. Yusha tertawa tanpa bersuara, ia tetap menunggu Niar sampai menyerah.


Selimut lebih tebal selupuh kali lipat dari yang biasa di gunakan, membuat Niar seperti di uap. Tak sampai di situ, gadis itu juga membentengi diri dengan menggunakan pakaian dobel dan memilih bahan yang lebih tebal. Berpikir aman untuk melindungi diri dari terkaman seorang Yushaka yang ingin meminta hak sebagai suami. Ia benar-benar belum siap dan takut akan bayangan malam pertama.


Di dalam selimut Niar bergerak tidak nyaman, membuat selimut tebal yang membungkus tubuhnya ikut bergerak. Yusha masih berada di posisi yang sama, bersedakep dada juga menertawai tingkah Niar. Ia akan menunggu sejauh mana gadis itu bisa bertahan dalam kepanasan.


"Tujuh." Sampai pada hitungan ke tujuh, Niar baru membuka selimut.


"Huh ... huh ... huh ... " Niar mengambil napas panjang karna kepanasan. Bayangan tubuh Yusha tersorot pada lampu hias, seperti seluet makhluk asing. "Aaaa' ... " Niar berteriak keras dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut.


Yusha terkejut dengan teriakan Niar sampai mundur ke belakang. "Hei, ini sudah malam. Kamu berteriak keras ingin mengundang penjaga untuk lari ke rumah ini!" sentak Yusha dengan kesal.


Niar membuka selimut. "A-anda Tuan Yusha? Huh, saya pikir hantu penghuni kamar ini," ucap Niar dengan ketakutan.


Yusha melengos. "Mana ada hantu setampan aku?" gerutunya pelan.


"Kamu kenapa menutup badanmu dengan selimut? Mau bersembunyi? Kamu ingin menghindari kesepakatan kita?" cecar Yusha.


"Eng-enggak. Bu-bukan begitu, Tuan. Tadinya memang sudah tidur. Beneran gak ada niat buat menghindar," Niar berbohong.


Yusha tidak lagi memperpanjang, lelaki itu mendudukan diri di sisi sebelah Niar.


Niar memasang kewaspadaan penuh. Ia bergeser menjauh hingga mentok di ujung ranjang.

__ADS_1


Tak pantang menyerah, Yusha bergeser ke bagian tengah dan menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Niar.


Tangan Niar bergetar dan tiba-tiba terdengar isak tangis. Yusha menarik kembali tangannya. "Tadi kamu berteriak, sekarang menangis," ucap Yusha frustasi. "Kamu kenapa menangis?" tanyanya dengan menahan kesal. "Setelah ini apa lagi?" sambungnya pelan.


"Tu-tuan ... saya belum siap. Sa-saya ... takut," jawab Niar dengan suara bergetar.


"Baiklah, kita tidur saja. Saya gak akan ngapa-ngapain kamu," balas Yusha dengan merebahkan tubuhnya.


Niar melihat ke arah Yusha, ada rasa bersalah menolak keinginan Suaminya. "Tu-tuan marah dengan saya?"


"Enggak! Tidurlah," jawab Yusha ketus dengan memiringkan tubuh. Ternyata sulit menaklukan gadis polos tanpa pengalaman, kesabarnya sedang di uji.


Niar berada dalam dua pemikiran yang bertolak belakang. Ingin memberikan haknya Yusha, tapi mentalnya belum siap dan merasa takut.


Niar ikut merebahkan diri. Detak jantung berdebar terlalu kencang. Gadis itu melihat punggung Yusha dalam sinar remang-remang. "Tu-an," panggil Niar.


"Tidurlah Niar! Aku gak akan bisa menahan diri jika kamu menggangguku." Yusha memperingati.


"I-itu ... apakah seperti itu menyakitkan? Sa-saya takut, dulu teman saya sesudah menikah dan melakukan malam pertama malah masuk rumah sakit gara-gara robek dan pendarahan," ucap Niar.


.


.


.


.


.


Gemes gak nih sama mereka berdua? Kapan sih goalnya? 😅 Iya deh, bab berikutnya goal aja ya, jangan lama-lama biar gak bikin deg-deg seeeer.


Insya Allah akak mei mau up satu bab lagi, tapi agak malam ya, soalnya kudu nyari wangsit buat nulis malam pertama mereka🤭


Dan ada kabar lain nih, akak mei mohon maaf ya, mungkin mulai besok akak mei gak bisa crazy up soalnya akak mei udah mulai belajar materi. Gak bisa pantengin Niar sama Yusha. Tapi akak mei usahain sebisa mungkin ya.


Salam sayang dari Akak mei😘🥰

__ADS_1


__ADS_2