Merengkuh Derita

Merengkuh Derita
Part 101


__ADS_3

Ketika Kelvin mengikuti tuannya pergi ke rumah Niar, pria tersebut segera memberi kabar pada Vivian tentang semuanya.


Apakah terkejut? Tentu saja amat sangat terkejut. Vivian dan Mahendra segera menyiapkan keberangkatannya ke Yogyakarta demi menemui sesosok perempuan yang dulu pernah dihina dan disakiti. Juga ingin mengetahui, apakah benar mereka telah memiliki cucu dari Niar?


Bukan hanya itu saja, bertepatan dengan Vivian dan Mahendra yang akan pergi ke Yogyakarta, Pak Bejo dan Sumiati juga tengah bersiap meluncur ke kota itu untuk menjenguk puteri mereka yang tak pernah terdengar kabarnya.


Semalam Sakky menelpon dan memberitahu jika Yusha telah menemukan Niar dan mengetahui semuanya. Kali ini, jika keluarga Yusha berani menyakiti puterinya, Pak Bejo akan memasang badan sebagai tameng.


Orang tua itu tahu bagaimana sikap Mahendra dan Vivian yang dulu pernah menyakiti puterinya. Pak Bejo tidak akan diam dan bertekad untuk melindungi Niar.



Dari pagi hingga siang ini tak ada bayangan matahari yang muncul. Kendatipun tidak turun hujan, namun langit tak meninggalkan awan mendung. Rintik hujan tidak turun ke bumi. Hanya saja suasana cukup kelabu untuk mengingat kepingan-kepingan masa lalu.


Tak sedetikpun Yusha berjarak dengan Niar, pria itu tidak merenggangkan tautan jemarinya.


Tatapan mata mengarah pada air laut yang bergelombang saling berkejaran. Juga dengan sepasang mata tanpa pengharapan tengah menatap yang sama.


Berapa jam mereka ada di sana, menikmati keindahan pantai ciptaan sang Tuhan. Tak ada kebosanan yang melanda, Yusha justru bahagia menikmati momen kebersamaan mereka.


Berjarak 2 meter, sang puteri kecil tengah bermain pasir-pasir lembut dengan buih-buih yang menghampiri di pinggiran pantai.


Bibir mungilnya sesekali memanggil nama papa dan mamanya. Lalu menunjukan maha karya yang diciptakan sesuai imajinatif. Seolah melupakan beban kesedihan yang bisa raib detik itu juga. Meskipun beberapa jam lagi akan merengek tentang keadaan mamanya. Setidaknya gadis kecil mampu tersenyum penuh gembira.


Angin menderu sangat kencang, mengibarkan helai pakaian yang mereka kenakan. Tangan Yusha membenarkan sweater rajut yang dikenakan Niar. Takut perempuan itu didera kedinginan.


"Tuan Muda."


Tidak mendengar langkah-langkah kaki mendekat, tiba-tiba Kelvin datang bersama kedua orang tuanya.


"Yushaka ...," panggil Vivian yang lebih dulu berkaca-kaca karena pandangan matanya tertuju pada Niar.


"Ma ...."


Vivian mendekat dan merengkuh tubuh kurus Niar. Terisak sesak mengetahui keadaan Niar yang jauh dari bayangan buruknya.


Berapa lama Vivian merengkuh tubuh Niar, Mahendra turut mendekat pada perempuan yang kini tak berdaya. Perempuan yang dulu pernah dihinanya tanpa perasaan.


Rasa bersalah hadir tanpa dicegah. Kian membesar seiring melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keadaan perempuan yang dulu dipandang hina. Begitu memprihatinkan.


Bahkan pria paruh baya itu tak kuasa menitikkan air mata.

__ADS_1


"Ni-Niar ... maafkan saya. Maafkan kata-kata tidak pantas yang dulu saya ucapkan padamu."


"Dosa saya terlalu banyak. Saya ... saya tidak pantas mendapat maaf darimu." Pria paruh baya itu menunduk kalut.


"Yusha, kenapa Niar diam saja? Apa dia sangat membenci Papa?"


"Tidak Pa!!! Niar perempuan baik, dia tidak pernah mendendam pada siapapun. Yusha yakin, saat ini Niar sudah memaafkan Papa. Hanya saja ...," ujar Yusha, "dia tidak baik-baik saja. Hasil vonis dari dokter, Niar mengalami trauma psikis berat. Dia hanya diam tanpa merespon yang ada disekitarnya," jelas Yusha.


"Papa Yusha ...!!!" teriak Yuara dan berlari menghampiri Yusha.


"Kenapa Sayang?" Yusha menangkap tubuh Yuara dan menggendongnya.


"Mereka siapa, Pa?"


"Kenalin, ini Oma Vivian, dan yang itu Opa Mahendra. Mereka orang tua papa, yang artinya kakek dan nenek Yua." Yusha mengenalkan kedua orang tuanya kepada Yuara. Sebelumnya mereka tidak pernah bertemu. Ini momen pertama pertemuan antara cucu dengan kakek dan neneknya.


"I-ini___" Vivian menatap lekat perempuan kecil yang ada di gendongan Yusha. Kedua bola matanya kembali berkaca-kaca.


"Assalamualaikum, Nenek Vivian. Assalamualaikum, Kakek Mahendra." Yuara menyapa dan mengucap salam dengan ramah.


"Walaikum salam, cucu Oma dan Opa," balas Vivian dengan tangis haru biru. Sedangkan Mahendra justru terbengong. Tidak menyangka jika selama ini mereka telah memiliki cucu. Bagai mimpi indah yang diwujudkan dalam sekejap. Apa yang mereka impikan, apa yang mereka harapkan nyatanya telah terkabul. Meski tanpa mereka ketahui sebelumnya.


"Iya, Pa. Hampir mirip denganku. Tapi Yusha beruntung, Yuara memiliki sikap seperti ibunya. Dia akan menjadi anak baik dan kuat seperti ibunya."


"Yuara? Nama cucu papa adalah, Yuara?"


"Iya. Niar memberi nama dia, Yuara Sora Demitri."


"Yuara ... namanya juga hampir mirip denganmu. Bahkan Niar mencantumkan namamu." Mahendra menatap lekat pada Yuara.


"Asik ... Yuara punya 3 nenek dan 2 kakek. Yua juga punya dua papa. Nanti rumah Yua bakal rame ya, Pa," girang Yuara.


"Iya Sayang."


"Ni-ar ...."


Suara serak nan lirih terdengar memanggil nama Niar. Ternyata itu adalah suara Sumiati yang tercekat melihat keadaan putrinya. Dua pasang mata yang sama-sama dipenuhi air mata, detik berikutnya tumpah ruah membanjiri wajahnya.


Kini bukan hanya Sumiati yang duduk di kursi roda, si Bungsu juga tak berdaya menduduki kursi yang sama.


"Ni-Niar ... apa yang terjadi padamu, Nak?" Pak Bejo tak kuasa menangisi keadaan anaknya. Pun dengan Sumiati yang tak bisa berkata-kata karena lidahnya sangat kelu.

__ADS_1


"Pantas selama satu bulan ini Bapak tidak bisa bicara denganmu. Ternyata keadaanmu seperti ini?"


"Pak ... Kenapa putri kita jadi seperti ini? Berapa bulan lalu dia masih sehat dan ceria. Kenapa sekarang keadaanya begini? Pak, minta pada Tuhan, biar aku saja yang menggantikan Niar," ujar Sumiati sudah dalam isak tangis. "Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan putriku? Kenapa Kau beri dia ujian seperti ini? Pindahkan saja penyakit Niar ke tubuhku. Harusnya aku yang pantas merasakan hukuman. Aku telah banyak berbuat dosa pada Niar. Dia anak baik, berikan dia kebahagiaan." Perempuan paruh baya itu memukul-mukul dada yang terasa sesak.


"Putri kita selalu baik dan berbakti, Pak. Kenapa diberi cobaan seperti ini? Kenapa bukan Ibu saja yang mengalami? Niar gak bisa seperti ini, Pak. Dia harus bahagia. Tolong sembuhkan Niar .... Dia harus bahagia!!" teriaknya bersama tangisan.


"Tenang, Bu. Tenang. Niar tambah sedih liat kamu tidak bisa mengontrol diri." Pak Bejo menenangkan istrinya.


Yusha, Yuara dan yang lain bergeming melihat suasana di depannya.


Di belakang mereka berdiri Sakky dan Mbok Jamu. Sama-sama melihat pertemuan dua keluarga yang dulu sama sekali tidak ada yang perduli akan kehidupan Niar. Membiarkan perempuan itu tertatih menelan pahitnya kehidupan. Juga membiarkan Niar berjuang seorang diri.


Kini, orang-orang dari masa lalu itu datang. Mereka berkumpul mengelilingi Niar yang sudah tak berdaya.


Apakah kedatangan mereka terlambat? Sangat. Amat sangat terlambat. Harusnya sejak dulu mereka datang. Merangkul dan mendampingi Niar dalam senyuman. Karena saat ini perempuan itu telah kehilangan senyumannya. Tuhan yang memiliki takdir.


"Yang sabar, Le. Mungkin sekarang waktunya Genduk bahagia berkumpul dengan keluarganya. Kita tau, seperti itu yang selalu Niar harapkan dari dulu." Tangan Mbok Jamu mengelus pundak Sakky.


"Ikhlaskan Niar. Biarkan dia bersatu menjalin keluarga utuh bersama mantan suaminya. Selama lima tahun ini kita tau siapa yang selalu diingini si Genduk. Dia tetap menunggu mantan suaminya."


"Cinta adalah rasa yang Allah anugrahkan untuk hambanya. Tapi Allah tak suka ketika hambanya memaksakan perasaan itu untuk bersatu. Cinta bukan selamanya bersama atau saling menyatu. Cinta yang sebenarnya adalah tentang keikhlasan dan pengorbanan. Saat hati kita siap melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Itulah yang dinamakan cinta."


Sakky berkedip pelan, dari matanya meneteskan dua kristal bening. "Iya Mbok. Insyaallah, Sakky ikhlas. Sakky pengen liat Niar bahagia. Sudah lama dia memendam kesakitan. Sakky gak apa jika Niar harus kembali dengan Yusha. Hanya saja Sakky berat berpisah dengan Yuara. Mbok tau, sedekat apa Sakky dan Yuara. Dia sudah seperti putriku sendiri. Dari dalam kandungan sampai sebesar ini, kita yang selalu menemaninya. Mungkin untuk perpisahan dengan Yuara, Sakky akan terluka."


"Gak usah puitis, Le ...," ujar Mbok Jamu.


"Mbok juga gak sadar kalo dari tadi ngomongnya sok puitis?" balas Sakky mengelap pipinya.


"Gini aja, kamu cepetan nikahi Lilis, si perawan uget-uget sok model itu. Nanti kamu bikin anak yang lucu seperti Yuara. Bakal hilang itu lukamu."


"Telat, Mbok. Minggu lalu Lilis si uget-uget udah kawin sama si Asep. Ternyata Lilis hamil 4 bulan."


"Hoalah .... emang ora bener!"


"Mbok!!! Besok terakhir kita liat Niar. Yusha bakal bawa Niar berobat ke luar negeri. Mudah-mudahan Niar bisa sembuh ya, Mbok."


"Aamiin ... Genduk kuat. Dia pasti bisa sembuh."


"Tapi Mbok, kok, perasaan Sakky gak enak, ya. Sedih banget mau pisah sama Niar dan Yuara."


"Sama Le, Mbok juga ngerasa gak enak. Tapi, ya itu tadi. Kita ikhlaskan saja. Mudah-mudahan penyakit Niar segera mendapat obatnya."

__ADS_1


__ADS_2